Sabtu, 19 Agustus 2017

BERHENTILAH BERUSAHA MENJADI ORANG LAIN


Di SMANSAMenulis05 kami pernah mengudang Carolina Ratri, blogger sekaligus penulis buku yang tulisan di blognya www.carolinaratri.com fokus membantu para penulis pemula untuk berkembang. Mba yang akrab dipanggil Carra ini tidak hanya menulis di blog tetapi juga novel, flash fiction, sekaligus menggambar.

Nah ketika kami berdikusi ada pertanyaan seorang teman, sebut saja namanya Hepi: "Mba aku tuh suka nulis sastra tetapi sekarang banting stir jadi nulis artikel, gimana ya mba?" kira-kira begitu pertanyaannya. Dari fiksi kemudian menyebrang ke nonfiksi. Jawaban mba Carra begitu mengena padaku, "Lanjutkan saja keduanya, itu akan membuatmu lebih kaya."

Kaya? Menulis bisa membuat kaya. Tentu saja. Proses menulis sama dengan pekerjaan yang lain. Lakukan, pembaca senang, buku laris atau tulisan viral. Kaya di sini bisa saja kaya materi atau hati. Royalti atau jual putus akan menghasilkan pundi-pundi lalu pundi-pundi ini kamu gunakan untuk membiayai perjalananmu. Perjalanan yang ternyata memperkaya batinmu kemudian kamu tulis lagi. Nah begitu terus perputarannya.

Indah Hanaco adalah penulis produktif yang hingga saat ini sudah mengeluarkan 37 novel. Aku akrab dengannya dan sering bertukar pikiran tentang bagaimana menulis itu benar-benar bisa menyembuhkan dan memperkaya hati.

Setiap orang menjalani prosesnya masing-masing untuk akhirnya sampai pada sebuah kesadaran untuk menulis dan memperkaya diri. Tidak lagi fokus pada kaya materi tetapi hati yang kaya. Berproses dan melakukan perjalanan baik menjadi pembaca yang melahap buku apapun maupun pejalan yang mendokumentasikan juga menulis agar bisa membekukan momen.

Aku? Aku baru sampai pada tahap menulis untuk "berhenti berusaha menjadi orang lain". Sadar secara penuh bahwa saat ini aku adalah ibu rumah tangga penuh. Aku ingin kaya tetapi pekerjaanku sebagai ibu rumah tangga penuh dan hanya mengandalkan uang bulanan dari suami tentu bisa dibilang hanya  cukup secara materi. Aku pada prosesnya mulai tahu, dari tulisan-tulisan yang aku buat di blogku, aku sedang berusaha memperkaya diriku sendiri. Berusaha jadi aku. Bukan penulis-penulis idolaku. Awalnya memang terinspirasi. Makanya sering aku tanya: tulisanku mirip kamu gak? Lega ketika Indah Hanaco bilang aku punya gayaku sendiri.





Ternyata aku bukanlah epigon. Seperti penjelasan Mas Bambang Trim di bukunya "The Art of Stimulating Idea" halaman 111. INSAFLAH UNTUK TIDAK MEMAKSAKAN DIRI MENJADI ORANG LAIN, tulis mas Bambang Trim. Aku ternyata hanya mengidolakan penulis-penulis senior nan produktif itu. Aku punya gaya menulis sendiri. Entah itu saat menulis cerpen, artikel, atau sekedar status di FB. Hahaha... Entah kenapa aku bahagia menemukan kenyataan ini. Kenyataan aku adalah aku.

epigon/epi·gon/ /Γ©pigon/ n orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya; peniru seniman atau pemikir besar (https://kbbi.web.id/epigon)
Pada tahap awal mungkin aku mencoba untuk fokus pada novel. Namun berusaha dengan keras sejak 2012, Ammabel tak kunjung usai. Novel itu bongkar pasang terus dan tak jua ada kata "tamat".

Aku ambil jalan lain. Cari ilmu lain sembari terus menulis. Tidak lagi memimpikan jadi ibu bekerja, bangun pagi, berdandan dan memakai setelan trendi kesukaanku. Aku berdamai. Aku adalah ibu rumah tangga penuh dengan jam kerja 24 jam dan daster warna-warni adalah yang ternyaman sepanjang hari. 

Dalam menulis pun aku berusaha menemukan gayaku sendiri. Tidak sekedar mengikuti tren yang sudah ada dan best seller. Aku menulis yang aku suka dan ada di sekitarku.

Terima kasih buat teman-teman di SMANSAMenulis05 yang sudah menemani perjalanan menulisku dari bulan April 2017 hingga kini. Kalian yang menjadi pengingat bahwa menulis adalah yang membuat aku tetap jadi diriku.  Kalian yang menjadi penyemangat agar aku bisa berguna baik bagi diriku sendiri maupun orang lain dengan menulis. 

Kamis, 17 Agustus 2017

Lomba Yuk! Momen Dirgahahayu 72 yang Bikin Merasa Merdeka


"Ibu, nanti kalau mamas ikut lomba malah kalah."

Itulah jawaban yang anak sulungku berikan ketika aku tanya mau ikut lomba apa. 

Baiklah tak perlu mendesak. Biarkan nantinya dia yang memutuskan. Aku juga tak punya ingatan spesial tentang lomba kecuali kemah sebelum Upacara Bendera memperingati Hut RI. Tujuh belasan. Bukan seperti anak lain yang semangat, aku lebih sering tidur banyak seusai kemah. Sungguh terlalu memang. Makanya ketika Raisa membukam nyinyiran yang bilang kenapa pilih Hamish yang blasteran dengan bertanya: kamu emang udah ngapain? Aku merasa malu juga. Apa ya yang sudah aku lakukan untuk Indonesiaku? Piknik dan menjelajah daerah, belum. Aarrrgh...

Balik ke lomba. Akhirnya suatu pagi di tanggal 13 Agustus 2017 itu Mamas jalan sama dedek dan juga ayahnya untuk beli susu. Lewatlah depan lapangan RT kan pas balik dari warung. Lha kok rame anak-anak kumpul. Tertariklah dia. Akhirnya mau ikut lomba. Makan kerupuk, pindahin bendera, dan membawa kelereng. Adiknya ikutan main waktu mamasnya lomba. Waktu berkualitas juga buat aku dan suami menemani anak-anak.

"Gak apa-apa kan Yah kalau gak menang."
"Gak papa mamas yang penting mamas senang."

What a perfect day. Senang karena setelah lomba dia dapat donat coklat plus susu yang dikira hadiah. Ditambah kerupuk yang harus dihabiskan karena keburu waktu habis.

Lomba kerupuk, posisinya belum pas jadi kurang tinggi. Mamasnya belum bisa kira-kira jadi dia bete dan cuma pura-pura gigit kayak dinosaurus yang mau makan mangsa tapi ogah-ogahan. Suaranya aja. Herrr, auk auk auk. Asli ngakak lihatin ekspresinya tetapi harus tahan biar mamas gak tambah senewen. Udah mau ikut aja udah bagus. Memang hanya itu tujuan kami. Mamas mau mencoba.

Lomba pindahin bendera. Dipilih yang setara umurnya sama mamas. Menang dia. Malah kesannya larinya malas-malasan gitu. Dia hepi karena bisa menang. Senyum-senyum.

"Ibu nunggu lomba apa lagi?"
"Nanti lomba bendera lagi tapi sama kakak."
"Ah gak mau nanti aku kalah."

Mamas sudah bisa ukur kemampuan dirinya. Perlu sedikit motivasi agar mau mencoba apapun hasilnya. Begitu diadu lagi dengan yang umur 6, kalah dia. Ya gimana memang umurnya 4 sampai 6. Namanya juga untuk senang-senang.

