Selasa, 12 September 2017

Laki-laki 3

Aku sadar membuat banyak mata terpana. Di jidatku seolah terukir “meriang”. MERINDUKAN KASIH SAYANG. Rok pendek merah meski hanya dua senti dia atas lutut menegaskan betapa paha mulus itu butuh sentuhan, T-shirt dengan kerah v-neck begitu mengekspos belahan dada ranumnya, dan tolong-tolong apa tidak ada yang bisa memberi tahu bahwa rambut panjang hitam berkilau itu menambah jumlah mata yang mendamba.

Rei memilih tempat duduk di dekat pintu keluar. Dengan gerakan tak sabar, Rei menarik lepas kedua lengan jaket dan menyampirkan di kedua bahuku.
 “Kamu gak kedinginan? Aku buru-buru sampai lupa kalau warung kopinya rame banget,” penyesalan itu berusaha Rei perbaiki dengan jaket windbreaker kebesaran yang mendekap tubuh salah kostum Nonik.
Aku berbalik sambil mengeratkan jaket beraroma asap rokok tipis dan kopi yang pajang hingga menutupi lutut.
“Apa gak masalah?”
“Do you need private room?” senyum jail plus menggoda itu begitu ringan hingga jantungku berdetak dan perutku mendadak mulas.
Laki-laki ini, kenapa Tuhan? Kebaikan apa yang aku lakukan di kehidupanku terdahulu hingga Kau kirimkan sosok nyaman ini. Betapa dia tidak pernah cerewet dengan detil-detil rumit yang menghantuiku.

“Nonik?”
Panggilan dengan nada terkejut mendadak membuat Rei mendekatkan diri padaku, menggenggam tangan, lalu memasang tatapan “stay there, close enough” pada si pemanggil.
“Ya ampun bener ya ini Nonik. Apa kabar?”
Aku mengangkat tangan memberi tanda tidak nyaman dengan gaya sok akrab si pemanggil yang hendak cipika-cipiki.
“Mana Andra? Kok sendirian aja.”
“Aku udah selesai kok mas Deni. Duluan ya mas.”
Rei melingkarkan tangan ke pinggang dan menarik tubuhku dengan santai. Tersenyum saat mata si pemanggil mengajukan banyak tanya.

Rei tahu aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Tanpa bertanya dia naikkan kecepatan motornya. Udara dingin menyapu dan mataku terasa membeku susah sekali melihat sekitar. Angin dan air mata membuatku menyandarkan tubuh, mendekap, dan menyerahkan keputusan pada punggung hangat itu.

Balkon: memandang birunya kolam renang, mensyukuri lampu yang temaram, dan menikmati lelehan air mata.
“Apa perlu aku angkatin telponnya?”
Hanya dari nada deringnya aku tahu siapa yang menelepon. Lima tahun itu berakhir dan malam ini aku hanya ingin menangisi sampai puas.
Rei menggeser meja anyaman bundar ringan di sebelahku dan menarik kursi sebagai gantinya. Duduk dengan posisi meletakkan kepala pada sandaran dan meluruskan kaki di pagar pembatas sama persis dengan gaya anehku lalu bersedekap.
“Dia bilang test drive, Rei terus kalau udah bosan aku bisa dia rental kali ya. Ganti ama yang baru.”
Rei dengan cepat menegakkan tubuh lalu menghadap padaku. Begitu ringan Rei menarik tubuhku, mengambil napas seolah menyesap tangis beserta semua sesakku. Rei mengencangkan pelukannya.
“Gak usah cerita. Masukkan saja semuanya ke daftar pertimbanganmu. Setelah wisuda baru kita bahas langsung ke keputusanmu. Aku tidak mau melayang lebih dulu. Dia masih punya waktu hingga wisuda untuk kembali merebut hatimu,” Rei mengusap rambut tergeraiku.

Sungguh memalukan, momen syahdu itu terganggu oleh suara orkes perutku.
“Apakah nilaiku akan berkurang karena membuatmu kelaparan, Non?” tanya Rei setelah mengurai pelukannya.
“Deni membuat kita kabur dari warung kopi andalan yang punya chees cake terlezat. Kamu malah ketakutan kehilangan nilai plus?” ledekku sambil memajukan bibir bawah.
“Oke pesan saja nasi goreng, makan dengan cepat lalu istirahat. Aku balik ke proyek dulu lihat progres.”
Aku mengangguk cepat, sekilat ciuman di kening, dan udara nyaman yang menguap.

###

“Piye Nduk? Kok jam segini telpon?”
Aku mengumpulkan semua keberanianku untuk membicarakan masalah ini dengan sumber kekacauan persepsi. Namun yang ada hanya tangisan tersedu selama hampir tujuh menit. Ajaibnya Papah mendengarkan tanpa sepatah kata pun.
“Nonik cuma kangen Papah.”
“Udah malem yo Nduk, besok telpon lagi. Kamu sabar dan tawakal. Mohon sama Yang Kuasa biar dikasih petunjuk. Besok harus bangun pagi kan urus sewa toga sama bayar wisuda. Dah Papah tutup ya.”
Laki-laki yang aku panggil Papah, yang aku benci karena ketidakmampuannya menunjukkan kasih sayang, yang sialnya dicintai Mamah tanpa syarat, dan membuatku terjebak pada kehausan perhatian; ya hanya Papah yang terpikir. Ketika Andra datang untuk pertama kalinya ke rumah, Papah tidak banyak komentar hanya Mamah yang wanti-wanti, “Dia anak orang punya mba. Apa iya cocok dengan keluarga biasa saja seperti kita?”. Aku diminta berpikir ulang dan sangat dianjurkan agar bekerja meski hanya setahun sebelum akhirnya memutuskan menikah.

Aku masih bergelung dengan mendekap gawai. Pesan Papah berulang-ulang di telinga. Aku belum bercerita tetapi seolah Papah tahu. Iya dia memang selalu tahu apa yang aku butuhkan. Aku memang lebih gampang menutup mata akan kebaikannya dan terus menerus mendoktrin bahwa Papahlah yang harus disalahkan untuk semua luka hati yang aku alami. Ketidakmampuanku memilih lelaki yang benar. Kekuranganku untuk melihat sisi baik dari semua badai yang memporak-porandakan masa kecilku. Harusnya bahagia, harusnya cukup kasih sayang, dan punya citra positif pada diri sendiri.

“Kenapa baru diangkat? Adek di mana?” pertanyaan dengan campuran nada marah dan penasaran.
Loudspeaker sudah aktif sesaat setelah Rei masuk tanpa suara. Aku tahu dia menyimpulkan aku sudah terlelap. Aku juga menduga dia akan kembali pagi hari tak secepat ini.
12 panggilan tak terjawab, 7 pesan masuk, 3 status facebook.
“Deni bilang ketemu adek di Black Stone? Sama cowok? Kok bisa?”
Rei menunjukkan ekspresi, “Should I answer that fucking questions?”. Aku menggeleng lemah.
“Temanku…”
“Teman kok pake meluk pinggang segala. Apa dia alasan kamu minta kita jalan sendiri-sendiri dulu? Adek ada main di belakangku?”
Rei bergabung di ranjang, memelukku dari belakang, memberi dukungan untukku menjawab mengesampingkan emosi. Semua harus tanpa cela hingga wisuda.
“Udah nanyanya? Mau dijawab kaya apa juga emang kamu bisa percaya ke aku? Kita sama-sama pernah selingkuh tetapi kenapa aku yang harus berjuang seolah catatanku tidak pernah bersih seperti catatanmu. Kita pacaran Ndra, bukan lagi introgasi. Buat apa dilanjutin kalau kamu terus-terusan anggap aku tersangka?”
“Ya jawab aja sih apa susahnya. Siapa laki-laki itu? Ngapain bisa di Black Stone bareng ama dia?”
Aku sungguh tidak bisa konsentrasi merangkai kata untuk menjawab pertanyaan Andra. Rei mencium rambutku tanpa dosa dan mengencangkan pelukannya. Dengan lembut dan terarah Rei memegang kedua pipiku. Mata kami bertautan, tanpa suara, dengan sangat hati-hati. Bibir tipis milik Rei mendarat hangat di bibirku.
“Dek, Nonik, Ay. Halo, halooo.”
Serangkaian panggilan yang justru menambah tekanan bibir Rei, masuk, dan ingin menguasai. Kami sudah tak berjarak. Tangan bebas Rei meraih ponsel, menekan keypad sekenanya agar suara pengganggu segera lenyap, dan melempar benda berisik itu ke lantai beralaskan karpet tebal.
“Tampar aku kalau memang menurutmu keterlaluan karena kalau kamu diam aku tidak akan bisa berhenti nanti,” pinta Rei sambil menjaga tubuhku agar tidak oleng.

