Senin, 31 Juli 2017

Ngeblog Selama 30 Hari, Kok Bisa?


Alhamdulillah ternyata bisa juga ngeblog 30 hari selama Juli ini.

Kok BISA? Katanya malas menulis. Tulisan yang aku buat selama 30 hari adalah tulisan dengan sebagian besar curhat dan tidak mencapai 500 kata. Itulah alasannya kenapa akhirnya bisa selesaikan target pribadi konsisten selama 30 hari tayang tulisannya.
Ya aku ingin mengawali dengan memperbaiki ritme dan menjadikan menulis sebagai kebutuhan. Paling tidak dalam sehari ada yang bisa dicurahkan meskipun jumlah katanya terbatas sama seperti saat update FB atau nulis caption IG. 

KOK BISA? Katanya gak ada tema untuk ditulis. Nah akhirnya aku membuka semua indera untuk menangkap semua kegelisahan yang mampir. Apapun itu, apakah nanti akan ditulis atau tidak, aku catat semua di memo hp atau buku kecil yang aku bawa ke mana saja aku pergi.

KOK BISA? Ada dorongan besar dalam diriku untuk menambah ilmu dan pengetahuan seiring makin kritisnya Mamas GianGaraGembul.
"Bu kok ada lampu merah?"
"Kenapa semangka manis?"
"Terus kenapa ibu bisa pusing?"
Pertanyaan yang mau gak mau harus aku tahu jawabannya. Untuk bisa tahu jawabannya, aku harus banyak membaca. Ketika banyak membaca maka pikiran penuh dan harus dibagi. Jadilah aku bagi, sebagian buat menjawab pertanyaan, sebagian lagi ditambah curhat dan tayang di blog.

KOK BISA? Rasa penasaran untuk bisa menaklukkan malas dan juga menunda. Membuat kegiatan menulis semenarik mungkin. Memilih dan edit gambar, memulai menulis, lalu menambah bacaan agar tulisan bisa memiliki manfaat setidaknya untuk diriku sendiri. 

Terus apa saja yang didapat setelah bertahan selama 30 hari? Ini berdasarkan pengalamanku ya. 

1. Tidak perlu kebanyakan mikir, tulis saja hal yang mengganjal saat itu.

Ketika semua aktivitas rutin selesai dan hanya scrolling timeline FB yang tersisa untuk dilakukan maka akan banyak ide yang bersliweran. Tentang beras, artis yang anaknya tertangkap, atau bagaimana cara mempertahankan berat badan.
Tulis saja hal yang bisa memuaskan rasa penasaranmu. 

2. Jangan ragu untuk berbagi di beranda FB

Sangat menyenangkan bisa mendapat respon dari teman-teman ketika aku berbagi tentang kerasnya masa kecil yang aku hadapi dan bagaimana aku akhirnya bisa bertahan dan melaluinya.
Ada yang memberi dukungan, saran, bahkan perhatian.
Semua itu membuat aku bersemangat dalam menulis. Apa lagi yang akan aku bagi hari ini?

3. Milikilah memo atau buku kecil yang mudah ditemukan di dekat kamu

Artinya apa saja yang ada dan kamu tulis bisa jadi tabungan ide yang akan jadi pemantik untuk kamu tulis di blog.

4. Terus membaca

Hanya caption IG bisa mempengaruhi mood kamu lalu dengan semangat membara mulai menulis.
Itulah guna membaca sekilas. Ada kenangan yang mencuat lalu memunculkan ide-ide mendesak untuk dituliskan.

5. Bila draf menghilang artinya kamu memang akan jadi lebih pintar dalam menulis

Sudah panjang lebar menjelaskan tentang kereta tinggal ditayangkan eh kok menghilang 😠. Mau nangis gak keluar air mata, teriak takut anak bangun, nulis lagi dari awal ya ogah lah.
Ya aku menarik napas panjang. Membaca pelan-pelan referensi yang masih aku buka di tab lainnya. Secara ajaib kalimat-kalimat yang aku susun kembali dan malah jauh lebih rapi dan sreg saat dibaca lagi. Asal tidak ngambek dan berhenti menulis. Kamu akan jadi lebih pintar merangkai kata.

6. Semakin sering menulis maka kecepatan akan meningkat

Lima belas menit dapat lima puluh kata lalu dua minggu kemudian jadi seratus sepuluh kata. Ya semakin lancar karena kosakata secara otomatis bertambah.

7. Menulis semoga akan jadi kebutuhan

20.000 kata yang tidak dilisankan semoga bisa berubah menjadi tulisan-tulisan yang bermanfaat. Kebutuhan untuk mengeluarkan 20.000 kata agar tetap waras berubah jadi artikel-artikel yang nantinya bisa digunakan sebagai rujukan. 

8. Bertumbuh dan bermanfaat

"Pik, aku inget tulisan kamu tentang mangga. Boleh gak ya aku makan 2 hari ini?"
Yeiyyy, ada pembaca yang suka artikelku dan jadi bahan rujukan. Inilah yang aku jadikan pegangan untuk terus bertumbuh dan bermanfaat. 

9. Semangat menulis untuk pembaca dan diri sendiri

Kadang merasa GR kalau tulisanku ditunggu. 😜 Ya setidaknya sama suamiku yang bertanya mau nulis apa hari ini.

Buat teman-teman yang ingin mulai menulis di blog. Ayo eksekusi!  Kalian pasti bisa. SEMANGKAAA πŸ‰πŸ‰πŸ‰

Minggu, 30 Juli 2017

Magic in My Mom's hands



Ibuku jarang memasak tetapi kalau sudah eksekusi meskipun hanya bawang merah dan putih, penyedapnya cuma pake garam gula; aku pasti gak berhenti nambah nasi kalau sambal belum habis.

Aku gak tahu pasti magic apa yang diberikan. Mengutip kata Damian setelah aksinya selesai: sempurna. Iya selalu saja memanjakan lidah.

Menunya biasa: sayur sop, telur dadar yang kata ibu jadi mirip martabak saking tebalnya, dan sambal. Namun selalu sukses membuat aku kekenyangan karena tidak ingin berhenti sebelum sambal habis.

Aku selalu penasaran dengan sambal racikan ibu. Semua rasa ada. Manis, pedas, dan gurih. Dengan bahan dan komposisi sama, hasil ulekan ibu selalu lebih sedap dibandingkan punyaku. Magic in My Mom's hands.

Ibuku adalah ibu bekerja. Dia memang tidak begitu dekat denganku. Namun sekarang ketika posisiku juga sebagai ibu dua anak, aku selalu merindukan segala hal tentangnya. Aku jadi paham tentang semua keputusan yang dia ambil.

Selain masakan, keajaiban lainnya adalah ibu sangat pandai merajut dan kreasi kerajinan tangan lainnya.

Ibuku juga pandai memijat. Kedua anakku selalu suka jika Utinya mulai memainkan jari-jari dengan lembut tapi tepat sasaran.

Kami jadi sering berbagi cerita dan pengalaman. Ah mewek malam-malam 😒. Kangen πŸ‘΅


"Home is where my mom is."      Brittany Murphy
Aku sayang ibu. Sehat selalu ya bu. Semoga aku selalu diberi kesempatan buat bahagiain ibu. Aamiin 
Sabtu, 29 Juli 2017

Menikmati Hari, Menikmati Ketidaksempurnaan


Hari ini emang rencana menyelesaikan draf artikel yang berceceran di memo dan buku catatan. 
Begitu mulai mengetik entah kenapa semua ide yang penuh sesak itu menghilang mendadak. Hanya cuplikan-cuplikan kata yang mandek. Malas melanjutkan.
"Ih harus di-screenshot nih. Abadikan momen. Ada momen seperti ini."
Suamiku emang pengen tahu banget perkembangan novel yang deadlinenya 12 Oktober 2017. Kalau masih mau kamera mirrorless. πŸ˜…πŸ˜‚
Aku sungguh malas. Menikmati hari tanpa draf dan urusan pemilihan dialog novel begitu menggoda. 
Hanya sampai lada 114 kata di 3 draf yang harusnya bisa selesai hari ini. Wakakaka...
Menulis novel memang butuh perjuangan. Artikel saja yang 500-1000 kata harus baca ini, riset itu, dan cek lagi biar tidak menyesatkan. Apalagi menulis novel. 
Namun aku tidak sepenuhnya malas, aku memang berusaha membuat ritme menulis senyaman mungkin agar novel itu bisa aku kerjakan dengan baik.
Ketidaksempurnaan ini semoga menjadi pelajaran di bulan depan agar bisa lebih fokus dan konsisten. Menulis di semua media yang aku punya.
Jumat, 28 Juli 2017

Suamiku, Aku Bahagia Kau adalah Jodohku


Ramadan kemarin, aku sakit. Kamu dengan sigap membantu. Tidak pernah protes kalau makanan buat buka hasil beli bukan masak sendiri. 
"Nanti juga ada masanya kamu masak."
Aku adalah istri yang gak konsisten masak dan aku bahagia karena punya suami yang pengertian. Gak menuntut harus ini harus itu.

