Minggu, 13 Agustus 2017

[Komentar Apik] The Passionate Marriage, Membuat Kenangan Indah demi Melalui Masa Lalu yang Sulit

Novel ke 34

Penulis    :  Indah Hanaco

Penerbit   :  Grasindo

Tahun      :   Maret 2017

Halaman  :  242

"Wow, sebentar!" Philip mengangkat kedua tangannya ke udara. "Sepertinya kita akan menghabiskan waktu lumayan panjang untuk membahas soal 'level' ini." Dia menoleh ke kiri dan memanggil Sigit yang sedang membersihkan peralatan masak. "Mas, aku harus membajak Mbak Mila sebentar. Tolong jangan marah, ya?" (halaman 13)
Bagaimana Philip mengatur strategi untuk mendapatkan cinta Gwen?

Sungguh ini adalah novel yang sangat manis. Lebih dewasa dan juga matang. Indah Hanaco benar-benar berhasil membuat jantung berdegup saat adegan malam pertama tercipta. Bacaan yang tepat bagi pasangan dengan label "just married".

1. Kamu akan meleleh dengan perhatian yang Philip berikan untuk Gwen

Pasangan yang baru menikah akan melalui masa-masa penyesuaian. Diawali dengan hal-hal yang manis seperti bulan madu, eksplor tentang kekurangan dan kelebihan, ataupun menjelajah saat malam tiba, berdua, di ranjang. Nah Philip dan Gwen juga saling mengenal karena tidak melalui masa pacaran melainkan langsung menikah.

"Beratku lima puluh kilogram. Kau mungkin akan mengalami patah tulang kalau terus memangku dan memelukku begini." (halaman 84)

Ketika pasangan sedang meraba-raba apa itu cinta, apakah benar mereka saling cinta, dan mulai membuka diri. Pasangan harus benar-benar membuka semua indera. Tidak memasukkan ego. Hanya empati ya cukup berusaha merasakan apa yang sedang dihadapi oleh pasangannya.

"Andai mereka bisa bertukar tempat, Philip pun takkan sudi membongkar rahasia sekelam itu. Ini bukan soal kepercayaan, melainkan tentang menjauhkan orang yang dicintai dari hal-hal menjijikkan yang tak bisa diubah. Keadaan takkan membaik hanya karena Gwen menceritakan rahasianya pada Philip. Memangnya apa yang bisa dilakukannya untuk memperbaiki masa lalu istrinya?" (halaman 137)


2. Bagaimana seseorang berpikir positif setelah badai memporak-porandakan hidup

Hidup Gwen Camelia tidaklah mudah. Dia berumur 22 tahun saat memutuskan menerima tawaran Philip Renard untuk menikah. Itupun setelah Philip menyelamatkannya dari tragedi yang diciptakan Ben.

Tidak ada ayah dan ibu, harus merawat si kembar dan memutuskan untuk menunda kuliah demi dua adiknya. Belum lagi kakak tirinya, Elvi kakaknya yang jalang yang hanya pantas diceburkan ke neraka untuk semua penindasan yang dia lakukan kepada Gwen.

"... Pada akhirnya Gwen tidak mau lagi berandai-andai. Dia menjalani apa yang memang digariskan, tidak menginginkan segala hal yang mustahil terjangkau. Gwen menolak untuk makin jauh terperangkap pada ketidakbahagiaan." (halaman 159)

Menikah, membawa masa lalu masing-masing, pastilah tidak akan berhasil jika pasangan hanya berkutat pada masa yang tidak bisa diubah itu. Masih cemas ketika mantan sang suami menghubungi. Kalang kabut ketika istri curhat tentang mantan yang masih belum move on. 

Gwen dan Philip benar-benar berjuang melangkah ke depan, menyongsong kehidupan baru mereka. Berusaha membuat kenangan-kenangan baru untuk menggantikan kenangan-kenangan perih yang terjadi di masa lalu.


