Selasa, 11 Juli 2017

Rangkuman DISKUSI WA GROUP SMANSA Menulis Batch 2

Zaenur:  Mbak indah concern di novel genre apa nih mba?
Indah Hanaco: Saya saat ini fokusnya nulis novel romance ☺
Zaenur: Kalo lama udah gak nulis mau nulis lagi rasanya buntu. Gak ada ide sama sekali. Itu gimana ya mensiasatinya supaya on lagi. Sedang saya gak suka nulis di FB misal😁
Indah Hanaco: Wajar banget itu. Karena kelancaran nulis itu memang karena proses latihan.
Cara mengatasinya kembali berusaha merutinkan menulis.
Zaenur: PR besar nih mba buat aku 😁 nulis di note HP itupun kalo lagi uring-uringan dan ada kejadian "aneh" saat ituπŸ˜„
Apik: Niatmu belum jadi penulis kawan, jadi admin akun gosip kayak aku sepertinya πŸ˜‚
Zaenur:πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜
Zaenur: Ada yang ditulis mengenai kisah kasih lika liku perjalanan perkawinan pemula sampai menua gak mba? Kalo boleh tau apa judulnya😬
Indah Hanaco: Sampai menua, belum pernah. Tapi suka duka membangun pernikahan dengan segala problemanya, pernah.
You had me at "hello", delicious marriage, the passionate marriage.

Naris:  Saya tertarik dengan profil mba yang merupakan penulis yang sangat produktif.Bagi tips nya  dong, untuk bisa menjadi produktif itu bagaimana? Apa saja yang harus dilakukan? Karena terus terang saya punya banyak sekali ide inti untuk memulai cerita,karena saya memang suka berimajinasi. Tapi sayangnya ide itu susah sekali dituangkan dalam tulisan. Kalaupun bisa, biasanya putus ditengah jalan, tidak selesai. Jadi mohon tipsnya agar bisa menyelesaikan tulisan sesuai dengan ide yang sudah ada.
Indah Hanaco:
Penulis itu kuncinya sabar dan disiplin. Saat menulis pasti adaaa aja godaan utk ganti tema, bahas hal-hal yang awalnya gak direncanakan, dll.
Karena itu perlu banget bikin outline atau sinopsis. Kalo bisa per bab. Gak perlu panjang2, 1 bab beberapa kalimat aja. Yang penting menggambarkan inti cerita. Setelahnya, fokus untuk beresin naskah sampai kelar.
Awalnya pasti sulit banget tapi kalau konsisten, semua jadi lebih mudah.
Naris: Jadi memang kuncinya harus konsisten ya mba hi..hi.. itu agak susah..πŸ˜„
Indah Hanaco: Susah kalau belum jadi kebiasaan. Tapi kalau memang niat, gak ada yg susah. Semangat ya πŸ’ͺ
Naris: πŸ’ͺπŸ’ͺ oke semangat!! Biasanya mba butuh berapa lama untuk menyelesaikan sebuah novel?
Indah Hanaco: Variatif banget. Ada yg 9 hari, ada yang 2 tahun. Tapi makin ke sini berusaha bikin target. 1-1,5 bulan.
Karena saya gak tahu sampai kapan bisa nulis. karena belum tentu esok akan tiba.
Naris: Wow..9 hari bisa jadi novel πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ˜πŸ˜
Indah Hanaco: Bisa karena idenya lagi kenceng dan dikejar-kejar editor πŸ˜‚
Naris: Ha..ha..aku banget,kalo udah deadline tugas baru dibuat dan anehnya langsung jadi...πŸ˜‚πŸ˜‚
Indah Hanaco: Memang, aneh tapi nyata. Tapi detlen itu punya power yang luar biasa πŸ˜‚
Naris: Mba, jalan cerita yang bisa menarik pembaca yang seperti apa mba? Apakah harus yang kontroversial seperti cinta sesama jenis misalnya..πŸ˜„
Indah Hanaco: Saya selalu percaya soal rezeki adalah hak prerogatif Tuhan. Tidak ada resep khusus soal buku yang akan laris atau tidak. Buku laris belum tentu bagus. Buku bagus belum tentu laris. Mirip-mirip misteri.
Jadi, ketimbang kita mikir soal tema yang bakal diserbu pembaca, saran saya, konsentrasi pada konten. Tugas penulis adalah memberikan karya terbaiknya untuk pembaca.