"Ah mamas kalah Yah."
"Gak papa yang penting mamas mau coba."

#################################################

Pawai di tanggal 17 Agustus 2017, Bekasi Barat. Pejuang muterin THB balik lagi ke rumah RT masin-masing.

Entah kenapa waktu di Bekasi kok melow. Pawai begitu meriah. Sampai gak fokus foto-foto saking terkesimanya. Semuanya total. Sepeda hias, ondel-ondel, bahkan sepeda yang dihias jadi burung garuda. Hanya sempat foto ini aja yang lain dinikmati oleh mata dan jiwa.

Jalanan macet. Biasanya orang-orang akan perang klakson dan heboh. Kali ini fokus lihat pawai sambil nyanyi Indonesia Raya dan bawa-bawa bendera kecil. Begitu semarak. 

Inilah Indonesia. Katanya banyak yang gak suka dengan budaya sendiri tetapi nyatanya semua anak-anak muda berperan dalam mengisi peringatan 72 tahun Indonesia merdeka dan sangat antusias. Mereka mengkoordinir acara lomba, pawai, dan juga membuat kostum yang "Indonesia banget". Iya nyesel gak potret detil karena rempong bawa-bawa Geni yang lagi ngemil mendoan.

Inilah Indonesia. Sejauh apapun pergi tetap merasa yang dipijak adalah rumah. Indonesia. Ah mewek deh. Sudahlah kalau dilanjutkan nanti heboh. Pokoknya JAYA TERUS INDONESIA. MERDEKA!!!


Rabu, 16 Agustus 2017

Kapstok Gantungan Kunci untuk Si Pelupa

Nempel di deket colokan biar sekalian dicharger yak
"Mah lihat kunci ayah gak?"

Carinya muter-muter ternyata di deket jaket. Padahal harusnya setengah jam lalu udah berangkat. Baiklah.

"Mamas, kunci ibu tadi mana?"

Bolak-balik cari di kamar. Lho kok udah nyantol di motor. 

Pernah ngalami? Atau malah sering. Lupa bisa dialami siapa saja. Baik muda atau tua. Terkadang kita harus berhenti sejenak untuk mereka ulang dimana pemberhentian terakhir, mungkin itulah tempat tertinggalnya kunci.

Sudah terpikirkan untuk membeli gantungan kunci. Apa daya belum ada waktu buat jalan dan toko online belum ada yang ngena.

Begitu ada teman posting di IG, aku langsung japri Ita atau lengkapnya Nurulita Septiana.




kapstok gantungan kunci ini dibandrol Rp120.000 belum termasuk ongkir dari Jogja ke tempat tujuan. Custom ya teman, bisa dibuat sesuai kebutuhan kalian. Bisnis kapstok gantungan kunci ini murni sampingan. Hanya dikerjakan sabtu minggu ketika suami Ita libur. Nah begitu kita memasukkan order, harus sabar menunggu. Bahan yang digunakan kayu jati Belanda. Selain untuk mencantolkan kunci-kunci agar tidak tercecer dan susah dicari, bisa juga digunakan sebagai bagian dari dekorasi rumah. Meski kelihatannya sempit ternyata bisa diletakkan pot dari gelas untuk bunga atau tanaman, kamera, dua sampai tiga hp, dan radio juga. Pokoknya sesuai permintaan maunya gimana. 



Waktu pas ketemu di reuni memang aku sudah sempat bilang kalau mau pesan gantungan kunci. Baru japri Ita lagi setelah lihat postingan teman-teman dan juga efek lupa yang kian menjengkelkan. Sampai kepikiran modifikasi hp biar bisa dikasih kunci. Iya maksudnya biar bisa ditelepon kalau lagi menghilang. Hahaha, dan karena belum mungkin jadinya order kapstok gantungan kunci multifungsi ini.

Bentar-bentar, ini sering lupa jangan-jangan sudah pikun ya? Lho bukannya kemarin baru ulang tahun ke tigapuluh? Ish malah ditegasin. Biar bisa memaklumi kalau umur segitu boleh sering lupa. Gak lah. Lupa kan bisa macam-macam penyebabnya. Stres, kurang asupan otak, atau malah sudah terserang pikun. Ya semoga setelah ini tidak ada lagi gegeran pagi-pagi nyari kunci yak. Aamiin.
Selasa, 15 Agustus 2017

Semangka Busuk dan Kepercayaan

Sudah sampai berliur membayangkan segarnya semangka di musim panas
Di musim panas semangka jadi idola. Air yang melimpah, daging buah yang kres-kres, dan manis yang menjadikan sensasi dinginnya tambah mengigit lidah. Tidak akan berhenti hingga piring saji menyisakan kulit. 

Sangat cocok dikonsumsi saat siang dan sinar matahari mengeringkan kerongkongan antara jam 12 hingga jam 1 siang. 

Nah ceritanya aku sudah punya tukang sayur langganan. Aku sering memesan semangka dan juga pisang. Hari itu memang panas sangat garang. Keluar sebentar saja, kepalaku rasanya seperti tersengat dan mataku langsung perih. 

"Gak papa ibu, kan ini memang musim panas. Kita makan semangka aja yuk."
"Iya mamas tapi pakde belum datang. Kan kemarin baru pesan sama pakde semangkanya."
"Oh jadi tunggu dulu," simpulnya dengan senyum.

Itu semangka pas lagi ditunggu-tunggu, gak minta dipotong sekalian eh malah busuk. Orangnya udah keburu jualan lagi.

Musnah sudah semua harapan. Dia bilang semangkanya itu selalu juara. Manis dan segar. Namun hari itu semua kepercayaan itu hancur. Memang aku selalu saja lupa. Lupa untuk tidak cepat percaya. Kecewa lagi hanya perkara semangka.

Ini masalah semangka busuk lho ya, kok jadi panjang urusannya. Iya soalnya kalau gak ditulis bakalan lupa lagi.

"Percaya pada manusia adalah kebodohan. Bodoh karena kamu  tahu itu akan berujung kecewa." (phalupiahero)
Jelas saja kecewa. Buat orang-orang pemuja kesempurnaan maka pastilah akan sakit hati ketika kepercayaan yang diberikan ternyata hancur hanya karena tidak teliti memilih semangka. Itu tukang sayur ya, mungkin bangun jam satu dini hari untuk memburu dagangan yang kasih keuntungan lebih. Demi kiriman ke kampung lebih banyak dari bulan kemarin meski hanya seratus ribu. 

Konyol ternyata setelah ditulis. Aku kehilangan mood seharian setelah merasa tertipu. Padahal hal-hal seperti ini pastilah datang silih berganti. Orang-orang datang dan pergi. Berbekal kepercayaan kita, mereka bisa melakukan hal jahat atau malah membuat kita merasa diperhatikan.

Harus bagaimana?
Kepercayaan memang harus kita perjuangkan. Ora mak pedundug simsalabim, orang percaya. Hipnotis pun butuh waktu.

"Ah kita memang gak boleh percaya ama orang dek, percaya ya sama Tuhan. Percaya sama orang bisa masuk syirik lho."

Yawlaaa urusan semangka busuk aja bisa sampe bahas syirik ya cintaku. Artinya kita memang harus bersikap biasa saja. "Shit happens but you can flush it anyway."

Berapa kali semangka busuk itu mampir hingga akhirnya kamu tahu bagaimana cara membedakan semangka kualitas bagus dengan yang mudah busuk? Pelajaran apa yang kamu petik ketika semangka busuk itu mampir? BELAJAR DARI PENGALAMAN.