3. Gangguan ada di mana saja dan kitalah yang harus mengambil sikap 

"Aku tahu ceritanya," balas Rafe kalem. "Tapi nggak perlu cemas. Suamimu ini kebal godaan, Gwen. Aku ada di kantornya saat Sondra pingsan. Kami membawanya ke klinik. Aku juga ada di sana waktu gadis itu membawakan makanan untuk Philip. Suamimu bahkannggak mau menyentuh makanan itu dan malah memberikannya ke satpam. Aku juga ada waktu Philip memanggil Sondra minggu lalu. Dia memarahi gadis itu karena sudah menemuimu dan mengoceh tak keruan. Bahkan aku sampai merasa iba pada Sondra karena Philip begitu galak. Gadis itu, sudah cintanya ditolak mentah-mentah, masih dimarahi pula. Setelahnya, masih dilarang dekat-dekat ruangan Philip. Dia..."
(halaman 234)

Sebenarnya novel ini adalah cubitan bagiku. Bahwa ada banyak laki-laki di luar sana yang setia seperti halnya Philip. Namun aku sebagai wanita tidak cukup berani untuk percaya. Yakin bahwa ada laki-laki yang mampu bertanggung jawab akan istri dan menghalau semua godaan yang ada. Ya membaca memang menyelamatkan.


4. Katarsis

"Sejak kapan ada samsak di belakang rumah kita?"
"Sejak tadi pagi. Aku biasa memukuli benda itu saat sedang punya masalah. Itu caraku melepaskan emosi. Supaya nggak ada orang di sekitarku yang matanya lebam," gurau Gwen. "Sejak pindah ke sini, aku belum pernah lagi meninju benda itu."
"Itu cara yang cerdas untuk menyalurkan emosi. Sungguh, aku lebih suka kau memukuli benda itu ketimbang menjadi sasaran. Meski aku mencintaimu, aku sangat menyayangi mata dan wajahku."
(halaman 139)

Pernikahan: dua karakter, dua sifat, dan dua latar belakang. Pernikahan adalah perjalanan. Harus ada yang dipersiapkan, langsung dijalani saja, atau berbekal seadanya. 

Ketika perjalanan menjadi sangat berat dan penuh badai, tidak ada salahnya untuk menepi. Melakukan hal-hal yang bisa membuat pasangan bahagia. Jika perlu waktu menyendiri, keluar rumah, atau sekedar mengubah penataan ruangan. Setelah siap maka bisa kembali mengarungi perjalanan yang bernama pernikahan.

5. Menikah tak melulu soal punya anak

"Gwen bukannya tidak menginginkan itu, tapi prioritasnya saat ini menyelesaikan pendidikannya. Seharusnya Gwen sedang bersiap untuk menjadi sarjana. Namun karena harus menunda kuliah dan sempat cuti, dia masih menjadi mahasiswi semester tiga. Perempuan itu sudah bersepakat dengan suaminya untuk menunda dulu masalah bayi hingga Gwen menjadi sarjana." (halaman 163)

Philip memberikan kebebasan sepenuhnya pada Gwen untuk merampungkan pendidikannya. Sungguh ini terjadi di dunia nyata. Suami dengan kesadaran penuh memberikan istri hak sepenuhnya untuk mengenyam pendidikan yang diimpikannya. Setelah menikah, istri bisa dengan bahagia belajar untuk mengaktualisasikan diri dan juga bekal mendidik anak-anaknya. Suami paham bahwa pendidikan dan ilmu inilah yang nantinya akan menjaga mereka.

Buat yang mau menikah, tambahlah pengetahuan! Paling tidak bekali diri dengan pengetahuan tentang konsekuensi apa yang akan dihadapi setelah kata "sah" diamini. Jika tidak mau, kenali lah pasangan! Pastikan agar tidak membeli kucing dalam karung yang berujung pada penyesalan. 

Meskipun Philip ada di dunia nyata tetapi kisahnya terbatas di novel dan berakhir bahagia. Intinya tidak ada yang sempurna. Kita harus punya seribu satu cara bahkan lebih untuk melalui perjalanan kita sendiri.

Buat yang sedang dalam perjalanan bernama pernikahan, novel ini bisa menjadi pengingat bagaimana awal-awal pernikahan yang manis. Perjalanan masih terus berlanjut dan semoga selalu menemukan bahagia di setiap haltenya.

Makasih buat Indah Hanaco yang sudah menuliskan kisah Philip-Gwen dengan dinamika yang nyata dan penuh pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design