Kamis, 16 Juni 2016

[Maraton Review Novel Indah Hanaco] Les Masques: Empat Jiwa, Satu Cinta, Ribuan Kekelaman Masa Lampau

Mencintai seseorang itu berarti harus siap merasa tersiksa. (halaman 212)

Penulis    :  Indah Hanaco

Penerbit   :  Grasindo

Tahun      :   2014

Halaman  :  233
Fleur Radella, lahir karena kebuasan hasrat yang tak bisa ditolak.
"Noah... air mineralnya kamu... kasih apa?" (halaman 65)

Selain rasa nyeri di tubuhnya, satu-satunya hal aneh yang terjadi adalah hilangnya celana dalam yang sebelumnya dipakai Reene. (halaman 67)

Reene tersenyum tipis. "Anakku... aku mau ngasih nama Fleur Radella. Aku yakin... dia perempuan. Tapi kalau laki-laki... kuserahkan padamu. Aku ..." (halaman 94)

Utari lalu bercerita banyak tentang Reene, dengan mengais memori berusia belasan tahun. Tentu saja dia tidak menceritakan kisah tentang Renee yang diperkosa oleh cowok yang konon jatuh hati padanya tapi ditolak. Juga bagaimana dia menyaksikan Renee masuk ke mobil Noah yang bahkan tidak tahu kalau perbuatannya sudah membuahkan janin dan berujung dengan kematian Renee. (halaman 174) 

Elektra Valerius, jiwa berani yang terpaksa bersemayam di tubuh yang salah.
"Masuk!" Marini memberi titah, menunjuk ke arah pintu kamar mandi yang baru dibukanya. Fleur meronta dan berusaha melepaskan diri. Namun, apalah kekuatan anak berumur empat tahun dibanding perempuan paruh baya yang sedang meledak dalam kemarahan? (halaman 124)

Hari itu, ada yang mati di dalam jiwa Fleur. Dan ada yang lahir di balik kengerian yang baru dirasakannya. (halaman 125)

... Pemicunya sudah jelas: izin yang batal diberikan oleh nenek Fleur. (halaman 70)

Suatu malam, dengan ketenangan yang mengagumkan, Elektra memasuki sebuah kamar dengan membawa serta sebotol obat untuk mealy bug. Kepercayaan dirinya begitu tinggi. Dia bahkan tidak cemas kalau ada yang memergokinya. Elektra cuma beberapa menit di dalam kamar sebelum keluar dengan wajah puas dan senyum kemenangan mengembang di bibirnya. (halaman 71)

Tatum Honora, gadis pemurung yang tercipta karena ketidakmampuan manusia menundukkan diri sendiri.
Tatum sama sekali tidak mirip dengan Elektra ataupun Fleur. Namun, dia bisa merupakan gabungan sempurna antara kedua gadis itu. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi.
Tatum paling muda di antara mereka bertiga, tapi kadang kekolotannya melebihi generasi lampau.
(halaman 32)

Tatum terdiam, "Aku nggak sanggup, Elektra. Aku nggak sanggup nonton itu. Karena sama aja kayak...," tangisnya pecah. (halaman 204)

Semua yang dimulai di masa lalu, tak seharusnya menjadi hantu yang menempel tanpa pengampunan. Lalu Adam Dewatra hadir. Menggenapi jejak horror masa lampau.
"Elektra, aku udah lama mau nanya soal ini, tapi kelupaan. Apa kamu tahu siapa yang menghajar Charlie waktu dia mulai mengganggu Fleur?" tanya Tatum tiba-tiba. (halaman 201)

"Aku memang sengaja sembunyi. Aku nggak mau kalian melihatku. Kalian tahu, telinga Charlie yang tuli dan hidungnya yang patah, itu hasil kerjaku," kata Adam bangga. (halaman 231)

Mba Indah Hanaco, jujur aku gak nyangka kalau aku masih punya nyali untuk baca novel ini kedua kalinya. Setiap halaman dan gak ada satu halaman pun yang kelewatan. Habis baca novel ini aku jujur gak bisa tidur, rasanya sesak banget dadaku. Anak perempuan itu, Fleur Radella, bagaimana nasibnya sekarang? Gilakah dia? Masih hidupkah dengan pertolongan Elektra dan Adam? Sungguh rasanya tercabik-cabik. Kenapa Xander tidak kau siksa dengan kejam? Kenapa kau beri penyelesaian yang adem? Kenapa tidak brutal?

Mba Indah Hanaco, novelmu yang ini membuatku ingat hantu masa laluku sendiri. Sungguh, apakah aku sanggup tidur malam ini? Rasanya aku butuh kopi. Untuk sekedar menghibur diri.

Ya walau bagaimanapun akhir dari novel ini, aku tetap akan jadi penggemar lebaymu yang selalu curhat dan mempertanyakan banyak pertanyaan bodoh. Sehat terus ya mba, biar selalu bisa berkarya dan menginspirasi dengan karya-karya yang berkualitas. Love you... ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design