Sabtu, 01 Juli 2017

Ramadan Berlalu, Terus?

Apakah targetmu terpenuhi? Aku hanya bisa mengatupkan tangan ke muka. Sungguh rasa jumawa membuat target itu tak terpenuhi. Menulis blog selama satu bulan penuh hanya tinggal tulisan di white board. 
Menunda. Awalnya ketinggalan satu lalu berpikir ah bisa dikerjain besok. Ternyata sakit tambah parah. Kepala sakit sebelah. Terus mikir ah bisa besok lagi. Cuma dua. Lha kok tiba-tiba udah tanggal 14 Juni aja. Utang postingannya numpuk padahal draft udah ada tinggal nambah gambar. Tinggal nambah gambar? Emang ngedit gambar gak butuh waktu. Belum lagi kalau datanya kurang. Ya iya bener ujungnya males terus nyerah gitu aja. Sungguh aku memang harus tahu kalau sudah di depan laptop dan anak-anak masih tidur ya udah kerjain sampai selesai. Bukannya malah ngikutin nafsu nonton dramkor terus jadi keteteran.
Ya setidaknya #NulisRandom2017 selesai. 30 hari walaupun ada yang #latepost. Artinya ritme menulis sudah ketemu. Tinggal kuatkan niat lagi supaya blog ada isinya.

####

waktunya sarapan sedep

Nah begitu ramadan berlalu dan belum ikutan arus balik maka sarapan murah meriah dan sedep adalah yang ditunggu. Mamahku atau adikku biasanya akan beli sego pincuk yang kadang disebut sego rames seharga Rp3.000/bungkus. Hanya penjual dan Tuhan yang tahu banyak sedikitnya saat beli Rp2.500, Rp3.000, atau Rp4.000. Itu sindiran adekku saat dia beli Rp4.000 tetapi sama banyak dengan yang beli Rp2.500. Hahaha... Tergantung amal perbuatan ya dek ^_^

Sego pincuk ini sedep karena megono yang pedas berpadu dengan oreg tempe manis, mie legit dan kriuk pia-pia atau keripik udang yang gurih. Pia-pia atau badak atau bala-bala atau bakwan. Banyak alias banget gorengan satu ini. Harganya Rp2.500/3. Iya kecil-kecil emang. 

Ya sarapan di desa emang sedep artinya murah tapi enak dan porsinya lumayan lah. 

####

Ramadan berlalu, terus? 

1. Evaluasi pola makan
Jangan mentang-mentang banyak bakul sarapan lantas khilaf. Tetap kontrol asupan. Tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Pas. Kenapa? Tubuh kita sedang menyesuaikan kembali dengan waktu makan pagi, siang, dan sore. Dari pola sahur dan berbuka puasa. Kamu tentu tidak mau terserang "masuk angin" dengan memaksa tubuh menggiling makanan bersantan, daging-dagingan, atau kue-kue lebaran dalam satu waktu. Sudah belajar sabar dan kontrol keinginan selama tiga puluh hari? Ya tinggal dilanjutkan prakteknya. 

2. Tak perlu menunggu ramadan datang lagi untuk berbuat baik
Ya agar kualitas hidup meningkat tentu hal-hal baik harus konsisten dilakukan. Kita memang butuh momen tetapi harus terus semangat ketika momen itu sudah berlalu. Tidak akan pernah rugi menabur kebaikan. Bukan menanam angin terus menuai topan ya!

3. Konsisten menulis buat kamu yang lagi terapi perilaku
Kenapa menulis? 20.000 kata yang harus kamu keluarkan setiap harinya sungguh harus dimanfaatkan. Ketika kamu belum bisa curhat sama suami atau grup lagi kurang enak dijadikan tong sampah maka status "udang di balik rempeyek" sangat pas buat menuangkan rasa baper. Hihihi... Ini aku lah kalau kalian mah setrong 💪. Kalau gak ya bikin caption IG yang nyindir tapi hanya kamu yang tahu pasti siapa tersangkanya. 

Selamat berburu sarapan.
Semoga ramadan membuat perubahan.
Baik atau buruk, aku dan kamu yang menentukan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design