Sakit juga membuatmu romantis. Hahaha... 
"Daripada ke kantor tapi pikirannya di rumah."
Istri sakit khawatirnya dobel ya pak, ngangkat badan sendiri aja susah gimana mau urus anak πŸ˜…
Setelah kelahiran Geni memang si istri tuh mudah sekali tepar. Ya elah mak, baru dua anaknya. Katanya mau empat. Dan suamiku memahami saat si istri galau masalah jumlah anak. Kadang dua aja, berubah jadi tiga, atau daripada nanggung ya empat sekalian.

               

Satu tahun kemarin, kita berdua fokus ke Geni dan juga aku yang sakit-sakitan. Semoga tahun ini kita bisa fokus ke pertumbuhan pernikahan kita dan juga pendidikan anak-anak. 
Bagaimana kita berdua berproses jadi orangtua?
Apa yang akan kita berdua persiapkan untuk jadi lebih baik bagi satu sama lain?
Tahun ini akan jadi tahun ke 6 pernikahan kita. Komunikasi semoga semakin terjalin. Gak sama-sama sibuk pegang hp. 


6 Tahun. 2 anak laki-laki. Pekerjaan yang bisa sabtu minggu libur. Alhamdulillah ada pekerjaan sampingan. Istri ibu rumah tangga penuh. Pulang kampung bisa 3 kali setahun. Bisa ngontrak rumah yang lumayan luas.

Lega karena kamu adalah jodohku. Pria dengan gigi berantakan yang bukan tipeku. Laki-laki yang dengan pede tingkat dewa mengajakku selingkuh. Suami yang dengan tekad kuat memberiku jalan untuk menjadi ibu rumah tangga penuh. 
Bahagia akhirnya setelah semua badai ada pelangi yang bisa kita rengkuh bersama.

Kamis, 27 Juli 2017

Whatever It Takes to Make You Smile

Kemarin tanpa sengaja aku baca artikel tentang orang-orang yang masa kecilnya diabaikan. Secara emosional mereka hampa. Nah bagaimana pola pengasuhan saat mereka jadi orangtua? 

Aku terhenyak. Semua tanda yang dijabarkan: merasa tidak bahagia tanpa alasan yang jelas, gengsi untuk tergantung pada orang lain, dan tidak bisa menggambarkan dengan jelas apa yang sedang dirasakan. Ada padaku. Aku yang masa kecilnya diabaikan. Hampa. Sangat keras pada diri sendiri. Tertatih-tatih mendisiplinkan diri sendiri. Itu aku.

Sekarang 30 tahun. Ibu dua anak. Pemarah, gak sabaran, dan sangat menuntut anak. Berteriak dan begitu ringan tangan.

Titik balik adalah ketika kemarin mamas renang. Dia begitu sensitif dan penakut. Gak ceria seperti biasanya kalau renang. Walaupun pas sesi bebas berakhir harus dibujuk untuk pulang.

"Kakak cantik pulang. Aku gak ada teman."  
"Kan ada ibu nemenin mamas."
"Ibu nyemplung ya sama mamas. Main ya sama mamas."

Akulah penyebab semua kegelisahan yang mamas derita. Jatuh bangun aku ingin jadi sempurna tetapi semuanya berakhir dengan teriakan dan tangisan.

Bagaimana aku bisa kasih mereka kasih sayang sementara aku tak tahu bagaimana rasanya dikasihi saat kecil? Tuhan ampuni aku tak jaga amanahMu. Aku benar-benar larut dalam pusara "semau gue" yang membuat anak pertamaku tumbuh jadi anak yang jadi cerminku: moody, terlalu sensi, apapun harus didapat bagaimanapun caranya. Kalau lagi bodongnya kumat. Kalau lagi cerah ceria ya baiiik banget. Nurut, adiknya diajak main, dan ibunya dibantuin.

Pelan-pelan aku baca lagi buku Anak Juga Manusia karya Angga Setyawan. 

"Salah satu hal luar biasa dalam kehidupan kita adalah anak-anak kita. Melihatnya lahir, tumbuh, bersekolah, besar, bekerja, menikah, kemudian memiliki anak dan membesarkannya seperti kita dulu membesarkan mereka. Seolah waktu berjalan begitu cepatnya. Kita semua berharap agar diberikan cukup waktu untuk mengenal mereka, untuk mengajarkan kebaikan dan mencontohkannya, agar kelak mereka dapat menanamkannya kepada anak-anak mereka sendiri." (halaman 146) 

Apakah mau begini-begini aja terus? Nanti gimana mamas dan dedek tumbuh? Mau ikutan gesrek kayak emaknya?

Gaklah yaw. Aku harus berusaha bahagia. Biar anak-anak juga.

Ambil jeda, dedek di daycare, dan mamas trial robotics.


Aku lihat senyum mamas. Nyesss... Kasih kegiatan biar mamas bisa menggunakan energi dengan positif, aku juga punya waktu sejenak lepas dari kerempongan ala emak. Sama-sama punya kesibukan biar gak bosan dan badmood.

Semangat ya! Usaha dan kerja keras pasti akan berbuah manis. Meskipun masa kecilku dulu berat, aku harus move on demi anak-anak. Ya apapun alasannya yang penting bisa move on πŸ’ͺ
Rabu, 26 Juli 2017

Kirim Anak ke Daycare? Siapa yang Lebih Baper?

Hari ini jadwal Mamas GianGaraGembul renang. Berhubung adek gak ada yang jaga, trial-lah DulDenGeni di daycare EFATA.
Awalnya hanya sampe mamas selesai berenang. Eh ternyata sampai jam setengah 5 baru dijemput


Berenang, paketin obat buat Uti, dan belanja.
Pas abis belanja jemput dedek eh dianya bobok. Jadinya disuruh balik lagi pas bangun. Jam setengah 5 jemput katanya bobok yang kedua.

Baper?
Awalnya sih gak ngerasa tapi pas mamas mau siap-siap bobok siang baru deh mulai nyariin. 
"Mana dedek? Aku mau bobok sama dedek."
Setelah diberi pengertian kalau adiknya juga lagi bobok siang di sekolahnya, mamas baru mau naik ke kasur. Mapan turu πŸ˜ͺ
Emak gimana? Bingung juga karena biasanya nenenin kan. Lha ini gak ada.
Ya udah puas-puasin aja pegang hp, baca buku, dan beresin rak sepatu yang ternyata jadi sarang tikus 😑

Setelah semua selesai dan ngurus mamas, ada rasa lega sekaligus nyesel. Sedikit sih karena lebih ke 'akhirnya bisa me time' tanpa merasa berdosa. 

Kok gitu?

1. Geni gak rewel
Begitu ditinggal, Geni langsung fokus ke mainan mobil dan berkeliling. Emaknya dicuekin. Baiklah. Apakah selama ini kamu bosan? Emak lagi, emak lagi ketemunya πŸ˜‚.

2. Lahap makan
Begitu giginya mau tumbuh, susah sekali bujuk Geni makan. Alhamdulillah pas di daycare katanya lahap banget. Tiap temennya makan ikutan nimbrung dianya.
"Kok jadi kayak anak gak dikasih makan dek?"
Iya emaknya males gak telaten. Kalau gak mau makan ya udah gitu gak dibujuk supaya mau makan. Ya sekarang jadi tahu kalau malas makan oper aja ke daycare. Bola keles dioper. Wakakaka....

3. Ada teman main
Begitu melek mata, ada teman yang semangat ajak ngerusuh. Gak merasa sendirian karena kalau di rumah pas bangun bobok kadang emak gak ada. Lagi jemput mamas. Senam jantung deh 5 menit.

4. Kasih jeda ke emak biar kangen
Iya kalau di rumah kan sering dicuekin pas bikin artikel. Suruh main sendiri. Nah begitu anaknya di daycare terus bisa menikmati, emak jadi sadar. Bisa fokus dulu ke artikel abis itu semua perhatian bisa ke anak. Gak nyambi main hp mulu yess. πŸ˜…

5. Penyesuaian dengan orang lain sangat cepat
Ini antara harus waspada tapi bahagia. Artinya Geni kalau dititipin, kalau emang orangnya telaten pasti hepi-hepi aja. Waspadanya bisa aja emaknya jadi gak laku. Hahaha...

Pada kesimpulannya dalam kasus Geni, ujungnya emaklah yang baper. Kok gak rewel? Kok baik-baik saja? Lha bukannya harusnya itu yang diharapkan mak jadinya mak bisa tenang selesaiin semua urusan. Iya iya gimana sih mak? 
Ya begitulah si emak. Sebenarnya pengen semua dikerjain sendiri dan berhasil sempurna tanpa cela. Ya dimaklumi ya Geni. Entar kalau udah ngomong, speak speak lah dikit ke emak.
"Aku di daycare tetap kangen emak kok."
Eaaaaa πŸ˜…πŸ˜‰
Selasa, 25 Juli 2017

Tentang Kutipan, Memanfaatkan Jeda untuk Kembali Bergerak


Judul
Dear Olivia: 40 Things You Need to Know Before  You Go

Penulis Osceola Anthony
Ilustrator Opie Meilana

Terbit Februari 2017
Penerbit Metagraf

Halaman 132

AWALI HARI DENGAN BAHAGIA (halaman 5)
Mustahil bila baru bisa tidur setelah jam 2 dini hari lalu jam setengah 4 terjaga karena rengekan minta minum.
Dimanakah sisi bahagianya?
Ya rengekan itu lah. Ada berjuta wanita di luar sana yang ingin harinya diwarnai rengekan. Dan aku mengeluh? 