Otakku memaksa untuk mundur tetapi badanku berkhianat. Memejamkan mata, mencondongkan kepala, dan membiarkan Rei berkuasa.
Rabu, 06 September 2017

Laki-laki 2

Menuliskan kisah Nonik bisa jadi adalah kompromi bagiku agar “gadis” ini segera menemukan pintu keluar. Sekali lagi jika kisah ini mirip, mungkin aku terinspirasi darimu.

###

“Menikah?”
Mata berwarna hitam pekat itu seperti hampir keluar.
“Tunggu, kamu bilang mau nunggu aku kerja?”
Gelengan laki-laki berumur lima tahun di atasku itu mantap. Seolah aku melupakan percakapan yang terjadi satu tahun silam. Setelah skripsi diambil, setelah perselingkuhan itu mengubahku.
“Kita sudah mau lima tahun lho Nik, mama sudah mulai gak enak dengan pertanyaan tetangga. Apalagi aku anak pertama,” Andra menekankan pada anak pertama.
“Eyang bilang, kalau bisa kamu cari anak bontot. Gak cocok sama aku yang juga anak pertama.”
“Lha yang penting jawab aja dulu kamu mau nikah ama aku gak?”

Aku panik. Bukan, bukan Andra yang tak pantas. Laki-laki itu tipeku. Putih, semampai, dan berkacamata. Pastinya jarak umur kami tidak sama dengan papah dan mamah yang hanya terpaut satu tahun. Tentu saja kami tidak akan bernasib sama seperti papah dan mamah yang mewarnai rumah tangga dengan pertengkaran tanpa memikirkan perceraian. Baku hantam lalu besoknya mesra lagi.

Menikah dengan Andra artinya high heels, salon, dan setelan feminim. Belum lagi calon ibu mertua, eyang, dan keluarga besar. Belum lagi meyakinkan papah mamah.

“Ditimbang dulu aja baik ama buruknya. Nanti kalo ternyata dia yang lebih baik ya silakan. Ya walaupun aku pede aja kalau kamu bakalan milih aku,” saran Rei sambil memamerkan gigi gingsulnya.

Rei. Selingkuhan dan juga calon pacar. Kopi. Nyaman.

“Oi, kok malah ngelamun?”
Sentuhan hangat Andra di pipiku yang seharusnya membuatku kembali pada saat ini malah terus menghanyutkanku. Andra berbeda dengan Rei. Sisi kekanakanku tidak akan muncul sempurna karena Andra lebih suka aku yang kuat dan dewasa bukan yang labil dan butuh telinga. Rei akan mengambil sikap "this is mine, stay back" dengan jelas ketika teman-temannya sekedar menanyakan siapa aku.

Tunggu, kalau pembahasan menikah ini terus berlanjut maka daftar pertanyaan itu harus segera dipastikan. Aku harus cocokkan semua puzzle tentang dua laki-laki  ini. 

“Ay,” aku menahan semua gemuruh berharap Andra menjawab sesuai dengan yang aku harapkan. Tentu saja, setelah laki-laki kesekian, Andra yang akhirnya mengajak menikah. Hanya perempuan kurang waras saja yang malah panik dan mengulur waktu.
Iya, aku wanita gila itu. Menikah itu kamar gelap. Luas dan tak berpintu. Layaknya seseorang yang menyerahkan diri pada kematian. Salahku? Tentu tidak. Papah mamah membuktikan padaku selama hampir tujuh belas tahun aku hidup seatap. KDRT. Perselingkuhan.

“Kita kan sudah serius, harusnya mulai ganti panggilan. Ay kayak mau pacaran aja terus.”
Matek, kuapokmu kapan Nik Nonik. Kawin ki mikir modal, iki mikiri panggilan owk. Emang tukang pijet.
“Iya tenang aja, aku punya banyak stok nama panggilan. Oke katakanlah kita menikah. Bangun rumah. Kamu mau  bagian mana yang istimewa dan paling nyaman?”
“Ruang keluarga lah, kan tempat kita ngumpul.”

Tetooot. Kita. Lu aja kali gue mah dapur. Dapur minimalis dengan kursi dan meja tinggi yang jadi pembatas dengan area memasak. Tempat di mana suami dan anak-anak menunggu makanan disiapkan dan tentu saja dapur yang mengundang untuk dijelajahi saat pernikahan mulai membosankan.

“Lima tahun kita pacaran, apa yang membuat kamu bertahan?”
“Ehmmm… Gak tahu, ya mungkin karena udah jodoh.”
“Kamu selingkuh aku maafin, aku selingkuh kamu maafin. Keluargamu gak begitu suka sama aku, kamu bertahan. Kenapa?”
“Entahlah apa harus ada jawaban. Rasanya perasaanku menggantung. Apalagi setelah kamu selingkuh.”

2007. Rei hadir. Dikirim Tuhan untuk membuatku tahu apa itu rasa nyaman. Hanya sebentar karena aku yang penakut tidak bisa lepas dari zona nyaman hubungan lama. Aku memutuskan kembali pada Andra dan membunuh dengan kejam rasa nyaman yang Rei ciptakan. Rei menghilang. Aku berusaha mendoktrin diriku bahwa Rei hanyalah laki-laki biasa lainnya yang datang dan pergi. Andra adalah kepastian.

“Ya elah Non, aku kira kamu udah ada di ujung negara mana mengajar anak-anak.”
Telepon ngajak berantem khas Rei. Berujung pada ajakan minum kopi dan selingkuh lagi. 2009 setelah ujian skripsi yang berakhir dengan gemilang dan masa tunggu wisuda. Aku juga belum paham kenapa Tuhan kirim Rei lagi. Masih dengan nyaman yang nyata, penerimaan yang seutuhnya, dan menggila bersama.
“Aku pikir kamu udah gak sama dia. Ternyata masih. Selingkuh aja yuk. Sekarang jangan sampe ketahuan ya.”

Aku tersenyum. Andra memandang lekat-lekat. Aku memang bodoh. Pacar yang selama lima tahun aku pertahankan, jatuh bangun menyesuaikan diri ternyata mengajakku menikah hanya karena “sudah waktunya”. Aku berharap ada sedikit cinta. Ya katanya itu yang membuat mamah bertahan menjadi samsak papah selama bertahun-tahun. Membuatku berjanji untuk tidak menikah. Terapi kejut Andra sukses membuatku mempertanyakan diriku sendiri. Kamu siap Nik?

“Non, di mana? Aku jemput ya? Balas dong. Pura-pura ke kamar mandi kek. Aku bisa gila mikirin kamu cuma berduaan aja ama dia.” 
“Non, ingat ya yang penting kamu bahagia. Kalau emang nyatanya kamu bahagia ama dia, aku gak papa kok tapi ijinin aku buktiin ke kamu. Aku gak akan lari kaya dua tahun lalu. Aku akan berjuang, Non.” 
“Aaargh, kamu lagi ngapain ama dia? Ciuman ya?”
Pesan itu masuk. Memantapkan keputusanku. Keputusan yang seharusnya aku ambil dua tahun lalu. Bukan malah sama-sama bertahan dalam hubungan semu.