4 KALI. Semangka sebaiknya langsung dibelah oleh penjual. Semangka yang mudah busuk memiliki guratan putih di antara sela-sela daging buahnya yang merah. Busuk ketika kulit luar bonyok. Akan tidak enak dimakan lagi saat ada bau menyengat ketika semangka itu dibelah.

4 KALI. Mencoba untuk percaya kalau besok jauh lebih baik. Biarkan dia menjelekkan tukang sayur lain. Fokus saja kalau memang kamu sreg. Tidak perlu banyak nawar. Rezeki tidak akan pernah berkurang atau tertukar. 

Semangka busuk hanya contoh saja bagaimana kepercayaan bisa dibangun. Tidak perlu terlalu serius hingga harus mengomel bahkan memboikot agar tukang sayur itu tidak perlu lewat lagi di depan rumah. Halooo! 

"Iya pakde minta maaf, besok diganti ya. Kasihan udah nunggu padahal ya. Besok ya besok pasti pakde ganti yang bagus."

See, menunda marah itu juga bagian dari memelihara hubungan dan juga kepercayaan. Stay cool and get your refreshing sweet watermelon tomorrow!
Senin, 14 Agustus 2017

GARA, GENI, KARTUN, DAN PEMBELAJARAN


Rainbow Ruby adalah kartun yang tayang di RTV. Jam dan harinya berubah-ubah. Kartun ini sangat membantu ibu menjelaskan kepada anak tentang berbagai macam profesi. Gambar yang aku ambil adalah ketika Ruby menjadi dokter gigi. Ternyata kartun ini digunakan UNESCO membantu anak-anak perempuan mendapatkan pendidikan. 

Umur 4 tahun, anakku sudah bisa memilih kartun apa yang akan dia tonton saat sarapan lalu menjelang tidur siang hingga waktunya membaca buku sembari menunggu kantuk benar-benar sukses mengalahkan mata.

Anak-anak memang tidak dapat dipisahkan dari tontonan. Ada waktu di mana mereka lelah bermain pasir, air, ataupun bersepeda keliling kompleks. Namanya juga anak-anak ada yang cepat bosan.

Jadwal kartun anak-anak dari pagi hingga malam memang beragam. Aku tidaklah membatasi, mereka boleh nonton apa saja. Kok gitu? Emang gak takut mereka jadi kecanduan terus kurang gerak dan malah seharian duduk aja di depan tv?

Ini studi kasus anakku ya jadi bisa dipakai atau hanya masukan saja saat memutuskan harus mengambil cara yang bagaimana untuk membentuk rutinitas anak.

Bangun tidur. Mandi. Sarapan. Nonton kartun. Jam kartun selesai maka secara otomatis Gara akan mengeluarkan mainan yang sedang dia sukai. Main bersama adiknya. Adiknya ikut pola Gara kalau tidak begitu mengantuk. Geni memang masih tidur tiga kali dalam sehari dan hanya dua jam di setiap sesinya. *tidur apa les gitar mak pake sesi segala

Balik ke kartun. Pada saat semua judul kartun telah Gara tonton, sekarang dia hanya fokus saat Hi5, Shaun the sheep, Rainbow Ruby, dan Tayo. Ketika kartun lainnya tayang dia akan ambil mainan dan menata semua balok untuk dia rancang. Bila rancangan sudah selesai maka dia akan mulai menggunting kertas lalu membuat perlengkapan pesta. Topi dan juga baju.

Jadi tidak ada masalah membiarkan dia menonton semua kartun. Apapun kartunnya yang penting aku dampingi untuk memberikan penjelasan atau masukan yang diperlukan. 

"Terus yang nemenin aku siapa?" ujar Gara ketika aku pamit untuk memasak makan siang.

Dia akan dengan senang hati mengikuti dan berusaha ambil peran membantu ibu.

"Dipetik bu? Biar bersih? Biar kumannya mati?"

Ada masa di mana Gara terlalu cerewet lalu memberikan kejutan saat bisa mengganti channel yang ada kartun.

"Satu sama sembilan bu nomornya. Yang melengkung ke bawah kan."
"Ya nak, sembilan itu yang melengkungnya ke bawah."

Dia tahu angka yang menurutku hanya sambil lalu saja aku ajarkan. Ah nak, kamu memang sponge penyerap yang luar biasa. 

Hi5 saat ini jadi favorit Geni. Dia akan bergoyang mengikuti alunan musik dan juga tarian yang sedang Hi5 peragakan. Motorik kasar secara tidak langsung ikut dilatih dan motorik halus juga berkembang. Tampak ketika Geni mulai memegang gelas sendiri dan mengontrol masuknya air ke mulut.

Anak-anak belajar dari sekitar. Tidak usah terlalu parno dengan apa yang dia tonton asal kita mendampingi dan selalu memberikan jawaban atas semua penasaran yang mereka rasakan. Mereka kadang tumbuh jadi lebih pintar, kuat, dan mandiri hanya ketika kita merasa sedang berkedip. Maka dari itulah dampingi secara utuh dan penuh agar kita tidak melewatkan sedetik saja perubahan mereka.
"Ibu, lelahmu akan terbayar hanya dengan senyum dan pelukan hangat dariku.    Ibu, nilaimu akan selalu 100 jadi tak perlulah kau merasa rendah diri.        Temani aku hingga masanya berganti dan akulah yang akan menemanimu.          Bersabarlah karena itu hanya sekedipan mata saja." 
Kartun ada masanya begitu pula kebersamaan kita bersama anak-anak. Sungguh indah bila kita bisa bersama mereka untuk tumbuh, belajar, dan beranjak dewasa. 
Minggu, 13 Agustus 2017

[Komentar Apik] The Passionate Marriage, Membuat Kenangan Indah demi Melalui Masa Lalu yang Sulit

Novel ke 34

Penulis    :  Indah Hanaco

Penerbit   :  Grasindo

Tahun      :   Maret 2017

Halaman  :  242

"Wow, sebentar!" Philip mengangkat kedua tangannya ke udara. "Sepertinya kita akan menghabiskan waktu lumayan panjang untuk membahas soal 'level' ini." Dia menoleh ke kiri dan memanggil Sigit yang sedang membersihkan peralatan masak. "Mas, aku harus membajak Mbak Mila sebentar. Tolong jangan marah, ya?" (halaman 13)
Bagaimana Philip mengatur strategi untuk mendapatkan cinta Gwen?

Sungguh ini adalah novel yang sangat manis. Lebih dewasa dan juga matang. Indah Hanaco benar-benar berhasil membuat jantung berdegup saat adegan malam pertama tercipta. Bacaan yang tepat bagi pasangan dengan label "just married".

1. Kamu akan meleleh dengan perhatian yang Philip berikan untuk Gwen

Pasangan yang baru menikah akan melalui masa-masa penyesuaian. Diawali dengan hal-hal yang manis seperti bulan madu, eksplor tentang kekurangan dan kelebihan, ataupun menjelajah saat malam tiba, berdua, di ranjang. Nah Philip dan Gwen juga saling mengenal karena tidak melalui masa pacaran melainkan langsung menikah.

"Beratku lima puluh kilogram. Kau mungkin akan mengalami patah tulang kalau terus memangku dan memelukku begini." (halaman 84)

Ketika pasangan sedang meraba-raba apa itu cinta, apakah benar mereka saling cinta, dan mulai membuka diri. Pasangan harus benar-benar membuka semua indera. Tidak memasukkan ego. Hanya empati ya cukup berusaha merasakan apa yang sedang dihadapi oleh pasangannya.