"IF WE WAIT UNTIL WE'RE READY. WE'LL BE WAITING FOR THE REST OF OUR LIVES." (Lemony Snicket/halaman 9)
Aku bolak-balik baca itu kutipan. Ada yang menohok lalu membuatku membuka kembali catatan ya semua catatan yang berhubungan dengan anak-anak. Kartu cek dokter, USG 4D, dan KMS yang memuat semua perjalanan mereka. Ya Tuhan, aku masih mengeluh karena lelah yang mendera karena jadi ibu dua anak yang berjarak 2 tahun 10 bulan itu meremukkan tubuhku. Iya aku letih.

BAHKAN MIE INSTAN TIDAKLAH INSTAN (halaman 11)
Kutipan yang sering didengungkan penulis kesayangan Indah Hanaco tentang proses.
Dan proses jadi ibu ini sungguh seperti naik rollercoaster. Apakah aku sanggup?

"IF YOU DON'T LIKE TO READ. YOU HAVEN'T FOUND THE RIGHT BOOK." (J.K. Rowling/halaman 27)
Mulailah aku mengambil jeda. Membuka kembali buku-buku jika anak-anak tidur. Sungguh imajinasiku melayang jauh ke belakang. Masa sebelum aku berkubang dengan kerempongan menjadi ibu dua anak lanang. Buku-buku itu malah menguatkan rasa kalau aku harus jadi orang yang bertanggung jawab atas semua pilihan.
Menikah. Punya anak. Jadi ibu.

WE SHOULD LIVE UNTIL WE DIE (halaman 30)
Sampai maut menjemput. Bukan memaksa maut datang lebih awal. Sungguh bukan perkara mudah jika didampingi masa lalu kelam dan depresi.
Namun buku dan menulis pasti akan jadi penyelamatku dari pikiran untuk mengakhiri semua kegilaan yang ada di pikiran. Tentang membekap anak, menjadikan mereka sop, lalu menyajikan hangat-hangat saat suami pulang kantor. 
Buku ini adalah salah satunya yang membuatmu akhirnya kembali menulis. Mengais kembali puing-puing passion yang membuat aku menikmati hidup dengan semua kegaduhan dan dinamika.

"DON'T SAY MAYBE IF YOU WANT SAY NO" (Paulo Coelho/halaman 39)
Akhirnya aku menyerah. Aku mulai mencari bantuan untuk membantuku mengurus anak. Aku tak mau selalu jadi monster saat lelah mendera. Berteriak pada anak-anak seolah semua bisa jadi lebih baik.
"Ibu kan tadi baik. Kok marah lagi?"
Maafkan ya nak. Aku terlalu menuntut semua sempurna sehingga kalian jadi korban kemarahan jika ada yang tidak sesuai mauku. 
Maafkan ya nak, kalian harus ada di daycare agar selamat. Aku mau mengambil jeda. Aku tahu batasku.

SEGERA KERJAKAN DAN SELESAIKAN (Halaman 43)
Aku tahu rasanya begitu nyaman saat aku bisa menyelesaikan satu tulisan tanpa merasa bersalah menduakan perhatian. Laptop dengan dua anak. Dan itulah saat ada waktu aku benar-benar kerjakan dan selesaikan. Begitu kalian bangun, aku bisa fokus. 
Masih ada bisikan "nanti saja", dan aku akan terus berusaha semampuku untuk bisa fokus.

"YOU'RE BRAVER THAN YOU BELIEVE. AND STRONGER THAN YOU SEEM. AND SMARTER THAN YOU THINK." (A.A. Milne/halaman 55)
Berusaha memberikan afirmasi positif bahwa pilihanku belajar dan mengambil jeda untuk menulis adalah benar. Baca buku lalu menulis. Baca lagi, menulis lagi.

MASALAH ADA UNTUK DIHADAPI (Halaman 73)
Silih berganti dan kadang membuat ingin lari. Namun bagaimana lagi kan harus tetap dihadapi.
Layaknya beras walaupun mahal ya harus dibeli karena kalau belum makan nasi rasanya belum makan.
Listrik naik? Ya kan tetap harus dibayar kalau gak malah denda dan tambah naik bayarannya.
Hadapi. Jalani. Syukuri.

"WORK FOR A CAUSE NOT FOR APPLAUSE. LIVE LIFE TO EXPRESS NOT TO IMPRESS." (Unkown/halaman 88)
Tentu saja namanya punya mulut pastilah selalu ada yang berkomentar. "Ih kok anaknya dititipin daycare sih. Emang kamu ngapain? Kerja?"
Kalau gak kerja emang gak boleh nitipin anaknya di daycare? Boleh lah kalau ternyata emaknya agak gesrek ya biarin emaknya ambil napas biar gak kebablasan kan. Emang jadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja tu gampang? Kalau gampang pastinya gak akan ada kasus ibu mutilasi atau gorok anaknya sendiri.
Menjalani hidup yang sebenar-benarnya memang tidaklah mudah tetapi bila aku pahami diriku sendiri maka semua pasti ada jalannya.

Apapun badai yang sedang kamu hadapi, semoga selalu ada jeda untuk berkaca bahwa kamu berhak bahagia. Bukan orang lain tapi kamu. Ya kamu.
Senin, 24 Juli 2017

Balada Air Mati

Malam menjelang dan senewen masih berlanjut karena seharian air gak nyala. Namun apakah cucian kotor itu akan bergerak masuk ke mesin cuci sendiri? Oh tentu tidak. 
Ngeloni DenDulGeni dulu lah baru mikirin enaknya ngerjain yang mana dulu. 

21.30
Mamas GianGaraGembul ditemani ayah nonton laptop, barulah emak bisa beranjak.
Dapur berantakan, cucian kotor numpuk, dan air ngicir.
Ya sudahlah daripada besok juga gak nyala sama sekali. Manfaatkan air yang ada aja.
Cuci piring sambil nungguin rendaman baju bocah dan air di mesin cuci penuh. Kerja semua. 

22.58
Mesin cuci udah mau selesai giling, baju bocah lagi direndam pewangi, dan ada baju yang siap dikeluarin dari pengering.
Males-males dikerjain juga kan akhirnya. Lha kalau besok ternyata gak dapat jatah air pas siang kan berabe. Kalau sekarang udah beres, besok tinggal nebeng mandi kalau memang gak ada air. Gak usah cemberut mikirin cucian.

23.55
Selesai hingga tahap penjemuran. Mantap.
Minggu, 23 Juli 2017

Ketika Hari Anak Diperingati

"Si GianGaraGembul lagi rewel-rewelnya.

♡Gak mau makan
♡Minum susu terus
♡Nonton TV terus
♡Gak mau tidur siang
♡Gak mau berbagi ama adeknya

Terus kenapa?

Teriak-teriak mulu lah si emak. Ampe dada sesak dan gak doyan makan.

Melipir ke toko, lihat barang bagus sama aroma baru. Di toko kok radio lagi nyiarin bapak diwawancara tentang anaknya yang juara catur internasional.
"Gak mau maksa anak. Selama dia menikmati ya saya dukung."
Ya ampun pak, sabar bener yak nadanya. Adem gitu. Ajarin nape biar ni emak gak sewotan mulu.
Memperingati hari anak dan mengundang anak berprestasi agar menginspirasi orangtua biar jadi lebih santai dampingi anak. Bukan jadi silent killer. Baik kecerdasan mental maupun intelektual mereka.
Kok ya pas gitu ya siarannya?
Oke mak, tarik napas! Kan lagi mau beli tempat bekal buat anak-anak. Katanya mau ajarin makan sendiri. Ya udah santai aja. Pelan-pelan.

GianGaraGembul, 4 Tahun 3 Bulan. Gampang marah, gak terimaan, dan perfeksionis.
DulDenGeni, 1 Tahun 5 Bulan. Santai, usil, dan mudah bahagia.

Beda banget kan? Coba deh kok bisa gitu?

Tuntutan yang setinggi langit emak bebankan ke GianGaraGembul, kalau ke DulDenGeni mah santai.

Nah itu tahu mak. Mbok ya berubah. Ambil momen hari anak jadi titik balik. Jangan renggut keceriaan mamas mak. Emak gak kasihan mak. Mau anaknya stres mak? Woi mak, malah mewek 😒

Ya udah deh sekarang mak melipir dulu ke pojokan. Instrospeksi diri mak sebelum semua terlambat. Ambil pilihan paling masuk akal. Apakah akan tetap keras ke mamas atau mulai menurunkan nada dari berteriak ke meminta tolong?

