Kamis, 20 Juli 2017

Membaca, Haruskah Anak-Anak Dibiasakan?


Akhir-akhir ini GianGaraGembul sangat suka membaca buku dengan imajinasinya sendiri. Kadang dia tiru ayahnya saat membacakan sebelum tidur. Di lain waktu dia tambahkan kalimat yang dirangkainya sendiri.

Lama-lama DulDenGeni ikutan. Meskipun masih dalam tahap menggumam tetapi dia paham konsepnya.

Aku dan suami emang suka baca. Aku cenderung pilih-pilih, suami baca apa saja. Koleksi buku kami beragam. Non fiksi, fiksi, dan buku anak. 

Begitu punya anak, kebiasaan belanja buku menurun begitu saja. Sebanding dengan mainan yang kami belikan buat mereka. Bahkan cenderung lebih banyak.

Kebiasaan dibacakan cerita pun mengalir begitu saja. 

Hingga hari ini ketika GianGaraGembul membacakan buku cerita buat DulDenGeni, WOW! Pilihan kata sederhana.
"Halo ini ayah. Ayah kerja dulu ya."
Seperti saat ayah pamit kerja. Emak terkejut.

Emak agak santai lah ya sekarang. Turunin tensi, gak teriak, dan meminimalkan bentrokan. 😉

Apakah harus diteruskan?

Sadar kalau hanya buku yang bisa dilahap saat ini, maksudnya mumpung belum internet mania; biarlah ya. Mungkin nanti akan ada masanya duoG ketergantungan dengan internet tetapi semoga dengan kebiasaan membaca dan buku-buku yang dengan mudah mereka dapatkan, mereka akan kembali membaca buku.

Semua memang udah settingan aku dan suami. Anak mengikuti dan rencana juga agar anak suka baca. Mengalir aja. Kayaknya mesti gini kali ya, gak usah kebanyakan rencana malah gagal. Atur aja lingkungan. Kebiasaan akan mengikuti.

Membaca memang ingin kita biasakan agar anak-anak akhirnya bisa kita ajak berpikir bersama. Ya membaca membuat kita tahu ada orang-orang di luar sana yang mungkin kurang beruntung, lebih beruntung, atau sangat beruntung. 

Tidak kita tentu saja tidak bisa memaksakan apa yang kita inginkan pada anak. Oleh karena itu, kita ajak mereka berdiskusi. Jika tidak mau makan apa yang terjadi? Bacakan buku tentang anak yang pilih-pilih makanan. Kita orangtua haruslah berusaha untuk lebih tahu agar tidak lekas emosi dan memaksakan pemikiran.

Haruskah dibiaskan?

1. Tentu saja jika kamu ingin dunia anakmu tidak dibatasi dinding
"Ada banyak cara kecil untuk memperbesar dunia anak Anda. Cintai buku adalah yang terbaik dari semua." (Jacqueline Kennedy Onassis)
Suami pernah bercerita tentang bagaimana dia melahap habis semua buku yang dibawakan bapaknya. Kenangan itu membuat dia bertahan dengan segala macam dinamika kegagalan dan keberhasilan dalam hidupnya. Itulah kenapa dia ingin menularkan kesukaan membacanya kepada duoG. Dia berharap membaca membuat dunia duoG jauh lebih luas meski berawal hanya dari buku dan cerita di dalamnya.

2. Harus jika kamu ingin anak-anakmu kaya akan ilmu dan nantinya pengalaman yang bermanfaat
"Ilmu itu lebih baik daripada kekayaan. Karena kekayaan harus dijaga sedangkan ilmu menjaga kamu." (Ali bin Abi Thalib)
Aku sangat ingat bagaimana ekspresi bahagia mamas GianGaraGembul jika waktu membaca cerita tiba. Terkadang dia sedikit memaksa kami, orangtuanya untuk membacakan cerita.
"Oh ibu, Gian harus makan sayur biar sehat terus kumannya kalah. Iya kan ibu?"
Ibu tidak perlu memaksa anak untuk makan sayur tetapi pengalaman tokoh yang tidak mau makan sayur lalu terserang penyakit tentu saja membuat anak berpikir. Bagaimana kalau itu terjadi padaku? Ya ilmu. Sungguh akan menjaga kita dari hal-hal yang berbahaya.

3. Memanfaatkan waktu yang tanpa terasa semakin cepat berlalu

"Waktu berdiam cukup lama bagi orang-orang yang memanfaatkannya."               (Leonardo Da Vinci) 

Ya bagi yang sadar. waktu begitu cepat berlalu. Bila kita tidak memanfaatkannya dengan baik maka tidak akan ada yang akan kita peroleh kecuali rutinitas yang entah ada manfaatnya atau tidak. Emha Ainun Nadjib berpesan bahwa jangan mengejar mati-matian sesuatu yang tidak dibawa mati.

Nah bekal apa yang sudah kita siapkan bagi diri kita dan juga anak-anak? Semoga ilmu yang bermanfaat yang akan jadi bekal baik saat ini ataupun nanti. Berawal dari membaca tentu saja. Berproses dan bertumbuh bersama anak-anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design