"Andai mereka bisa bertukar tempat, Philip pun takkan sudi membongkar rahasia sekelam itu. Ini bukan soal kepercayaan, melainkan tentang menjauhkan orang yang dicintai dari hal-hal menjijikkan yang tak bisa diubah. Keadaan takkan membaik hanya karena Gwen menceritakan rahasianya pada Philip. Memangnya apa yang bisa dilakukannya untuk memperbaiki masa lalu istrinya?" (halaman 137)


2. Bagaimana seseorang berpikir positif setelah badai memporak-porandakan hidup

Hidup Gwen Camelia tidaklah mudah. Dia berumur 22 tahun saat memutuskan menerima tawaran Philip Renard untuk menikah. Itupun setelah Philip menyelamatkannya dari tragedi yang diciptakan Ben.

Tidak ada ayah dan ibu, harus merawat si kembar dan memutuskan untuk menunda kuliah demi dua adiknya. Belum lagi kakak tirinya, Elvi kakaknya yang jalang yang hanya pantas diceburkan ke neraka untuk semua penindasan yang dia lakukan kepada Gwen.

"... Pada akhirnya Gwen tidak mau lagi berandai-andai. Dia menjalani apa yang memang digariskan, tidak menginginkan segala hal yang mustahil terjangkau. Gwen menolak untuk makin jauh terperangkap pada ketidakbahagiaan." (halaman 159)

Menikah, membawa masa lalu masing-masing, pastilah tidak akan berhasil jika pasangan hanya berkutat pada masa yang tidak bisa diubah itu. Masih cemas ketika mantan sang suami menghubungi. Kalang kabut ketika istri curhat tentang mantan yang masih belum move on. 

Gwen dan Philip benar-benar berjuang melangkah ke depan, menyongsong kehidupan baru mereka. Berusaha membuat kenangan-kenangan baru untuk menggantikan kenangan-kenangan perih yang terjadi di masa lalu.


3. Gangguan ada di mana saja dan kitalah yang harus mengambil sikap 

"Aku tahu ceritanya," balas Rafe kalem. "Tapi nggak perlu cemas. Suamimu ini kebal godaan, Gwen. Aku ada di kantornya saat Sondra pingsan. Kami membawanya ke klinik. Aku juga ada di sana waktu gadis itu membawakan makanan untuk Philip. Suamimu bahkannggak mau menyentuh makanan itu dan malah memberikannya ke satpam. Aku juga ada waktu Philip memanggil Sondra minggu lalu. Dia memarahi gadis itu karena sudah menemuimu dan mengoceh tak keruan. Bahkan aku sampai merasa iba pada Sondra karena Philip begitu galak. Gadis itu, sudah cintanya ditolak mentah-mentah, masih dimarahi pula. Setelahnya, masih dilarang dekat-dekat ruangan Philip. Dia..."
(halaman 234)

Sebenarnya novel ini adalah cubitan bagiku. Bahwa ada banyak laki-laki di luar sana yang setia seperti halnya Philip. Namun aku sebagai wanita tidak cukup berani untuk percaya. Yakin bahwa ada laki-laki yang mampu bertanggung jawab akan istri dan menghalau semua godaan yang ada. Ya membaca memang menyelamatkan.


4. Katarsis

"Sejak kapan ada samsak di belakang rumah kita?"
"Sejak tadi pagi. Aku biasa memukuli benda itu saat sedang punya masalah. Itu caraku melepaskan emosi. Supaya nggak ada orang di sekitarku yang matanya lebam," gurau Gwen. "Sejak pindah ke sini, aku belum pernah lagi meninju benda itu."
"Itu cara yang cerdas untuk menyalurkan emosi. Sungguh, aku lebih suka kau memukuli benda itu ketimbang menjadi sasaran. Meski aku mencintaimu, aku sangat menyayangi mata dan wajahku."
(halaman 139)

Pernikahan: dua karakter, dua sifat, dan dua latar belakang. Pernikahan adalah perjalanan. Harus ada yang dipersiapkan, langsung dijalani saja, atau berbekal seadanya. 

Ketika perjalanan menjadi sangat berat dan penuh badai, tidak ada salahnya untuk menepi. Melakukan hal-hal yang bisa membuat pasangan bahagia. Jika perlu waktu menyendiri, keluar rumah, atau sekedar mengubah penataan ruangan. Setelah siap maka bisa kembali mengarungi perjalanan yang bernama pernikahan.

5. Menikah tak melulu soal punya anak

"Gwen bukannya tidak menginginkan itu, tapi prioritasnya saat ini menyelesaikan pendidikannya. Seharusnya Gwen sedang bersiap untuk menjadi sarjana. Namun karena harus menunda kuliah dan sempat cuti, dia masih menjadi mahasiswi semester tiga. Perempuan itu sudah bersepakat dengan suaminya untuk menunda dulu masalah bayi hingga Gwen menjadi sarjana." (halaman 163)

Philip memberikan kebebasan sepenuhnya pada Gwen untuk merampungkan pendidikannya. Sungguh ini terjadi di dunia nyata. Suami dengan kesadaran penuh memberikan istri hak sepenuhnya untuk mengenyam pendidikan yang diimpikannya. Setelah menikah, istri bisa dengan bahagia belajar untuk mengaktualisasikan diri dan juga bekal mendidik anak-anaknya. Suami paham bahwa pendidikan dan ilmu inilah yang nantinya akan menjaga mereka.

Buat yang mau menikah, tambahlah pengetahuan! Paling tidak bekali diri dengan pengetahuan tentang konsekuensi apa yang akan dihadapi setelah kata "sah" diamini. Jika tidak mau, kenali lah pasangan! Pastikan agar tidak membeli kucing dalam karung yang berujung pada penyesalan. 

Meskipun Philip ada di dunia nyata tetapi kisahnya terbatas di novel dan berakhir bahagia. Intinya tidak ada yang sempurna. Kita harus punya seribu satu cara bahkan lebih untuk melalui perjalanan kita sendiri.

Buat yang sedang dalam perjalanan bernama pernikahan, novel ini bisa menjadi pengingat bagaimana awal-awal pernikahan yang manis. Perjalanan masih terus berlanjut dan semoga selalu menemukan bahagia di setiap haltenya.

Makasih buat Indah Hanaco yang sudah menuliskan kisah Philip-Gwen dengan dinamika yang nyata dan penuh pembelajaran.
Sabtu, 12 Agustus 2017

Potong Sayap, Pernikahan dan Pernak-Perniknya

Apa sih yang kamu harapkan dari ikatan pernikahan? Tampak laku, mewujudkan keinginan orangtua, atau memang cita-citamu adalah menikah.

Dulu aku berpikir akan menikah di usia kepala tiga. Malah awalnya sempat berpikir tidak akan menikah. Wew! Pernikahan itu hal mustahil bagiku yang semasa kecil jadi saksi sekaligus korban KDRT. Belum lagi pelecehan yang membuatku menggambarkan pernikahan adalah "potong sayap" bagi seorang wanita. Kasur, dapur, sumur. Begitu sulit untuk wanita bisa berkembang tanpa intimidasi. Wanita itu ya tugasnya melayani suami baik di kasur, merawat dan menjaga jika sakit, serta siap mengalah jika ternyata suami adalah tulang punggung bagi keluarga mertua.


Tidak, aku tidak hendak menakut-nakuti. Kamu pasti punya pandangan sendiri tentang pernikahan. Bagaimana setelah ijab qabul lalu memamerkan buku nikah dan juga cincin setelah itu pesta meriah digelar, tentu itulah bayangan pernikahan yang ideal. Setelah pesta usai, pasangan berbulan madu dan menikmati masa berdua hingga bosan baru punya anak. Bukan yang setelah menikah, di bulan berikutnya istri sudah hamil dan belum cukup mereguk kenikmatan sebagai pengantin baru. Ish, ada lagi yang setelah menikah malah menambang di dasar laut. What a perfect life. Tentu saja  kita cenderung menggambarkan sesuatu yang indah jika memang masa lalu kita indah. Tidak ada tuh pikiran aneh-aneh yang hinggap seputar harus berhenti bekerja, kehilangan waktu untuk diri sendiri, dan berhenti bermimpi untuk sekedar mengaktualisasikan diri.