Hepi:


Saya tertarik dengan yang ini. Apakah sebelumnya mbak udah pernah ke edinburgh?
Belum tapi pengin banget ke sana. Modalnya bikin novel ini : gugel dan nonton beberapa film dokumenter tentang kota ini. Jangan lupa pakai google maps juga.
Hepi: hehe barusan saya mau nanya, bagaimana bisa menceritakan suatu hal yang belum sepenuhnya kita tahu dengan tepat, detail, dan tidak ada keraguan. Riset untuk sebuah novel yang menggunakan settingan "nyata" kira-kira berapa lama mbak? Rata-rata.
Indah Hanaco: Itulah kenapa saya butuh film dokumenter dan juga melihat "kondisi" suatu kota via google maps. Film dokumenter sangat bermanfaat untuk tambahan data.
Saya tipe penulis yang nggak mau terlalu heboh bahas setting. Jualan utama saya tetap plot dan karakter. Kalau ada bagian setting yg gak mendukung cerita, gak usah ditulis.
Untuk riset, sebelum nulis biasanya full riset 3-4 hari. Sampai dapat data yg diinginkan. Selanjutnya, mulai nulis. Riset sambil jalan. Target beresin  satu novel sekitar 1,5 bulan. Ada yg molor ada yg on time. Tergantung nasib baik πŸ˜‚
Hepi: Tadi saya juga sempat baca mbak, ditolak 5 penerbit untuk sebuah novel. Lalu tetap berusaha memasukan novel itu untuk terbit. 😍 Kece.
Risetnya biasanya selain nonton film, gimana mbak? untuk mendalami karakter, jalan cerita.
Indah Hanaco: Untuk karakter, belajar dari sekeliling aja. Di sekitar kita ada jutaan karakter yang penuh warna. Yang paling penting, karakter harus konsisten. Kalau mau berubah, harus ada peristiwa besar yang jadi pemicunya. Dan harus masuk akal.
Kalau jalan cerita, bermain-mainlah dengan imajinasi. Semua akan jadi mudah.
Hepi: πŸ˜ Kalau boleh tahu, mbak orang nya introvert atau cenderung extrovert? Apakah cukup dalam kalau kita seorang yang "pendiam" lalu riset hanya dengan memperhatikan mbak? atau harus langsung interaksi?
Indah Hanaco: Saya orang yang introvert. Menurut pengalaman, jadi penulis tidak berkaitan dgn kepribadian. Melainkan lebih pada disiplin, konsistensi, dan kesabaran. Dalam proses riset, yg dibutuhkan kemampuan untuk memilah info. Mana yg penting dan bisa mendukung cerita atau tidak.
Makanya saya selalu menyarankan pada penulis untuk rajin menonton. Film atau reality show. Tak cukup bermodal hanya rajin membaca.
Kenapa? Karena dari satu adegan sederhana bisa memicu ide yang tidak kita dapat saat membaca.
Hepi: Noted mbak. Ada kah rangkuman tips dari mbak Indah, ketika ingin memulai menulis? Setelah mendapatkan ide cerita.
Indah Hanaco:
1. Bikin outline serinci mungkin. Kalau ada kalimat yang kita rasa lucu dan pas sama cerita, tulis di bagian atas. Supaya gampang terlihat

2. Jangan buang-buang waktu terlalu banyak untuk masalah riset. Ingat, novel itu jualan utamanya adalah plot dan karakter. Jangan tergoda bikin uraian detail tentang setting hanya supaya dianggap keren/pintar. Kita bukan lagi nulis buku travel.

