Jumat, 21 Juli 2017

Aku, Anakmu yang Terluka


"Anak mana yang terima, mamanya dibilang lonte."
Hanya tatapan nanar, tak ada satu pun semua kata itu yang keluar.
Pertengkaran yang ke sekian kali. Dan wanita yang aku panggil mamah itu tetap saja bertahan, di dalam neraka ini.
Emosi aku memang berubah dengan cepat. Begitu cepat hingga tak sadar apa yang tengah terjadi. Label "broken home" seolah terpatri di jidat.
"Terapi aja ya. Jangan bahayain dirimu sendiri."
Aku benci mamahku. Bagaimana dia dengan sadar bertahan. Melibatkan aku dalam aliran perang kata, kekerasan fisik, dan mental disorder.
Aku punya lubang besar di otakku. Mendamba kasih sayang, pelukan hangat, dan ruang makan yang penuh cerita keseharian.
Aku tidak berniat menikah. Buat apa menikah? Aku akan bernasib sama dengan mamah. Teronggok di pojokan, menangis semalaman, tetapi esok hari sudah mesra lagi. Melayani dan seolah tak ada yang terjadi.
Mah, tidakkah, mama sayang padaku? Aku sendirian, Mah. Berusaha mengeja apa yang sedang terjadi. Kenapa ini terjadi padaku. Orang lain begitu akrab dengan mamah dan papahnya. Menggandeng erat tangan anaknya saat mereka berjalan. Aku hanya bisa menahan sesak di dada. Aku juga mau, Mah.
Aku gak terima perlakuan papah tetapi mamah terima. Mamah bersikap biasa aja. Aku harus bagaimana? Aku anakmu yang terluka, tidak pernah ingin mamah bertahan. Aku ingin mamah keluar bersamaku. Tidak lagi jadi saksi bahkan harus memisahkan mamah dan papah saat berkelahi.
Kenapa bertahan?
Kenapa tidak keluar dan mengakhiri?
Apakah demi uang? Tidak lah, kan mamah punya penghasilan sendiri.
Apakah demi aku punya papah? Papah itu hantu, ada tapi gak ada.
Apakah karena mamah takut sendirian nantinya? Di masa tua? Ketika akhirnya aku bisa keluar dan enggan kembali.
Mamah kuat. Aku tidak.
Mamah bersabar. Aku tidak.
Mamah punya seribu satu alasan untuk bertahan. Aku menemukan satu saja sulit.
Sekian lama menjadi kamera
Sekian lama menjadi perekam.
Sekian lama menjadi sasaran kegilaan.
Namun pada akhirnya, aku anakmu yang terluka ini tidak mati. Aku juga bertahan. Dengan berbagai macam kegilaan yang tersimpan.
Mamah, meskipun aku benci tapi aku mengikuti.
Sabarmu.
Kuatmu.
Keikhlasanmu.
Aku, anakmu yang terluka tetapi tidak mati.

4 komentar:

  1. ini beneran yah mbak? kok ngeri aja bacanya. apa papanya emang sejahat ini dengan mama. apa mama juga setegar ini menghadapi semua masalah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneran mas, dan sampai detik ini mereka bertahan. Jauh lebih baik rumah tangganya. Ya memang badai rumah tangga beda-beda mas. Berdoanya semoga kuat hingga badai selesai.

      Hapus
  2. Aku banget mbak.. Aku pernah sangat benci bapakku sekaligus ibuku yg bertahan meski dikhianati berkali2. Demi anak katanya. Huh.. Anaknya saja hampir gila mendengar mereka bertengkar tanpa henti.. :(

    BalasHapus
  3. Sekarang gimana? Masih bencikah?

    BalasHapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design