Tulisan ini sekedar memberikan gambaran nyata tentang kasus-kasus yang terjadi setelah pernikahan.

"Semenjak menikah aku berhenti bekerja mba. Suami ingin cepat punya anak sebelum dia pensiun."

"Aku jadi kaya mesin produksi bayi tahu mba. Setiap tahun melahirkan. Ini aku lagi hamil anak keenam. Lihat badanku mba! Gopret. Aku aja males banget ngaca sekarang."

"Suamiku selingkuh. Katanya aku kurang seksi."

Dan percaya atau tidak ada banyak kasus "potong sayap" seperti ini. Boro-boro beli tas kesayangan, mau keluar sama teman-teman dekat aja susah. Bagaimana pernikahan bukanlah komitmen untuk saling membahagiakan melainkan untuk saling mengalah. Semacam perlombaan yang salah satunya harus terus-terusan menang dan pihak lainnya bertubi-tubi menelan kekalahan. Mau terbang sayapnya tinggal satu, mau jalan kikuk karena biasa terbang, dan akhirnya membiasakan diri terseok-seok dengan satu sayap plus kucuran darah.

Tidak hanya dari sisi istri, banyak juga kok cerita-cerita miris para pria setelah menikah. Ada yang jual ginjal untuk kebutuhan sosialita istrinya, diremehkan mertua karena gaji tidak ada setengah acan dari istri, dan akhirnya terlibat kasus korupsi atau tindakan perampokan.

Komunikasi untuk menuju kata saling. Menikah adalah dua orang. Tujuannya saling membahagiakan baik jiwa maupun raga. Anak, harta, dan kekuasaan adalah amanah. Harus membangun pondasi yang kuat berdua barulah mulai berjuang lebih keras agar pantas diberikan amanah.

Bila ternyata istri belum bisa jadi ibu rumah tangga penuh maka tidak perlulah menuntutnya untuk segera menyesuaikan diri; kursus memasak, belajar pijat bayi, atau les tari perut biar seksi. Apalagi merasa tertekan dengan gajinya yang tinggi lantas membuat lingkungan penindasan saat pulang ke rumah mertuanya. 

Begitu pula istri sebaiknya mulai menyesuaikan diri dengan kondisi pernikahan secepat yang kamu bisa. Tidak perlu memaksa suami, tahu batasan, dan mulailah untuk membuka diri.

Ngobrol, tukar pendapat, atau curhat. Kan sama istri atau suami sendiri. Sah di mata agama dan hukum. Kenapa harus malu atau sungkan seperti dengan orang lain. Bayangkanlah dia itu sahabat jika perlu membicarakan hal-hal yang sensitif agar tidak ada lagi rahasia ataupun kebohongan. Lakukan kejahatan bersama bila kehidupan terasa membosankan. Suami istri sampai mati. Badai kemiskinan, ujian kekayaan, dan surga keluarga sakinah sungguh akan dinikmati bila berdua. 

"Recipe for a happy marriage: My Wife and I always hold  hands. If I let go, She shops." (Red Skelton)
Tentang bagaimana pasangan akhirnya tahu, mengerti, lantas memahami bukanlah hal yang rumit. Hanya asumsi yang perlu mereka kalahkan lalu ego dan ke-akuan.Kembali lagi pada tujuan pernikahan itu sendiri. 

Maka dari itu untuk yang belum terjerumus pada "pernikahan yang salah", sebaiknya lihatlah tujuanmu menikah. Semoga bukan karena ingin terlihat laku, menyenangkan orangtua, atau sekedar ingin tahu rasanya menikah. Jadikan pernikahanmu ladang pahala dan juga bekal untuk kembali pada yang hakiki. Tuhan.


Jumat, 11 Agustus 2017

Menulis Itu Berat maka Menyerahlah!

“Writing for me is a kind of compulsion, so I don’t think  anyone could have made me do it, or prevented me from  doing it.” (J.K. Rowling)
Begitu mulai menulis, aku merasa harus menunda selama yang aku bisa agar waktunya sempurna. Akhirnya butuh tiga puluh tahun untuk benar-benar memulai. Menyesal? Tentu saja. Begitu banyak waktu terbuang yang seharusnya puluhan cerpen dan juga novel sudah aku hasilkan. Sombong amat mak! Iyalah itu 30 tahun lho bukan 30 hari.


Aku memaksa diriku untuk menulis dengan iming-iming kamera mirorless. Apakah berhasil? Tidak, aku hanya memandangi draft yang memang sudah sejak 2012 bercokol di laptop. Pindah ke flash disk lalu pindah ke memory card dan akhirnya masuk ke laptop lagi. Itu novel mungkin harus dirombak total. Bukan bukan, novel itu butuh riset yang panjang makanya malas sekali untuk memulai. Ah sudahlah, say good bye aja lah. Belum kok. Kemarin baru belajar plot. Iya buat kepentingan menyelesaikan novel aku belajar lagi. Menunda ya menunda tetapi ada masukan buat nantinya melanjutkan itu novel saat mesin uap ini sudah panas dan siap mengetik hingga selesai. Jadi belum nyerah nih ceritanya? 12 Oktober 2017 adalah deadline yang harus aku patuhi. Masih ada waktu untuk melakukan riset dan membaca banyak referensi. Belum aku masih belum mau mengibarkan bendera putih.

Memang kata J.K. Rowling itu benar. Menulis itu bukanlah paksaan. Harus datang dari diri sendiri. Ketika tekanan demi tekanan menghimpit, rasa malas menyerang, lalu menunda dan akhirnya berakhir tanpa karya nyata. Mau sampai kapan mak? Menyerah sajalah!

Iya aku bolak-balik mengatakan itu pada diriku sendiri. Sepertinya aku lebih cocok jadi admin akun gosip deh atau jadi informan bagi akun fansbase. Terus abis galau malah madep laptop lagi. Menulis entahlah. Pokoknya ngetik aja seadanya kata-kata di kepala.

Poin-poin di bawah ini adalah kesimpulan setelah wawancara plus curcol ke mentor sekaligus blogger senior, Mba Carra. Gak perlu di-screenshot ya. Percakapan gaje dan malu-maluin.

1. Menyerah untuk mengambil jeda dan mengatur irama

Tidak ada yang tahu apa yang akan waktu perbuat untuk menyembuhkan atau malah menghancurkan. Katanya tidak ada salahnya untuk beristirahat. Jangan paksa target orang lain untuk kamu capai karena kamu adalah kamu. Kamu harus mengerti apa yang sebenarnya kamu inginkan. Bukan keinginan orang lain ya? I lost myself.

Baca lagi: BISAKAH AKU MENGENALI DIRIKU?

Ya akan sulit memang karena aku adalah orang yang keras terhadap diri sendiri. Seberapapun keberhasilan yang sudah dicapai rasanya kurang saja. Maka dari itu butuh orang lain yang objektif untuk mengingatkan agar semua bisa seimbang.

"Enjoy aja sih Mbak."

Jika memang kamu adalah tipe mesin uap maka kamu harus menerima jika butuh waktu lama untuk memanaskan mood tetapi begitu sudah on maka tidak akan ada yang bisa menghentikan kamu. Langsung banyak tulisan yang bisa kamu hasilkan. Temukan apa yang cocok kamu tulis, kapan, dan menggunakan metode apa.