3. Risetlah dengan cerdas. Manfaatkan teknologi sebaik mungkin. Cari data yg valid. Pastikan kebenarannya dengan cek ricek minimal dari 3 sumber terpercaya.

4. Mulailah menulis jika semua "peralatan perang" sudah tersedia. Abaikan godaan untuk menyentuh naskah lain. Fokus pada naskah yg sudah dikerjakan. Usahakan setia pada plot.
Hepi: Mendingan mana, menerbitkan buku sendiri atau kita kirim naskah ke penerbit?
Indah Hanaco: Kalau saya, mending ke penerbit. Kalau indie, kayaknya repot. Tapi kurang tahu juga karena aku gak punya pengalaman. Yang kudu diingat, pilih penerbit besar yang memang profesional. Jangan pilih yang ngakunya mayor tapi distribusi aja pun masih terbatas banget.
Percayalah, saya udah mengalami hal-hal pahit dari dunia menulis. Jangan sampai teman-teman di sini mengalami juga.
Hepi: pertanyaan di luar tema ya mbak. Jadi mbak Indah nulis, apakah untuk kepentingan finansial, atau cukup karena suka menulis? mohon maaf agak sensitif. Karena saat ini saya kok jadi fokus nulis artikel, padahal sebelumnya suka nulis sastra πŸ˜‚πŸ˜… saya kaya kehilangan nyawa gitu mbak
Indah Hanaco: Saya mulai nulis awalnya gara-gara menghindari stres. Waktu itu saya dan suami berinvestasi tapi tertipu ratusan juta.
Jadi, supaya tidak kepikiran terus, saya nulis. Padahal dunia nulis udah saya tinggalin lama. Dulu nulisnya cerpen.
Sampai saat ini, uang belum jadi fokus. Tapi tentu senang kalau pas terima DP atau royalti. Bisa beli tiket liburan, misalnya.
Saran saya, nulis artikelnya tetap jalan. Tapi apa yang dicintai tidak boleh ditinggalkan. Pelan-pelan nyicil juga nulis sastranya. Percaya deh, hidup butuh keseimbangan. Lakukan terus apa yang dicintai.
Hepi: Kalau kita ingin tahu info penerbit dari mana mbak?
Indah Hanaco: Biasanya ada di web mereka. Banyak info, kok. Kalau kita tanya di twitter, biasanya direspons kok
Hepi: Siap mbak. Mulai semangat lagi 😍😍
Indah Hanaco: Harus semangat, Mbak. Saya selalu percaya bahwa pertolongan Tuhan akan datang kalau kita sungguh-sungguh. Siapa sangka awal menulis yang cuma untuk menghindari stres, akhirnya malah bikin saya hepi. Saya menemukan diri saya yang baru.
Saya gak tau kalau saya ternyata lumayan tangguh. Aslinya saya pemalas. Tapi begitu kenal dunia menulis, sisi pejuang saya tiba-tiba muncul. Semangaatttt πŸ’ͺ

Apik: 33 novel dan masih ada 4 yang mau terbit, hepi gak?
Indah Hanaco: Hepi dong. Tapi jadi tantangan untuk menulis tokoh dan tema yang beda. Gak boleh ada pengulangan. Itu yang bikin otak kerja keras πŸ˜‚
Apik: Jangan sampai penggemar komplain ya πŸ˜… kok sama ama yang itu?
Indah Hanaco:Iyes. Apalagi yg lebay model dirimu, Mbak πŸ˜›
Apik: Lebih power mana deadline apa royalti? πŸ˜„
Indah Hanaco: Thanks God eike gak matre. Jadi, nulis memang karena beneran cinta. Tapi, kerja keras pasti ada balasannya dari Tuhan.
Kalau sejak awal orientasinya uang akan mudah kecewa πŸ˜‚

