Sabtu, 22 Juli 2017

Getuk Goreng, Ada yang Bikin Nagih di Purbalingga!


Yen-yen adalah pusat oleh-oleh yang beralamat di Jalan A. Yani No. 16 Purbalingga.

Biasanya emak beli oleh-oleh kacang Mirasa eh waktu si emak goreng getuk kok aroma manisnya menggelitik. Jadilah emak beli 2 kotak *modusπŸ˜…

Getuk goreng emang terkenal di Sokaraja tetapi emak gak begitu suka karena minyak yang berlebihan dan manisnya terlalu mendominasi.

Begitu coba getuk goreng yen-yen, manisnya passs πŸ˜„ terus minyaknya juga gak tertinggal di tangan.

Getuk goreng yen-yen lembut πŸ˜‹ dan gak nyangkut di langit-langit mulut. 

Pasti nanti kalo balik ke Purbalingga bakalan beli lagi nih. 😍
Jumat, 21 Juli 2017

Aku, Anakmu yang Terluka


"Anak mana yang terima, mamanya dibilang lonte."
Hanya tatapan nanar, tak ada satu pun semua kata itu yang keluar.
Pertengkaran yang ke sekian kali. Dan wanita yang aku panggil mamah itu tetap saja bertahan, di dalam neraka ini.
Emosi aku memang berubah dengan cepat. Begitu cepat hingga tak sadar apa yang tengah terjadi. Label "broken home" seolah terpatri di jidat.
"Terapi aja ya. Jangan bahayain dirimu sendiri."
Aku benci mamahku. Bagaimana dia dengan sadar bertahan. Melibatkan aku dalam aliran perang kata, kekerasan fisik, dan mental disorder.
Aku punya lubang besar di otakku. Mendamba kasih sayang, pelukan hangat, dan ruang makan yang penuh cerita keseharian.
Aku tidak berniat menikah. Buat apa menikah? Aku akan bernasib sama dengan mamah. Teronggok di pojokan, menangis semalaman, tetapi esok hari sudah mesra lagi. Melayani dan seolah tak ada yang terjadi.
Mah, tidakkah, mama sayang padaku? Aku sendirian, Mah. Berusaha mengeja apa yang sedang terjadi. Kenapa ini terjadi padaku. Orang lain begitu akrab dengan mamah dan papahnya. Menggandeng erat tangan anaknya saat mereka berjalan. Aku hanya bisa menahan sesak di dada. Aku juga mau, Mah.
Aku gak terima perlakuan papah tetapi mamah terima. Mamah bersikap biasa aja. Aku harus bagaimana? Aku anakmu yang terluka, tidak pernah ingin mamah bertahan. Aku ingin mamah keluar bersamaku. Tidak lagi jadi saksi bahkan harus memisahkan mamah dan papah saat berkelahi.
Kenapa bertahan?
Kenapa tidak keluar dan mengakhiri?
Apakah demi uang? Tidak lah, kan mamah punya penghasilan sendiri.
Apakah demi aku punya papah? Papah itu hantu, ada tapi gak ada.
Apakah karena mamah takut sendirian nantinya? Di masa tua? Ketika akhirnya aku bisa keluar dan enggan kembali.
Mamah kuat. Aku tidak.
Mamah bersabar. Aku tidak.
Mamah punya seribu satu alasan untuk bertahan. Aku menemukan satu saja sulit.
Sekian lama menjadi kamera
Sekian lama menjadi perekam.
Sekian lama menjadi sasaran kegilaan.
Namun pada akhirnya, aku anakmu yang terluka ini tidak mati. Aku juga bertahan. Dengan berbagai macam kegilaan yang tersimpan.
Mamah, meskipun aku benci tapi aku mengikuti.
Sabarmu.
Kuatmu.
Keikhlasanmu.
Aku, anakmu yang terluka tetapi tidak mati.
Kamis, 20 Juli 2017

Membaca, Haruskah Anak-Anak Dibiasakan?


Akhir-akhir ini GianGaraGembul sangat suka membaca buku dengan imajinasinya sendiri. Kadang dia tiru ayahnya saat membacakan sebelum tidur. Di lain waktu dia tambahkan kalimat yang dirangkainya sendiri.

Lama-lama DulDenGeni ikutan. Meskipun masih dalam tahap menggumam tetapi dia paham konsepnya.

Aku dan suami emang suka baca. Aku cenderung pilih-pilih, suami baca apa saja. Koleksi buku kami beragam. Non fiksi, fiksi, dan buku anak. 

Begitu punya anak, kebiasaan belanja buku menurun begitu saja. Sebanding dengan mainan yang kami belikan buat mereka. Bahkan cenderung lebih banyak.

Kebiasaan dibacakan cerita pun mengalir begitu saja. 

Hingga hari ini ketika GianGaraGembul membacakan buku cerita buat DulDenGeni, WOW! Pilihan kata sederhana.
"Halo ini ayah. Ayah kerja dulu ya."
Seperti saat ayah pamit kerja. Emak terkejut.

Emak agak santai lah ya sekarang. Turunin tensi, gak teriak, dan meminimalkan bentrokan. πŸ˜‰

Apakah harus diteruskan?

Sadar kalau hanya buku yang bisa dilahap saat ini, maksudnya mumpung belum internet mania; biarlah ya. 

Semua memang udah settingan aku dan suami. Anak mengikuti dan rencana juga agar anak suka baca. Mengalir aja. Kayaknya mesti gini kali ya, gak usah kebanyakan rencana malah gagal. Atur aja lingkungan. Kebiasaan akan mengikuti.
Rabu, 19 Juli 2017

Lebih Panjang dan Fokus? Saya Dalam Proses!


Hari ini diskusi WA grup SMANSA Menulis batch 2 bareng mba Carra. Iya yang punya blog keren carolinaratri.com.
Blog saya udah bagus secara keseluruhan. Kurang panjang sedikit, in depth, dan kurang fokus.
(Sangat senang bisa dikomen ama mba Carra)
Sejak momen #NulisRandom2017 saya memang berproses. Ingin menjadikan menulis sebagai kebutuhan. HARUS NULIS.
Biar otak tidak hanya berisi kegalauan dan baper semata. Namun masukan ilmu baru baik dari membaca maupun menulis.
Proses ini tidak mudah. Saya akui itu. Naik turun semangat. Makanya kadang tulisannya banyak kadang cuma beberapa paragraf aja.
Kenapa?
Pokoknya nemuin irama dulu. Banyak sedikit yang penting nulis.
Terima kasih mba Carra buat mengingatkan kembali arti disiplin dan kerja keras.
Seperti Indah Hanaco, Carolina Ratri juga mengingatkan untuk tidak membuat uang jadi tujuan.
Nulis aja nulis. Uang, ketenaran, dan viral adalah bonus.
Tidak. Memang tidak mudah menularkan semangat untuk menulis. Namun bukan hal yang mustahil juga. Asal saya mau tetap ada di sudut itu, menulis, menjadi contoh, dan berbagi. Pasti akan ada yang nyangkut. Entah satu atau dua, syukur bisa banyak.
Selamat menulis dan bersenang-senanglah πŸ˜„πŸ”₯πŸ’‘
Selasa, 18 Juli 2017

Temukan Tukang Pijat yang Pas, Hidupmu akan Bahagia


Sejak bayi, duoG memang akrab dengan tukang pijat. Paling tidak satu bulan sekali mereka aku bawa ke tukang pijat. GianGaraGembul bisa berdiri di umur sembilan bulan berkat tangan Bu Hajah Munawaroh lalu DulDenGeni kalau panas dikerok bawang merah sama mpok Taslimah. 

Nah begitu pindah ke THB, belum menemukan yang pas akhirnya duoG ikutan pijat di Bu Een.


Rezeki emang. Pagi setengah 7 WA bu Een tanya jadwal. Pas suami bilang mau izin aja anterin aku sama anak-anak dan ternyata jam 10 bu Een kosong. Bu Een ini emang harus bikin jadwal dulu. Antriannya panjang soalnya. Banyak yang cocok. Makanya pengen banget bawa Uti buat ke bu Een. Biar stamina Uti terjaga dan gak bolak-balik sakit.

DulDenGeni emang rewel dari kemarin. Tidurnya gak nyenyak, minta nenen terus, dan mogok makan. Begitu dipegang bu Een langsung deh nangis kejer. Kecapean sama puyeng.

Nah GianGaraGembul yang parah. Otot kaku dan perut juga agak muntir karena banyak loncat-loncat.

Begitu selesai anak-anak selesai dipijet, emak yang mapan menunggu eksekusi. Suami rela izin hari ini buat nemenin pijet.

"Daripada di kantor tapi pikiran di rumah. Kalau anak doang yang sakit sih masih tega lha badan istri udah anget dari semalam."

Hal sederhana seperti itu saja sudah buat hepi ya mak. Receh banget emang si emak. 😜

Berarti sudah 3 kali aku dipijat bu Een. Alhamdulillah ada hasil. Bu Een selain pijat juga bisa bekam. Dia terapis dan herbalis yang recommended. Ya apapun memang balik ke Yang Punya Hidup. Namun ikhtiar kan jalan terus. 

Datang ke bu Een hari ini dengan kondisi meler, migrain, dan radang. Begitu selesai pijet, alhamdulillah pening hilang. Tenggorokan juga gak sakit. Tinggal meler aja.

Anak-anak juga alhamdulillah bisa tidur nyenyak gak gelisah. πŸ™

Aku pribadi emang takut dokter. Lebih memilih alternatif jika memang bisa. Bahagiaku yang sederhana. Hari ini bisa pijet dan rileks. Anak-anak juga jadi gak rewel. Terima kasih Tuhan buat berkah tukang pijet yang pas hari ini. πŸ˜‡
Senin, 17 Juli 2017

Sepatu Kekecilan Mamas

Lungsuran. Baju bekas mamas,  jaket juga, sepatu apalagi.


Namun ada rasa bangga, bahagia, dan ceria. Ketika mamas pakai sepatu dan Geni juga mengenakannya.

Kasihan lah kok dapatnya lungsuran terus πŸ™‰ Ya selama masih bisa dipakai, bukan barang yang jelek banget atau sudah compang-camping 😑, gak masalah lah adik pakai lungsuran mamas. Selain hemat karena paling dipakai mentok 6 bulan, mamas jadi belajar berbagi. Emak juga hepi bisa save the money buat keperluan yang lebih mendesak.