Kalau belum siap ya mulai dari 1 hari dulu nanti lanjut hari berikutnya. Gak usah ngoyo. Selow aja ya mak.  πŸ‘πŸ˜‰


Ketika emak lihat diskonan potong rambut buat memperingati hari anak, ada cubitan di dada. Ada banyak manusia di luar sana yang berjuang membahagiakan anak walaupun satu tahun sekali. Ada juga yang tiap hari berjuang untuk membuat anaknya makan layak. 

Aku? Apa yang aku lakukan untuk kebahagiaan anakku? 
Sebuah rutinitas, disiplin, dan kemandirian tanpa merenggut hak main dan eksplorasi yang memang harus mereka dapatkan. 

Sudah berhasil? Pelan tapi pasti. Dan semoga tanpa kekerasan fisik dan juga mental. Semoga aku bisa mengontrol diriku sendiri. Aamiin πŸ’ͺπŸ’ƒπŸ˜
Sabtu, 22 Juli 2017

Getuk Goreng, Ada yang Bikin Nagih di Purbalingga!


Yen-yen adalah pusat oleh-oleh yang beralamat di Jalan A. Yani No. 16 Purbalingga.

Biasanya emak beli oleh-oleh kacang Mirasa eh waktu si emak goreng getuk kok aroma manisnya menggelitik. Jadilah emak beli 2 kotak *modusπŸ˜…

Getuk goreng emang terkenal di Sokaraja tetapi emak gak begitu suka karena minyak yang berlebihan dan manisnya terlalu mendominasi.

Begitu coba getuk goreng yen-yen, manisnya passs πŸ˜„ terus minyaknya juga gak tertinggal di tangan.

Getuk goreng yen-yen lembut πŸ˜‹ dan gak nyangkut di langit-langit mulut. 

Pasti nanti kalo balik ke Purbalingga bakalan beli lagi nih. 😍
Jumat, 21 Juli 2017

Aku, Anakmu yang Terluka


"Anak mana yang terima, mamanya dibilang lonte."
Hanya tatapan nanar, tak ada satu pun semua kata itu yang keluar.
Pertengkaran yang ke sekian kali. Dan wanita yang aku panggil mamah itu tetap saja bertahan, di dalam neraka ini.
Emosi aku memang berubah dengan cepat. Begitu cepat hingga tak sadar apa yang tengah terjadi. Label "broken home" seolah terpatri di jidat.
"Terapi aja ya. Jangan bahayain dirimu sendiri."
Aku benci mamahku. Bagaimana dia dengan sadar bertahan. Melibatkan aku dalam aliran perang kata, kekerasan fisik, dan mental disorder.
Aku punya lubang besar di otakku. Mendamba kasih sayang, pelukan hangat, dan ruang makan yang penuh cerita keseharian.
Aku tidak berniat menikah. Buat apa menikah? Aku akan bernasib sama dengan mamah. Teronggok di pojokan, menangis semalaman, tetapi esok hari sudah mesra lagi. Melayani dan seolah tak ada yang terjadi.
Mah, tidakkah, mama sayang padaku? Aku sendirian, Mah. Berusaha mengeja apa yang sedang terjadi. Kenapa ini terjadi padaku. Orang lain begitu akrab dengan mamah dan papahnya. Menggandeng erat tangan anaknya saat mereka berjalan. Aku hanya bisa menahan sesak di dada. Aku juga mau, Mah.
Aku gak terima perlakuan papah tetapi mamah terima. Mamah bersikap biasa aja. Aku harus bagaimana? Aku anakmu yang terluka, tidak pernah ingin mamah bertahan. Aku ingin mamah keluar bersamaku. Tidak lagi jadi saksi bahkan harus memisahkan mamah dan papah saat berkelahi.
Kenapa bertahan?
Kenapa tidak keluar dan mengakhiri?
Apakah demi uang? Tidak lah, kan mamah punya penghasilan sendiri.
Apakah demi aku punya papah? Papah itu hantu, ada tapi gak ada.
Apakah karena mamah takut sendirian nantinya? Di masa tua? Ketika akhirnya aku bisa keluar dan enggan kembali.
Mamah kuat. Aku tidak.
Mamah bersabar. Aku tidak.
Mamah punya seribu satu alasan untuk bertahan. Aku menemukan satu saja sulit.
Sekian lama menjadi kamera
Sekian lama menjadi perekam.
Sekian lama menjadi sasaran kegilaan.
Namun pada akhirnya, aku anakmu yang terluka ini tidak mati. Aku juga bertahan. Dengan berbagai macam kegilaan yang tersimpan.
Mamah, meskipun aku benci tapi aku mengikuti.
Sabarmu.
Kuatmu.
Keikhlasanmu.
Aku, anakmu yang terluka tetapi tidak mati.
Kamis, 20 Juli 2017

Membaca, Haruskah Anak-Anak Dibiasakan?


Akhir-akhir ini GianGaraGembul sangat suka membaca buku dengan imajinasinya sendiri. Kadang dia tiru ayahnya saat membacakan sebelum tidur. Di lain waktu dia tambahkan kalimat yang dirangkainya sendiri.

Lama-lama DulDenGeni ikutan. Meskipun masih dalam tahap menggumam tetapi dia paham konsepnya.

Aku dan suami emang suka baca. Aku cenderung pilih-pilih, suami baca apa saja. Koleksi buku kami beragam. Non fiksi, fiksi, dan buku anak. 

Begitu punya anak, kebiasaan belanja buku menurun begitu saja. Sebanding dengan mainan yang kami belikan buat mereka. Bahkan cenderung lebih banyak.

Kebiasaan dibacakan cerita pun mengalir begitu saja. 

Hingga hari ini ketika GianGaraGembul membacakan buku cerita buat DulDenGeni, WOW! Pilihan kata sederhana.
"Halo ini ayah. Ayah kerja dulu ya."
Seperti saat ayah pamit kerja. Emak terkejut.

Emak agak santai lah ya sekarang. Turunin tensi, gak teriak, dan meminimalkan bentrokan. πŸ˜‰

Apakah harus diteruskan?

Sadar kalau hanya buku yang bisa dilahap saat ini, maksudnya mumpung belum internet mania; biarlah ya. Mungkin nanti akan ada masanya duoG ketergantungan dengan internet tetapi semoga dengan kebiasaan membaca dan buku-buku yang dengan mudah mereka dapatkan, mereka akan kembali membaca buku.

Semua memang udah settingan aku dan suami. Anak mengikuti dan rencana juga agar anak suka baca. Mengalir aja. Kayaknya mesti gini kali ya, gak usah kebanyakan rencana malah gagal. Atur aja lingkungan. Kebiasaan akan mengikuti.

Membaca memang ingin kita biasakan agar anak-anak akhirnya bisa kita ajak berpikir bersama. Ya membaca membuat kita tahu ada orang-orang di luar sana yang mungkin kurang beruntung, lebih beruntung, atau sangat beruntung. 

Tidak kita tentu saja tidak bisa memaksakan apa yang kita inginkan pada anak. Oleh karena itu, kita ajak mereka berdiskusi. Jika tidak mau makan apa yang terjadi? Bacakan buku tentang anak yang pilih-pilih makanan. Kita orangtua haruslah berusaha untuk lebih tahu agar tidak lekas emosi dan memaksakan pemikiran.

Haruskah dibiaskan?

1. Tentu saja jika kamu ingin dunia anakmu tidak dibatasi dinding
"Ada banyak cara kecil untuk memperbesar dunia anak Anda. Cintai buku adalah yang terbaik dari semua." (Jacqueline Kennedy Onassis)
Suami pernah bercerita tentang bagaimana dia melahap habis semua buku yang dibawakan bapaknya. Kenangan itu membuat dia bertahan dengan segala macam dinamika kegagalan dan keberhasilan dalam hidupnya. Itulah kenapa dia ingin menularkan kesukaan membacanya kepada duoG. Dia berharap membaca membuat dunia duoG jauh lebih luas meski berawal hanya dari buku dan cerita di dalamnya.

2. Harus jika kamu ingin anak-anakmu kaya akan ilmu dan nantinya pengalaman yang bermanfaat
"Ilmu itu lebih baik daripada kekayaan. Karena kekayaan harus dijaga sedangkan ilmu menjaga kamu." (Ali bin Abi Thalib)
Aku sangat ingat bagaimana ekspresi bahagia mamas GianGaraGembul jika waktu membaca cerita tiba. Terkadang dia sedikit memaksa kami, orangtuanya untuk membacakan cerita.
"Oh ibu, Gian harus makan sayur biar sehat terus kumannya kalah. Iya kan ibu?"
Ibu tidak perlu memaksa anak untuk makan sayur tetapi pengalaman tokoh yang tidak mau makan sayur lalu terserang penyakit tentu saja membuat anak berpikir. Bagaimana kalau itu terjadi padaku? Ya ilmu. Sungguh akan menjaga kita dari hal-hal yang berbahaya.