Kinanti:
Horas tu hamuna. Mau sedikit bertanya sesuatu yg menggelitik, kenapa hampir rata-rata temanya seputar 'dilecehkan' atau 'menikmati' hubungan pria dan wanita?
Indah Hanaco: Tema novel saya bukan ttg "dilecehkan" atau "menikmati".
Saya biasa membahas tentang kesempatan kedua. Cinta yang datang setelah badai. Bukan sekadar cinta antara lawan jenis 😊

Dwi: Mba Indah, saat menulis novel bagaimana cara memilih kata - kata saat menulis supaya penggunaannya tidak berulang-ulang? Dan ketika sebuah novel sudah rampung apakah langsung ke editor atau share ke teman atau yang lain dulu?
Indah Hanaco: Sambil nulis, saya buka kamus tesaurus. Sering buka kamus untuk nyari kata-kata baru.
Misal, kata terkejut bisa divariasikan dengan terkesima, tergemap, tergegau. Tinggal kita pilih yang pas sama kalimatnya.Setelah kelar nulis, saya langsung kirim ke editor. Karena pada akhirnya keputusan diterima/ditolak ada di tangan editor.
Dwi: Belum tahu kamusnya yang seperti apa? Buku atau online?
Indah Hanaco: Ada yg berbentuk buku. Ada juga yg online. Saya sendiri dulu banget dapet link yang kemudian didonlot dan dipakai sampai sekarang.
Dwi: Boleh minta link atau referensi kamus bukunya?
Indah Hanaco: Duh, mohon maaf, link-nya sudah tidak punya. Karena saya donlotnya beberapa tahun lalu.
Apik: Dowload di appstore ada kok dwi. Ketik aja tesaurus. Pilih yang ratingnya 4.5.
Dwi: πŸ‘
Dwi: Bagaimana menentukan ciri khas sebagai penulis sebagai pemula? Apakah dengan mencoba semua genre?
Indah Hanaco: Iya, bisa begitu. Saya sendiri sebenernya paling suka nulis novel berbau psikologi. Bukan romance. Dulu pernah nulis novel tentang kepribadian ganda, judulnya les masques. Tapi pembaca kita ternyata belum bisa benar-benar menikmati.
Saya sendiri meski bnyk menulis genre romance, tapi juga menulis novel anak, buku sains, sampai matematika.
Jadi, balik lagi, tulis apa yg kira sukai.
Dwi: Wahhh banyak juga
Kereeeennnn πŸ‘πŸ‘
Dwi: penunjang sebagai penulis apakah harus punya semua jenis sosmed atau dipilih-pilih saja?
Indah Hanaco: Saya sekarang lebih nyaman di ig dan twitter. Fb bikin kepala migrain πŸ˜‚ tapi yang penting, pilih yang bikin kita nyaman.


Umi: Saya itu sering dapet ide ketika perjalanan dari rumah ke kantor..itu saat paling enak buat ngelamun sambil menikmati macet-macetan. Dan saya inget dulu pernah dibilangin begitu ada ide langsung tulis.
Nah. Sayangnya begitu nyampe kantor langsung dihadapkan sama setumpuk kerjaan yang mau gak mau bikin ide buyar terus keambil alih ama kerjaan sampe sore dan akhirnya ilang. Ada saran mba Indah?
Indah Hanaco: Saya punya buku yang berisi banyak banget catatan. Tiap ada ide memang kudu ditulis sebelum keburu menguap.
Kalau membawa buku catatan bikin repot, tulis di hp saja. Ide adalah harta karun, sayang banget kalau tidak dimanfaatkan.