Ajaran dari mbah Uti, anak bayi sampai 6 tahun pakainya yang murah meriah dan lungsuran aja soalnya dipakai bentaran. Nah begitu udah SD kenal temen biasanya udah punya selera sendiri. Baru deh alokasikan dana khusus buat beli baju, sepatu, atau tas.

Nah mumpung Geni belum bisa protes ya nikmati aja mak. Hahaha πŸ˜…

Minggu, 16 Juli 2017

Kacang dan Segenggam Kehangatan


Kami keluarga pengemil kacang. Rebutan kalau ada stok di rumah. Benar-benar hangat cenderung panas.

Segenggam kehangatan yang kacang ciptakan sungguh cepat berlalu. Begitu kacang habis, lomba makan berakhir. Meninggalkan seret di tenggorokan. πŸ˜…

Kacang "Mirasa" produk Purbalingga yang belum tentu setahun sekali bisa ikut arus balik. Namun rindu selalu ada untuk bisa membawa satu kantong plastik saat mudik berganti arus balik.

Kacang yang garamnya begitu mendominasi ini katanya digoreng. Hingga renyah menyapa ditiap digigitan geraham. Cocok buat yang lagi baper dan butuh cemilan sambil begadang nonton drama korea. 😩

Kacang buat penghibur saat anak tidak bisa dinego buat ganti Robocar Poli dengan Suspicious Partner πŸ˜‚

Baby Geni rusuh saat mamas Gara mulai mengunyah cepat dan sudah menodongkan tangan saat ibu masih mengupas kulit. Dia mengunyah kacang sekulit-kulitnya πŸ˜₯

Kehangatan yang tercipta kadang tak dirasa dan berlalu begitu saja 😒
Sabtu, 15 Juli 2017

Pertemanan Si Sanguinis


Baby Gara, kok cepet banget gede sih kamu? Hahaha... Emak galau begitu kemajuan anaknya pesat, melowlah dia. 
Waktu tes psikologi kemarin, Baby Gara masuk ke koleris+sanguinis. Sifat yang menurutku tidak cocok. Ya mau gimana mak?
Baby Gara memang sangat cepat beradaptasi. Selain faktor emak sering ngajak ngebolang, dia alami sanguinis. Pandai sekali bergaul. Gak ada 5 menit ditinggal udah punya teman baru.
Berbagi. Baby Gara sangat gampang membagi apapun ke temen. Kalau ama adiknya agak pelit dia. Sayang sih tetep tapi ada waktunya. Kalau urusan mainan, perhitungan banget dia.
Nah waktu emak abis kondangan, mampir ke rumah temen emak. Waktu makan siang dimasakin mie buat barengan, mau dia makan sama-sama πŸ‘πŸ˜˜

Hari ini perjalanan Pemalang-Bekasi, dia mau gendong tasnya sendiri.
"Aku bisa sendiri ibu!"
Oke baiklah tapi harus tetap hati-hati biar gak kecium kereta ya nak ☝

Di dalam kereta dia juga ketemu temen cewek dan bisa juga berbagi. Sayang emak gak sempat foto karena ngantuk berat dan baby Geni agak rewel.
Jumat, 14 Juli 2017

Malam


Tentang malam yang ditakuti anak-anak

Katanya mereka melihat hantu di temaram lampu

Sungguh aku tidak ingin menapik

Hantu itu cantik 

Berjalan ke arah kami

"Bu beli kostum bu buat modal pagelaran."

Anak ABG itu menyerahkan topeng penari betawi. 
Kamis, 13 Juli 2017

Belajar Kekurangan dan Kelebihan dari Mangga


"Bapakku akhirnya kena gula karena makan mangga."
Ya iyalah sehari aja 3 buah terus seminggu bisa 21 buah dong totalnya.
Terus salah siapa? Mangganya?

Mangga bisa menurunkan kolesterol dengan kandungan vitamin C, pektin, dan serat ketika kita memakannya.

Vitamin A pada mangga dapat menjaga kesehatan mata dan juga memiliki antioksidan yang berguna menghambat sel kanker, mengurangi inflamasi/pembengkakan, dan menurunkan gula darah.

Lho katanya mangga gulanya tinggi kok bisa mengurangi gula darah?
Nilai glikemik pada mangga 51 artinya tidak terlalu signifikan menaikkan gula darah setelah dikonsumsi. Namun ingat konsumsi di sini dalam arti jumlahnya wajar. Kalau sehari aja 3 buah gimana? 
Sebenarnya kadar gula mangga tidak terlalu tinggi tetapi fruktosa yang terdapat dalam mangga inilah yang harus diwaspadai. Fruktosa dapat menjaga kadar gula darah sekaligus dapat menimbulkan kecanduan dan meningkatkan stres.

Daun mangga kalau direbus lalu direndam semalaman dan dikonsumsi pagi hari bisa mengontrol kadar insulin bagi penderita diabetes.

Yang paling mencengangkan adalah mangga mengandung afrodisiak layaknya vanilla. Jadi buat emak-emak yang habis melahirkan dan dikomplain suami karena gairah menurun, bisa segera berburu mangga. Iya yang suaminya males-malesan kalau diajak refreshing juga bisa disodorin mangga dulu ✌😎

Nah mangga punya banyak banyak kelebihan kalau kita mau baca-baca dan cari tahu. Kekurangan mangga hanya satu, dia bikin kita khilaf. Hahaha...
Manis, lumer di mulut, segar kalau dinikmati setelah dikeluarkan dari lemari pendingin. Belum lagi kalau dicocol sambal kacang yang pedas πŸ˜‹

Nah tinggal kita mengenal diri kita. Kendalikan diri. Manfaatkan potensi dan juga kekurangan.

Si emak itu males tapi kasih aja pel-pelan bolde. Dia semangat tuh jadi inem. Hahaha πŸ’ͺ

Bergunalah mak seperti mangga yess ☝
Rabu, 12 Juli 2017

Kondangan dan Kemalasan

Si emak padat banget acaranya.

Baju dari perjalanan ke Semarang belum dicuci tapi udah direndam sama Uti. Anak-anak lagi main sama om-omnya  Emak males nyuci asline walaupun begitu harus dipaksain biar gak lemot otaknya. Ada kegiatan. Ngucek baju, mainan air dingin, dan bergulat dengan pewangi. Alhamdulillah mak bisa ngalahin malas. Nyuci, nyapu, lalu ngepel. πŸ’ͺπŸ’ƒ

Bolde. Alat pel lantai yang sekaligus bisa buat mainan emak. Gak lah bukan endorse, hanya karena Mamas Gara hepi banget ama tu alat pel akhirnya emak penasaran dan kebetulan rumah udah seminggu lebih belum dipel. Kayaknya perlu beli nih biar segera bebas dari drama ART.

Rasanya nyaman ketika berhasil nyelesaiin semua dan berangkat kondangan.



Mendengar sekilas cerita kalian, Linda dan Marcus, sungguh setiap pasangan punya badainya sendiri. Dan kalau jodoh emang gak ke mana. Hihihi...
Mau sekencang apapun badai putus nyambung melanda, akhirnya naik pelaminan juga.
Bahagia terus ya kalian πŸ˜‡πŸ˜„
Selasa, 11 Juli 2017

Rangkuman DISKUSI WA GROUP SMANSA Menulis Batch 2

Zaenur:  Mbak indah concern di novel genre apa nih mba?
Indah Hanaco: Saya saat ini fokusnya nulis novel romance ☺
Zaenur: Kalo lama udah gak nulis mau nulis lagi rasanya buntu. Gak ada ide sama sekali. Itu gimana ya mensiasatinya supaya on lagi. Sedang saya gak suka nulis di FB misal😁
Indah Hanaco: Wajar banget itu. Karena kelancaran nulis itu memang karena proses latihan.
Cara mengatasinya kembali berusaha merutinkan menulis.
Zaenur: PR besar nih mba buat aku 😁 nulis di note HP itupun kalo lagi uring-uringan dan ada kejadian "aneh" saat ituπŸ˜„
Apik: Niatmu belum jadi penulis kawan, jadi admin akun gosip kayak aku sepertinya πŸ˜‚
Zaenur:πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜
Zaenur: Ada yang ditulis mengenai kisah kasih lika liku perjalanan perkawinan pemula sampai menua gak mba? Kalo boleh tau apa judulnya😬
Indah Hanaco: Sampai menua, belum pernah. Tapi suka duka membangun pernikahan dengan segala problemanya, pernah.
You had me at "hello", delicious marriage, the passionate marriage.

Naris:  Saya tertarik dengan profil mba yang merupakan penulis yang sangat produktif.Bagi tips nya  dong, untuk bisa menjadi produktif itu bagaimana? Apa saja yang harus dilakukan? Karena terus terang saya punya banyak sekali ide inti untuk memulai cerita,karena saya memang suka berimajinasi. Tapi sayangnya ide itu susah sekali dituangkan dalam tulisan. Kalaupun bisa, biasanya putus ditengah jalan, tidak selesai. Jadi mohon tipsnya agar bisa menyelesaikan tulisan sesuai dengan ide yang sudah ada.
Indah Hanaco:
Penulis itu kuncinya sabar dan disiplin. Saat menulis pasti adaaa aja godaan utk ganti tema, bahas hal-hal yang awalnya gak direncanakan, dll.
Karena itu perlu banget bikin outline atau sinopsis. Kalo bisa per bab. Gak perlu panjang2, 1 bab beberapa kalimat aja. Yang penting menggambarkan inti cerita. Setelahnya, fokus untuk beresin naskah sampai kelar.
Awalnya pasti sulit banget tapi kalau konsisten, semua jadi lebih mudah.
Naris: Jadi memang kuncinya harus konsisten ya mba hi..hi.. itu agak susah..πŸ˜„
Indah Hanaco: Susah kalau belum jadi kebiasaan. Tapi kalau memang niat, gak ada yg susah. Semangat ya πŸ’ͺ
Naris: πŸ’ͺπŸ’ͺ oke semangat!! Biasanya mba butuh berapa lama untuk menyelesaikan sebuah novel?
Indah Hanaco: Variatif banget. Ada yg 9 hari, ada yang 2 tahun. Tapi makin ke sini berusaha bikin target. 1-1,5 bulan.
Karena saya gak tahu sampai kapan bisa nulis. karena belum tentu esok akan tiba.
Naris: Wow..9 hari bisa jadi novel πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ˜πŸ˜
Indah Hanaco: Bisa karena idenya lagi kenceng dan dikejar-kejar editor πŸ˜‚
Naris: Ha..ha..aku banget,kalo udah deadline tugas baru dibuat dan anehnya langsung jadi...πŸ˜‚πŸ˜‚
Indah Hanaco: Memang, aneh tapi nyata. Tapi detlen itu punya power yang luar biasa πŸ˜‚
Naris: Mba, jalan cerita yang bisa menarik pembaca yang seperti apa mba? Apakah harus yang kontroversial seperti cinta sesama jenis misalnya..πŸ˜„
Indah Hanaco: Saya selalu percaya soal rezeki adalah hak prerogatif Tuhan. Tidak ada resep khusus soal buku yang akan laris atau tidak. Buku laris belum tentu bagus. Buku bagus belum tentu laris. Mirip-mirip misteri.
Jadi, ketimbang kita mikir soal tema yang bakal diserbu pembaca, saran saya, konsentrasi pada konten. Tugas penulis adalah memberikan karya terbaiknya untuk pembaca.