“Pertanyaan terakhir. Hubungan intim sebelum menikah, benar-benar memasukkan penismu ke vagiku. How?”
“It’s a test drive baby. Gak masalah kan?”

Andra memperhatikan perubahan mukaku. Lima tahun, Ndra. Lima tahun. Masa iya kamu gak tahu juga gimana caranya membuat hatiku senang. Berbohonglah sedikit kalau ada yang lebih berharga dari sekedar vaginaku. Pura-puralah cinta. Berjuanglah untuk sekedar tahu apa yang benar-benar aku sukai.

“Aku tahu ini hari ulang tahunmu, maaf kalau aku ingin di hari ini kita jalani hidup masing-masing. Makasih sudah mau menghabiskan waktu yang ternyata sia-sia. Mungkin kasihan, kamu hanya kasihan pada anak SMA yang waktu itu butuh sosok. Sosok laki-laki dewasa yang mengayomi, pengganti papah.”
“Hei, kenapa? Ada apa?”
“Temani aku saat wisuda, setelah itu kamu tidak punya hutang. Kamu bebas.”
“Bukankah kita sedang membicarakan pernikahan?”
“Pikirkan baik-baik Ndra, kita jalan sendiri-sendiri dulu. Jika setelah wisuda kamu tahu jawaban yang memang dari hatimu. Kamu tahu ke mana harus menemuiku.”

Air mata kurang ajar itu mendesak keluar. Ini lima tahun. Bukan hubungan anak kemarin sore. Kenapa? Kenapa kamu tidak memberikan kepastian bahwa ini bukan hanya urusan selangkangan? Kenapa aku dengan bodohnya bertahan dalam harapan kamu benar-benar akan mencintai aku tulus tanpa ada syarat A-Z?

###

“Are you okay?”
“Aku di taksi Rei. Besok aja kita ketemu ya.”
“Aku tanya apakah kamu baik-baik saja bukan kamu lagi di mana?”
Aku menekan keypad sembarangan yang penting ledakan tangisku tak terdengar Rei.
“Mba, mau ke rumah sakit dulu?”
Pertanyaan supir taksi yang wajar melihatku menangis sambil menekan dada.
“Gak usah. Bisa dicepetin jalannya aja pak.”

###

Aku tersihir melihat tubuh menjulang dengan topi proyek dan sepatu safety coklat kusam yang menyambut ketika aku turun dari taksi. Rei berjalan ke arahku. Semerbak kopi bercampur asap rokok yang aku suka. Rei memakaikan helm sekaligus mengaitkan pengamannya.
“Aku tahu tempat curhat sampe pagi yang cocok buat kita.”
Senin, 04 September 2017

Laki-laki

Cerita Mini
Jika ada kesamaan karakter harap maklum, mungkin secara tidak langsung aku terinspirasi dari ceritamu.
######
Seperti rasa haus yang tak tergenapi. Bagaimana bisa tergenapi. Ini bukanlah air tetapi kasih sayang. Bukan benda tetapi sesuatu yang abstrak.
Ada ungkapan:
"A girl's first true love is her father"
Tentu saja aku hanya menyeringai sinis.
Ada lagi yang bilang kalau sosok laki-laki yang tak pernah menyakiti hati seorang perempuan adalah ayah.
Ya seharusnya aku tak boleh iri, ada banyak perempuan di luar sana yang begitu bahagia dan akur dengan ayah mereka. Hanya aku.
Aku saja yang melihatmu sebagai monster.
Anak perempuan lain tentu saja bahagia menjadi putri karena ayah mereka seorang raja. Iya tentu saja ini ungkapan betapa seorang ayah harusnya memperlakukan anak perempuannya layaknya seorang putri kerajaan yang dimanja dan dihujani kasih sayang.
Aku? Kembali ke aku. Oke. Aku anak perempuan pertama di keluarga. Adikku perempuan juga. Betapa aku berharap aku punya kakak laki-laki karena aku ingin seperti anak perempuan lain yang begitu diperhatikan.
Papahku gila. Dia suka memukulku dengan ikat pinggang celana jeansnya jika aku ketahuan mandi di sungai. Jika anak perempuan lain ditemani ayahnya mandi di sungai maka aku hanya dapat luka perih di kaki. Bonus luka yang tak pernah sembuh di hati.
Papahku tidak pernah memelukku dan bilang dia sayang padaku. Yang dia lakukan adalah meneriakkan kata "goblok" saat aku tak bisa mengerjakan soal matematika yang mudah.
Lalu bagaimana dia bisa jadi cinta pertamaku?
Afif Akhmadi Erafhi, laki-laki pertama setelah papahku yang gila. Dia amat protektif.
"Siapa laki-laki yang datang ke kemahmu membawa banyak makanan?"
"Eddy? Oh itu teman mas Budi samping rumahku."
Afif Akhmadi Erafhi tak pernah bilang cinta padaku tetapi menguangkapkan rasa cemburunya dengan menyebar gosip kalau aku pacaran di persami.
Ketika hubungan satu pihak dan gak jelas ini menggantung, datanglah Ayar. Laki-laki tulus yang memberiku surat cinta dan satu buku penuh puisi. Tentang aku. Semua tentang aku. Beginikah rasanya dicintai?
Dia mengajakku bersepeda menikmati sore dan juga rimbunnya pohon tebu. Tebu yang menguarkan aroma manis. Manis yang begitu memenuhi ruang di hati. Seakan hati begitu kecil dan akan meledak.
Ayar memegang tanganku, "Putuslah dengan Afif Akhmadi Erafhi. Jadilah milikku seutuhnya!"
Laki-laki ini membuatku memilih, apakah aku harus mencintai atau dicintai?
Mencintai laki-laki berakhir dengan hubungan menggantung yang tak tentu arah.
Dicintai laki-laki memberikan harapan bahwa aku akan diberikan apapun yang dia punya, yang dia bisa, dan bagaimanapun caranya.
Namun Ayar hanya lebih tua hanya satu tahun dariku. Aku akan bernasib sama seperti ibuku. Cinta menggebu di awal lalu Papahku menjadi gila karena diguna-guna wanita lainnya.
Ya Tuhan, tak adakah laki-laki yang benar untukku? Apakah aku tak berhak bahagia? Mencintai dan dicintai sepenuh hati? Tanpa harus berakhir gila?
Papah membuatku jadi begini. Haus. Begitu haus akan kasih sayang, perhatian, dan pelukan.
Setelah Ayar ada Rizki. Dia tiga tahun di atasku. Kakak kelas yang begitu melindungi.
"Kita putus aja. Aku mau fokus ujian."
Begitu perasaanku dipenuhi keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja, aku tertipu lagi. Begitu jatuh, tangga menimpa.
"Kok mas Rizki kadoin adekmu kamus. Sebenarnya pacarnya siapa?"
Laki-laki berkacamata itu tak pernah lagi muncul di perpustakaan. Hanya teman-temannya yang bergerombol lalu mendadak serius dan memberikan tatapan mengasihani saat aku mengembalikan buku-buku pinjaman.
Ada Arifin si penjahat kelamin. Laki-laki ini sangat pintar bicara. Bicaranya begitu meyakinkan. Seolah dia bisa menolong mengurangi patah hatiku.
"Pejamin matamu, bayangin aja Rizki ada di depanmu!"
"Nonikkk!"
Pekikan itu membuat mataku terbuka. Reflek menendang tubuh Arifin yang hampir menindihku.
Vian menarik tanganku, membuatku tak sempat merangkum apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu gila ya. Rizki gak bilang Arifin itu lagi jadi buronan. Dia pura-pura jadi pembina pramuka. Dia cabulin murid-muridnya."
Aku menatap Vian lekat. Kamu? Laki-laki juga, adakah udang di balik batu?
 Apakah aku keluar dari mulut singa dan masuk ke sarang harimau?
Banyak laki-laki yang datang dan pergi di kehidupanku. Entah itu teman, mantan, atau calon pacar.
"Kamu kok kalah sama ponakanmu. Udah tua belum punya pacar. Tuh minta kenalin sama temen Nonik. Dia tiap minggu temen cowoknya gonta-ganti."
Sadarkah Papah? Aku begini karena aku haus. Seandainya papah bisa jadi sosok itu. Cinta pertamaku. Aku tak akan seperti pemulung mengais-ngais perhatian. Pengemis yang memohon belas kasih. Aku akan jadi wanita yang kuat. Rasa hausku akan hilang. Aku akan punya jalan hidup yang lurus. Bukan seperti wanita yang kurang belaian dan pelukan. Bukan wanita yang penasaran rasa nyaman akan kehangatan. Bukan panasnya nafsu tapi kehangatan kasih sayang.
Sabtu, 02 September 2017