Egi: Saya cenderung kalau nulis tipenya analis, ulasan dan kalau nyoba pindah genre ke romance kok rangakain kata-kata yang jadi kesannya "tidak manusiawi". Ada terapi gak mba untuk permasalahanku?
Indah Hanaco: Kalau gak nyaman nulis romance, jangan maksain. Karena hal pertama yang harus kita pikirin saat nulis adalah bikin diri sendiri bahagia.
Karena cuma rasa bahagia yang bikin kita bisa menuntaskan satu naskah.
Jadi, tulis apa yang kita sukai, yang paling dekat dengan diri kita. Semangat terus, ya πŸ˜‰
Egi: Makasih Mba.. Mungkin karena jenis bacaan dan dulu asdos penelitian di India makanya terbawa sampe sekarang, tapi bisa ada terapinya gak yah?
Indah Hanaco: Kalaupun mau nyoba, paling dengan latihan. Mulai nyoba menulis genre romance. Konsisten di situ sampai merasa nyaman. Karena, sekali lagi, menulis adalah tentang konsistensi.
Sekadar berbagi pengalaman, sampai tahun 2014, saya gak tertarik nulis tema religi. Jangan bayangin religi ala ayat-ayat cinta ya. Religi ala saya adalah yg ngepop, lebih bahas soal isu sosial.
Tapi kemudian ada editor yang menyemangati. Minta saya nulis genre itu. Saya sanggupi meski awalnya merasa menderita. Tapi setelah masuk naskah ketiga, mulai nyaman sampai sekarang.

Widya: Gimana caranya bisa masuk ke penerbit? Saya pernah ditolak penerbit mba tapi naskah saya dipublikasikan di blog orang penerbitnya, saya jadi takut kirim ke penerbit lagi akhirnya saya pernah indie sama temen-temen.
Indah Hanaco: Kita cari tau kira-kira penerbit mana yang cocok sama naskah kita. Sekarang umumnya penerbit menerima naskah via email, kok. Penuhi syarat administrasinya, kirim. Jangan takut ditolak. Kalaupun belum berjodoh, ada banyak penerbit di Indonesia. Karena itu, pilih penerbit yang profesional. Gramedia grup, misalnya. Apalagi sekarang gpu punya gwp. Bisa coba nulis di sana. Penulis zaman sekarang punya banyak kemudahan. Ayo, dimanfaatkan!
Dwi: GPU GWP apa mba
Apik: Gramedia writing project. gwp.co.id. Bisa log in. Mirip wattpad


Catatan dari Indah Hanaco

* Menulis adalah sebuah proses panjang. Kadang, ada rasa putus asa ketika hasil gak sesuai harapan. Saya juga masih mengalami hal-hal kayak gitu. Manusiawi, kok.

* Ketika naskah ditolak atau novel dikritik tajam, rasanya pengin berhenti nulis. Tapi kemudian nyadar lagi, tanpa proses itu karya kita mungkin akan jalan di tempat.

* Menjadi penulis berarti gak boleh berhenti belajar dan merasa puas. Kita juga harus jauh-jauh dari sifat sombong. Karena hal-hal demikian akan tercermin dari tulisan kita. Puas, ogah belajar, sombong, akan membuat tulisan kita pun kehilangan makna. Yang baca bisa merasakan itu.

* Ketika naskah kita ditolak, kadang bukan karena tidak bagus. Melainkan karena tidak cocok dengan selera editor. Makanya, jangan patah hati karena naskah ditolak. Naskah saya pernah ditolak sampai lima kali.

* Jangan lupa menjaga konsistensi menulis. Luangkan waktu untuk menulis setiap hari. Jika otak kita terbiasa mengolah kata, biasanya akan berimbas pada kecepatan mengetik juga.

* Ketika menulis, jangan terbebani dengan hal-hal di luar naskah yang sedang digarap. Misalnya tentang pasar, disukai pembaca/tidak. Fokus pada tulisan agar selesai tepat waktu. Tidak ada salahnya menetapkan target karena waktu adalah uang.

* Tulislah apa yang kita sukai. Jangan cemaskan orang lain karena kita mustahil bisa memuaskan semua orang.

* Jangan alergi dengan segala hal yang berbau "mainstream". Banyak yang terjebak pengin tampil beda tapi justru malah jadi aneh. Gak ada yg salah dengan hal-hal mainstream.

2 komentar:

  1. Terima kasih Apik atas resumenya
    Terima kasih juga atas ilmu yang bermanfaat dari mba Indah Hanaco

    BalasHapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design