3. Memanfaatkan waktu yang tanpa terasa semakin cepat berlalu

"Waktu berdiam cukup lama bagi orang-orang yang memanfaatkannya."               (Leonardo Da Vinci) 

Ya bagi yang sadar. waktu begitu cepat berlalu. Bila kita tidak memanfaatkannya dengan baik maka tidak akan ada yang akan kita peroleh kecuali rutinitas yang entah ada manfaatnya atau tidak. Emha Ainun Nadjib berpesan bahwa jangan mengejar mati-matian sesuatu yang tidak dibawa mati.

Nah bekal apa yang sudah kita siapkan bagi diri kita dan juga anak-anak? Semoga ilmu yang bermanfaat yang akan jadi bekal baik saat ini ataupun nanti. Berawal dari membaca tentu saja. Berproses dan bertumbuh bersama anak-anak.
Rabu, 19 Juli 2017

Lebih Panjang dan Fokus? Saya Dalam Proses!


Hari ini diskusi WA grup SMANSA Menulis batch 2 bareng mba Carra. Iya yang punya blog keren carolinaratri.com.
Blog saya udah bagus secara keseluruhan. Kurang panjang sedikit, in depth, dan kurang fokus.
(Sangat senang bisa dikomen ama mba Carra)
Sejak momen #NulisRandom2017 saya memang berproses. Ingin menjadikan menulis sebagai kebutuhan. HARUS NULIS.
Biar otak tidak hanya berisi kegalauan dan baper semata. Namun masukan ilmu baru baik dari membaca maupun menulis.
Proses ini tidak mudah. Saya akui itu. Naik turun semangat. Makanya kadang tulisannya banyak kadang cuma beberapa paragraf aja.
Kenapa?
Pokoknya nemuin irama dulu. Banyak sedikit yang penting nulis.
Terima kasih mba Carra buat mengingatkan kembali arti disiplin dan kerja keras.
Seperti Indah Hanaco, Carolina Ratri juga mengingatkan untuk tidak membuat uang jadi tujuan.
Nulis aja nulis. Uang, ketenaran, dan viral adalah bonus.
Tidak. Memang tidak mudah menularkan semangat untuk menulis. Namun bukan hal yang mustahil juga. Asal saya mau tetap ada di sudut itu, menulis, menjadi contoh, dan berbagi. Pasti akan ada yang nyangkut. Entah satu atau dua, syukur bisa banyak.
Selamat menulis dan bersenang-senanglah πŸ˜„πŸ”₯πŸ’‘
Selasa, 18 Juli 2017

Temukan Tukang Pijat yang Pas, Hidupmu akan Bahagia


Sejak bayi, duoG memang akrab dengan tukang pijat. Paling tidak satu bulan sekali mereka aku bawa ke tukang pijat. GianGaraGembul bisa berdiri di umur sembilan bulan berkat tangan Bu Hajah Munawaroh lalu DulDenGeni kalau panas dikerok bawang merah sama mpok Taslimah. 

Nah begitu pindah ke THB, belum menemukan yang pas akhirnya duoG ikutan pijat di Bu Een.


Rezeki emang. Pagi setengah 7 WA bu Een tanya jadwal. Pas suami bilang mau izin aja anterin aku sama anak-anak dan ternyata jam 10 bu Een kosong. Bu Een ini emang harus bikin jadwal dulu. Antriannya panjang soalnya. Banyak yang cocok. Makanya pengen banget bawa Uti buat ke bu Een. Biar stamina Uti terjaga dan gak bolak-balik sakit.

DulDenGeni emang rewel dari kemarin. Tidurnya gak nyenyak, minta nenen terus, dan mogok makan. Begitu dipegang bu Een langsung deh nangis kejer. Kecapean sama puyeng.

Nah GianGaraGembul yang parah. Otot kaku dan perut juga agak muntir karena banyak loncat-loncat.

Begitu selesai anak-anak selesai dipijet, emak yang mapan menunggu eksekusi. Suami rela izin hari ini buat nemenin pijet.

"Daripada di kantor tapi pikiran di rumah. Kalau anak doang yang sakit sih masih tega lha badan istri udah anget dari semalam."

Hal sederhana seperti itu saja sudah buat hepi ya mak. Receh banget emang si emak. 😜

Berarti sudah 3 kali aku dipijat bu Een. Alhamdulillah ada hasil. Bu Een selain pijat juga bisa bekam. Dia terapis dan herbalis yang recommended. Ya apapun memang balik ke Yang Punya Hidup. Namun ikhtiar kan jalan terus. 

Datang ke bu Een hari ini dengan kondisi meler, migrain, dan radang. Begitu selesai pijet, alhamdulillah pening hilang. Tenggorokan juga gak sakit. Tinggal meler aja.

Anak-anak juga alhamdulillah bisa tidur nyenyak gak gelisah. πŸ™

Aku pribadi emang takut dokter. Lebih memilih alternatif jika memang bisa. Bahagiaku yang sederhana. Hari ini bisa pijet dan rileks. Anak-anak juga jadi gak rewel. Terima kasih Tuhan buat berkah tukang pijet yang pas hari ini. πŸ˜‡
Senin, 17 Juli 2017

Sepatu Kekecilan Mamas

Lungsuran. Baju bekas mamas,  jaket juga, sepatu apalagi.


Namun ada rasa bangga, bahagia, dan ceria. Ketika mamas pakai sepatu dan Geni juga mengenakannya.

Kasihan lah kok dapatnya lungsuran terus πŸ™‰ Ya selama masih bisa dipakai, bukan barang yang jelek banget atau sudah compang-camping 😑, gak masalah lah adik pakai lungsuran mamas. Selain hemat karena paling dipakai mentok 6 bulan, mamas jadi belajar berbagi. Emak juga hepi bisa save the money buat keperluan yang lebih mendesak.

Ajaran dari mbah Uti, anak bayi sampai 6 tahun pakainya yang murah meriah dan lungsuran aja soalnya dipakai bentaran. Nah begitu udah SD kenal temen biasanya udah punya selera sendiri. Baru deh alokasikan dana khusus buat beli baju, sepatu, atau tas.

Nah mumpung Geni belum bisa protes ya nikmati aja mak. Hahaha πŸ˜…

Minggu, 16 Juli 2017

Kacang dan Segenggam Kehangatan


Kami keluarga pengemil kacang. Rebutan kalau ada stok di rumah. Benar-benar hangat cenderung panas.

Segenggam kehangatan yang kacang ciptakan sungguh cepat berlalu. Begitu kacang habis, lomba makan berakhir. Meninggalkan seret di tenggorokan. πŸ˜…

Kacang "Mirasa" produk Purbalingga yang belum tentu setahun sekali bisa ikut arus balik. Namun rindu selalu ada untuk bisa membawa satu kantong plastik saat mudik berganti arus balik.

Kacang yang garamnya begitu mendominasi ini katanya digoreng. Hingga renyah menyapa ditiap digigitan geraham. Cocok buat yang lagi baper dan butuh cemilan sambil begadang nonton drama korea. 😩

Kacang buat penghibur saat anak tidak bisa dinego buat ganti Robocar Poli dengan Suspicious Partner πŸ˜‚

Baby Geni rusuh saat mamas Gara mulai mengunyah cepat dan sudah menodongkan tangan saat ibu masih mengupas kulit. Dia mengunyah kacang sekulit-kulitnya πŸ˜₯

Kehangatan yang tercipta kadang tak dirasa dan berlalu begitu saja 😒
Sabtu, 15 Juli 2017

Pertemanan Si Sanguinis


Baby Gara, kok cepet banget gede sih kamu? Hahaha... Emak galau begitu kemajuan anaknya pesat, melowlah dia. 
Waktu tes psikologi kemarin, Baby Gara masuk ke koleris+sanguinis. Sifat yang menurutku tidak cocok. Ya mau gimana mak?
Baby Gara memang sangat cepat beradaptasi. Selain faktor emak sering ngajak ngebolang, dia alami sanguinis. Pandai sekali bergaul. Gak ada 5 menit ditinggal udah punya teman baru.
Berbagi. Baby Gara sangat gampang membagi apapun ke temen. Kalau ama adiknya agak pelit dia. Sayang sih tetep tapi ada waktunya. Kalau urusan mainan, perhitungan banget dia.
Nah waktu emak abis kondangan, mampir ke rumah temen emak. Waktu makan siang dimasakin mie buat barengan, mau dia makan sama-sama πŸ‘πŸ˜˜

Hari ini perjalanan Pemalang-Bekasi, dia mau gendong tasnya sendiri.
"Aku bisa sendiri ibu!"
Oke baiklah tapi harus tetap hati-hati biar gak kecium kereta ya nak ☝

Di dalam kereta dia juga ketemu temen cewek dan bisa juga berbagi. Sayang emak gak sempat foto karena ngantuk berat dan baby Geni agak rewel.
Jumat, 14 Juli 2017

Malam


Tentang malam yang ditakuti anak-anak

Katanya mereka melihat hantu di temaram lampu

Sungguh aku tidak ingin menapik

Hantu itu cantik 

Berjalan ke arah kami

"Bu beli kostum bu buat modal pagelaran."

Anak ABG itu menyerahkan topeng penari betawi. 
Kamis, 13 Juli 2017

Belajar Kekurangan dan Kelebihan dari Mangga


"Bapakku akhirnya kena gula karena makan mangga."
Ya iyalah sehari aja 3 buah terus seminggu bisa 21 buah dong totalnya.
Terus salah siapa? Mangganya?