Hepi:


Saya tertarik dengan yang ini. Apakah sebelumnya mbak udah pernah ke edinburgh?
Belum tapi pengin banget ke sana. Modalnya bikin novel ini : gugel dan nonton beberapa film dokumenter tentang kota ini. Jangan lupa pakai google maps juga.
Hepi: hehe barusan saya mau nanya, bagaimana bisa menceritakan suatu hal yang belum sepenuhnya kita tahu dengan tepat, detail, dan tidak ada keraguan. Riset untuk sebuah novel yang menggunakan settingan "nyata" kira-kira berapa lama mbak? Rata-rata.
Indah Hanaco: Itulah kenapa saya butuh film dokumenter dan juga melihat "kondisi" suatu kota via google maps. Film dokumenter sangat bermanfaat untuk tambahan data.
Saya tipe penulis yang nggak mau terlalu heboh bahas setting. Jualan utama saya tetap plot dan karakter. Kalau ada bagian setting yg gak mendukung cerita, gak usah ditulis.
Untuk riset, sebelum nulis biasanya full riset 3-4 hari. Sampai dapat data yg diinginkan. Selanjutnya, mulai nulis. Riset sambil jalan. Target beresin  satu novel sekitar 1,5 bulan. Ada yg molor ada yg on time. Tergantung nasib baik πŸ˜‚
Hepi: Tadi saya juga sempat baca mbak, ditolak 5 penerbit untuk sebuah novel. Lalu tetap berusaha memasukan novel itu untuk terbit. 😍 Kece.
Risetnya biasanya selain nonton film, gimana mbak? untuk mendalami karakter, jalan cerita.
Indah Hanaco: Untuk karakter, belajar dari sekeliling aja. Di sekitar kita ada jutaan karakter yang penuh warna. Yang paling penting, karakter harus konsisten. Kalau mau berubah, harus ada peristiwa besar yang jadi pemicunya. Dan harus masuk akal.
Kalau jalan cerita, bermain-mainlah dengan imajinasi. Semua akan jadi mudah.
Hepi: πŸ˜ Kalau boleh tahu, mbak orang nya introvert atau cenderung extrovert? Apakah cukup dalam kalau kita seorang yang "pendiam" lalu riset hanya dengan memperhatikan mbak? atau harus langsung interaksi?
Indah Hanaco: Saya orang yang introvert. Menurut pengalaman, jadi penulis tidak berkaitan dgn kepribadian. Melainkan lebih pada disiplin, konsistensi, dan kesabaran. Dalam proses riset, yg dibutuhkan kemampuan untuk memilah info. Mana yg penting dan bisa mendukung cerita atau tidak.
Makanya saya selalu menyarankan pada penulis untuk rajin menonton. Film atau reality show. Tak cukup bermodal hanya rajin membaca.
Kenapa? Karena dari satu adegan sederhana bisa memicu ide yang tidak kita dapat saat membaca.
Hepi: Noted mbak. Ada kah rangkuman tips dari mbak Indah, ketika ingin memulai menulis? Setelah mendapatkan ide cerita.
Indah Hanaco:
1. Bikin outline serinci mungkin. Kalau ada kalimat yang kita rasa lucu dan pas sama cerita, tulis di bagian atas. Supaya gampang terlihat

2. Jangan buang-buang waktu terlalu banyak untuk masalah riset. Ingat, novel itu jualan utamanya adalah plot dan karakter. Jangan tergoda bikin uraian detail tentang setting hanya supaya dianggap keren/pintar. Kita bukan lagi nulis buku travel.

3. Risetlah dengan cerdas. Manfaatkan teknologi sebaik mungkin. Cari data yg valid. Pastikan kebenarannya dengan cek ricek minimal dari 3 sumber terpercaya.

4. Mulailah menulis jika semua "peralatan perang" sudah tersedia. Abaikan godaan untuk menyentuh naskah lain. Fokus pada naskah yg sudah dikerjakan. Usahakan setia pada plot.
Hepi: Mendingan mana, menerbitkan buku sendiri atau kita kirim naskah ke penerbit?
Indah Hanaco: Kalau saya, mending ke penerbit. Kalau indie, kayaknya repot. Tapi kurang tahu juga karena aku gak punya pengalaman. Yang kudu diingat, pilih penerbit besar yang memang profesional. Jangan pilih yang ngakunya mayor tapi distribusi aja pun masih terbatas banget.
Percayalah, saya udah mengalami hal-hal pahit dari dunia menulis. Jangan sampai teman-teman di sini mengalami juga.
Hepi: pertanyaan di luar tema ya mbak. Jadi mbak Indah nulis, apakah untuk kepentingan finansial, atau cukup karena suka menulis? mohon maaf agak sensitif. Karena saat ini saya kok jadi fokus nulis artikel, padahal sebelumnya suka nulis sastra πŸ˜‚πŸ˜… saya kaya kehilangan nyawa gitu mbak
Indah Hanaco: Saya mulai nulis awalnya gara-gara menghindari stres. Waktu itu saya dan suami berinvestasi tapi tertipu ratusan juta.
Jadi, supaya tidak kepikiran terus, saya nulis. Padahal dunia nulis udah saya tinggalin lama. Dulu nulisnya cerpen.
Sampai saat ini, uang belum jadi fokus. Tapi tentu senang kalau pas terima DP atau royalti. Bisa beli tiket liburan, misalnya.
Saran saya, nulis artikelnya tetap jalan. Tapi apa yang dicintai tidak boleh ditinggalkan. Pelan-pelan nyicil juga nulis sastranya. Percaya deh, hidup butuh keseimbangan. Lakukan terus apa yang dicintai.
Hepi: Kalau kita ingin tahu info penerbit dari mana mbak?
Indah Hanaco: Biasanya ada di web mereka. Banyak info, kok. Kalau kita tanya di twitter, biasanya direspons kok
Hepi: Siap mbak. Mulai semangat lagi 😍😍
Indah Hanaco: Harus semangat, Mbak. Saya selalu percaya bahwa pertolongan Tuhan akan datang kalau kita sungguh-sungguh. Siapa sangka awal menulis yang cuma untuk menghindari stres, akhirnya malah bikin saya hepi. Saya menemukan diri saya yang baru.
Saya gak tau kalau saya ternyata lumayan tangguh. Aslinya saya pemalas. Tapi begitu kenal dunia menulis, sisi pejuang saya tiba-tiba muncul. Semangaatttt πŸ’ͺ

Apik: 33 novel dan masih ada 4 yang mau terbit, hepi gak?
Indah Hanaco: Hepi dong. Tapi jadi tantangan untuk menulis tokoh dan tema yang beda. Gak boleh ada pengulangan. Itu yang bikin otak kerja keras πŸ˜‚
Apik: Jangan sampai penggemar komplain ya πŸ˜… kok sama ama yang itu?
Indah Hanaco:Iyes. Apalagi yg lebay model dirimu, Mbak πŸ˜›
Apik: Lebih power mana deadline apa royalti? πŸ˜„
Indah Hanaco: Thanks God eike gak matre. Jadi, nulis memang karena beneran cinta. Tapi, kerja keras pasti ada balasannya dari Tuhan.
Kalau sejak awal orientasinya uang akan mudah kecewa πŸ˜‚

Kinanti:
Horas tu hamuna. Mau sedikit bertanya sesuatu yg menggelitik, kenapa hampir rata-rata temanya seputar 'dilecehkan' atau 'menikmati' hubungan pria dan wanita?
Indah Hanaco: Tema novel saya bukan ttg "dilecehkan" atau "menikmati".
Saya biasa membahas tentang kesempatan kedua. Cinta yang datang setelah badai. Bukan sekadar cinta antara lawan jenis 😊

Dwi: Mba Indah, saat menulis novel bagaimana cara memilih kata - kata saat menulis supaya penggunaannya tidak berulang-ulang? Dan ketika sebuah novel sudah rampung apakah langsung ke editor atau share ke teman atau yang lain dulu?
Indah Hanaco: Sambil nulis, saya buka kamus tesaurus. Sering buka kamus untuk nyari kata-kata baru.
Misal, kata terkejut bisa divariasikan dengan terkesima, tergemap, tergegau. Tinggal kita pilih yang pas sama kalimatnya.Setelah kelar nulis, saya langsung kirim ke editor. Karena pada akhirnya keputusan diterima/ditolak ada di tangan editor.
Dwi: Belum tahu kamusnya yang seperti apa? Buku atau online?
Indah Hanaco: Ada yg berbentuk buku. Ada juga yg online. Saya sendiri dulu banget dapet link yang kemudian didonlot dan dipakai sampai sekarang.
Dwi: Boleh minta link atau referensi kamus bukunya?
Indah Hanaco: Duh, mohon maaf, link-nya sudah tidak punya. Karena saya donlotnya beberapa tahun lalu.
Apik: Dowload di appstore ada kok dwi. Ketik aja tesaurus. Pilih yang ratingnya 4.5.
Dwi: πŸ‘
Dwi: Bagaimana menentukan ciri khas sebagai penulis sebagai pemula? Apakah dengan mencoba semua genre?
Indah Hanaco: Iya, bisa begitu. Saya sendiri sebenernya paling suka nulis novel berbau psikologi. Bukan romance. Dulu pernah nulis novel tentang kepribadian ganda, judulnya les masques. Tapi pembaca kita ternyata belum bisa benar-benar menikmati.
Saya sendiri meski bnyk menulis genre romance, tapi juga menulis novel anak, buku sains, sampai matematika.
Jadi, balik lagi, tulis apa yg kira sukai.
Dwi: Wahhh banyak juga
Kereeeennnn πŸ‘πŸ‘
Dwi: penunjang sebagai penulis apakah harus punya semua jenis sosmed atau dipilih-pilih saja?
Indah Hanaco: Saya sekarang lebih nyaman di ig dan twitter. Fb bikin kepala migrain πŸ˜‚ tapi yang penting, pilih yang bikin kita nyaman.