Bagaimana kalau ternyata aku adalah mesin gres. Hahaha, sepertinya tidak karena begitu menulis dengan jadwal teratur aku merasa seperti tidak punya kerjaan ketika tulisanku sudah selesai. Aku suka banyak dalam satu waktu abis itu leyeh-leyeh.

Ambilah jeda tidak ada salahnya dan mengatur irama agar bisa lebih menikmati proses menulis itu sendiri.

2. Menyerah untuk belajar lagi

Ketika akhirnya aku mengikuti kelas plot bersama mba Rosi L Simamora, ada satu poin yang membuatku sadar. Belajar. Mengosongkan semua isi dan kembali jadi murid. Melupakan sejenak semua "sok tahu".

Setelah kelas itu aku merasa lebih siap untuk menulis lagi. Mulai googling lagi apa saja yang harus aku persiapkan agar jauh lebih matang dan tidak mandek di tengah jalan.

3. Menyerah untuk menyusun rencana yang lebih matang

Rencananya adalah memantapkan outline agar siap saat diuji. Lalu apa rencanamu? Ah mau liburan dulu aja mak biar tulisan lebih segar kaya otakku.

4. Menyerah untuk mengumpulkan amunisi

Membaca novel-novel dan juga panduan untuk menulis novel agar banyak referensi yang bisa digunakan. Men-download kamus thesaurus dan juga ejaan yang disempurnakan.

Amunisi-amunisi ini bisa mencegah kemalasan atau editan yang terlalu banyak serta berhenti di tengah jalan. Awalnya aku merencanakan one day one book abis itu lelah. Aku selang-seling akhirnya. Satu hari menulis lalu satu hari membaca.

5. Menyerah jika memang sudah tidak lagi bisa berusaha

Pinggang sakit, kepala pusing, atau diare menyerang. Kamu harus benar-benar menepi dulu. Sehatkan badan. Konsentrasi penuh agar pemulihan cepat.

Menulis itu berat maka menyerah memang hal yang tepat. Bukan untuk berhenti tetapi untuk bisa jauh lebih produktif. Novel ini adalah target terbesar emak tahun ini. Mau bagaimana bentuknya harus selesai. Syukur kalau bisa Oktober kelar kan sekalian bonus kamera. Kalau gak ya akhir tahun harus ada satu novel yang kelar.

Kamis, 10 Agustus 2017

[Komentar Apik] Stop Pikun di Usia Muda! Kamu sangat Berharga

Pintar bukan hanya saat mengingat tetapi juga ketika melupakan.
Penulis    :  Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S

Penerbit   :  Gramedia

Tahun      :   2014

Halaman  :  138


Ada yang tidak beres jika kamu mengingat yang seharusnya kamu lupakan dan malah melupakan yang harus kamu ingat. Pernahkah merasa seperti itu? Kalau iya kamu butuh buku ini sebagai sumber membuka pemikiran.

"Mah ini hari apa?"
"Pah kok aku lupa taruh kunci di mana ya."

Isyarat remeh yang kadang tidak kita perhatikan lebih detil. Ya lupa kan biasa. Padahal bisa saja itu gejala Demensia Alzheimer. Ah mak, kan masih muda masa iya pikun sih?
Coba deh dicek!
1. Apakah kamu sering menanyakan sesuatu secara berulang-ulang?
2. Emosi cenderung tidak stabil.
3. Berjalan-jalan atau aktif di malam hari.
4. Ada gangguan bahasa artinya susah merangkai kata yang pas atau melupakan kata apa yang hendak diucapkan.
5. Disorientasi tempat, waktu, dan juga orang. Lupa jalan pulang, pagi dikira siang, dan perlahan lupa siapa suami atau istri.

Sebaiknya tidak meremehkan "sering lupa". Apakah beban kerja terlalu berat sehingga depresi dan otak lelah lalu lupa ataukah itu awal dari Demensia Alzheimer? 

Buku ini secara lengkap menjelaskan bagaimana kita harus mencegah Demensia Alzheimer yang bisa menjadi badai perusak. Rumah tangga, hubungan dengan anak, dan juga keluarga besar.

Buku ini membuat kita tidak lagi menganggap lupa-lupa itu hal yang normal. Bukan hanya sekedar asumsi melainkan kita sebaiknya membuat janji dengan dokter spesialis syaraf agar semua menjadi jelas.

1. Stimulasi yang tepat agar otak berfungsi dengan baik

Membaca, berolahraga, dan meditasi bisa berdampak baik pada kesehatan baik fisik maupun jiwa seseorang. Semua stimulasi pada dasarnya bertujuan untuk mengurangi stres dan bisa tidur nyenyak sehingga otak juga bisa berfungsi dengan baik. Tidur cukup ditambah olahraga maka akan menghambat kepikunan dini.

2. Kontrol berat badan dan hindari obesitas

Cinta mati sama gorengan? Ya kalau itu gorengan bisa dibawa mati sih gak masalah. Ketika kita tidak bisa mengontrol asupan ke dalam tubuh lantas divonis obesitas maka penyakit-penyakit seperti diabetes, serangan jantung, dan juga stroke adalah satu paket lengkap. Hanya tinggal menunggu waktu. Sangat mudah diprediksi kemana arahnya. Maka dari itu jika banyak impian yang belum terwujud, jagalah badan agar terhindar dari penyakit dan juga pikun dini.

3. Lakukan medical check up secara berkala

Sebaiknya tidak menunggu hingga pikun menyerang, itu artinya sudah terlambat. Ketika mulai merasa ada yang tidak beres atau memang sudah mengagendakan secara rutin untuk melakukan pemeriksaan. Baik yang general check up atau spesifik seperti ke spesialis penyakit dalam atau saraf.

Mencegah selalu lebih baik dari mengobati. Layaknya sedia payung sebelum hujan. Tahu lebih awal, pengobatan bisa lebih maksimal, dan kemungkinan sembuh jauh lebih besar.

4. Mendongeng

"... dengan membaca sambil bersuara dapat menstimulasi daerah permukaan otak depan (prefrontal)." -halaman 114

Unsur emosi yang masuk menjadikan otak bekerja dan menghambat timbulnya plak dalam otak yang artinya menghambat kepikunan. Maka tidak ada salahnya mendekatkan cucu-cucu ke kakek dan nenek.

5. Semua keputusan ada di tangan kita

Bagaimana kita akan menghabiskan masa tua? Berbahagia bersama keluarga atau malah menjadi beban mereka.

Pikun bukan hanya masalah melupakan sesuatu tetapi juga tuduhan-tuduhan tidak masuk akal ketika meletakkan uang di bawah bantal lalu menyangka anak kita yang mengambil. Perlahan semua ingatan memudar, tidak tahu bagaimana memakai baju dan juga lupa jalan ke rumah sendiri.

Kita diajak memilih dan semua keputusan ada di tangan kita. Bukan orang lain. Bijaklah memilih dan semoga pilihan kita adalah yang terbaik. Hidup sehat dan perlambat pikun!
Rabu, 09 Agustus 2017

Reading Challenge, Apakah Tahun Ini Akan Bernasib Sama?


Dari tahun 2013 sudah bergabung dengan Goodreads dan juga reading challenge-nya tetapi sampai sekarang belum juga bisa menaklukan. 

30 buku jadi target di tahun 2017. Makanya sampai ditulis di sini biar rajin membaca ya mak!

Kan sudah mulai membiasakan duoG akrab dengan buku. Masa iya emaknya malah santai-santai aja cuma baca timeline FB doang. 