Mangga bisa menurunkan kolesterol dengan kandungan vitamin C, pektin, dan serat ketika kita memakannya.

Vitamin A pada mangga dapat menjaga kesehatan mata dan juga memiliki antioksidan yang berguna menghambat sel kanker, mengurangi inflamasi/pembengkakan, dan menurunkan gula darah.

Lho katanya mangga gulanya tinggi kok bisa mengurangi gula darah?
Nilai glikemik pada mangga 51 artinya tidak terlalu signifikan menaikkan gula darah setelah dikonsumsi. Namun ingat konsumsi di sini dalam arti jumlahnya wajar. Kalau sehari aja 3 buah gimana? 
Sebenarnya kadar gula mangga tidak terlalu tinggi tetapi fruktosa yang terdapat dalam mangga inilah yang harus diwaspadai. Fruktosa dapat menjaga kadar gula darah sekaligus dapat menimbulkan kecanduan dan meningkatkan stres.

Daun mangga kalau direbus lalu direndam semalaman dan dikonsumsi pagi hari bisa mengontrol kadar insulin bagi penderita diabetes.

Yang paling mencengangkan adalah mangga mengandung afrodisiak layaknya vanilla. Jadi buat emak-emak yang habis melahirkan dan dikomplain suami karena gairah menurun, bisa segera berburu mangga. Iya yang suaminya males-malesan kalau diajak refreshing juga bisa disodorin mangga dulu ✌😎

Nah mangga punya banyak banyak kelebihan kalau kita mau baca-baca dan cari tahu. Kekurangan mangga hanya satu, dia bikin kita khilaf. Hahaha...
Manis, lumer di mulut, segar kalau dinikmati setelah dikeluarkan dari lemari pendingin. Belum lagi kalau dicocol sambal kacang yang pedas πŸ˜‹

Nah tinggal kita mengenal diri kita. Kendalikan diri. Manfaatkan potensi dan juga kekurangan.

Si emak itu males tapi kasih aja pel-pelan bolde. Dia semangat tuh jadi inem. Hahaha πŸ’ͺ

Bergunalah mak seperti mangga yess ☝
Rabu, 12 Juli 2017

Kondangan dan Kemalasan

Si emak padat banget acaranya.

Baju dari perjalanan ke Semarang belum dicuci tapi udah direndam sama Uti. Anak-anak lagi main sama om-omnya  Emak males nyuci asline walaupun begitu harus dipaksain biar gak lemot otaknya. Ada kegiatan. Ngucek baju, mainan air dingin, dan bergulat dengan pewangi. Alhamdulillah mak bisa ngalahin malas. Nyuci, nyapu, lalu ngepel. πŸ’ͺπŸ’ƒ

Bolde. Alat pel lantai yang sekaligus bisa buat mainan emak. Gak lah bukan endorse, hanya karena Mamas Gara hepi banget ama tu alat pel akhirnya emak penasaran dan kebetulan rumah udah seminggu lebih belum dipel. Kayaknya perlu beli nih biar segera bebas dari drama ART.

Rasanya nyaman ketika berhasil nyelesaiin semua dan berangkat kondangan.



Mendengar sekilas cerita kalian, Linda dan Marcus, sungguh setiap pasangan punya badainya sendiri. Dan kalau jodoh emang gak ke mana. Hihihi...
Mau sekencang apapun badai putus nyambung melanda, akhirnya naik pelaminan juga.
Bahagia terus ya kalian πŸ˜‡πŸ˜„
Selasa, 11 Juli 2017

Rangkuman DISKUSI WA GROUP SMANSA Menulis Batch 2

Zaenur:  Mbak indah concern di novel genre apa nih mba?
Indah Hanaco: Saya saat ini fokusnya nulis novel romance ☺
Zaenur: Kalo lama udah gak nulis mau nulis lagi rasanya buntu. Gak ada ide sama sekali. Itu gimana ya mensiasatinya supaya on lagi. Sedang saya gak suka nulis di FB misal😁
Indah Hanaco: Wajar banget itu. Karena kelancaran nulis itu memang karena proses latihan.
Cara mengatasinya kembali berusaha merutinkan menulis.
Zaenur: PR besar nih mba buat aku 😁 nulis di note HP itupun kalo lagi uring-uringan dan ada kejadian "aneh" saat ituπŸ˜„
Apik: Niatmu belum jadi penulis kawan, jadi admin akun gosip kayak aku sepertinya πŸ˜‚
Zaenur:πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜
Zaenur: Ada yang ditulis mengenai kisah kasih lika liku perjalanan perkawinan pemula sampai menua gak mba? Kalo boleh tau apa judulnya😬
Indah Hanaco: Sampai menua, belum pernah. Tapi suka duka membangun pernikahan dengan segala problemanya, pernah.
You had me at "hello", delicious marriage, the passionate marriage.

Naris:  Saya tertarik dengan profil mba yang merupakan penulis yang sangat produktif.Bagi tips nya  dong, untuk bisa menjadi produktif itu bagaimana? Apa saja yang harus dilakukan? Karena terus terang saya punya banyak sekali ide inti untuk memulai cerita,karena saya memang suka berimajinasi. Tapi sayangnya ide itu susah sekali dituangkan dalam tulisan. Kalaupun bisa, biasanya putus ditengah jalan, tidak selesai. Jadi mohon tipsnya agar bisa menyelesaikan tulisan sesuai dengan ide yang sudah ada.
Indah Hanaco:
Penulis itu kuncinya sabar dan disiplin. Saat menulis pasti adaaa aja godaan utk ganti tema, bahas hal-hal yang awalnya gak direncanakan, dll.
Karena itu perlu banget bikin outline atau sinopsis. Kalo bisa per bab. Gak perlu panjang2, 1 bab beberapa kalimat aja. Yang penting menggambarkan inti cerita. Setelahnya, fokus untuk beresin naskah sampai kelar.
Awalnya pasti sulit banget tapi kalau konsisten, semua jadi lebih mudah.
Naris: Jadi memang kuncinya harus konsisten ya mba hi..hi.. itu agak susah..πŸ˜„
Indah Hanaco: Susah kalau belum jadi kebiasaan. Tapi kalau memang niat, gak ada yg susah. Semangat ya πŸ’ͺ
Naris: πŸ’ͺπŸ’ͺ oke semangat!! Biasanya mba butuh berapa lama untuk menyelesaikan sebuah novel?
Indah Hanaco: Variatif banget. Ada yg 9 hari, ada yang 2 tahun. Tapi makin ke sini berusaha bikin target. 1-1,5 bulan.
Karena saya gak tahu sampai kapan bisa nulis. karena belum tentu esok akan tiba.
Naris: Wow..9 hari bisa jadi novel πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ˜πŸ˜
Indah Hanaco: Bisa karena idenya lagi kenceng dan dikejar-kejar editor πŸ˜‚
Naris: Ha..ha..aku banget,kalo udah deadline tugas baru dibuat dan anehnya langsung jadi...πŸ˜‚πŸ˜‚
Indah Hanaco: Memang, aneh tapi nyata. Tapi detlen itu punya power yang luar biasa πŸ˜‚
Naris: Mba, jalan cerita yang bisa menarik pembaca yang seperti apa mba? Apakah harus yang kontroversial seperti cinta sesama jenis misalnya..πŸ˜„
Indah Hanaco: Saya selalu percaya soal rezeki adalah hak prerogatif Tuhan. Tidak ada resep khusus soal buku yang akan laris atau tidak. Buku laris belum tentu bagus. Buku bagus belum tentu laris. Mirip-mirip misteri.
Jadi, ketimbang kita mikir soal tema yang bakal diserbu pembaca, saran saya, konsentrasi pada konten. Tugas penulis adalah memberikan karya terbaiknya untuk pembaca.