5 Tips Menyimpan Dokumen Agar Tidak Terselip


LAPTOP kadang beralih fungsi dari gadget untuk main game online menjadi penyimpan dokumen. Semuanya berjubel. Dari yang zaman baheula sampe kekinian. Semua tersimpan tanpa peduli masih bermanfaat atau hanya sekedar curhatan galau ketika gagal move on hingga sukses naik pelaminan. Padahal kalau dicermati dan diolah bisa jadi novel laris. Dokumen-dokumen yang tersimpan tanpa pengaturan tepat akan berakhir menjadi sampah elektronik. 

Buat yang pelupa saking banyaknya dokumen yang harus diurus, tentu wajib punya trik. Dokumen keurus, gak ada yang terlewatkan, dan bisa diolah secara maksimal. Pastinya gak mau dong ide-ide yang berharga malah terlantar sia-sia.

Yoyoy, bisa simak tips ala-ala emak sensi bin pelupi *maksa πŸ˜‚

1. Namai dokumen sesuai kata atau kalimat yang diketik pertama

Kata atau kalimat pertama biasanya mencerminkan isi. Ada keyword untuk mengingatkan kita apa yang ada di dalam dokumen itu. Menamai dokumen sesuai dengan kata atau kalimat yang diketik pertama seolah menstimulasi otak untuk mengingat keseluruhan dalam dokumen tersebut.

Stimulasi dalam mengingat penting agar dokumen bermanfaat secara maksimal.

2. Folder dikategorikan berdasarkan prioritas

→NOVEL                                    
→ARTIKEL BERBAYAR
→BLOG
→REFERENSI
→CATATAN IDE

Bila berencana jadi penulis pro maka dokumen yang tidak mendukung sebaiknya dipindah ke flash disk biar tidak menjadi gangguan. Fokus pada yang akan kamu kerjakan misalnya satu hinggga tiga bulan ke depan. Ketika selesai maka folder dikategorikan ulang sesuai dengan prioritas yang sedang dikerjakan.

3. Pilih nama yang spesifik

Spesifik artinya bisa langsung membuat kamu teringat apa isi di dalamnya tanpa perlu membuang waktu. Membuka lalu menutup dokumen dan harus mengurutkannya satu per satu tentu sangatlah tidak efektif.

Apakah kamu tergoda untuk menamai dokumen sesuai tanggal? Usahakan untuk menambahkan keyword yang spesifik jadi ciri dokumen yang akan kamu simpan.

4. Atur sebulan hingga tiga bulan sekali

Bila punya tekad yang kuat maka mengatur satu bulan hingga tiga bulan sekali bukanlah kegiatan rumit. Bila dokumen tersaji dengan rapi maka pekerjaan di dalamnya akan selesai sesuai tenggat yang kamu targetkan.

5. Pilih mana yang harus masuk ke flash disk, memory card, atau burn-in-disk

Artinya dokumen sudah selesai dikerjakan dan tidak perlu di-edit lagi. Seperti cerpen yang sudah jadi buku atau catatan terbit menjadi blog post. 

Selesai memindahkan dokumen, jangan sampai lupa label. Label kembali lagi berguna sebagai pengingat ada dokumen apa saja di dalam flash disk, memory card, atau burn-in-disk.

"Teratur dan rapi adalah seni menghargai diri. Bukan  sekedar kebiasaan seorang perfeksionis. Tentu saja  menyenangkan bisa tahu jika aku memanfaatkan waktu dengan  baik." @phalupiahero
Satu malam aku menerima pesan dari seorang teman yang menanyakan tentang perkembangan novelku. Aku panik karena aku tidak menemukan folder novel itu di laptop kesayangan. Aku urut satu per satu sambil berusaha mengingat. Pasti aku simpan. Aku hanya lupa. Kalau tidak ketemu bagaimana? Apakah aku siap mengulang lagi dari awal? Oh tidak! Kenapa aku tidak ingat sama sekali. Pelan-pelan. Pelan-pelan. Ahaaa, bukan di laptop tetapi di memory card. Pusing dan gak bisa tidur memang menyerangku bila ada barang atau sesuatu yang hilang. Muter aja di kepala. Maka dari itu aku harus rajin beberes biar tidak kena serangan panik.

Nah buat yang pelupa, merasa hidupnya kacau, atau butuh waktu lama menemukan barang; sebaiknya segera rapi-rapi. Mungkin bisa diawali dengan membedah laptop. Selamat menikmati ya πŸ’ͺ
Kamis, 31 Agustus 2017

Deadliners, Ah Cocoknya Jadi Admin Akun Gosip!

Setelah menetapkan ingin serius menulis, apa langkah selanjutnya?

✔Cari lomba yang hadiahnya bisa buat modal jadi penulis pro
✔Ternyata batas waktunya masih lama
✔Besok-besok masih ngejar kok
✔Udah deket baru dikerjain jadinya seadanya
✔Eh malah kelewatan dan gak jadi ikut

πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

Artinya tujuanmu menulis belum jelas hingga masih saja menjadi deadliners. Menunggu hingga detik-detik terakhir untuk menyelesaikan tulisan. Ya perlu dirunut kembali tujuan menulismu apa. KENAPA KAMU MENULIS?

Aku adalah seorang deadliner, penunda, plus perfeksionis. Aku menulis karena aku suka. Suka menciptakan hal-hal menyerempet bahaya untuk mengurangi kejadian-kejadian parno yang berputar di kepala. Jadi begitu menulis artikel yang harus cari data, baca, olah data rasa malas lantas menyerang. Perfeksionis masalah data yang terkumpul dan juga waktunya harus pas agar saat dikerjakan semua ide itu mengalir tanpa jeda. Memang deadliners sering beralibi bahwa tekanan membuat mereka lebih maksimal dalam mengeksplorasi tema dan tulisan jadi lebih dalam. Tentu saja kalau gak mati lampu, anak-anak gak diserang diare tiba-tiba, atau suami lagi baik hati bisa diajak urun rembug. Adrenalin memang perlu tetapi lebih logis lagi jika bisa mengerjakan tulisan dengan keadaan tenang, masih sempat baca buku referensi, otak-atik video jika perlu. Begitu mati listrik gak perlu panik, masih ada waktu untuk meng-edit, dan menambah detil-detil agar hasilnya maksimal serta gak menyesal. Kok gitu? Ya buat apa menyesal kalau sudah melakukan semua usaha yang bisa dilakukan.

"Ah kayaknya kamu lebih cocok jadi admin akun gosip mba. Kepomu maksimal."

Ya iya kayaknya gitu deh. Menuliskan hasil penasaran dan wawancara sana-sini.

"Deket kamu mah gak aman mba. Semua rahasia bisa terbongkar. Bisa banget korek-korek."

