Kamis, 06 Juli 2017

Jalan-jalan, Penyembuh buat Mamas Gara

Si sulung alias mamas Gara, Senin sore abis aku tinggal seharian terus aku suapin sayur asem sama ikan bakar. Baik-baik saja.

Selasa pagi masih sarapan bubur, ngemil bubur blohog dan makan siang ayam goreng. Selasa sore agak anget badannya dan mulai BAB berdarah dan berlendir. 
Selasa malam drama begadang dimulai. Dari jam 8 malam sampai jam 5 pagi bolak-balik ke kamar mandi. Mengigau terus bawel.
Berak di celana, drama harga diri terluka, dan panas tinggi.
"Ibu gak marah? Mamas kan ee di celana?" 
Aku hanya menggeleng. Berusaha waras di saat kepala mulai migrain.
"Kenapa harus pake pampers? Emang aku anak bayi?"
'Ya biar mamas gak perlu lari-lari kalau mau ee."
"Tapi ibu, aku kan udah besar."
"Mamas gak kasihan ibu nyuci celana ada ee nya?"
"Ya udah deh."
Ya Allah, aku lelah. Sungguh. Mamas mengigau semalaman. Badannya panas. Obat gak ada stok karena lagi liburan di rumah buyutnya. Badan panas tetapi mamas menggigil. Selasa malam itu adalah malam terpanjang kedua setelah lahiran baby Geni. Aku sampai eror membayangkan bagaimana kalau malam itu malam terakhir aku bisa menemani dia.
Dia kuat. Sangat kuat. Aku ibunya sudah sampai migrain padahal dia yang merasakan sakitnya, ngantuknya, dan kurang tidurnya. Dia tidak mengeluh kecuali saat aku nenenin baby Geni dan dia sudah tidak tahan minta ke kamar mandi. 
Semalaman. Aku memegang tangan panasnya. Berharap panasnya berpindah. Tidur baru bisa agak lama setelah jam 2. Baru bangun lagi jam 5. 

Rabu pagi, keajaiban datang. Mba Tyas yang suaminya punya apotek memanggil bulik yang lagi bersiap ke kantor. Aku lagi minta dibeliin lactoB setelah WA panjang lebar ke dr. Iva. 
"Yas, ni Gara mencret."
"Aku punya stoknya nifudiar. Itu yang paling bagus."

Semua pusing itu terbayar. Ada obat untuk mamas tanpa menunggu lama.

Tubuhnya susut dengan cepat. Tak bertenaga tetapi masih berusaha mengunyah nasi dan oreg tempe. Buat minum obat mas. Biar cepat sembuh. Dia semangat apalagi pas siang uti bilang mau ajak mamas ke Semarang main ke aunty. Sabtu yang mau datang.

"Pokoknya kalau punya anak kecil itu obat mencret sama obat panas harus stand by."

Kayaknya kasusnya begini: mamas telat makan, terus kebanyakan roti, dan kurang istirahat. Masuk angin kasep. Kebablasan.

Pagi setelah makan dan minum obat, aku kerok pake bawang dicampur minyak telon. Sisa bawang aku letakkan di dekat tempat tidurnya. Siang makan lagi dan minum obat. Sore juga. Rabu malam begadang masih berlanjut tetapi panas udah turun. Tidur lebih nyenyak walaupun 5 kali masih bolak-balik kamar mandi.

Kamis pagi aku sudah hampir WA Linda mau batalin acara keliling kamis siang. Pas lihat mamas udah semangat aku mengurungkan niat. Pergi aku yakini akan membuatnya sembuh. Benar aja walaupun beberapa kali minta BAB tetapi akhirnya teralihkan saat main di rumah Tata(anak Ayu Chandra).


Makasih banyak tante Linda, tante Ida, dan tante Dian. Terus om Paksi, om Bachtiar, om Yans, dan om Sepangga.
Hari ini udah barengan keliling dari makan lotek di bu Isah, ke pak Teguh (lagi), terus istirahat di kakak Tata. Pas mau pulang makan dulu di bakso Wijaya. 😄😋💖
Mamas Gara jadi beneran sembuh. Moga malam ini nyenyak dan ibu juga bisa istirahat. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design