Umi: Saya itu sering dapet ide ketika perjalanan dari rumah ke kantor..itu saat paling enak buat ngelamun sambil menikmati macet-macetan. Dan saya inget dulu pernah dibilangin begitu ada ide langsung tulis.
Nah. Sayangnya begitu nyampe kantor langsung dihadapkan sama setumpuk kerjaan yang mau gak mau bikin ide buyar terus keambil alih ama kerjaan sampe sore dan akhirnya ilang. Ada saran mba Indah?
Indah Hanaco: Saya punya buku yang berisi banyak banget catatan. Tiap ada ide memang kudu ditulis sebelum keburu menguap.
Kalau membawa buku catatan bikin repot, tulis di hp saja. Ide adalah harta karun, sayang banget kalau tidak dimanfaatkan.

Egi: Saya cenderung kalau nulis tipenya analis, ulasan dan kalau nyoba pindah genre ke romance kok rangakain kata-kata yang jadi kesannya "tidak manusiawi". Ada terapi gak mba untuk permasalahanku?
Indah Hanaco: Kalau gak nyaman nulis romance, jangan maksain. Karena hal pertama yang harus kita pikirin saat nulis adalah bikin diri sendiri bahagia.
Karena cuma rasa bahagia yang bikin kita bisa menuntaskan satu naskah.
Jadi, tulis apa yang kita sukai, yang paling dekat dengan diri kita. Semangat terus, ya πŸ˜‰
Egi: Makasih Mba.. Mungkin karena jenis bacaan dan dulu asdos penelitian di India makanya terbawa sampe sekarang, tapi bisa ada terapinya gak yah?
Indah Hanaco: Kalaupun mau nyoba, paling dengan latihan. Mulai nyoba menulis genre romance. Konsisten di situ sampai merasa nyaman. Karena, sekali lagi, menulis adalah tentang konsistensi.
Sekadar berbagi pengalaman, sampai tahun 2014, saya gak tertarik nulis tema religi. Jangan bayangin religi ala ayat-ayat cinta ya. Religi ala saya adalah yg ngepop, lebih bahas soal isu sosial.
Tapi kemudian ada editor yang menyemangati. Minta saya nulis genre itu. Saya sanggupi meski awalnya merasa menderita. Tapi setelah masuk naskah ketiga, mulai nyaman sampai sekarang.

Widya: Gimana caranya bisa masuk ke penerbit? Saya pernah ditolak penerbit mba tapi naskah saya dipublikasikan di blog orang penerbitnya, saya jadi takut kirim ke penerbit lagi akhirnya saya pernah indie sama temen-temen.
Indah Hanaco: Kita cari tau kira-kira penerbit mana yang cocok sama naskah kita. Sekarang umumnya penerbit menerima naskah via email, kok. Penuhi syarat administrasinya, kirim. Jangan takut ditolak. Kalaupun belum berjodoh, ada banyak penerbit di Indonesia. Karena itu, pilih penerbit yang profesional. Gramedia grup, misalnya. Apalagi sekarang gpu punya gwp. Bisa coba nulis di sana. Penulis zaman sekarang punya banyak kemudahan. Ayo, dimanfaatkan!
Dwi: GPU GWP apa mba
Apik: Gramedia writing project. gwp.co.id. Bisa log in. Mirip wattpad


Catatan dari Indah Hanaco

* Menulis adalah sebuah proses panjang. Kadang, ada rasa putus asa ketika hasil gak sesuai harapan. Saya juga masih mengalami hal-hal kayak gitu. Manusiawi, kok.

* Ketika naskah ditolak atau novel dikritik tajam, rasanya pengin berhenti nulis. Tapi kemudian nyadar lagi, tanpa proses itu karya kita mungkin akan jalan di tempat.

* Menjadi penulis berarti gak boleh berhenti belajar dan merasa puas. Kita juga harus jauh-jauh dari sifat sombong. Karena hal-hal demikian akan tercermin dari tulisan kita. Puas, ogah belajar, sombong, akan membuat tulisan kita pun kehilangan makna. Yang baca bisa merasakan itu.

* Ketika naskah kita ditolak, kadang bukan karena tidak bagus. Melainkan karena tidak cocok dengan selera editor. Makanya, jangan patah hati karena naskah ditolak. Naskah saya pernah ditolak sampai lima kali.

* Jangan lupa menjaga konsistensi menulis. Luangkan waktu untuk menulis setiap hari. Jika otak kita terbiasa mengolah kata, biasanya akan berimbas pada kecepatan mengetik juga.

* Ketika menulis, jangan terbebani dengan hal-hal di luar naskah yang sedang digarap. Misalnya tentang pasar, disukai pembaca/tidak. Fokus pada tulisan agar selesai tepat waktu. Tidak ada salahnya menetapkan target karena waktu adalah uang.

* Tulislah apa yang kita sukai. Jangan cemaskan orang lain karena kita mustahil bisa memuaskan semua orang.

* Jangan alergi dengan segala hal yang berbau "mainstream". Banyak yang terjebak pengin tampil beda tapi justru malah jadi aneh. Gak ada yg salah dengan hal-hal mainstream.
Senin, 10 Juli 2017

Bila Esok Tak Tiba


Menulislah. Bekukan momen yang ingin kamu ingat.

Tidak mudah tetapi mungkin.

Bila esok tak tiba, bagaimana kamu ingin diingat?

Minggu, 09 Juli 2017

Kemana aja di Semarang?

Begitu keluar stasiun, kita langsung meluncur ke restoran Rodjo di Jl. Pemuda no 77. Uti yang sudah pernah, langsunh mengambil bubur sebagai makanan pembuka. Maaf tidak ada dokumentasi karena keburu habis. Mamas Gara hebat makan sendiri lauk ayam kriuk dan sayur bayam. Emak menikmato gurame bakar madu dan tumis kangkung. πŸ˜‹


Minggu sambil nunggu Uti selesai reuni, kita ke transmart di Srondol. Main di Transtudio mini. Mamas Gara sama baby Gian sih yang main. Hihihi.. Emak mah makan bakso cilok aja.

Pose yang dia bikin sendiri, fotogenik kan? Iya aja biar cepet πŸ˜…

Gak usah kebanyakan ekspektasi, yang jelas sesak banget ini arena main.

Baru keluar dari arena main jam setengah dua. Mampir ke Super Penyet dengan kondisi ngantuk. Gak sempat foto karena baterai keburu abis.

Di Gombel macet karena proyek jalan layang. Ruwet ndes.

Selesai semua acara jalan ke Tlogosari ke tempat kakak Uti. Makan mangga arum manis. 😍 Mangga ini selalu jadi idola. Gimana nggak, rasanya meleleh di mulut dan manisnya menggelitik. Sudah lama aku gak makan. Surga.

Sabtu, 08 Juli 2017

Kaligung Kini Makin Disukai

Excited to travel. Ngebolang lagiii..
Semarang, kami datang...

Uti ada reuni di Semarang dan aku tidak mau melewatkan untuk ikutan bareng krucils. Maaf ya ayah seharian ini kami video call dan bikin mupeng. 

Terus naik apa? Kaligung lah. Sayang waktu awal naik kereta ini tahun 2004an, hp masih jadul dan belum aktif di dunia penulisan online jadinya ya tidak di dokumentasikan dengan baik.

1. Tiket berupa boarding pass
Harga tiket Rp50.000. Bisa dibeli online dan offline. Begitu kode booking didapat, kita bisa print di stasiun. Kaligung adalah kereta yang melayani rute Tegal-Semarang Poncol. Baru bisa dipesan 3 hari sebelum keberangkatan dan dicetak 6 jam sebelum.
Pada hari keberangkatan, setengah jam sebelum kita dipanggil untuk persiapan boarding. Masuk dengan menunjukkan tiket dan KTP. Transit di ruang tunggu. Hihihi πŸ˜„



2. Tempat minum
Asyem aku merasa ndeso 😜. Mamas Gara sudah langsung fokus dengan tempat minum itu. Membuka tutup dan memasukkan botol. Baby Gara juga dengan bantuan Uti tidak mau kalah mainan juga. 
Iyes bisa buat tempat hp. Ketika posisi menyusui, tangan yang bebas bisa sambil  mengetik pesan pada aunty untuk lokasi penjemputan.

3. Nyaman buat anak
Di gerbong kereta Kaligung, anak-anak bisa bolak-balik berjalan di lorong antara tempat duduk. Lantai juga bersih jadi buat yang punya anak suka gegoleran bisa lah main di lantai.

4. Toilet bersih
Surga bagi ibu hamil yang beser adalah tidak risi bolak-balik ke kamar kecil yang bersih. Anak-anak juga suka kalau ada toilet bersih.

5. Bagasi
Iya seperti di pesawat, bagasi tidak bisa ditempati koper besar dan tas ransel montok. Wakaka...

6. Fasilitas pengalih kebosanan
Selain tempat minum ada pemandangan laut dan sawah. Lalu colokan buat hp yang sudah tergantung dengan charger. Kita gak akan mati gaya karena hp on terus.


7. Layar berjalan yang menunjukkan posisi
"Mba udah di mana?"
Sekarang sudah bisa jawab kalau ternyata pemandangannya sawah semua. 
Iya ada layar yang menunjukkan ada di mana posisi kita sekarang.


Kaligung kini sungguh menyenangkan. Anak-anak nyaman, ibu senang, dan Uti bahagia. πŸ˜„
Jumat, 07 Juli 2017

Jangan Pernah Ukur Sepatumu dengan Sepatu Orang Lain

Hari ini, ada renungan yang membuatku sadar bahwa aku terlalu menginginkan segalanya sempurna. SESUAI KEINGINANKU. 

