Jumat, 11 Agustus 2017

Menulis Itu Berat maka Menyerahlah!

“Writing for me is a kind of compulsion, so I don’t think  anyone could have made me do it, or prevented me from  doing it.” (J.K. Rowling)
Begitu mulai menulis, aku merasa harus menunda selama yang aku bisa agar waktunya sempurna. Akhirnya butuh tiga puluh tahun untuk benar-benar memulai. Menyesal? Tentu saja. Begitu banyak waktu terbuang yang seharusnya puluhan cerpen dan juga novel sudah aku hasilkan. Sombong amat mak! Iyalah itu 30 tahun lho bukan 30 hari.


Aku memaksa diriku untuk menulis dengan iming-iming kamera mirorless. Apakah berhasil? Tidak, aku hanya memandangi draft yang memang sudah sejak 2012 bercokol di laptop. Pindah ke flash disk lalu pindah ke memory card dan akhirnya masuk ke laptop lagi. Itu novel mungkin harus dirombak total. Bukan bukan, novel itu butuh riset yang panjang makanya malas sekali untuk memulai. Ah sudahlah, say good bye aja lah. Belum kok. Kemarin baru belajar plot. Iya buat kepentingan menyelesaikan novel aku belajar lagi. Menunda ya menunda tetapi ada masukan buat nantinya melanjutkan itu novel saat mesin uap ini sudah panas dan siap mengetik hingga selesai. Jadi belum nyerah nih ceritanya? 12 Oktober 2017 adalah deadline yang harus aku patuhi. Masih ada waktu untuk melakukan riset dan membaca banyak referensi. Belum aku masih belum mau mengibarkan bendera putih.

Memang kata J.K. Rowling itu benar. Menulis itu bukanlah paksaan. Harus datang dari diri sendiri. Ketika tekanan demi tekanan menghimpit, rasa malas menyerang, lalu menunda dan akhirnya berakhir tanpa karya nyata. Mau sampai kapan mak? Menyerah sajalah!

Iya aku bolak-balik mengatakan itu pada diriku sendiri. Sepertinya aku lebih cocok jadi admin akun gosip deh atau jadi informan bagi akun fansbase. Terus abis galau malah madep laptop lagi. Menulis entahlah. Pokoknya ngetik aja seadanya kata-kata di kepala.

Poin-poin di bawah ini adalah kesimpulan setelah wawancara plus curcol ke mentor sekaligus blogger senior, Mba Carra. Gak perlu di-screenshot ya. Percakapan gaje dan malu-maluin.

1. Menyerah untuk mengambil jeda dan mengatur irama

Tidak ada yang tahu apa yang akan waktu perbuat untuk menyembuhkan atau malah menghancurkan. Katanya tidak ada salahnya untuk beristirahat. Jangan paksa target orang lain untuk kamu capai karena kamu adalah kamu. Kamu harus mengerti apa yang sebenarnya kamu inginkan. Bukan keinginan orang lain ya? I lost myself.

Baca lagi: BISAKAH AKU MENGENALI DIRIKU?

Ya akan sulit memang karena aku adalah orang yang keras terhadap diri sendiri. Seberapapun keberhasilan yang sudah dicapai rasanya kurang saja. Maka dari itu butuh orang lain yang objektif untuk mengingatkan agar semua bisa seimbang.

"Enjoy aja sih Mbak."

Jika memang kamu adalah tipe mesin uap maka kamu harus menerima jika butuh waktu lama untuk memanaskan mood tetapi begitu sudah on maka tidak akan ada yang bisa menghentikan kamu. Langsung banyak tulisan yang bisa kamu hasilkan. Temukan apa yang cocok kamu tulis, kapan, dan menggunakan metode apa.

Bagaimana kalau ternyata aku adalah mesin gres. Hahaha, sepertinya tidak karena begitu menulis dengan jadwal teratur aku merasa seperti tidak punya kerjaan ketika tulisanku sudah selesai. Aku suka banyak dalam satu waktu abis itu leyeh-leyeh.

Ambilah jeda tidak ada salahnya dan mengatur irama agar bisa lebih menikmati proses menulis itu sendiri.

2. Menyerah untuk belajar lagi

Ketika akhirnya aku mengikuti kelas plot bersama mba Rosi L Simamora, ada satu poin yang membuatku sadar. Belajar. Mengosongkan semua isi dan kembali jadi murid. Melupakan sejenak semua "sok tahu".

Setelah kelas itu aku merasa lebih siap untuk menulis lagi. Mulai googling lagi apa saja yang harus aku persiapkan agar jauh lebih matang dan tidak mandek di tengah jalan.

3. Menyerah untuk menyusun rencana yang lebih matang

Rencananya adalah memantapkan outline agar siap saat diuji. Lalu apa rencanamu? Ah mau liburan dulu aja mak biar tulisan lebih segar kaya otakku.

4. Menyerah untuk mengumpulkan amunisi

Membaca novel-novel dan juga panduan untuk menulis novel agar banyak referensi yang bisa digunakan. Men-download kamus thesaurus dan juga ejaan yang disempurnakan.

Amunisi-amunisi ini bisa mencegah kemalasan atau editan yang terlalu banyak serta berhenti di tengah jalan. Awalnya aku merencanakan one day one book abis itu lelah. Aku selang-seling akhirnya. Satu hari menulis lalu satu hari membaca.

5. Menyerah jika memang sudah tidak lagi bisa berusaha

Pinggang sakit, kepala pusing, atau diare menyerang. Kamu harus benar-benar menepi dulu. Sehatkan badan. Konsentrasi penuh agar pemulihan cepat.

Menulis itu berat maka menyerah memang hal yang tepat. Bukan untuk berhenti tetapi untuk bisa jauh lebih produktif. Novel ini adalah target terbesar emak tahun ini. Mau bagaimana bentuknya harus selesai. Syukur kalau bisa Oktober kelar kan sekalian bonus kamera. Kalau gak ya akhir tahun harus ada satu novel yang kelar.

4 komentar:

  1. Menulis di waktu luang, atau memberi waktu tertentu untuk menulis. Jadi nggak stress karena dilakukan dengan senang. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba harus menemukan polanya sendiri ^_^

      Hapus
  2. Wah, aku sehari cuma 5 halaman kalau nulis. :'D

    BalasHapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design