Jumat, 03 Juni 2016

[Maraton Review Novel Indah Hanaco] Love in Edinbrugh, Siapkah Kita Mencintai Hingga Terluka?

Cinta hanya elemen buat kita melihat diri, sudah pantaskah kita menerima?
LOVE IN EDINBRUGH

Penulis    :  Indah Hanaco

Penerbit   :  Gramedia Pustaka Utama

Tahun      :   2015

Halaman  :  232

Laki-laki itu mendekat dengan gerakan lamban. Tapi, Katya Nefertiti bisa merasakan rambut tangannya berdiri. Dia mundur dan berusaha menjaga jarak, bibirnya menggumamkan permohonan maaf yang tidak terlalu jelas. Rasa takut menghujam, membuat Katya merasa perutnya mulas. Jantungnya berdegup-degup, menciptakan suara deru berisik di telinga. (halaman 1)
"...Dengan adegan yang nyaris sama, Katya dan laki-laki yang siap menyakitinya dengan brutal." (halaman 9)

Aku tahu kau ada di sana saat semua kekacauan terjadi.

Aku tahu kau duduk memegang kedua kakimu. Membenamkan wajahmu di lutut.

Aku lihat kau menahan sesak.

Aku merasakan kau begitu terhimpit.

Wahai jiwa anak kecilku yang terperangkap saat kau jadi saksi. Saksi ketika tanpa belas kasih ibumu dipukuli. Dicaci maki. Dituduh menuruti nafsu. 

Wahai jiwa anak kecilku inginku renggut dirimu agar aku tak lagi ingat itu. Ingat tiap jengkal tusukan kata di hatiku. 

"Jangan panggil ibuku lonte."

Rasanya itu saja yang bergema saat jiwa anak kecilku muncul.

Begitu menyiksa saat membaca Love in Edinburgh. Karena aku seperti kembali ke masa itu. Masa aku masih menggunakan seragam putih abu-abu. Masa dimana aku jadi saksi. Betapa KDRT membuat lubang besar di hatiku.

Lubang yang terus menganga.

Kekerasan dalam rumah tangga selalu membuat seseorang bangun dengan kondisi berkeringat. Seolah tidur selalu ditemani mimpi buruk.

Bagiku berpisahlah segera dari suami atau istri yang menganiayamu baik secara fisik maupun psikis karena masa depan anakmu yang akan terancam. Dia akan tumbuh dengan berbagai gangguan psikologis. Bertahan hanya akan membuat semuanya sakit. Ya sakit jiwa.

Bagi Katya dia beruntung bisa mengumpulkan semua sisa keberanian dan pergi meninggalkan Frans, suaminya yang gila itu. Lalu lebih beruntung lagi dia bertemu Sebastian Meir. Memang Allah yang Maha Tahu tetapi jika tanpa usaha dari kita ya tidak akan hasil.

2 komentar:

  1. KDRT memang menyisakan pedih yang menahun, bahkan ketika pemukul itu udah nggak ada. Saya pun pernah terbiasa menjadi korban KDRT walau masih dalam kasus menengah (nggak sampai lebam membekas), masih dari keluarga tapi bukan bapak-ibu saya :)

    BalasHapus
  2. Gak akan pernah sembuh mba. Kalau mau sembuh harus cuci otak.😢

    BalasHapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design