Ada bayangan senyum sinis yang menari-nari. Kamu sih siapa pik? Apa yang menjadikan kamu bisa memaksa orang lain untuk memakai sepatumu dan menyuruh mereka memahami apa yang kamu inginkan. Hello! Presiden aja yang bisa punya kuasa tidak bisa semena-mena, apalagi kamu yang rakyat jelata.

Baby Geni si nomor dua yang gampang bergaul
Menghargai yang aku miliki
Semua orang cenderung melihat kekurangan orang lain terlebih dahulu. Melakukan penghakiman tanpa mencari tahu lebih lanjut.
Aku sempat minder ketika anak keduaku lahir. Dia pesek, cunong, dan peyang. Iya setiap yang menjenguk selalu mengekspos kekurangan baby Geni. Lama kelamaan mereka terkesima dengan mata Geni yang bulat sempurna dan berwarna coklat.
Benar aku tidak memaksa mereka suka dengan Geni. Aku yang harus bersyukur, Geni adalah pelindungku dari rasa jumawa yang menghancurkan. Dia yang membuatku sadar bahwa kekurangannya bukanlah apa-apa dibanding kesehatan yang memaksa mamasnya minum obat selama 6 bulan dan merenggut indahnya masa MPASI. Geni adalah anak kedua rasa pertama karena dengan Genilah aku menikmati naik turunnya emosi saat begadang, MPASI yang sesuai jadwal, dan indahnya timbangan yang terus membuatnya tampak semok sekaligus menggemaskan.

Awalnya aku memaksakan orang lain harus tahu kebahagiaan yang aku miliki dan berniat membuat iri. Lalu aku tersadar bahwa ada saja cacat yang mereka temukan.
Akhirnya aku sadar bahwa apa yang aku miliki bisa saja dipandang sebelah mata.
Sekarang, terserah!
Aku yang menjalani. Aku juga yang harus bersyukur dan menghargai milikku.

Rumput tetangga akan selalu lebih hijau

Namanya juga manusia, tidak pernah ada puasnya. Namun coba lihat lebih dalam. Apa yang tetanggamu itu lakukan untuk akhirnya sampai pada titik "mapan". Seberapa deras darah yang rela dia alirkan untuk mendapatkan titik itu? Maukah kamu rasakan luka yang sama itu? Proses, siapkah kamu ditempa? Jika kamu tidak melihat sisi itu maka rumput tetanggamu itu akan selalu tampak lebih hijau dari rumputmu.

Sepatumu hanya cocok untukmu

Itulah kenapa aku selalu minta sama Tuhan untuk membuka mata dan hatiku agar bisa belajar dan memahami. Bukan semata tentang hasil akhir.
Hidupmu ya hidupmu. Hanya kamu yang bisa tahu rasanya, orang lain hanya lihat dan kalau mau ya belajar. Jangan mulai membandingkan karena tidak akan pernah ada hasilnya. Tidak akan bisa sama persis hasilnya jika cara A yang kamu lakukan ditiru orang. Kenapa? Ya beda orang, beda pengalaman, dan beda cara berpikir.

Nah makanya mba Apik, mulailah lagi pijakkan kaki ke bumi. Pakai sepatumu jangan paksa dirimu memakai sepatu orang lain atau sepatumu kamu paksa orang memakainya. Sadarilah porsimu. Tak perlu sombong karena di atas langit masih ada langit. Oke. πŸ’ͺ
Kamis, 06 Juli 2017

Jalan-jalan, Penyembuh buat Mamas Gara

Si sulung alias mamas Gara, Senin sore abis aku tinggal seharian terus aku suapin sayur asem sama ikan bakar. Baik-baik saja.

Selasa pagi masih sarapan bubur, ngemil bubur blohog dan makan siang ayam goreng. Selasa sore agak anget badannya dan mulai BAB berdarah dan berlendir. 
Selasa malam drama begadang dimulai. Dari jam 8 malam sampai jam 5 pagi bolak-balik ke kamar mandi. Mengigau terus bawel.
Berak di celana, drama harga diri terluka, dan panas tinggi.
"Ibu gak marah? Mamas kan ee di celana?" 
Aku hanya menggeleng. Berusaha waras di saat kepala mulai migrain.
"Kenapa harus pake pampers? Emang aku anak bayi?"
'Ya biar mamas gak perlu lari-lari kalau mau ee."
"Tapi ibu, aku kan udah besar."
"Mamas gak kasihan ibu nyuci celana ada ee nya?"
"Ya udah deh."
Ya Allah, aku lelah. Sungguh. Mamas mengigau semalaman. Badannya panas. Obat gak ada stok karena lagi liburan di rumah buyutnya. Badan panas tetapi mamas menggigil. Selasa malam itu adalah malam terpanjang kedua setelah lahiran baby Geni. Aku sampai eror membayangkan bagaimana kalau malam itu malam terakhir aku bisa menemani dia.
Dia kuat. Sangat kuat. Aku ibunya sudah sampai migrain padahal dia yang merasakan sakitnya, ngantuknya, dan kurang tidurnya. Dia tidak mengeluh kecuali saat aku nenenin baby Geni dan dia sudah tidak tahan minta ke kamar mandi. 
Semalaman. Aku memegang tangan panasnya. Berharap panasnya berpindah. Tidur baru bisa agak lama setelah jam 2. Baru bangun lagi jam 5. 

Rabu pagi, keajaiban datang. Mba Tyas yang suaminya punya apotek memanggil bulik yang lagi bersiap ke kantor. Aku lagi minta dibeliin lactoB setelah WA panjang lebar ke dr. Iva. 
"Yas, ni Gara mencret."
"Aku punya stoknya nifudiar. Itu yang paling bagus."

Semua pusing itu terbayar. Ada obat untuk mamas tanpa menunggu lama.

Tubuhnya susut dengan cepat. Tak bertenaga tetapi masih berusaha mengunyah nasi dan oreg tempe. Buat minum obat mas. Biar cepat sembuh. Dia semangat apalagi pas siang uti bilang mau ajak mamas ke Semarang main ke aunty. Sabtu yang mau datang.

"Pokoknya kalau punya anak kecil itu obat mencret sama obat panas harus stand by."

Kayaknya kasusnya begini: mamas telat makan, terus kebanyakan roti, dan kurang istirahat. Masuk angin kasep. Kebablasan.

Pagi setelah makan dan minum obat, aku kerok pake bawang dicampur minyak telon. Sisa bawang aku letakkan di dekat tempat tidurnya. Siang makan lagi dan minum obat. Sore juga. Rabu malam begadang masih berlanjut tetapi panas udah turun. Tidur lebih nyenyak walaupun 5 kali masih bolak-balik kamar mandi.

Kamis pagi aku sudah hampir WA Linda mau batalin acara keliling kamis siang. Pas lihat mamas udah semangat aku mengurungkan niat. Pergi aku yakini akan membuatnya sembuh. Benar aja walaupun beberapa kali minta BAB tetapi akhirnya teralihkan saat main di rumah Tata(anak Ayu Chandra).


Makasih banyak tante Linda, tante Ida, dan tante Dian. Terus om Paksi, om Bachtiar, om Yans, dan om Sepangga.
Hari ini udah barengan keliling dari makan lotek di bu Isah, ke pak Teguh (lagi), terus istirahat di kakak Tata. Pas mau pulang makan dulu di bakso Wijaya. πŸ˜„πŸ˜‹πŸ’–
Mamas Gara jadi beneran sembuh. Moga malam ini nyenyak dan ibu juga bisa istirahat. Aamiin.
Rabu, 05 Juli 2017

10+ Kemudian, Reuni yang Begitu Singkat

Dateng gak ya? Hayo siap baper tak?
Aku datang terlambat dan tidak punya banyak waktu untuk mengobrol dengan semua. Baby Geni juga mendadak panas. Iya abis main di pantai malah minum es jeruk. Ditambah giginya mau numbuh lagi.
Datang menyapa beberapa teman, foto bersama dan melipir ke kids' corner dan menyusui baby Geni. Geni tidur dan ternyata mamas Gara menyusul dengan ayah. Langsung kids' corner rame. Gara mendominasi.



Reuni ini sungguh membuat kepingan-kepingan menemukan posisinya pada puzzle kenangan. Secara keseluruhan teman-teman tidak banyak berubah.

Cerita-cerita bahagia dan episose perih kehidupan setelah kelulusan mewarnai perbincangan sekilas-sekilas.

Hingga akhirnya setelah reuni aku memutuskan untuk ikut bertemu lagi dengan sebagian yang bisa dijangkau.

Ah semoga tahun depan bisa ketemu lagi ya teman-teman. Aku masih rindu, masih ingin berbagi cerita, dan semangat perjuangan. Kalian superrr sekali. 

Kalian adalah inspirasi. 

Terima kasih kepada seluruh panitia. Apapun drama yang tercipta, you're awsome 😍πŸ’ͺπŸ‘...
Selasa, 04 Juli 2017

Menulis dengan Gawai

Gawai atau ponsel atau handphone (hp) bagi aku adalah salah satu alat untuk menuangkan tulisan. Semenjak laptop harus nyolok, hp adalah penolong yang bisa dibawa ke mana saja dan tidak berat.

Baca juga: Tidak Hanya Niat, Butuh ASUS E202 untuk Makin Kreatif dan Produktif di Mana Saja

Hanya butuh kuota dan charger aja biar maksimal.
Banyak yang beralasan tidak dapat mood saat mau menulis kalau aku berusaha memperbaiki mood dengan menulis. Jadi sebenarnya menulis kapan saja di mana saja menggunakan alat apa saja. Jika kamu memang mau menulis. Mulai dari status FB, caption IG, atau update blog.
Catatan: sesuaikan dengan ponsel masing-masing ya teman.
Lalu bagaimana caranya?
1. Maksimalkan fitur memo di ponsel kalian.

Setiap ponsel dilengkapi fitur memo atau arsip. Fitur ini bisa kita gunakan sebagai catatan atau draf agar nantinya bisa dilanjutkan jadi cerpen ataupun artikel. Sama seperti menulis di microsoft word.
Saranku pilih ponsel yang nyaman dengan jangkauan jari karena bisa membuat kita senang menulis dan mengurangi typo. Senang dan menikmati adalah kunci. Jika tidak bikin hati riang kenapa dipaksakan?
Pada blog kita bisa simpan di draf tetapi jangan lupa simpan ya teman. Jangan sampai catatan kita hilang saat koneksi melemah dan belum sempat di simpan.
Dalam memo kita juga bisa simpan hanya kata kunci saja yang bisa menjelaskan secara keseluruhan apa yang akan kita tulis.
Pernah kok ponselku nyemplung gara-gara aku bawa nyuci. Demi kata kunci: menyugar. Hahaha tetapi dasar masih rezeki ya hidup lagi tu hp.