Antara pengen ngakak sama malu. Akhirnya terbongkar juga kalau aku adalah tukang kepo. Iya walaupun aku tahu batas mana yang bisa ditulis dan share, ada juga yang hanya cerita lalu karena terlalu pribadi.

Sebagai orang yang mengaku penulis, aku akrab sekali dengan istilah deadline dan lebih suka menunda hingga menit terakhir jika urusan lomba. Kalau artikel blog biasanya aku kumpulin sampai lima hari baru aku kebut drafnya dalam satu malam. Rasanya lebih kerasa sibuknya. Terus kalau artikel berbayar gimana? Ya kalau itu sih harus sesuai aturan karena ada tanggung jawab dan profesionalisme.

Jadi kalau yang gak berbayar bisa suka-suka gitu. Kaya akun gosip yang seenaknya gak mau konfirmasi asal tayang aja tanpa memastikan berita itu benar atau gak. Lha gimana sih? Namanya juga gosip, digosok makin sip jadi gak perlu tunggu konfirmasi yang penting bumbu-bumbu dulu biar laku. Demi memuaskan penasaran dan kesenangan jadi yang pertama mengabarkan.

Akhir bulan ini ternyata berujung parah. Begadang untuk membaca hingga akhirnya draf tinggallah draf tanpa penyelesaian. Setelah postingan ini aku memang berencana untuk menyelesaikan tunggakan, sambil merenung. Ritme mana yang paling cocok agar bulan depan bisa berakhir sadis dan membuatku semangat menulis. Semangat berbagi. Susah memang menyalakan terus api semangat. Harus ada teman menulis yang kita aja berbagi suka dan duka, terus bisa kita jadiin tokoh kadang, bahkan harus siap dieksploitasi jika memang kehabisan ide. Bila semua telah dicoba dan tidak juga konsisten menulis ya kayaknya harus pikirin peluang jadi admin akun gosip. Hahaha...


Rabu, 23 Agustus 2017

KETIKA BUKAN KAMU YANG TERLUKA TETAPI PERIHNYA KAMU RASA




Ternyata dalam pernikahan bukan hanya tentang pasangan tetapi juga keluarga besar. Tentang bagaimana belajar dari setiap masalah yang muncul dan menyikapinya. 
"Ah udah nikah ya sudah bukan urusan lah."
Di sini bukan artinya kepo ya tetapi porsi untuk memberikan perhatian ketika ada keluarga datang dengan masalah lalu meminta saran atau sekedar butuh pendengar. Tentu saja sebagai bagian dari keluarga besar sebuah kehormatan bisa dipercaya.

"Halah masalah rumah tangga, dikeloni mengko yo mari."
Memang masalah rumah tangga itu pada dasarnya hanya bisa diselesaikan oleh pasangan itu sendiri. Namun akan jadi masalah yang berlarut-larut jika tidak ada pihak yang berinisiatif untuk buka mulut dulu. Belum tentu pasangan sudah bisa langsung terbuka satu sama lain.

Waktu awal-awal pindah ke Jakarta aku kaget. Tetangga-tetangga dengan mudahnya bercerita tentang apa yang terjadi di dalam. Aku sempat terbawa larut dalam masalah-masalah mereka. Ikutan bad mood, males ngapa-ngapain, dan bawaannya lelah. Lama-lama aku belajar, ternyata mereka hanya perlu bercerita sekaligus meluapkan rasa setelah itu barulah keberanian muncul. Keberanian untuk mengalahkan ego. Keberanian untuk memulai bicara terlebih dahulu tanpa merasa kalah perang. Akhirnya merasa konyol juga waktu mereka sudah mesra gandengan tangan lagi tetapi akunya masih aja baper. Wakaka... Ini seperti tidak terluka tetapi merasakan perihnya.

Memang menjadi pendengar yang baik sangatlah berat. Aku harus belajar agar tidak menyela, memberikan saran yang tidak diminta, dan malah balik curhat. Aku harus benar-benar fokus, hadir secara utuh, dan jiwa raga yang penuh. 

Terus bagaimana nih? Aku kan bagian dari keluarga dan juga masyarakat *ceilehhh masa iya gak bergabung. Tentu saja harus ada solusi dong. Hubungan dengan keluarga besar dan juga tetangga kan harus dijaga.

1. Santai, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan

Jadi ketika semua orang datang padamu dengan warna-wari masalah, ya kalau aku memang kadang masih baper. Makanya terus fokus dengan solusi. Mendengarkan dengan santai dan fokus. Artinya tidak terlarut pada masalah lalu melupakan solusi. Menemukan solusi meskipun sebenarnya si pembawa masalah sudah tahu apa solusinya, itu tentu saja penting bagi kestabilan emosiku. Terpapar masalah artinya terpapar aura negatif, terpapar aura negatif bisa merusak "rasa". Dengarkan, santai, gemakan solusi dalam diri agar otak merespon bahwa masalah selesai.

2. Sadar, apapun yang berlebihan itu tidak baik

Gak mungkin dong ya kalau kamu harus mengurus masalah semua orang. Tahu batas diri agar bisa lepas dari rasa terpaksa. Hal yang wajar kok jika kamu meminta maaf saat tetangga mulai mengulang-ulang curhatan yang sebenarnya sudah selesai. Komunikasikan dengan baik atau bisa dialihkan untuk kegiatan lain yang lebih penting misalnya memasak makan siang. Ketika kamu mengambil sikap, tentu orang lain akan menghargai. Pada akhirnya sama-sama tahulah ya. Tidak ada yang senang hidupnya berisi curhatan-curhatan negatif setiap harinya.

"Tapi kak tapi kak, aku tuh orangnya agak susah move on. Kebawa aja gitu padahal temenku juga udah baikan ama suaminya. Terus gak bisa nolak kalau temenku udah dateng dengan muka sembab."

Yes, you are the true healer actually. That's a gift. Gak masalah kok, laksana gelas ketika penuh tetapi masih diisi pastilah akan luber. Kamu akan temukan waktu yang pas untuk bisa bilang tidak atau menolak. Now, enough is enough. Just enjoy the journey and don't be rush about the perfect time.

3. Relakan, kamu bukanlah super hero

Terluka artinya belajar. Belajar untuk lebih kuat atau menemukan jalan untuk bertumbuh. Saat orang-orang di sekeliling kamu tertimpa masalah lalu kamu ingin jadi super hero untuk menyelamatkan mereka, pikir ulang! Menghapus luka itu seperti membantu kepompong yang hendak berubah jadi kupu-kupu. Kamu merasa kasihan tetapi malah berakhir dengan membuatnya cacat. 

Relakan. Biarkan mereka berjuang menemukan jalan hingga akhirnya bisa bertumbuh dengan sempurna. Berlaku juga gak anak-anak gak ya mak? Iyalah, biarkan mereka cari solusi jangan buat mereka malah tergantung dan manja. Kalau kamu tiba-tiba kecelakaan atau meninggal gimana? 

Pada akhirnya semua memang tentang pilihan. Bagaimana kita siap dengan konsekuensi yang akan kita tanggung dari pilihan yang kita ambil. Ya life must go on right. The important thing is never stop growing up not growing old!
Selasa, 22 Agustus 2017

MELANGITKAN IMPIAN DENGAN TULISAN

"Kau tak pernah terlalu tua untuk menetapkan tujuan lain atau memimpikan mimpi yang baru." C.S. Lewis
Baru mulai serius menulis di usia 30 tahun. Kenapa? Kok akhirnya memilih balik lagi ke menulis? Butuh kegiatan cin. Kegiatan yang bisa bikin otak berfungsi dengan baik. Terus 20.000 kata keluar dalam sehari. Terakhir tetapi yang utama adalah bisa disambi-sambi. Ya namanya juga sudah punya dua bayi, harus bisa berbagi kan.