Hepi:


Saya tertarik dengan yang ini. Apakah sebelumnya mbak udah pernah ke edinburgh?
Belum tapi pengin banget ke sana. Modalnya bikin novel ini : gugel dan nonton beberapa film dokumenter tentang kota ini. Jangan lupa pakai google maps juga.
Hepi: hehe barusan saya mau nanya, bagaimana bisa menceritakan suatu hal yang belum sepenuhnya kita tahu dengan tepat, detail, dan tidak ada keraguan. Riset untuk sebuah novel yang menggunakan settingan "nyata" kira-kira berapa lama mbak? Rata-rata.
Indah Hanaco: Itulah kenapa saya butuh film dokumenter dan juga melihat "kondisi" suatu kota via google maps. Film dokumenter sangat bermanfaat untuk tambahan data.
Saya tipe penulis yang nggak mau terlalu heboh bahas setting. Jualan utama saya tetap plot dan karakter. Kalau ada bagian setting yg gak mendukung cerita, gak usah ditulis.
Untuk riset, sebelum nulis biasanya full riset 3-4 hari. Sampai dapat data yg diinginkan. Selanjutnya, mulai nulis. Riset sambil jalan. Target beresin  satu novel sekitar 1,5 bulan. Ada yg molor ada yg on time. Tergantung nasib baik πŸ˜‚
Hepi: Tadi saya juga sempat baca mbak, ditolak 5 penerbit untuk sebuah novel. Lalu tetap berusaha memasukan novel itu untuk terbit. 😍 Kece.
Risetnya biasanya selain nonton film, gimana mbak? untuk mendalami karakter, jalan cerita.
Indah Hanaco: Untuk karakter, belajar dari sekeliling aja. Di sekitar kita ada jutaan karakter yang penuh warna. Yang paling penting, karakter harus konsisten. Kalau mau berubah, harus ada peristiwa besar yang jadi pemicunya. Dan harus masuk akal.
Kalau jalan cerita, bermain-mainlah dengan imajinasi. Semua akan jadi mudah.
Hepi: πŸ˜ Kalau boleh tahu, mbak orang nya introvert atau cenderung extrovert? Apakah cukup dalam kalau kita seorang yang "pendiam" lalu riset hanya dengan memperhatikan mbak? atau harus langsung interaksi?
Indah Hanaco: Saya orang yang introvert. Menurut pengalaman, jadi penulis tidak berkaitan dgn kepribadian. Melainkan lebih pada disiplin, konsistensi, dan kesabaran. Dalam proses riset, yg dibutuhkan kemampuan untuk memilah info. Mana yg penting dan bisa mendukung cerita atau tidak.
Makanya saya selalu menyarankan pada penulis untuk rajin menonton. Film atau reality show. Tak cukup bermodal hanya rajin membaca.
Kenapa? Karena dari satu adegan sederhana bisa memicu ide yang tidak kita dapat saat membaca.
Hepi: Noted mbak. Ada kah rangkuman tips dari mbak Indah, ketika ingin memulai menulis? Setelah mendapatkan ide cerita.
Indah Hanaco:
1. Bikin outline serinci mungkin. Kalau ada kalimat yang kita rasa lucu dan pas sama cerita, tulis di bagian atas. Supaya gampang terlihat

2. Jangan buang-buang waktu terlalu banyak untuk masalah riset. Ingat, novel itu jualan utamanya adalah plot dan karakter. Jangan tergoda bikin uraian detail tentang setting hanya supaya dianggap keren/pintar. Kita bukan lagi nulis buku travel.

3. Risetlah dengan cerdas. Manfaatkan teknologi sebaik mungkin. Cari data yg valid. Pastikan kebenarannya dengan cek ricek minimal dari 3 sumber terpercaya.

4. Mulailah menulis jika semua "peralatan perang" sudah tersedia. Abaikan godaan untuk menyentuh naskah lain. Fokus pada naskah yg sudah dikerjakan. Usahakan setia pada plot.
Hepi: Mendingan mana, menerbitkan buku sendiri atau kita kirim naskah ke penerbit?
Indah Hanaco: Kalau saya, mending ke penerbit. Kalau indie, kayaknya repot. Tapi kurang tahu juga karena aku gak punya pengalaman. Yang kudu diingat, pilih penerbit besar yang memang profesional. Jangan pilih yang ngakunya mayor tapi distribusi aja pun masih terbatas banget.
Percayalah, saya udah mengalami hal-hal pahit dari dunia menulis. Jangan sampai teman-teman di sini mengalami juga.
Hepi: pertanyaan di luar tema ya mbak. Jadi mbak Indah nulis, apakah untuk kepentingan finansial, atau cukup karena suka menulis? mohon maaf agak sensitif. Karena saat ini saya kok jadi fokus nulis artikel, padahal sebelumnya suka nulis sastra πŸ˜‚πŸ˜… saya kaya kehilangan nyawa gitu mbak
Indah Hanaco: Saya mulai nulis awalnya gara-gara menghindari stres. Waktu itu saya dan suami berinvestasi tapi tertipu ratusan juta.
Jadi, supaya tidak kepikiran terus, saya nulis. Padahal dunia nulis udah saya tinggalin lama. Dulu nulisnya cerpen.
Sampai saat ini, uang belum jadi fokus. Tapi tentu senang kalau pas terima DP atau royalti. Bisa beli tiket liburan, misalnya.
Saran saya, nulis artikelnya tetap jalan. Tapi apa yang dicintai tidak boleh ditinggalkan. Pelan-pelan nyicil juga nulis sastranya. Percaya deh, hidup butuh keseimbangan. Lakukan terus apa yang dicintai.
Hepi: Kalau kita ingin tahu info penerbit dari mana mbak?
Indah Hanaco: Biasanya ada di web mereka. Banyak info, kok. Kalau kita tanya di twitter, biasanya direspons kok
Hepi: Siap mbak. Mulai semangat lagi 😍😍
Indah Hanaco: Harus semangat, Mbak. Saya selalu percaya bahwa pertolongan Tuhan akan datang kalau kita sungguh-sungguh. Siapa sangka awal menulis yang cuma untuk menghindari stres, akhirnya malah bikin saya hepi. Saya menemukan diri saya yang baru.
Saya gak tau kalau saya ternyata lumayan tangguh. Aslinya saya pemalas. Tapi begitu kenal dunia menulis, sisi pejuang saya tiba-tiba muncul. Semangaatttt πŸ’ͺ

Apik: 33 novel dan masih ada 4 yang mau terbit, hepi gak?
Indah Hanaco: Hepi dong. Tapi jadi tantangan untuk menulis tokoh dan tema yang beda. Gak boleh ada pengulangan. Itu yang bikin otak kerja keras πŸ˜‚
Apik: Jangan sampai penggemar komplain ya πŸ˜… kok sama ama yang itu?
Indah Hanaco:Iyes. Apalagi yg lebay model dirimu, Mbak πŸ˜›
Apik: Lebih power mana deadline apa royalti? πŸ˜„
Indah Hanaco: Thanks God eike gak matre. Jadi, nulis memang karena beneran cinta. Tapi, kerja keras pasti ada balasannya dari Tuhan.
Kalau sejak awal orientasinya uang akan mudah kecewa πŸ˜‚

Kinanti:
Horas tu hamuna. Mau sedikit bertanya sesuatu yg menggelitik, kenapa hampir rata-rata temanya seputar 'dilecehkan' atau 'menikmati' hubungan pria dan wanita?
Indah Hanaco: Tema novel saya bukan ttg "dilecehkan" atau "menikmati".
Saya biasa membahas tentang kesempatan kedua. Cinta yang datang setelah badai. Bukan sekadar cinta antara lawan jenis 😊

Dwi: Mba Indah, saat menulis novel bagaimana cara memilih kata - kata saat menulis supaya penggunaannya tidak berulang-ulang? Dan ketika sebuah novel sudah rampung apakah langsung ke editor atau share ke teman atau yang lain dulu?
Indah Hanaco: Sambil nulis, saya buka kamus tesaurus. Sering buka kamus untuk nyari kata-kata baru.
Misal, kata terkejut bisa divariasikan dengan terkesima, tergemap, tergegau. Tinggal kita pilih yang pas sama kalimatnya.Setelah kelar nulis, saya langsung kirim ke editor. Karena pada akhirnya keputusan diterima/ditolak ada di tangan editor.
Dwi: Belum tahu kamusnya yang seperti apa? Buku atau online?
Indah Hanaco: Ada yg berbentuk buku. Ada juga yg online. Saya sendiri dulu banget dapet link yang kemudian didonlot dan dipakai sampai sekarang.
Dwi: Boleh minta link atau referensi kamus bukunya?
Indah Hanaco: Duh, mohon maaf, link-nya sudah tidak punya. Karena saya donlotnya beberapa tahun lalu.
Apik: Dowload di appstore ada kok dwi. Ketik aja tesaurus. Pilih yang ratingnya 4.5.
Dwi: πŸ‘
Dwi: Bagaimana menentukan ciri khas sebagai penulis sebagai pemula? Apakah dengan mencoba semua genre?
Indah Hanaco: Iya, bisa begitu. Saya sendiri sebenernya paling suka nulis novel berbau psikologi. Bukan romance. Dulu pernah nulis novel tentang kepribadian ganda, judulnya les masques. Tapi pembaca kita ternyata belum bisa benar-benar menikmati.
Saya sendiri meski bnyk menulis genre romance, tapi juga menulis novel anak, buku sains, sampai matematika.
Jadi, balik lagi, tulis apa yg kira sukai.
Dwi: Wahhh banyak juga
Kereeeennnn πŸ‘πŸ‘
Dwi: penunjang sebagai penulis apakah harus punya semua jenis sosmed atau dipilih-pilih saja?
Indah Hanaco: Saya sekarang lebih nyaman di ig dan twitter. Fb bikin kepala migrain πŸ˜‚ tapi yang penting, pilih yang bikin kita nyaman.