Ya namanya juga si emak. Lebih banyak nundanya ketimbang bacanya. 

"Classic" A book which people praise and don't read - Mark Twain

1. Semoga dengan tantangan ini emak bisa baca buku yang masih diplastikin

Punya buku yang dari beli, masih plastikan, dan nongki cantik di rak? Sama dong. Ada beberapa buku kata Mark Twain, klasik. Hahaha... Sebenarnya kalau ingat bau buku yang baru aja dibuka tuh rasa malasnya menghilang. Eh lha kok sekarang balik lagi malesnya.

Nih untung laptop punya suami nganggur jadinya bisa sejenak mengurangi jereng dengan mengetik di layar lebar laptop. Iseng buka goodreads, ganti widget 2017, bongkar buku-buku yang harus dibaca. Semoga gini terus ya mak. Bisa update bacaan tiap hari. dah 30 buku aja gak usah muluk-muluk ampe 50 kalau endingnya gak setengahnya acan.

"Buku yang baik tidak pernah dilihat dari sampulnya kan?" - Tere Liye
2. Semoga sampul buku yang emang menarik makanya dibeli itu bisa mengenyahkan rasa malas

Si emak emang beli buku rata-rata karena sampulnya menarik. Ketahuan kan mak? Ya udah sampai sebatas itu saja. Eh kamu kayaknya ada janji mau ulas buku "Stop Pikun di Usia Muda!"? Iya kan mak. Hayo, hayo. Segera mak segera.

Rasa malas membaca berawal dari tidak konsen karena harus disambi. Begitu tugas negara sudah selesai maka membaca menjadi hal yang menyenangkan. Bisa berbagi cerita juga kalau mamas GianGaraGembul lagi baca sendiri dan emak juga ada bacaan jadi tukar ilmu. Ya tetap sesuai umur ya penjelasannya. Kan gak mungkin dijelasin juga kalau emak lagi baca novel dewasa. Berabe nanti yak.

Kita membaca untuk tahu bahwa kita tidak sendirian - William Nicholson

3. Semoga dengan mulai membaca si emak bisa berkurang galau dan bapernya

Memutuskan menjadi ibu rumah tangga penuh hingga kini menyisakan tanda tanya. Apakah emak sanggup bertahan hingga nanti anak-anak mandiri?

Mamas GianGaraGembul sekolah terus dedek DulDenGeni di daycare. Barulah kerasa sepinya. Kalau sudah begini baru deh mau baca buku lagi.

Belajar membuat kenangan indah dari buku The Passionate Marriage-nya Indah Hanaco terus mulai menulis setelah baca Dear Olivia lalu bisa nostalgia dengan novel terjemahan bareng Heart & Sole-nya Miranda Liasson. Asyik kan. Berasa tidak sendirian. Dapat pengalaman walaupun hanya di kamar sendirian.


4. Membaca dan mulai penuhi target

Setelah membaca pasti akan ada banyak ide-ide yang muncul. Bulan ini target 30 artikel blog dan juga 4 artikel kewajiban harus bisa tuntas seperti bulan lalu. Dengan tambahan reading challenge pastinya terbantu karena buku bisa jadi sumber referensi yang tak terbatas. Diolah, dimasak, dan disajikan dengan hiasan tentu saja akan menjadi review peningkatan produktivitas di akhir bulan.

5. Reading challenge, procrastination killer

Menunda dan kehilangan banyak waktu. Semoga tantangan membaca ini membunuh penundaan yang sering emak lakukan.

Semangat!!!



Selasa, 08 Agustus 2017

Bisakah Aku Mengenali Diriku?


Rasanya sesak ketika ditanya: "Apa yang kamu tahu tentang dirimu? Banyak luka yang tiba-tiba mencuat. 

Lantas apakah semua luka itu membentuk dirimu? 

Pada akhirnya iya. Aku mencoba lebih dalam memahami. Siapakah diriku ini?

Kata screenshot di atas, orang yang lahir hari minggu pergaulannya luas. Gak akan mati kelaparan kalau kesasar. Ya itu aku. Entah kenapa aku yang tampaknya introvert ini bisa gampang sekali percaya dan dipercaya. 

Ah apalah arti percaya. Aku bisa saja ditipu kapan saja. Iya saking gampangnya aku bisa menyerahkan hp pada orang yang baru aku kenal satu jam yang lalu. Empati? Mungkin. Aku mudah sekali iba pada muka memelas dan muka ruwet kaya orang yang besok bakalan dieksekusi. Mungkin lebih karena ingin selalu merasa terkendali maka terkesan sok tahu dan langsung memutuskan. Tanpa cek dan ricek. Selain itu sikap ingin menyenangkan semua oranglah yang akhirnya sulit untuk berkata tidak pada orang yang datang.

Ayolah, bisakah lebih mengerti dirimu sendiri mak?

Aku memang bisa menyusun target dan mencapainya tetapi sangat malas jika semua belum ada di tempatnya. Mau nulis ya nunggu laptop lah, hpnya masih dicharger, atau nunggu anak-anak tidur. Iya emang, akhirnya karena terlalu fokus sama detil malah gak ngerjain apa-apa. Apalagi kalau suasana hati tiba-tiba berubah. Dadabaybay deh sama deadline.

Nah nah itu udah mulai paham.

Tidak perlulah terlalu keras dengan diri sendiri mak. Perasaan hampa saat itu udah terisi dengan hadirnya anak-anak. Ingat ketika mereka suka masakanmu yang hanya kamu bumbui garam dan gula. Sayur seadanya di kulkas. Bening yang aneh karena harusnya bakso itu kamu masak sayur sop bukan sayur bening. Ah whatever, kids like it by the way.

Mengenali diri ini proyek seumur hidup ya. Buat apa? Pada akhirnya ketika aku kenal diriku, aku jadi berdamai dengan segalanya yang tampaknya tak sempurna atau tidak sesuai dengan keinginan. Begitu berdamai maka mata dan hati lebih terbuka walaupun tetap waspada.

"Anaknya belum bisa ngomong ya?"

Nyinyir, sotoy, sok jumawa. Senyumin aja. Toh usaha gak akan mengkhianati.

Mengenali diri hingga akhirnya berdamai. Demi diri sendiri. Lalu pasangan, terus anak-anak, dan akhirnya untuk sekitar.

Bermanfaat. Iya agar lebih bermanfaat. Semangat ya mak. πŸ’ͺπŸ˜‰πŸ˜„

Senin, 07 Agustus 2017

Bila Jalan Memutar Itu Begitu Jauh


Dulu aku sangat pede akan jadi psikolog. Terkenal. 

Kenapa harus psikolog? Aku suka memperhatikan orang lain. Mereka yang bisa membuatku sadar bahwa kesakitan yang aku alami bukanlah apa-apa. Hanya seujung kuku bayi.
Kurang perhatian? Ah ada yang gak punya orangtua, dibuang ke tong sampah, atau besar di panti asuhan. Aku masih punya orangtua.
KDRT? Tuh temenku ada yang ibunya dijual jadi pelacur buat bayar hutang judi bapaknya dan dia terpaksa kabur mencari tempat singgah agar tidak ikut dijual. Udah kayak baju aja main jual. Aku walaupun jadi saksi dan korban KDRT masih bisa makan udang saus tiram, pergi sekolah, dan sewa komik.

Saat SMA aku pintar tetapi sangat malas. Suka baca hanya komik dan cerita pendek saja. Informasi tidak terhampar di depan mata seperti sekarang. 

30 tahun, ketika akhirnya aku memutuskan untuk serius menulis. Aku baca macam-macam buku dan status FB, akhirnya aku tahu bahwa mimpiku jadi psikolog hanya bisa diwujudkan dalam cerpen, novel, atau flash fiction.

