Rabu, 08 Juni 2016

[Maraton Review Novel Indah Hanaco] Tuhan untuk Jemima, Tak Perlu Jauh Lihatlah ke Hatimu

Keputusan untuk memiliki Tuhan, biasanya datang perlahan

Penulis    :  Indah Hanaco

Penerbit   :  Gramedia Pustaka Utama

Tahun      :   2015

Halaman  :  305
Jemima, anak kedua dari pasangan Raphael dan Feby Damarys merasakan dirinya tersisih saat kakaknya Ashlyn meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sendirian karena kedua orangtuanya memilih untuk menyesap kepahitan dari kematian anak sulung mereka sendiri-sendiri.

Jemima terjepit sendirian, bersama kedukaan yang membuatnya kehilangan banyak semangat untuk terus menjalani hidup. Gadis itu mulai yakin, dirinya tak akan bisa benar-benar pulih dari rasa sakit karena kehilangan kakaknya. Kini, Raphael dan Feby bahkan nyaris tidak pernah saling memandang lagi. Nama Ashlyn seakan dilarang untuk diucapkan. Sikap hati-hati yang tidak biasa. Keduanya saling menghindar jika memang bisa. Jemima bukan tidak tahu kalau kini ibunya tidur di kamar Ashlyn, tidak lagi sekamar dengan ayahnya. (halaman 29)

Di saat terjepit dan tidak tahu arah, Jemima mulai dengan kebimbangannya dalam menentukan agama. Ya karena orangtuanya melakukan pernikahan beda agama lalu meminta anak-anaknya memutuskan sendiri agama mana yang akan mereka peluk.

Namun, belakangan Jemima mulai merasa terganggu. Dia sangat ingin berdoa, memohon kepada Tuhan agar berkenan mengembalikan kondisi keluarganya. Minimal mendekati seperti semula. Walaupun tanpa Ashlyn lagi.
Masalahnya, Jemima bingung dia harus berdoa kepada Tuhan yang mana? (halaman 58)

Nick, adik bungsu ayah Jemima yang seumuran dengan Ashlyn membuat peluang untuk Jemima. Berlibur ke Selandia Baru.

Apakah Tuhan juga bisa dicari di Negeri Kiwi itu? (halaman 69)

Kemudian...

"Cowok berambut merah itu seperti ... mau pingsan melihatmu main mata denganku," tawa Jemima masih bersisa. Ini mungkin tawa paling panjang selama tujuh bulan terakhir. (halaman 72)

Nick dan Jemima membuat Kenneth Nigel Kincaid penasaran. Hingga akhirnya mereka berkenalan dan bergabung dengan Stu Huntington dan Remy LaMont, dua teman Kenneth.

Mereka berlima akhirnya memutuskan berkeliling bersama. Tanpa disadari proses saling mengenal terjadi.

Berkali-kali Jemima memikirkan jawaban Kenneth yang dianggapnya cukup radikal. Seumur hidup, gadis itu diyakinkan pada keberadaan Tuhan. Tiba-tiba sekarang dia berhadapkan dengan cowok yang menyangkal Sang Pencipta dengan santai. (halaman 107)

Menurutku memang butuh seumur hidup untuk berproses. Menentukan pilihan, mendekatkan diri, dan lebih mengenal Tuhan. Agama apapun pasti kita tidak serta merta langsung taat.

Novel ke 23 ini sempurna tetapi ya hanya itu. Aku bilang seperti tidak ada roh yang menarikku untuk secara cepat ingin tahu cara penyelesaian. Ketika selesai ya sudah selesai.

 Yang menetap di kepalaku hanya "jika kau benar menginginkan sesuatu maka kau akan berjuang untuk mendapatkannya". Seperti saat aku berjuang mendapatkan hati kamu, iya kamu. Eaaa...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design