Kamis, 27 Juli 2017

Whatever It Takes to Make You Smile

Kemarin tanpa sengaja aku baca artikel tentang orang-orang yang masa kecilnya diabaikan. Secara emosional mereka hampa. Nah bagaimana pola pengasuhan saat mereka jadi orangtua? 

Aku terhenyak. Semua tanda yang dijabarkan: merasa tidak bahagia tanpa alasan yang jelas, gengsi untuk tergantung pada orang lain, dan tidak bisa menggambarkan dengan jelas apa yang sedang dirasakan. Ada padaku. Aku yang masa kecilnya diabaikan. Hampa. Sangat keras pada diri sendiri. Tertatih-tatih mendisiplinkan diri sendiri. Itu aku.

Sekarang 30 tahun. Ibu dua anak. Pemarah, gak sabaran, dan sangat menuntut anak. Berteriak dan begitu ringan tangan.

Titik balik adalah ketika kemarin mamas renang. Dia begitu sensitif dan penakut. Gak ceria seperti biasanya kalau renang. Walaupun pas sesi bebas berakhir harus dibujuk untuk pulang.

"Kakak cantik pulang. Aku gak ada teman."  
"Kan ada ibu nemenin mamas."
"Ibu nyemplung ya sama mamas. Main ya sama mamas."

Akulah penyebab semua kegelisahan yang mamas derita. Jatuh bangun aku ingin jadi sempurna tetapi semuanya berakhir dengan teriakan dan tangisan.

Bagaimana aku bisa kasih mereka kasih sayang sementara aku tak tahu bagaimana rasanya dikasihi saat kecil? Tuhan ampuni aku tak jaga amanahMu. Aku benar-benar larut dalam pusara "semau gue" yang membuat anak pertamaku tumbuh jadi anak yang jadi cerminku: moody, terlalu sensi, apapun harus didapat bagaimanapun caranya. Kalau lagi bodongnya kumat. Kalau lagi cerah ceria ya baiiik banget. Nurut, adiknya diajak main, dan ibunya dibantuin.

Pelan-pelan aku baca lagi buku Anak Juga Manusia karya Angga Setyawan. 

"Salah satu hal luar biasa dalam kehidupan kita adalah anak-anak kita. Melihatnya lahir, tumbuh, bersekolah, besar, bekerja, menikah, kemudian memiliki anak dan membesarkannya seperti kita dulu membesarkan mereka. Seolah waktu berjalan begitu cepatnya. Kita semua berharap agar diberikan cukup waktu untuk mengenal mereka, untuk mengajarkan kebaikan dan mencontohkannya, agar kelak mereka dapat menanamkannya kepada anak-anak mereka sendiri." (halaman 146) 

Apakah mau begini-begini aja terus? Nanti gimana mamas dan dedek tumbuh? Mau ikutan gesrek kayak emaknya?

Gaklah yaw. Aku harus berusaha bahagia. Biar anak-anak juga.

Ambil jeda, dedek di daycare, dan mamas trial robotics.


Aku lihat senyum mamas. Nyesss... Kasih kegiatan biar mamas bisa menggunakan energi dengan positif, aku juga punya waktu sejenak lepas dari kerempongan ala emak. Sama-sama punya kesibukan biar gak bosan dan badmood.

Semangat ya! Usaha dan kerja keras pasti akan berbuah manis. Meskipun masa kecilku dulu berat, aku harus move on demi anak-anak. Ya apapun alasannya yang penting bisa move on 💪

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design