2. Kenali gawai mu
Menulis di gawai harus punya stok sabar yang banyak. Apalagi jika gawai yang kita pakai menggunakan touch screen bukan keypad yang menonjol. Typo demi typo pasti membuat kita senewen. Nah makanya kita harus benar-benar mengenali celah dari hp. Pilih keyboard yang sesuai. Kalau memang kamu memang suka yang bentuknya keriting dan banyak warna ya silakan di-install. Kalau suka yang sederhana ya aplikasikan saja. Yang mana yang paling bisa bikin kamu mengurangi typo. Tolong jangan siksa pembacamu dengan typo yang keterlaluan.

3. Khusus menulis untuk blog
  • Bersemangatlah dalam mengisi blog!
Hp bisa kamu bawa ke mana saja. Jadi tinggal log in ke blogspot atau wordpress dan klik entri baru. Artinya? Nulis lah! Apa lagi?


  • Bersabarlah, ketika jarimu pegal dan pengaturan yang kamu inginkan begitu sulit diaplikasikan.
Senin malam baru saja terjadi. Aku ingin tulisanku "justified". Dan ketika aku klik ikon rata kanan untuk mengatur, tidak muncul semua pilihan. Begitu terus hampir 3 menit. Aku letakkan sejenak. Aku ingat-ingat. Oh ya aku harus minimized dulu layar biar semua muncul. Dan benar. Barulah si "justified" bisa di klik.

  • Pastikan kuota cukup.
Marah-marah saat gambar tak jua selesai di-upload. Tidak ada gunanya teman. Hahaha, yang benar kamu cek kuota apakah masih atau harus nebeng wi-fi tetangga sebelah. Jangan sampai kehilangan ide karena marah-marah ya πŸ˜…

  • Mulailah mengetik saat baterai penuh.
Kenapa? Biar gak harus mengetik sambil jongkok di deket colokan. πŸ˜‚

4. Khusus menulis status FB
  • Niatkan untuk berbagi
Biar gak terkesan curhat, kita bisa berbagi ilmu yang kita miliki. Misal yang hobi masak bisa bagi resep, yang otaknya gesrek bisa bagi tempat konsultasi, atau yang memiliki anak istimewa bisa kasih tahu gimana menghadapinya.
Kalau niat sudah sesuai mau pake hp kek mau mangku laptop lah pasti ada saja yang kita tuliskan.
Luruskan niat ya teman-teman. Bila hendak monetized ya juga harus belajar tentang perilaku dan peraturannya. Jangan sampai FBmu di-banned gara-gara tidak tahu aturan.
  • Miliki stok foto
Maksimalkan gawai dengan stok foto. Bukan banyak ya tetapi momen. Artinya kita mau cerita remahan rengginang, harus punya dong stok foto rengginang. Akhir-akhir ini aku sering menentukan ide lalu aku cari fotonya. Ya semua dengan hp. Ya iyalah baru punya hp ya dimaksimalkan.
  • Mulailah amati timeline

Kamu kehabisan ide? Bacalah timeline, gak usah lama-lama karena layar hp bikin pusing kalau kelamaan dipantengin. Tiga menit cukup. Nah dari sana banyak sekali tulisan yang memantik ide. Dari meme sindirian pada pelakor, penghinaan pada presiden, sampai isu agama yang tak ada habisnya. Sesuaikan dengan pengetahuan dan keinginan kamu. Setelah itu? Ya elah ya nulis lah. Eksekusi idenya.

Seperti halnya menulis di laptop, butuh membiasakan diri. Ketika sudah biasa, semua akan jauh lebih mudah dan mengasyikkan. Selamat menulis. Ingat waktu ya teman! Jangan sampai harus tidur di luar karena lebih sering belai hp ketimbang pasangan. πŸ˜‚
Senin, 03 Juli 2017

Wanita yang Menganiaya Dirinya Sendiri

Wanita ini sungguh mengabdi. Baik ke suami, anak, atau orangtuanya.
Kenapa? Apa yang salah?
Wanita ini meletakkan kebahagiannya pada orang lain. Dia memusatkan hidupnya pada suami. Begitu suami meninggal, dia linglung. Begitu suami selingkuh, dia depresi.
Wanita ini begitu menikmati perannya jadi ibu. Merawat tanpa punya waktu bagi dirinya. Bagi impiannya. Lalu anaknya kuliah dan kos jauh dari rumah. Dia kesepian, tak punya kesibukan.
Wanita ini sungguh tak punya impian. Impiannya ya melayani suami dan anak-anak. Merawat orangtua.
Begitu yang dilayani dan dirawat tidak ada terus bagaimana?
Wanita ini tertatih. Menemukan dirinya.
Tak terbantahkan wanita pasti dituntut hebat di kasur, sumur, dan dapur. Lantas terkurung macam katak di dalam tempurungnya?
Coba dipikirkan ulang! Terisolasi tanpa tahu dunia luar, aniayakah wanita ini pada dirinya?
Oke misal dia punya gadget dan aktif di dunia maya, apakah cukup?
Impian. Cita-cita. Tak layakkah wanita ini untuk punya? Bagi dirinya sendiri. Lepas dari suami, anak-anak, atau orangtua.
Benar hanya wanita ini yang bisa mengubah diri. Namun bagi orang-orang sekitar tentu bisa melakukan pendekatan yang bijak. Berikan masukan. Tanpa menekan.

No Pressure, No Diamonds (T. Carlyle)
Titik balik yang nantinya bisa mematikan atau menyelamatkan wanita ini. Begitu ingin aku merengkuh dia tetapi remahan rengginang ini belum terlihat karena disilaukan cerahnya nastar, dinginnya putri salju, dan mengenyangkannya nasi grombyang.
Semoga tekanan-tekanan nantinya membawa wanita ini sadar untuk kembali pada dirinya karena sesungguhnya pada dirinyalah dia harus bertanggungjawab. Secara utuh dan penuh.

Itu Septalinda Anggraeni, temanku di kelas 3 bahasa. Dia merantau ke Jerman dari tahun 2006 kalau gak salah. Iya kami memang gak begitu akrab. Hanya sebatas satu kelas, dia penyanyi band sekolah, dan aku pernah menemani dia saat kemasukan. Entah dia ingat apa gak. Kami bertemu lagi saat reuni, dan dia memanggilku. Jadilah foto di atas itu. Dari foto itu aku jadi sadar, aku ingin jalan lagi. Ke mana saja. Tak harus luar negeri. Aku ingin punya kamera sebagai bingkai ide tulisan nantinya. Lalu yang paling ambisius adalah menerbitkan novel solo. Namaku saja di cover. Tidak ada embel-embel "dan kawan-kawan".
Aku baca lagi inboxku dengan Linda. Pengalaman Linda sebagai penguat. Asal aku tak menyerah semua impian pasti terwujud.
Ya di sela-sela mengurus anak-anak dan suami juga memantau keadaan orangtua. Impian yang akhirnya aku siram dan pupuk lagi karena tertampar keadaan. Keadaan wanita itu.
Makasih ya mba, ujianmu adalah pembuka mataku. Bahwa tidak pernah salah punya impian yang salah adalah ketika kehilangan diri sendiri karena tidak punya impian.
Aku harap mba segera keluar dari tempurung dan memilih memberi sedikit kebahagiaan bagi diri mba sendiri. Melihat kembali impian mba. Semoga keberkahan selalu melimpah.