Impianku saat ini adalah bisa kemping bareng suami dan anak-anak, bisa motret, dan selesaikan novel. Gak ada pesan sponsor kecuali tulisan ini aku gunakan sebagai doa agar semesta mendukung dan bisa sampai ke langit.

"Putuskan apa yang kau inginkan, dan berusahalah menjadikannya kenyataan. Jangan sampai kau lupa hidup karena terlalu sibuk bermimpi." Peter O'Conners
Aku pernah tidak percaya bahwa ketika impian ditulis maka meskipun tidak simsalabim terwujud, ada pintu yang terbuka menuju impian itu.

Aku kemarin menulis tentang cita-cita jadi psikolog.

BILA JALAN MEMUTAR ITU BEGITU JAUH

Entah kenapa setelah itu beberapa buku yang dulu ingin aku baca, tentang psikologi, sedang diskon gede di salah satu toko buku online. Dan ya aku anggap ini adalah tanda terbukanya pintu menuju impianku. Belum, acc memang sudah turun dari suami tetapi aku belum siap untuk kembali ke bangku kuliah lagi.

Dengan menulis aku berharap impian-impianku akan menemukan jalannya untuk terwujud. Woi, siap gak dengan perih dan juga usaha yang harus dibayar?

Iya ini juga lagi persiapan kok.

1. Mulai cari modal buat jalan-jalan bareng

Aku ingin anak-anak belajar dari sekitarnya tentang apa itu hidup. Kenapa kita hadir di dunia ini. Anak-anak juga harus tahu apa impiannya sejak dini agar apa yang mereka lakukan mengarah ke tujuan bukan ke hasil yang hampa dan sia-sia.

Modal ini perlahan tetapi pasti akan mampir. Semoga aku bisa bijak dalam mengambil semua peluang.

2. Mulai nulis biar siap ketika harus maraton pas selesaikan novel

Berawal dari artikel-artikel 500 kata bulan ini semoga bulan depan meningkat ke 800 kata. Pelan-pelan naik agar tidak ngos-ngosan di tengah perjalanan.

3. Novel adalah awal agar kamera bisa dibeli

Ada deal dengan suami kalau novel tentang Ammabel selesai aku bisa beli kamera inceranku.

Kali ini aku ingin mengalahkan diriku sendiri dan mulai bergerak. Kali ini aku harus taruh impian itu di jidat agar selalu ingat tujuannku. Impianku. Bismillah.

Senin, 21 Agustus 2017

Parenting Talkshow Bersama Lego Membangun Anak Indonesia yang kreatif

Sabtu, 19 Agustus 2017 di Area Food Society Mall Kota Kasablanka
Anakku yang pertama Mamas GianGaraGembul lagi suka-sukanya main lego. Ya brick-brick berasal dari Denmark yang cara mainnya dibongkar pasang. Dulu zaman emak kecil mah mampu belinya lego kw. Sekarang alhamdulillah bisa nyicil beli yang asli biar bisa buat lungsuran ke adik-adiknya. Hihihi, tetep ya.

Begitu melihat lego, mamas langsung eksplor ^_^

Talkshow ini memang rangkaian dari BUILDING ARCHIPELEGO yang juga dilaksanakan sebagai acara yang memeriahkan HUT RI ke 72. Membangun negeri juga membangun generasi yang kreatif dan membanggakan. Bagaimana anak-anak menuangkan semua ide kreatif mereka hanya dengan 72 bricks. Keren! Terus yang tak kalah menakjubkan adalah GIANT MOSAIC 3D GARUDA yang disusun dari 3500 bricks. 

Acara yang dipandu oleh CJ (Christina Jennifer) ini menghadirkan Dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(k) MPH lalu Sissy Prescillia Sungkar, dan Gunawan Tunas (Lego Education Program). Artikel ini berisi rangkuman dari ketiga pembicara tersebut.


Bermain adalah aktivitas yang menyenangkan. Siapa sih yang tidak suka bermain? Semua anak suka bahkan terkadang orang dewasa pun meluangkan waktu untuk bermain sebagai cara melepaskan diri dari beban berat pekerjaan atau rutinitas. 

Bermain adalah hak asasi anak. Anak yang kurang bermain maka ada kemungkinan dia tidak akan pernah dewasa. Meluangkan waktu untuk bermain di usia produktif itu wajar tetapi jika sampai berangkat kerja terlambat karena malamnya begadang main bola di hp tentu saja itu tanda ada yang tidak beres.

Ketika bermain otak anak akan terstimulasi. Tentu saja variasi permainan yang digunakan untuk menstimulasi harus disesuaikan dengan umur dan perkembangannya. Tidak lupa perhatikan nutrisi.

Kenapa sih harus disesuaikan dengan umur dan juga tahap perkembangannya? Memberikan mainan sembarangan bisa berakibat fatal. Menelan bricks kecil-kecil lalu tersedak atau bricks tersebut tertinggal di kerongkongan tentu saja membuat kita menyesal. Sekali lagi, mainan-mainan HARUS DISESUAIKAN DENGAN UMUR. Anak berumur 1 tahun yang masih ada di masa oral tentu harus diberikan mainan-mainan berukuran cukup besar hingga saat masuk ke dalam mulut tidak dengan mudah tertelan. Anak umur 3-6 tahun tentu saja harus diberikan mainan yang bisa mengasah perkembangan motorik baik halus maupun kasar. Kreativitas adalah tujuan selanjutnya. Bagaimana anak-anak pada akhirnya bisa sampai pada tahap ide-ide yang mungkin bagi kita masuk akal. Bermain ketika kita memasukkan unsur matematikanya maka anak akan tanpa disadari belajar matematika.

Hindari kalimat: JANGAN MAIN TERUS, BELAJAR!
Memutus kesenangan anak bisa membuat mereka membenci belajar itu sendiri.

Optimalkan juga bonding. Usahakan untuk menemani anak bermain.
"Mamas buat apa? Oh semangka. Warnanya apa saja?"
"Hijau, putih, merah. Terus bijinya hitam lho ibu."
Luangkanlah waktumu walau hanya bertanya satu atau dua hal. Biarkan dia bercerita tentang kreasi yang sedang dia buat dan berikan apresiasi atas usaha dan juga kerja kerasnya. Disadari atau tidak selain kedekatan, kepercayaan juga akan menguat.

Anak-anak milenials katanya tidak bisa lepas dari gadget. Tentu saja jika kita mau mengusahakan yang terbaik, disiplin dengan waktu yang diperbolehkan bermain gadget misal kesepakatannya satu jam ya konsistenlah. Pasti hasilnya tidak akan mengecewakan.

Aku tergelitik dengan pernyataan Sissy yang bilang, "Masa ibunya pergi bawa-bawa tas make up segede gambreng bawa lego buat anak-anaknya aja repot."
Sissy memang menularkan kesukaan lego kepada anak-anaknya. Semenjak hamil dan merasa tidak bisa melakukan banyak hal, lego adalah pelarian baginya.
Lego memang dibuat bagi anak 1,5 tahun hingga mahasiswa. Ada semacam tujuan pembelajaran di setiap edisi yang dikeluarkan.

"Pemadam kebakaran siap menyelamatkan," ujar mamas.

Bermain mikro drama dan memanfaatkan mobil pemadam yang sudah dibuat bersama ayah tentu saja merangsang kreativitas. Mamas GianGaraGembul mulai merancang bagaimana kebakaran terjadi dan malah membakar semua mobil hingga mobil hancur. Harap jangan sampai meleng ya mak, bisa-bisa bagian-bagian lego yang kecil itu nyasar ke tenggorokan Dedek DulDenGeni.



Duplo didesain untuk anak umur 1,5 hingga 3 tahun. Plastik yang digunakan aman artinya tidak ada bau yang bisa membahayakan kesehatan, didesain dengan ujung lengkung jadi anak tidak akan tergores, presisi di setiap brick terjamin. Lego zaman dulu jika dipasang ke lego keluaran terbaru pasti pas. Itulah kenapa setiap membeli lego ada nilai lebih. Mahal itu relatif tetapi apakah pasti awet? Itu yang harus kita pikirkan sebelum membeli mainan anak.

