Jumat, 18 Agustus 2017

Hai There! Are You Happy Now?

Ini cerita mini fiksi ya jadi kalau ada kesamaan kisah mohon dimaklumi karena murni gabungan curhatan dan imajinasi. 


Pagi bersinar, menghadirkan cahaya yang begitu menusuk. Ingatan akan kamu sungguh tak mau enyah meskipun sudah aku paksa. Kamu yang bayangan punggungnya pun tidak bisa aku miliki. Aku terduduk di sudut ranjang. Sejenak memandang kursi yang jadi saksi betapa aku merindukanmu. Sudah satu musim berlalu dan kenangan itu entah kenapa tak jua beranjak pergi malah semakin menghantui. Dengan bodohnya aku di sini. Kamar yang sama tanpa kamu. Hanya aku dan rangkaian malam panas yang berputar kembali.

Aroma kopi sudah tak lagi menyakiti. Aku berdamai ketika aroma manis nan menggoda itu menguar, ada nyaman meski sekejap. Membuatku kembali ke rutinitas pagi. Kembali bernostalgila. Gila karena cintaku padamu.

Mengenang malam itu. Hujan tetapi aku merasakan begitu hangat meski yang aku peluk adalah jaket anti airmu yang kuyup. Setelah menghabiskan malam nan romantis meski hanya kongkow di warung penyetan murah meriah. Romantis karena pipiku tak berhenti memerah. Adrenalin rush. Seperti rasa ingin memiliki tetapi tak mungkin diikuti. Hujan pun mengamini. Memberikan kesempatan untukku mengumpulkan keberanian. Memeluk erat karena aku tahu waktuku terbatas, merengkuh calon pacarku. 

Duhai calon pacar yang tidak akan pernah naik tingkat jadi calon suami. Sampai saat ini aku mengutuki waktu. Kenapa selalu salah! Cinta dan juga nyaman membuatku serakah. Kenapa aku harus memilih? Memilih untuk menjauh. 

Hai there! Are you happy now?

Apakah kau sudah menikah? Bagaimana istrimu memperlakukanmu? Hebatkah dia di ranjang? Sukakah dia memasak? Lalu bagaimana dengan kejutan? Pernahkah dia memberimu kejutan? Membawamu ke hotel dengan dekorasi ulang tahun dan juga kado buku-buku kesukaanmu? Aku di sini menyesali diri dengan sepiring spageti bumbu bali.

Oh shit, all those questions are killing me softly. Dadaku sesak. Bukankah harusnya aku yang ada di sana dengan kamu bertelanjang dada di atasku sambil berbisik, "I miss you."

Lintang. Iya namanya pasti Lintang jika anakmu perempuan. Ya ampun ini mengerikan. Kenapa kita harus berbagi hingga begitu jauh. Tentang impian dan juga masa depan. Sementara aku hanya bisa ada di masa lalu. Mungkin kamu ingat sesekali atau malah tidak sama sekali.

Aarrrgh...

#####

Satu musim berlalu. Aku lelaki bodoh yang hanya bisa mengutuki waktu untuk keberanian yang tak pernah muncul. Ya seharusnya aku berjuang, toh kalian masih pacaran bukan terikat pernikahan.

Tentu saja aku masih ingat bagaimana pelukan itu membuktikan bahwa kau memilihku. Aku lelaki yang bisa membuatmu bahagia bukan dia. Cheesy, ya whatever. Namun kenyataannya begitu menyakitkan. Aku sadar aku masih kurang membuktikan bahwa aku layak untuk ada di pelaminan bersamamu. Bukan sekedar hubungan putus nyambung seperti yang dia berikan. Ya saat itu aku bukanlah pria matang yang kau tunggu. Aku masih saja kekanakan dan berlalu saat masalah-masalah menjadi rumit.

Hai there! Are you happy now?

Apakah kalian akhirnya menikah? Gila, aku tidak ingin kau ada di atas tubuh pria itu dengan napas memburu seperti  malam itu. 

"Persetan dengan norma. Kau adalah milikku. Malam ini."

Hanya aku yang boleh mereguk manismu bukan pria itu. Akulah yang tahu apa impianmu, ke mana saja kau akan pergi, dan bagaimana wajahmu berubah seperti kepiting rebus setiap aku menatapmu bukan karena nafsu. Manismu memang menggiurkan tetapi rasa nyaman itulah yang memabukkan. Aku adalah aku saat bersamamu.

Apakah akhirnya kau berpisah dengannya? Membahagiakan dirimu sendiri dengan meraih semua impian yang tidak diketahui pria itu. Hanya aku katamu. Iya yang tahu rancangan masa depanmu.

Tunggu! Agenda kerjaku, ada rangkaian dua belas angka. Apakah masih sama? Mari hentikan kegilaan ini dengan melakukan kegilaan lain.

Seharusnya aku berjuang. Mendapatkanmu. Bukan hanya di sini meratapi kegagalan diri.
Aaarghhh...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design