Kamis, 02 Juni 2016

[Maraton Review Novel Indah Hanaco] Saujana Cinta, Tak Akan Pernah Tahu Bagaimana Akhir Kita

Tentang Tuhan, haruskah dipertanyakan?
Saujana Cinta

Penulis    :  Indah Hanaco

Penerbit   :  Gramedia Pustaka Utama

Tahun      :   2015

Halaman  :  249


Novel yang membahas tentang apa yang kita yakini kadang riskan. Bisa memancing pemahaman atau malah kegamangan?

Bagiku tidak akan pernah ada 'happy ending' selama kita hidup. Semua akan berakhir saat kita nyawa telah terenggut. Yang ada adalah usaha mengisi waktu sebelum akhirnya kita dijemput malaikat maut.

Mereka baru saja akan merancang kisah untuk masa depan, namun tampaknya Allah memiliki kehendak lain yang tidak bisa diganggu gugat. Sebesar apapun Alec mencintainya karena Allah, tampaknya Pia harus ikhlas dengan akhir yang tragis ini. Kepergian Alec dengan cara seperti itu mengubah Pia untuk selamanya. (halaman 238)

Saujana Cinta adalah perjalanan.

Kita tidak pernah bisa memilih dengan siapa kita jatuh cinta. Hingga di salah satu perjalanan kita bertemu dengan orang-orang yang menjungkirbalikkan dunia kita.

Laki-laki itu bahkan tidak melirik ke arah Pia meski mereka cuma berjarak kurang dari setengah meter. Pria yang rambutnya diikat satu dan punya mata unik berwarna kekuningan di bagian irisnya itu tidak memakai scarf. Tidak juga berkemeja fuchsia yang menyilaukan itu. Tapi, Pia bisa merasakan seakan petir menyambarnya.GAR! (halaman 79)

Siapa pun yang berada di ruangan yang sama bisa melihat bagaimana mata Alec menjadi penuh kilau setelah melihat Runa. Pia seakan terempas ke jurang. Alec jelas jatuh cinta setengah mati pada kakaknya. Fakta itu merampas semua harapan yang pernah mengendap di benak Pia. (halaman 142)

Betapa Alec ingin agar telinga Runa menangkap kata-kata yang diucapkan Pia barusan. Setidaknya supaya Runa tahu bahwa Alec juga diinginkan orang lain. Meski itu sama sekali tidak membuatnya bangga. Tapi, tampaknya konsentrasi Runa tercurah utuh untuk Halim. Alec memutuskan untuk tidak lagi melihat keduanya karena cuma membuat hatinya seperti dipilin-pilin dengan kekejaman mengerikan. (halaman 146)

Saujana Cinta adalah titik balik untuk menemukan Tuhan.

"Bukan tidak ada, justru sangat banyak. Tapi, kebanyakan yah... tidak menjalankan ritual agamanya dengan baik. Seolah agama itu permainan saja. Agama jadi alat barter. Nah, aku tidak mau kamu seperti itu. Jangan tertarik memeluk suatu agama hanya karena seseorang. Tuhan itu harganya luar biasa mahal, Alec. Tidak layak diganti seenaknya hanya karena..." (halaman 159)

Tuhanlah pemilik cinta itu. Ya saking cintanya kita dengan manusia jadi lupa untuk memohon kepada yang punya cinta.

Saujana Cinta adalah cinta karena Tuhan.

"Pia, sepertinya aku memang harus bersyahadat lagi. Aku... kurasa sekarang aku sudah menemukan alasan yang tepat kenapa ingin memeluk  agama Islam. Bukan karena seseorang. Melainkan karena aku benar-benar mulai jatuh cinta pada Allah. Apa pendapatmu?" (halaman 222)
Alex Kincaid pada Pia Miriam.

Selesai membaca novel ini membuat ingatanku kembali ke masa aku masih memakai seragam putih abu-abu. Aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama hingga sesosok pria berkacamata masuk ke kelasku. Ya pria itu yang akhirnya membuatku tahu bahwa punya adik perempuan itu ternyata bisa jadi saingan. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Awalnya dia menerimaku tetapi setelah main ke rumah dan melihat adikku dia bilang dia suka adikku.

Sosok berkacamata ini pula yang membuatku mulai mengenal Tuhanku. Aku berusaha mengenal Tuhanku saat tahu sosok itu rajin ke masjid sekolah.

 Whatever it's old story.

Alec Kincaid dan Pia Miriam adalah contoh turis cinta yang akhirnya menemukan Tuhan di masa berliburnya. Bahwa Tuhan memang tidak tergadaikan oleh apapun jua. Karena dia sejatinya adalah pemilik cinta itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design