Kamis, 01 Juni 2017

Ramadan, Siapkah Aku Menyambut Berkah?



Berganti kebiasaan yang sudah dilakukan selama 11 bulan, apakah mudah? Rasanya kok mustahil.

Tentu bukan perkara mudah tetapi tidak mustahil juga. Begitu ramadan datang, banyak yang berbondong-bondong memenuhi masjid atau mushola. Padahal biasanya di rumah saja cukup.
Semua sibuk menyiapkan menu buka dan sahur.
Tadarus.
Menyiapkan makanan buat buka dan sahur lalu dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

"Ah gak mesti setahun sekali mba. Ini mumpung ketemu aja."
"Gak setiap hari inih. Bagi-bagi rezeki."

Lalu bagaimana kalau setiap bulan adalah ramadan? Apakah akan tetap semangat?
Terus kalau setiap hari harus berbagi rezeki? Kamu mau?

Kita memang memerlukan momen untuk akhirnya bisa berubah. Butuh alasan untuk akhirnya bersemangat. Dan memang harus mengembalikan pada niat untuk benar-benar ikhlas apapun kondisinya.

Aku selalu bilang pada diriku jika ramadan itu hanya awal. Bukan hasil. Apalagi pembuktian. Semua yang terjadi adalah proses. Proses untuk terus dan terus dilakukan bagaimanapun hasilnya.

Bagaimana sabar? Tidak lekas marah saat anak-anak menumpahkan apa saja di lantai. Meskipun akan sangat nyaman jika berteriak-teriak meminta mereka membereskan semua kekacauan.

Apa itu ikhlas? Merelakan dengan segenap hati semua kata-kata sindiran atau keadaan yang tidak sesuai dengan diri sendiri. Meskipun sangat nikmat bisa membuat orang lain yang menyakiti tampak begitu kesusahan.

Kenapa harus berbagi? Meskipun hanya pengalaman tetapi bermanfaat bagi orang lain adalah tantangan bagi diri sendiri yang terbiasa menegakkan dagu tanda menggenggam sukses.

Siapa yang harus ditemui? Orang-orang yang mempunyai utang pada kamu. ya sekedar mengingatkan jika tidak ingin bertemu Tuhan sebagai pencuri. Tentu saja ini mengingatkan pada diri untuk segera membayar apa-apa yang masih jadi tanggungan agar berkah selalu datang menghampiri.

Ketika jawaban-jawaban itu terjalin dan menjadikan aku pribadi yang lebih baik maka disitulah berkah sesungguhnya.

Memulai dari diri sendiri tentu saja yang paling mungkin. Berubah jadi lebih lembut bukan hanya saat ramadan tetapi tidak salah juga jika mengawalinya sekarang. Toh bulan baik. Belum tentu tahun depan ketemu lagi dan bisa berpuasa. Siap tidak siap jika kita tidak berdamai dan memulai lantas kapan lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design