Berusaha memberikan yang terbaik, sesuai dengan umur, dan menstimulasi anak agar otak berkembang maksimal di usia emasnya adalah kewajiban orang tua. Pilihlah dengan bijaksana agar tidak kecewa. Anak pintar pastilah membahagiakan tetapi anak kreatif adalah keberhasilan orangtua.


Minggu, 20 Agustus 2017

Good Bye Girl, Welcome Woman!

"Titik balik dalam proses tumbuh dewasa adalah ketika Anda menemukan inti kekuatan di dalam diri Anda yang bertahan dari semua yang membuat Anda terluka." Max Lerner
Tentu tidak akan ada yang tahu kapan waktu begitu baik dan memberikan pembelajaran dengan cara halus nan santun. Bukan dengan tamparan keras yang hanya berujung luka dan penyesalan. Sebenarnya sudah berulang kali tetapi aku saja yang kurang jeli dan belum ada hati untuk sekedar menepi lalu merenungi diri.

"Udah kalau mau ikut ibu diem. Gak usah kebanyakan ngomong."
Anak laki-laki yang memang lagi cerewet-cerewetnya itu diem. Klakep. Tidak hendak membantah anak perempuan bertinggi tak sampai 150 meter yang dipanggilnya IBU. 

"Ibu jangan marah-marah dong," protesnya sambil menahan air mata yang hampir jatuh.
"Kalau gak mau ibu marah ya dengerin, nurut!" bantah anak perempuan yang dipanggil IBU itu sewot.
TAK MAU KALAH.

"Kenapa aku yang dimarahi? Kan dedek yang tumpahin air?"
"Ya kamu kan udah ibu mintain tolong taruh gelasnya. Mejanya tinggi kan dedek gak sampe," menjawab dengan amarah yang meledak dan berteriak.

Ibu oh ibu. Kurang mainkah kau saat kecil? Tak bahagiakah masa kecilmu hingga kini kau menolak untuk sekedar berbicara dari hati ke hati dengan anakmu. Melepas ego barang sejenak. 

Perjalanan berat sedang ditempuh seorang anak perempuan demi sebuah kesadaran penuh bahwa dia sudah dipanggil ibu. Dulu dia tidak dekat dengan ibunya. Dia hanya tahu jika seorang ibu adalah anak perempuan yang menikah lantas menggaji pembantu untuk mengurus rumah termasuk penghuni di dalamnya ketika bekerja. Lalu pada saat dia menikah maka dia tidak tahu konsekuensi apa saja ketika dia jadi ibu dan tidak bekerja. Sepenuhnya di rumah.

Oh anak perempuan ini sepertinya tidak bahagia. Dia tidak bisa melakukan apa saja yang dia mau karena ada dua buntut yang mengikutinya ke mana saja dia melangkah. Dia juga tidak bisa sekedar merawat diri di salon seperti yang biasanya di lakukan sebulan sekali. Jangankan ke salon hanya untuk mandi saja terkadang harus menunggu dua buntut itu tidur. Buru-buru. Tak pernah sempat menikmati segar dan dinginnya air yang sudah dibiarkan semalaman. 

Hingga dua buntut mulai mandiri. Bisa makan sendiri, lalu mengambil minum sendiri, dan berusaha memakai baju mereka sendiri. Anak perempuan ini merasa masih saja kurang leluasa bergerak. Masih saja melihat masa lalu yang tidak bahagia. Masa lalu di mana masa anak-anaknya direnggut paksa tak cukup kasih sayang dan hanya nelangsa. 

"Dulu aku tak bahagia. Bagaimana aku bisa memberikan kebahagiaan itu pada anak-anakku. Sekeras apapun aku berusaha menjadi ibu yang baik, rasanya selalu berakhir pada teriakan, marah, dan juga tidak terima."

Meskipun begitu, suami anak perempuan ini tidak pernah menyerah. Dia berusaha sebaik mungkin tidak menekan dan menuntut. Dia biarkan anak perempuan ini belajar. Jatuh dan bangun. Ya suamiku, aku tak pernah bisa berhenti bersyukur karena kamu membiarkan aku melalui proses "trial & error" ini. 

A Gentleman's Dignity, drama korea yang tanpa sengaja aku tonton episode terakhirnya pas lagi cari kartun buat sulung.
"Adolescents never become mature. They just get older. However, adolescents who have gotten older know. How to go a different way and how to shine a different color. Thanks to these women, we were given the opportunity to be gentlemen instead of just ordinary men. That's why we're able to say, "Good bye, boys."


Rasanya kalimat itu menyentilku. Kapan kamu akan dewasa? Pria-pria itu belajar dari wanita dan kamu belajar dari anakmu. Dua orang anak lelaki.

"Kalau aku mati, ibu gak punya anak lagi?"

Apakah menunggu anakmu mati di tanganmu sendiri? Woiii... Sadar! Malah mewek. 

Tuhan untuk masa lalu yang begitu kelam, apakah boleh aku lepaskan? Aku sungguh lelah menyalahkan apa yang terjadi di masa lalu. Aku sungguh sesak dan ingin semua berlalu. Namun kenapa semua masih saja menghantuiku?

"Ikhlaskanlah! Semua yang terjadi memang untuk menguatkanmu agar hari ini kamu bisa jadi yang terbaik."

Aku melihat tanganku, masih ada.
Aku meraba telingaku, lengkap.
Aku memijit kakiku, tidak ada yang aneh.
Aku memencet hidungku, ah masih ada napas.

Berbekal dua buntut yang selalu membuka pintu maaf untuk semua kemarahan yang aku lontarkan. Aku berkomitmen pada diriku sendiri untuk mengucapkan selamat tinggal pada anak perempuan itu dan selamat datang pada wanita yang berjuang untuk jadi dirinya sendiri hari ini.
Sabtu, 19 Agustus 2017

BERHENTILAH BERUSAHA MENJADI ORANG LAIN


Di SMANSAMenulis05 kami pernah mengudang Carolina Ratri, blogger sekaligus penulis buku yang tulisan di blognya www.carolinaratri.com fokus membantu para penulis pemula untuk berkembang. Mba yang akrab dipanggil Carra ini tidak hanya menulis di blog tetapi juga novel, flash fiction, sekaligus menggambar.

Nah ketika kami berdikusi ada pertanyaan seorang teman, sebut saja namanya Hepi: "Mba aku tuh suka nulis sastra tetapi sekarang banting stir jadi nulis artikel, gimana ya mba?" kira-kira begitu pertanyaannya. Dari fiksi kemudian menyebrang ke nonfiksi. Jawaban mba Carra begitu mengena padaku, "Lanjutkan saja keduanya, itu akan membuatmu lebih kaya."

Kaya? Menulis bisa membuat kaya. Tentu saja. Proses menulis sama dengan pekerjaan yang lain. Lakukan, pembaca senang, buku laris atau tulisan viral. Kaya di sini bisa saja kaya materi atau hati. Royalti atau jual putus akan menghasilkan pundi-pundi lalu pundi-pundi ini kamu gunakan untuk membiayai perjalananmu. Perjalanan yang ternyata memperkaya batinmu kemudian kamu tulis lagi. Nah begitu terus perputarannya.

Indah Hanaco adalah penulis produktif yang hingga saat ini sudah mengeluarkan 37 novel. Aku akrab dengannya dan sering bertukar pikiran tentang bagaimana menulis itu benar-benar bisa menyembuhkan dan memperkaya hati.