Mengulang kembali masa SMA di jurusan IPA, bercanda dengan matematika, lalu baru bisa kuliah di jurusan psikologi yang terkenal dengan bisa masuk susah keluar. Hahaha... Keluar dengan selamat tanpa ikut menjadi gila. Iya karena aku bisa saja larut di dalam semua masalah yang aku pelajari. Obsesive kompulsive disorder, bipolar, atau post partum syndrome.

Ya sekarang aku lalui semua proses itu dengan membaca. Referensi, media online atau buku-buku bertema senada dengan yang aku impikan.


Ibu rumah tangga, 2 anak laki-laki, Suami yang berusaha tumbuh bersama adalah jalan memutarku. Jalan yang harus aku lalui untuk akhirnya nanti mati dan menemui Ilahi. Mempertanggungjawabkan semua pilihan yang aku ambil selama perjalanan di bumi.

Ingin berbagi? Iya akhir-akhir ini, melihat teman-teman yang dengan segala keterbatasannya berbagi baik ilmu, tenaga, atau materi; aku iri. Ingin bergabung. Maka dari itu aku mulai bergabung dengan komunitas menulis.

SMANSAMenulis05 batch 2. Komunitas bentukan Hepie dan juga dikompori oleh Putri ini membuatku kembali menulis. Berbagi juga pengalaman selama hampir 6 tahun aku jatuh bangun berjuang menemukan passionku. MENULIS. 

Komunitas ini membuatku punya jadwal dan juga teman. Teman untuk berbagi semangat, curhat, dan menemukan ide-ide.

Dimulai 27 April 2017, kami bergabung.


Dalam grup ini semua penuh dinamika buatku. Ada yang typo-nya parah sampe kalau baca harus menerka itu maksudnya apa. Ada yang puisinya bikin kepo, cerita cintanya bikin kontroversi, tulisannya selalu adem dan menenangkan kaya lagu selow, atau yang ilang-ilangan abis ngerjain tugas postingnya. *biar pada nebak sapa kira-kira.

Satu minggu satu tema satu ketua kelas buat memimpin. Minggu ini giliranku jadi ketua dan aku ambil tema review grup SMANSAMenulis. Aku pikir akan ada yang nulis betapa menyebalkannya diriku. Sok tahu dan betapa mereka pengen jitak. Namun sampai hari ini belum ada yang komplain. Wakakkaa...

Dari psikolog ke ibu rumah tangga ke penulis freelance. Hahaha sungguh jalan memutar yang jauh. 

Seorang teman bilang itu takdir and I have to live with it. Seperti halnya nasi yang sudah menjadi bubur harus ada suwiran ayam, kacang, kuah opor, kecap dan kerupuk biar jadi spesial. 

Ibu rumah tangga yang suka menulis, berperan jadi teman curhat atau psikolog ala-ala, dan kadang ngebolang untuk memaknai hidup. Rasanya tidak buruk. Bisa berbagi meski hanya secuil. 

Setiap orang punya jalan memutarnya sendiri-sendiri. Bila menurutmu itu jauh, bersabarlah sedikit dan semoga di persimpangan kamu menemukan hal yang kamu sukai untuk dilakukan karena sabar selalu berbuah manis. πŸ˜€
Minggu, 06 Agustus 2017

Pak, Kami Datang Membawa Kenangan dan Cerita Perjuangan!


Gak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan guru semasa SMA. Bapak FX. Teguh guru Bahasa Indonesia yang tegas dan selalu membuang puntung rokoknya sesaat sebelum masuk ke kelas. 

Kami dulu cukup dekat tetapi pak Teguh tidak begitu ingat denganku. Ah tak masalah pak. Toh aku juga tak begitu ingat dengan kejadian yang melibatkan interaksi kecuali bagian bapak suka main tenis tetapi tetap merokok setelah selesai dua set. Hahaha...

Aku dan teman-teman datang membawa amanah dari angkatan 2005. Kenang-kenangan yang diagendakan setelah reuni 10+ berlalu.


Pak Teguh bercerita tentang penyakit gula yang menyerang, stroke dan kecelakaan serta pensiun dini.

1. Gula yang tak terasa hingga serangan itu tiba

Pak Teguh bercerita jika beliau sangat suka minuman yang manis. Bisa 4 gelas sehari dan gula satu kilo bisa habis hanya dalam hitungan hari. Tidak terasa gula menumpuk. 
"Ah gula aja, masih bisa dibeli."

Beliau bilang habis kondangan saat serangan stroke melumpuhkan setengah bagian kirinya. Tangan dan juga kaki. Masih bisa berjalan dan tangan masih bergerak. Namun mata memang sudah tidak maksimal. Glukoma katanya. Obat tetes mata seumur hidup harus diberikan dan tidak bisa dioperasi.

Beliau masih aktif mengajar pada saat serangan stoke yang pertama. 

2. Kecelakaan yang melumpuhkan tangan dan kaki

Semenjak serangan stroke, pak Teguh masih berangkat mengajar dengan mengendarai motor tetapi melalui jalan alternatif melalui sawah-sawah bukan jalanan utama yang ramai. Beliau sadar dengan keterbatasan mata.

Nah siang itu rapat, pak Teguh melewati rute kota karena sudah siang dan berharap jalanan masih sepi. Saat itulah kecelakaan terjadi. Beliau ditabrak  saat hendak menyebrang dan terbangun sudah ada di rumah sakit. Terapi dan pengobatan yang dijalani tidak mengubah keadaan kaki dan tangan yang lumpuh. 

Mengurangi gula dan makan-makanan sehat adalah pilihan pak Teguh untuk bisa terus menemani tumbuh kembang cucu-cucunya. Ketika kami datang, rona bahagia tercetak jelas.

"Kalau ada waktu main ya mba Phalupi. Cerita-cerita sama pak Teguh."

Kami datang memang dengan membawa kenangan-kenangan masa SMA dan juga cerita perjuangan setelah lulus. Bagaimana masa kuliah, berpindah pekerjaan, dan membina keluarga. 

"Ya pokoknya jaga kesehatan. Jangan sampai nyesel!"

3. Pensiun dini

"Ya cuti sakit yang terus diperpanjang. Kalau gak gitu ya uang pensiunnya hangus mba. Wong harusnya pak Teguh baru pensiun 2017. Harusnya baru dua bulan lalu pensiun."

Beginilah kehidupan memberikan pelajaran. Sakit, masa tua, dan apa yang seharusnya kita persiapkan.

Kami jika ada waktu pasti akan mampir pak. Apalagi setelah bapak bilang, "Bapak ya gini-gini aja. Suka kalau ada yang main dan cerita. Apa-apa yang berubah di luar sana. wong pak Teguh gak pernah keluar. Mau keluar juga gimana?"

Guru, sosok yang memang tanpa tanda jasa. Guru yang layaknya orangtua. Mendidik. Tanpa pamrih. Guru yang pada masa tuanya juga ingin berwarna. Ada beragam cerita dari semua. Anak-anak didiknya. Dari yang nakal, gak bisa diam, hingga yang biasa-biasa saja.

"Orang-orang jarang melihat langkah-langkah yang tersendat-sendat dan menyakitkan dimana KEBERHASILAN yang paling signifikan dapat tercapai." (Anna Sullivan)
Keberhasilan yang kami capai, ada usaha bapak di dalamnya. Semoga itu tabungan kebaikan yang nantinya tidak akan pernah putus. Jika saat ini semuanya tampak seperti tak punya masa depan tetapi kami berdoa, akan ada masa bahagia di penghujungnya.
Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design