Senin, 29 Mei 2017

Seks bagi Ibu, Kewajiban atau Hiburan?

Tadi pagi, sungguh aku terpaku. Lipatan-lipatan itu kenapa begitu mengintimidasi? Aku aja geli, bagaimana dengan pasanganku?
Lipatan itu sungguh tak mengundang.

"Ibu, aku lapar!"
"Mak, dedek tumpahin air tuh."
Rasanya ingin menjambak rambutku sendiri, aku rindu suamiku. Sejenak menepi dari segala keriuhan ini.
"Lah tinggal pake lingerie aja kok. Jalan bak model di depannya.
Dengan lipatan itu? Serius?

Aku dengan segala masa lalu di belakang, berpikiran bahwa wanita itu melayani. Tidak untuk berinisiatif. Terima enak. Gak enak ya terima.

Meyakini mitos: jangan sampai ASI tumpah ke vagina atau penis.
Apakah vaginaku kecipratan ASI dan seolah ada label 'hiper' dijidatku?

Lalu aku bertemu kamu. Dengan segala keterbukaan. Kamu tidak pernah mempermalukan jika aku meminta duluan, jika aku berimajinasi aneh-aneh. Jika aku berinisiatif tentang 'our delicious scene'
"Kalian wanita, terlalu banyak pikiran. Selalu menghakimi duluan. Padahal bercinta itu dua orang. Akan indah kalau saling. Kami pria, jika diajak bicara pasti mendengarkan. Jadi bicara saja. Tak usah ambil keputusan sepihak."

Tubuhmu bukanlah ukuran apakah kau menarik untuk diajak bercinta.
Tidaklah salah untuk berinisiatif mengajak suami bercinta. Dia suamimu bukan orang asing yang kamu comot di pinggir jalan.
Dan saat bercinta, endorfin lalu dopamin membuat hari buruk berakhir.

Seks bagi ibu-ibu seharusnya bisa dijadikan sumber pemahaman untuk menghargai diri sendiri, komunikasi dengan pasangan, dan juga tambahan hiburan di warni-warni kehidupan pernikahannya.


Memahami diri sendiri itu bukan sekedar tahu makanan favorit, golongan darah, atau ukuran sepatu. Namun harus memahami kenapa suasana hatimu berubah cepat dan tahu bagaimana. Percaya diri dengan foto diri sendiri meskipun ada sudut kecil di hatimu yang berteriak, "Ih jangan pasang fotomu sendiri sih. Jelek banget."

Biarkan orang lain melabelimu macam-macam tapi jangan kamu yang menstempel dirimu sendiri.

Jika memang bercinta adalah hadiah yang kamu inginkan untuk menutup harimu yang chaos, dress up and do the sexy bitchy dancing in front of him!  Persetan dengan lemak-lemak yang menggelambir. Kamu berhak jika kamu menginginkannya.

Lagi puasa kok bahasannya begini sih? Hahaha... Ya siapa yang larang, asal sesuai dengan aturan. Udah suci sebelum adzan subuh. Sah-sah aja.

Selamat berpuasa ya. Nikmati puasanya biar selalu ada berkah di tiap harinya. Aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design