Dariku yang baru saja menemukan kembali impian
Minggu, 02 Juli 2017

Tua, Bahagia, dan Sejahtera


Aku sudah sering membicarakan ini dengan GaraGembul. Bagaimana kalau ibu tua? Lalu jadi nenek-nenek. Kalau udel lagi bolong ya dia jawab, Gara akan bantu ibu. Kalau lagi senewen karena emaknya gak jelas ya dia akan komen: "Ibu jadi jelek."
Aku tersenyum. Baru segitu pemahaman dia bahwa tua itu jelek. Tua itu nenek atau kakek. 
Sementara aku dan adikku sudah mulai membicarakan yang bikin terbawa perasaan.
Kami memiliki keluarga utuh artinya ibu bapak masih ada. Belum meninggal atau bercerai. Kami hanya dua bersaudara. Kembar sepasang artinya dua anak perempuan. Utuh tetapi tidak begitu harmonis. Kami masih membawa inner child yang belum tuntas kami taklukkan. Aku khususnya.
Namun Tuhan selalu punya cara untuk kasih aku pandangan. 
"Ibu pengen mati ya mati aja gak usah pakai nyusahin anak-anak."
Itu kata ibuku saat nenek kami mulai sakit-sakitan dan susah dipenuhi kemauannya. Dia berkaca pada nenek dan tidak mau seperti itu.
Itulah ibu sampai kapan pun tidak ingin jadi kerikil yang menusuk perjalanan anak-anaknya. Walaupun begitu kami selalu berpikir apa yang bisa kami lakukan untuk ibu kami. Hal kecil apapun.
Aku dan adikku tidak dekat dengan bapak. Kami tidak termasuk dalam kutipan,"dad is daughter's first love". Aku sampai punya kutipan sendiri, "setiap pelacur lahir dari seorang bapak yang gagal."
Ya karena aku punya masa kecil, remaja, dan dewasa yang berat tanpa kasih sayang bapak. Aku bisa menangis bombay hanya dengan melihat ayah menggandeng anak perempuannya. Apalagi kalau hubungan mereka dekat. Mewek melulu lah.
Aku sering berpikir, hubungan yang tak harmonis ini pasti akan berdampak pada masa tua bapak. Apakah aku akan mengurusnya?
"Mengurus orang tua beda sama anak-anak. Kalau anak-anak berak di celana masih ada imutnya, lha kalau orang tua? Hanya ngeyelnya yang tersisa."
Apakah aku siap?
Sebentar, sebentar, sebentar.
Ramadan baru saja berlalu kok sudah mulai egois lagi ya? Lupa dengan satu bulan belajar sabar dan tawakal?
Mengurus orangtua kan juga ibadah masa iya gak mau dapat pahala?Aku sudah sering membicarakan ini dengan GaraGembul. Bagaimana kalau ibu tua? Lalu jadi nenek-nenek. Kalau udel lagi bolong ya dia jawab, Gara akan bantu ibu. Kalau lagi senewen karena emaknya gak jelas ya dia akan komen: "Ibu jadi jelek."
Aku tersenyum. Baru segitu pemahaman dia bahwa tua itu jelek. Tua itu nenek atau kakek. 
Sementara aku dan adikku sudah mulai membicarakan yang bikin terbawa perasaan.
Kami memiliki keluarga utuh artinya ibu bapak masih ada. Belum meninggal atau bercerai. Kami hanya dua bersaudara. Kembar sepasang artinya dua anak perempuan. Utuh tetapi tidak begitu harmonis. Kami masih membawa inner child yang belum tuntas kami taklukkan. Aku khususnya.
Namun Tuhan selalu punya cara untuk kasih aku pandangan. 
"Ibu pengen mati ya mati aja gak usah pakai nyusahin anak-anak."
Itu kata ibuku saat nenek kami mulai sakit-sakitan dan susah dipenuhi kemauannya. Dia berkaca pada nenek dan tidak mau seperti itu.
Itulah ibu sampai kapan pun tidak ingin jadi kerikil yang menusuk perjalanan anak-anaknya. Walaupun begitu kami selalu berpikir apa yang bisa kami lakukan untuk ibu kami. Hal kecil apapun.
Aku dan adikku tidak dekat dengan bapak. Kami tidak termasuk dalam kutipan,"dad is daughter's first love". Aku sampai punya kutipan sendiri, "setiap pelacur lahir dari seorang bapak yang gagal."
Ya karena aku punya masa kecil, remaja, dan dewasa yang berat tanpa kasih sayang bapak. Aku bisa menangis bombay hanya dengan melihat ayah menggandeng anak perempuannya. Apalagi kalau hubungan mereka dekat. Mewek melulu lah.
Aku sering berpikir, hubungan yang tak harmonis ini pasti akan berdampak pada masa tua bapak. Apakah aku akan mengurusnya?
"Mengurus orang tua beda sama anak-anak. Kalau anak-anak berak di celana masih ada imutnya, lha kalau orang tua? Hanya ngeyelnya yang tersisa."
Apakah aku siap?
Sebentar, sebentar, sebentar.
Ramadan baru saja berlalu kok sudah mulai egois lagi ya? Lupa dengan satu bulan belajar sabar dan tawakal?
Mengurus orangtua kan juga ibadah masa iya gak mau dapat pahala?
###
Menua dan bahagia katanya kuncinya ikhlas.  Dan ikhlas itu proses. Bukan hasil. Terus dan terus.
###
Ketika ibu dan bapak menggenggam tangan cucu sungguh itu anugerah. Artinya ada masa di mana ibu dan bapak melihat anaknya mengurus rumah tangga. Momen demi momen indah yang tercipta semoga nantinya bisa menjadi bekal untuk melalui masa sulit di saat ibu berubah jadi rewel dan ngeyel. Sungguh sesudah masa sulit pasti datanglah kemudahan asal aku bertahan.

Ibu, bapak, semoga aku bisa mendampingi kalian di masa tua yang bahagia. Aamiin. Tua, bahagia, dan sejahtera.
Sabtu, 01 Juli 2017

Ramadan Berlalu, Terus?

Apakah targetmu terpenuhi? Aku hanya bisa mengatupkan tangan ke muka. Sungguh rasa jumawa membuat target itu tak terpenuhi. Menulis blog selama satu bulan penuh hanya tinggal tulisan di white board. 
Menunda. Awalnya ketinggalan satu lalu berpikir ah bisa dikerjain besok. Ternyata sakit tambah parah. Kepala sakit sebelah. Terus mikir ah bisa besok lagi. Cuma dua. Lha kok tiba-tiba udah tanggal 14 Juni aja. Utang postingannya numpuk padahal draft udah ada tinggal nambah gambar. Tinggal nambah gambar? Emang ngedit gambar gak butuh waktu. Belum lagi kalau datanya kurang. Ya iya bener ujungnya males terus nyerah gitu aja. Sungguh aku memang harus tahu kalau sudah di depan laptop dan anak-anak masih tidur ya udah kerjain sampai selesai. Bukannya malah ngikutin nafsu nonton dramkor terus jadi keteteran.
Ya setidaknya #NulisRandom2017 selesai. 30 hari walaupun ada yang #latepost. Artinya ritme menulis sudah ketemu. Tinggal kuatkan niat lagi supaya blog ada isinya.

####

waktunya sarapan sedep

Nah begitu ramadan berlalu dan belum ikutan arus balik maka sarapan murah meriah dan sedep adalah yang ditunggu. Mamahku atau adikku biasanya akan beli sego pincuk yang kadang disebut sego rames seharga Rp3.000/bungkus. Hanya penjual dan Tuhan yang tahu banyak sedikitnya saat beli Rp2.500, Rp3.000, atau Rp4.000. Itu sindiran adekku saat dia beli Rp4.000 tetapi sama banyak dengan yang beli Rp2.500. Hahaha... Tergantung amal perbuatan ya dek ^_^

Sego pincuk ini sedep karena megono yang pedas berpadu dengan oreg tempe manis, mie legit dan kriuk pia-pia atau keripik udang yang gurih. Pia-pia atau badak atau bala-bala atau bakwan. Banyak alias banget gorengan satu ini. Harganya Rp2.500/3. Iya kecil-kecil emang. 

Ya sarapan di desa emang sedep artinya murah tapi enak dan porsinya lumayan lah. 

####

Ramadan berlalu, terus? 

1. Evaluasi pola makan
Jangan mentang-mentang banyak bakul sarapan lantas khilaf. Tetap kontrol asupan. Tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Pas. Kenapa? Tubuh kita sedang menyesuaikan kembali dengan waktu makan pagi, siang, dan sore. Dari pola sahur dan berbuka puasa. Kamu tentu tidak mau terserang "masuk angin" dengan memaksa tubuh menggiling makanan bersantan, daging-dagingan, atau kue-kue lebaran dalam satu waktu. Sudah belajar sabar dan kontrol keinginan selama tiga puluh hari? Ya tinggal dilanjutkan prakteknya. 

2. Tak perlu menunggu ramadan datang lagi untuk berbuat baik
Ya agar kualitas hidup meningkat tentu hal-hal baik harus konsisten dilakukan. Kita memang butuh momen tetapi harus terus semangat ketika momen itu sudah berlalu. Tidak akan pernah rugi menabur kebaikan. Bukan menanam angin terus menuai topan ya!

3. Konsisten menulis buat kamu yang lagi terapi perilaku
Kenapa menulis? 20.000 kata yang harus kamu keluarkan setiap harinya sungguh harus dimanfaatkan. Ketika kamu belum bisa curhat sama suami atau grup lagi kurang enak dijadikan tong sampah maka status "udang di balik rempeyek" sangat pas buat menuangkan rasa baper. Hihihi... Ini aku lah kalau kalian mah setrong πŸ’ͺ. Kalau gak ya bikin caption IG yang nyindir tapi hanya kamu yang tahu pasti siapa tersangkanya. 

Selamat berburu sarapan.
Semoga ramadan membuat perubahan.
Baik atau buruk, aku dan kamu yang menentukan.