Setiap orang menjalani prosesnya masing-masing untuk akhirnya sampai pada sebuah kesadaran untuk menulis dan memperkaya diri. Tidak lagi fokus pada kaya materi tetapi hati yang kaya. Berproses dan melakukan perjalanan baik menjadi pembaca yang melahap buku apapun maupun pejalan yang mendokumentasikan juga menulis agar bisa membekukan momen.

Aku? Aku baru sampai pada tahap menulis untuk "berhenti berusaha menjadi orang lain". Sadar secara penuh bahwa saat ini aku adalah ibu rumah tangga penuh. Aku ingin kaya tetapi pekerjaanku sebagai ibu rumah tangga penuh dan hanya mengandalkan uang bulanan dari suami tentu bisa dibilang hanya  cukup secara materi. Aku pada prosesnya mulai tahu, dari tulisan-tulisan yang aku buat di blogku, aku sedang berusaha memperkaya diriku sendiri. Berusaha jadi aku. Bukan penulis-penulis idolaku. Awalnya memang terinspirasi. Makanya sering aku tanya: tulisanku mirip kamu gak? Lega ketika Indah Hanaco bilang aku punya gayaku sendiri.





Ternyata aku bukanlah epigon. Seperti penjelasan Mas Bambang Trim di bukunya "The Art of Stimulating Idea" halaman 111. INSAFLAH UNTUK TIDAK MEMAKSAKAN DIRI MENJADI ORANG LAIN, tulis mas Bambang Trim. Aku ternyata hanya mengidolakan penulis-penulis senior nan produktif itu. Aku punya gaya menulis sendiri. Entah itu saat menulis cerpen, artikel, atau sekedar status di FB. Hahaha... Entah kenapa aku bahagia menemukan kenyataan ini. Kenyataan aku adalah aku.

epigon/epi·gon/ /Γ©pigon/ n orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya; peniru seniman atau pemikir besar (https://kbbi.web.id/epigon)
Pada tahap awal mungkin aku mencoba untuk fokus pada novel. Namun berusaha dengan keras sejak 2012, Ammabel tak kunjung usai. Novel itu bongkar pasang terus dan tak jua ada kata "tamat".

Aku ambil jalan lain. Cari ilmu lain sembari terus menulis. Tidak lagi memimpikan jadi ibu bekerja, bangun pagi, berdandan dan memakai setelan trendi kesukaanku. Aku berdamai. Aku adalah ibu rumah tangga penuh dengan jam kerja 24 jam dan daster warna-warni adalah yang ternyaman sepanjang hari. 

Dalam menulis pun aku berusaha menemukan gayaku sendiri. Tidak sekedar mengikuti tren yang sudah ada dan best seller. Aku menulis yang aku suka dan ada di sekitarku.

Terima kasih buat teman-teman di SMANSAMenulis05 yang sudah menemani perjalanan menulisku dari bulan April 2017 hingga kini. Kalian yang menjadi pengingat bahwa menulis adalah yang membuat aku tetap jadi diriku.  Kalian yang menjadi penyemangat agar aku bisa berguna baik bagi diriku sendiri maupun orang lain dengan menulis. 

Jumat, 18 Agustus 2017

Hai There! Are You Happy Now?

Ini cerita mini fiksi ya jadi kalau ada kesamaan kisah mohon dimaklumi karena murni gabungan curhatan dan imajinasi. 


Pagi bersinar, menghadirkan cahaya yang begitu menusuk. Ingatan akan kamu sungguh tak mau enyah meskipun sudah aku paksa. Kamu yang bayangan punggungnya pun tidak bisa aku miliki. Aku terduduk di sudut ranjang. Sejenak memandang kursi yang jadi saksi betapa aku merindukanmu. Sudah satu musim berlalu dan kenangan itu entah kenapa tak jua beranjak pergi malah semakin menghantui. Dengan bodohnya aku di sini. Kamar yang sama tanpa kamu. Hanya aku dan rangkaian malam panas yang berputar kembali.

Aroma kopi sudah tak lagi menyakiti. Aku berdamai ketika aroma manis nan menggoda itu menguar, ada nyaman meski sekejap. Membuatku kembali ke rutinitas pagi. Kembali bernostalgila. Gila karena cintaku padamu.

Mengenang malam itu. Hujan tetapi aku merasakan begitu hangat meski yang aku peluk adalah jaket anti airmu yang kuyup. Setelah menghabiskan malam nan romantis meski hanya kongkow di warung penyetan murah meriah. Romantis karena pipiku tak berhenti memerah. Adrenalin rush. Seperti rasa ingin memiliki tetapi tak mungkin diikuti. Hujan pun mengamini. Memberikan kesempatan untukku mengumpulkan keberanian. Memeluk erat karena aku tahu waktuku terbatas, merengkuh calon pacarku. 

Duhai calon pacar yang tidak akan pernah naik tingkat jadi calon suami. Sampai saat ini aku mengutuki waktu. Kenapa selalu salah! Cinta dan juga nyaman membuatku serakah. Kenapa aku harus memilih? Memilih untuk menjauh. 

Hai there! Are you happy now?

Apakah kau sudah menikah? Bagaimana istrimu memperlakukanmu? Hebatkah dia di ranjang? Sukakah dia memasak? Lalu bagaimana dengan kejutan? Pernahkah dia memberimu kejutan? Membawamu ke hotel dengan dekorasi ulang tahun dan juga kado buku-buku kesukaanmu? Aku di sini menyesali diri dengan sepiring spageti bumbu bali.

Oh shit, all those questions are killing me softly. Dadaku sesak. Bukankah harusnya aku yang ada di sana dengan kamu bertelanjang dada di atasku sambil berbisik, "I miss you."

Lintang. Iya namanya pasti Lintang jika anakmu perempuan. Ya ampun ini mengerikan. Kenapa kita harus berbagi hingga begitu jauh. Tentang impian dan juga masa depan. Sementara aku hanya bisa ada di masa lalu. Mungkin kamu ingat sesekali atau malah tidak sama sekali.

Aarrrgh...

#####

Satu musim berlalu. Aku lelaki bodoh yang hanya bisa mengutuki waktu untuk keberanian yang tak pernah muncul. Ya seharusnya aku berjuang, toh kalian masih pacaran bukan terikat pernikahan.

Tentu saja aku masih ingat bagaimana pelukan itu membuktikan bahwa kau memilihku. Aku lelaki yang bisa membuatmu bahagia bukan dia. Cheesy, ya whatever. Namun kenyataannya begitu menyakitkan. Aku sadar aku masih kurang membuktikan bahwa aku layak untuk ada di pelaminan bersamamu. Bukan sekedar hubungan putus nyambung seperti yang dia berikan. Ya saat itu aku bukanlah pria matang yang kau tunggu. Aku masih saja kekanakan dan berlalu saat masalah-masalah menjadi rumit.

Hai there! Are you happy now?

Apakah kalian akhirnya menikah? Gila, aku tidak ingin kau ada di atas tubuh pria itu dengan napas memburu seperti  malam itu. 

"Persetan dengan norma. Kau adalah milikku. Malam ini."

Hanya aku yang boleh mereguk manismu bukan pria itu. Akulah yang tahu apa impianmu, ke mana saja kau akan pergi, dan bagaimana wajahmu berubah seperti kepiting rebus setiap aku menatapmu bukan karena nafsu. Manismu memang menggiurkan tetapi rasa nyaman itulah yang memabukkan. Aku adalah aku saat bersamamu.

Apakah akhirnya kau berpisah dengannya? Membahagiakan dirimu sendiri dengan meraih semua impian yang tidak diketahui pria itu. Hanya aku katamu. Iya yang tahu rancangan masa depanmu.

Tunggu! Agenda kerjaku, ada rangkaian dua belas angka. Apakah masih sama? Mari hentikan kegilaan ini dengan melakukan kegilaan lain.

Seharusnya aku berjuang. Mendapatkanmu. Bukan hanya di sini meratapi kegagalan diri.
Aaarghhh...
Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design