Umi: Saya itu sering dapet ide ketika perjalanan dari rumah ke kantor..itu saat paling enak buat ngelamun sambil menikmati macet-macetan. Dan saya inget dulu pernah dibilangin begitu ada ide langsung tulis.
Nah. Sayangnya begitu nyampe kantor langsung dihadapkan sama setumpuk kerjaan yang mau gak mau bikin ide buyar terus keambil alih ama kerjaan sampe sore dan akhirnya ilang. Ada saran mba Indah?
Indah Hanaco: Saya punya buku yang berisi banyak banget catatan. Tiap ada ide memang kudu ditulis sebelum keburu menguap.
Kalau membawa buku catatan bikin repot, tulis di hp saja. Ide adalah harta karun, sayang banget kalau tidak dimanfaatkan.

Egi: Saya cenderung kalau nulis tipenya analis, ulasan dan kalau nyoba pindah genre ke romance kok rangakain kata-kata yang jadi kesannya "tidak manusiawi". Ada terapi gak mba untuk permasalahanku?
Indah Hanaco: Kalau gak nyaman nulis romance, jangan maksain. Karena hal pertama yang harus kita pikirin saat nulis adalah bikin diri sendiri bahagia.
Karena cuma rasa bahagia yang bikin kita bisa menuntaskan satu naskah.
Jadi, tulis apa yang kita sukai, yang paling dekat dengan diri kita. Semangat terus, ya πŸ˜‰
Egi: Makasih Mba.. Mungkin karena jenis bacaan dan dulu asdos penelitian di India makanya terbawa sampe sekarang, tapi bisa ada terapinya gak yah?
Indah Hanaco: Kalaupun mau nyoba, paling dengan latihan. Mulai nyoba menulis genre romance. Konsisten di situ sampai merasa nyaman. Karena, sekali lagi, menulis adalah tentang konsistensi.
Sekadar berbagi pengalaman, sampai tahun 2014, saya gak tertarik nulis tema religi. Jangan bayangin religi ala ayat-ayat cinta ya. Religi ala saya adalah yg ngepop, lebih bahas soal isu sosial.
Tapi kemudian ada editor yang menyemangati. Minta saya nulis genre itu. Saya sanggupi meski awalnya merasa menderita. Tapi setelah masuk naskah ketiga, mulai nyaman sampai sekarang.

Widya: Gimana caranya bisa masuk ke penerbit? Saya pernah ditolak penerbit mba tapi naskah saya dipublikasikan di blog orang penerbitnya, saya jadi takut kirim ke penerbit lagi akhirnya saya pernah indie sama temen-temen.
Indah Hanaco: Kita cari tau kira-kira penerbit mana yang cocok sama naskah kita. Sekarang umumnya penerbit menerima naskah via email, kok. Penuhi syarat administrasinya, kirim. Jangan takut ditolak. Kalaupun belum berjodoh, ada banyak penerbit di Indonesia. Karena itu, pilih penerbit yang profesional. Gramedia grup, misalnya. Apalagi sekarang gpu punya gwp. Bisa coba nulis di sana. Penulis zaman sekarang punya banyak kemudahan. Ayo, dimanfaatkan!
Dwi: GPU GWP apa mba
Apik: Gramedia writing project. gwp.co.id. Bisa log in. Mirip wattpad


Catatan dari Indah Hanaco

* Menulis adalah sebuah proses panjang. Kadang, ada rasa putus asa ketika hasil gak sesuai harapan. Saya juga masih mengalami hal-hal kayak gitu. Manusiawi, kok.

* Ketika naskah ditolak atau novel dikritik tajam, rasanya pengin berhenti nulis. Tapi kemudian nyadar lagi, tanpa proses itu karya kita mungkin akan jalan di tempat.

* Menjadi penulis berarti gak boleh berhenti belajar dan merasa puas. Kita juga harus jauh-jauh dari sifat sombong. Karena hal-hal demikian akan tercermin dari tulisan kita. Puas, ogah belajar, sombong, akan membuat tulisan kita pun kehilangan makna. Yang baca bisa merasakan itu.

* Ketika naskah kita ditolak, kadang bukan karena tidak bagus. Melainkan karena tidak cocok dengan selera editor. Makanya, jangan patah hati karena naskah ditolak. Naskah saya pernah ditolak sampai lima kali.

* Jangan lupa menjaga konsistensi menulis. Luangkan waktu untuk menulis setiap hari. Jika otak kita terbiasa mengolah kata, biasanya akan berimbas pada kecepatan mengetik juga.

* Ketika menulis, jangan terbebani dengan hal-hal di luar naskah yang sedang digarap. Misalnya tentang pasar, disukai pembaca/tidak. Fokus pada tulisan agar selesai tepat waktu. Tidak ada salahnya menetapkan target karena waktu adalah uang.

* Tulislah apa yang kita sukai. Jangan cemaskan orang lain karena kita mustahil bisa memuaskan semua orang.

* Jangan alergi dengan segala hal yang berbau "mainstream". Banyak yang terjebak pengin tampil beda tapi justru malah jadi aneh. Gak ada yg salah dengan hal-hal mainstream.
Senin, 10 Juli 2017

Bila Esok Tak Tiba


Menulislah. Bekukan momen yang ingin kamu ingat.

Tidak mudah tetapi mungkin.

Bila esok tak tiba, bagaimana kamu ingin diingat?

Minggu, 09 Juli 2017

Kemana aja di Semarang?

Begitu keluar stasiun, kita langsung meluncur ke restoran Rodjo di Jl. Pemuda no 77. Uti yang sudah pernah, langsunh mengambil bubur sebagai makanan pembuka. Maaf tidak ada dokumentasi karena keburu habis. Mamas Gara hebat makan sendiri lauk ayam kriuk dan sayur bayam. Emak menikmato gurame bakar madu dan tumis kangkung. πŸ˜‹


Minggu sambil nunggu Uti selesai reuni, kita ke transmart di Srondol. Main di Transtudio mini. Mamas Gara sama baby Gian sih yang main. Hihihi.. Emak mah makan bakso cilok aja.

Pose yang dia bikin sendiri, fotogenik kan? Iya aja biar cepet πŸ˜…

Gak usah kebanyakan ekspektasi, yang jelas sesak banget ini arena main.

Baru keluar dari arena main jam setengah dua. Mampir ke Super Penyet dengan kondisi ngantuk. Gak sempat foto karena baterai keburu abis.

Di Gombel macet karena proyek jalan layang. Ruwet ndes.

Selesai semua acara jalan ke Tlogosari ke tempat kakak Uti. Makan mangga arum manis. 😍 Mangga ini selalu jadi idola. Gimana nggak, rasanya meleleh di mulut dan manisnya menggelitik. Sudah lama aku gak makan. Surga.

Sabtu, 08 Juli 2017

Kaligung Kini Makin Disukai

Excited to travel. Ngebolang lagiii..
Semarang, kami datang...

Uti ada reuni di Semarang dan aku tidak mau melewatkan untuk ikutan bareng krucils. Maaf ya ayah seharian ini kami video call dan bikin mupeng. 

Terus naik apa? Kaligung lah. Sayang waktu awal naik kereta ini tahun 2004an, hp masih jadul dan belum aktif di dunia penulisan online jadinya ya tidak di dokumentasikan dengan baik.

1. Tiket berupa boarding pass
Harga tiket Rp50.000. Bisa dibeli online dan offline. Begitu kode booking didapat, kita bisa print di stasiun. Kaligung adalah kereta yang melayani rute Tegal-Semarang Poncol. Baru bisa dipesan 3 hari sebelum keberangkatan dan dicetak 6 jam sebelum.
Pada hari keberangkatan, setengah jam sebelum kita dipanggil untuk persiapan boarding. Masuk dengan menunjukkan tiket dan KTP. Transit di ruang tunggu. Hihihi πŸ˜„



2. Tempat minum
Asyem aku merasa ndeso 😜. Mamas Gara sudah langsung fokus dengan tempat minum itu. Membuka tutup dan memasukkan botol. Baby Gara juga dengan bantuan Uti tidak mau kalah mainan juga. 
Iyes bisa buat tempat hp. Ketika posisi menyusui, tangan yang bebas bisa sambil  mengetik pesan pada aunty untuk lokasi penjemputan.

3. Nyaman buat anak
Di gerbong kereta Kaligung, anak-anak bisa bolak-balik berjalan di lorong antara tempat duduk. Lantai juga bersih jadi buat yang punya anak suka gegoleran bisa lah main di lantai.

4. Toilet bersih
Surga bagi ibu hamil yang beser adalah tidak risi bolak-balik ke kamar kecil yang bersih. Anak-anak juga suka kalau ada toilet bersih.

5. Bagasi
Iya seperti di pesawat, bagasi tidak bisa ditempati koper besar dan tas ransel montok. Wakaka...

6. Fasilitas pengalih kebosanan
Selain tempat minum ada pemandangan laut dan sawah. Lalu colokan buat hp yang sudah tergantung dengan charger. Kita gak akan mati gaya karena hp on terus.


7. Layar berjalan yang menunjukkan posisi
"Mba udah di mana?"
Sekarang sudah bisa jawab kalau ternyata pemandangannya sawah semua. 
Iya ada layar yang menunjukkan ada di mana posisi kita sekarang.


Kaligung kini sungguh menyenangkan. Anak-anak nyaman, ibu senang, dan Uti bahagia. πŸ˜„
Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design