Kamis, 22 Juni 2017

Tidak Hanya Niat, Butuh ASUS E202 untuk Makin Kreatif dan Produktif di Mana Saja


Lagi mengejar deadline cerpen yang mau dikirim ke majalah. Niat dan semua amunisi sudah siap. Mulai mengetik.
Ini aib tetapi ada bocah songong yang tidak punya empati memaksaku bergulat lagi. Bermain drama lagi dengan anak perempuan itu. Anak perempuan manis yang tatanan rambutnya berganti-ganti. Rambutnya menambah daya tariknya. Dia kelas 3 SD. Camkan. Masih pakai baju putih rok merah. Pintar walaupun selalu ranking dua. Panggil saja dia Bunga seperti di koran-koran kalau cerita tentang pemerkosaan. Gak kok gak sampai separah itu tapi sekali lagi, kejadian ini dialami anak perempuan kelas 3 SD.
            ####
Ada anak laki-laki pindahan dari kalimantan. Rio seharusnya sudah kelas 6. Ceritanya sering terlibat perkelahian jadi ya gak naik kelas. Begitu pindah dia sekelas dengan Bunga. 
####
"Bung, bung, bung."
"Bung, bung, emang rebung apa?
Tawa menggelegar dari kursi deretan belakang. 
Bunga tetap fokus dengan tulisan di papan hitam yang sedang ditulisi soal sebagai tugas dari pak Slamet.
Dengan cepat Rio punya geng, Deni si anak tukang becak berbadan tinggi langsing dan Cekre yang emang pendek tetapi sok gagah. Rio berbadan tinggi dan berisi. Begitu mengintimidasi kami yang memang sesuai dengan kelas.
Hari naas itu emang diawali dari kelas kosong karena pak Selamet harus rapat. Kelas begitu riuh. Hanya segelintir anak yang rajin menyalin tugas lalu mengerjakannya. 
Rio melemparkan penghapus ke kepala Bunga. Meninggalkan debu putih sisa kapur tulis. Bunga diam.
"Heh, dipanggil kok gak nengok sih!"
Hidup Bunga sudah rumit, dia tidak mau ada masalah lagi. Bunga ingin sekolah tetap menjadi tempat favoritnya untuk melarikan diri. Beli kojek, bakar opak angin, dan es teh bungkusan. 
Anak-anak segera keluar kelas setelah bel istirahat berbunyi. Seingat Bunga dia hanya terlambat sekedipan mata ketika kerahnya ditarik dengan kuat ke pojok kelas memunggungi sapu. Dia berdiri dan Rio duduk berganti menarik rambut kepangnya. Deni dan Cekre menarik Didi yang sekuat tenaga berontak.
"Cium! Cium!"
Bunga panik dan berusaha lari tetapi perih di kulit kepalanya mengurangi kekuatannya.
Deni dan Cekre mendorong tubuh Didi ke tubuh Bunga. Rio menahan Bunga untuk bergerak. 
"Cium Di, kalau gak aku pukul kamu."
Didi memiringkan kepalanya, begitu dia gak bisa bergerak dan ciuman itu mendarat di bahu Bunga. Deni dan Cekre lengah karena misi berhasil.
"Maaf ya Bunga," sesal Didi sambil membalik badan dan menghambur keluar.
Bunga kaku. Harga dirinya terluka. Saat itu juga ada karakter lain yang bangun. Sosok brutal yang tidak mengenal penolakan.
"Seneng kan? Seneng!"
Bunga mematung. Dia tahu dia bukan dirinya lagi. Dia punya lubang besar yang menganga.
####
"Kamu tuh cantik, ada lesung pipinya kalau senyum."
Buat apa cantik kalau hanya menarik masalah lebih banyak. 
Bunga terbiasa mendengar riuhnya piring pecah diselingi tangisan saat pagi menjelang. Kursi-kursi kosong saat sarapan dilengkapi pemandangan muka bengkak Mamahnya.
Beginikah jadi wanita? Hanya sarana pelampiasan?
Bagaimana Bunga bisa menceritakan apa yang dialami? Sementara keadaan Mamah lebih buruk dari tragedi.
Makian, tendangan, bahkan paksaan saat berhubungan.
"Tidak akan ada pernikahan apalagi anak perempuan di hidupku." 
#### 
"Puzzlenya udah lengkap kan mba?" Mas Adjie tidak pernah memaksa Nonik mengingat Bunga. Anak perempuan kelas 3 SD itu. Mas Adjie menunggu Nonik siap. Makanya Nonik berterima kasih pada anak songong yang gak punya empati itu karena akhirnya dia buka semua luka dan melengkapi setiap kepingan-kepingan yang berhamburan.
Sesi-sesi terapi yang melelahkan, serangkaian tes psikologi, dan mood swing datang menyiksa di saat yang tak terduga. Bahagia sesaat lalu menangis sesenggukan tanpa alasan yang jelas.
"Nonik mimpi Bunga lagi mas Adjie. Dia minta tolong."
"Dadanya masih sesak? Ada serangan manik?" mas Adjie bertanya dengan nada halus.
"Iya mas."
"Mba masih lampiaskan ke anak-anak?"
"Pisau sama anak-anak sudah diamankan mas."
"Res tahu?"
"Tahu makanya dia langsung buat janji buat hari ini."
"Oke, kalau mimpinya berlanjut apa mba tahu yang harus dilakukan?"
"Iya mas, ingat wajah anak-anak dan Res," Nonik menjawab masih dengan posisi mencengkram bajunya.
"Lalu?" Mas Adjie dengan perlahan mengurai jari-jari Nonik.
"Anak-anak adalah obat, Res adalah nyaman jadi Nonik harus berani dan bantu Bunga. Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, terima kasih atas keberanian yang Kau berikan."
Nonik adalah wanita kuat. Dia berusaha terus dan terus untuk bisa menjalani kehidupan normal. Meski sering dia menyerah pada segenggam obat tidur tetapi begitu sadar dan melihat Res serta dua anak laki-lakinya, dia kembali ke tekadnya. Tekad untuk sembuh.
####
Hei bocah songong yang gak punya empati, kamu memang gak tahu masa lalu tiap orang. Namun ketika ada peringatan belajarlah membuka mata hatimu, bagi sedikit belas kasihmu meski kamu tak kenal orang itu.
Jika kamu memang suka baca, resapilah dan gunakan pengalaman penulis. Jangan contoh penulis sastra kelas tinggi yang meremehkan penulis novel romantis recehan yang terbit dari wattpad. Bagaimanapun untuk ada di posisi itu pasti ada usahanya. Jangan meremehkan orang lain hanya karena usahamu lebih berdarah-darah karena kamu tak akan pernah lihat luka dalam apa yang dia sembunyikan.

Tinggal sedikit lagi. Aku mau kasih kutipan yang cetar terus judul dan...

Diiip, diiip, diiip...

Listrik mati dan laptop ASUS N43S yang harus selalu nyolok itu meninggalkan layar hitam. Belum disimpan. 

Tuing, tuing, tuing. 

Aku galau. Sungguh tidak mudah mengumpulkan segenap tenaga dan juga niat. Sebagai ibu rumah tangga, aku harus memastikan anak-anak dalam posisi aman untuk akhirnya bisa fokus menulis. Niat akhirnya bulat dan anak-anak sudah siap, lha kok laptop yang jadi alat tempur malah gak mendukung.


Laptop ASUS N43S ini memang sudah aku miliki sejak 2011. Kami berjuang bersama dan sudah menghasilkan 3 buku antologi dan cukup stok cerpen. Laptop ini juga yang belakangan jadi andalan untuk memiliki waktu yang berkualitas saat menonton bersama anak-anak. Meskipun ya harus sabar ketika listrik mati.

Suamiku geleng-geleng kepala. Terus bagaimana? Niatmu sudah bulat lho? Katanya ingin mengejar kembali impian menjadi penulis. Kan sayang kalau nanti niat tak didukung dengan perlengkapan perang yang mumpuni. Laptop seperti sepatu bagi pemain sepakbola. 

Aku mulai cari-cari info. Harus ASUS lagi karena sudah terbukti dalam enam tahun terakhir tidak pernah ngambek. Hanya baterai, itu juga karena salahku yang sering kelamaan nge-charge. Lupa mencabut adapter.

Tidak Hanya Niat, Butuh ASUS E202 untuk Makin Kreatif dan Produktif di Mana Saja

Kenapa harus ASUS E202?
1. Ukuran yang compact

Notebook berukuran 12 inci yang notabene lebih kecil dari kertas A4, pastinya membuat kita jadi semangat membawa si ASUS E202 ini ke mana saja tanpa khawatir akan sakit punggung malah bisa saja membuat lupa kalau ada laptop di dalam tas jinjing kita. 
Produktif? Tentu lahhh, kita bisa kerja di mana pun berada. Mau ngerjain deadline cerpen di bis, mengetik paragraf pertama sambil makan di restoran favorit, atau harus segera selesaikan presentasi saat terjebak di KRL.

Selain laptop yang hanya 1,25 kg, charger ASUS E202 juga tidak lebih besar dari kartu kredit. Ya sekitar 53 mm saja. Tentu semakin memudahkan kita membawa dan menggunakan ASUS E202 di berbagai tempat.

2. Senjata dalam ASUS E202
Notebook ini memang istimewa karena hadir dengan Dual Core Intel Celeron Processor, Windows 10 dan juga DOS. Apa artinya? Kita akan menggunakan notebook yang mampu mengolah data dengan cepat, memiliki browser yang ketika menemukan halaman menarik bisa langsung di-edit dan diberi catatan langsung pada halaman tersebut, serta multitasking. Kegiatan kreatif yang kita lakukan tentu akan lebih cepat selesai kan?
                  
3. Baterai yang tahan lama

Notebook berukuran A4 ini menggunakan prosesor Intel hemat daya yang menawarkan masa aktif baterai hingga 8 jam.

8 jam? Pastinya tidak perlu cemas akan kesulitan menyelesaikan pekerjaan saat berada di daerah yang tidak ada pasokan listrik atau waktu  kamu ada di perjalanan dan lupa bawa charger. 


4. ASUS E202 memiliki port USB 3.1 Type-C yang sangat menghemat waktu. Kenapa hemat? Karena USB dapat dicolok dengan berbagai arah dengan colokan reversible setiap saatnya dan kecepatan transfer USB 3.1 ini lebih cepat 11x dibandingkan USB 2.0.


5. Touchpad yang besar dan one piece chiclet keyboard

Fitur ini cocok buat yang ngaku sering typo karena jarak antar keyboard sempit. 1.66 mm cukup untuk mengucapkan selamat tinggal kepada typo.
Nyaman dengan responsifnya touchpad dan ketahanan hingga 10 juta kali pengetikan akan membuat kita dengan semangat mengeksekusi ide-ide kreatif yang sliweran tanpa sempat melamun.


6. Kualitas audio terbaik ASUS E202 dual speaker disempurnakan dengan ASUS splendid dengan sistem vivid

Teknologi ASUS SonicMaster dan speaker yang menghadap depan membuat kita dimanjakan dengan suara jernih saat mendengarkan lagu atau menonton film. Suara dalam dan bersih walaupun kita memaksimalkan volume.


Bagiku laptop bukan hanya alat perang tetapi juga sarana mendapatkan waktu bersama anak-anak.  ASUS splendid dengan sistem vivid pada ASUS E202 menyesuaikan akurasi warna secara otomatis dengan display setting optimal untuk semua gambar yang ada sehingga tampilan yang memesona bisa dinikmati. Baik saat melihat video atau film, notebook ASUS E202 menghasilkan warna yang sempurna bagi mata kita.



7. Fanless terobosan yang aku tunggu

Kenapa? Saat beraktivitas di luar ruangan dan tidak ada meja maka aku sering memangku laptop ketika bekerja. Nah memangku laptop kan lama-lama panas tuh karena udara panas yang dihasilkan kipas laptop jadi selain tidak bising, teknologi fanless ini juga mengurangi efek panas dari laptop. Tidak bising? Iya jadi kita tidak takut membangunkan anak-anak saat harus lembur hingga dini hari. Aku bisa produktif memanfaatkan waktu yang ada.



9. Notebook yang hadir dengan versi Windows 10 dan DOS ini tersedia dalam pilihan warna Silk White, Dark Blue, Lightning Blue dan Red Rouge

Pilihan warna yang memikat meskipun aku berharap ASUS E202 dark blue yang akan menemaniku berkreativitas dan produktif menghasilkan karya.

Ssttt... Teknologi Wi-Fi terbaru 802.11ac yang memiliki kecepatan hampir 3 kali lipat dari 802.11n; membuat browsing, download, dan streaming video jadi lebih hemat waktu. Sudah ngeces belum? Eh iya setiap ASUS E202 dilengkapi 16G ASUS WebStorage gratis selama 1 tahun.



Semoga semua informasi yang aku berikan di artikel ini membuka wawasan bagi yang juga sedang mencari notebook.

NB: gambar dan data-data diambil dari www.asus.com dan www.uniekkaswarganti.com


Tulisan ini adalah salah satu ikhtiarku untuk mendapatkan ASUS E202. Tulisan ini aku ikutkan dalam:

Blog Competition ASUS E202 by uniekkaswarganti.com
Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design