Selasa, 14 Juni 2016

[Maraton Review Novel Indah Hanaco] Crazy Little Things Called Love, Apakah Cinta yang Membuat Colin dan Maura Saling Menemukan?



Penulis    :  Indah Hanaco

Penerbit   :  Gramedia Pustaka Utama

Tahun      :   2014

Halaman  :  240


Colin dan Maura bersinggungan pada suatu malam yang basah. Kemudian hidup mereka kian terkait akibat berbagai drama yang diciptakan takdir untuk keduanya. Problema di satu titik, berubah menjadi pintu yang membuka ke arah masa depan di titik lainnya. Tiap masalah baru justru menjadi magnet perekat bagi mereka. (blurb)


Maura baru putus dari pacarnya selama dua hari. Dia hampir diseret ke mobil orang asing di tengah hujan. Dia juga memukul kepala penolongnya hingga berdarah. Gadis itu harus segera pindah dari rumah kesayangannya dan nyaris mendapat tinju dari Papa. Maura juga menderita demam dan radang tenggorokan yang menyakitkan. Apakah semua itu masih perlu ditambah dengan ... ketertarikan pada Colin?
(halaman 134)

Meskipun keduanya tak mau mengakui, Colin dan Maura terlalu terpesona satu dengan yang lain. Hingga tidak lagi menyisakan ruang untuk memindai kebimbangan. (blurb)

Maura tidak bisa menahan serbuan rasa senang di pori-pori. Reaksi yang norak, mungkin. Tapi dia tidak peduli. Dia suka ketika Colin memperhatikannya, meskipun Maura tidak tahu pasti apa yang menjadi motif pria.
"I miss you too, Maura. Kalau ini, tidak untuk membuat kesal siapa pun," tukasnya.
(halaman 161)

Tapi, apakah lantas semuanya menjamin akhir yang bahagia? Bagaimana dengan Sam, mantan kekasih Maura? (blurb)

"Mau apa mencariku, Sam? Aku akan pindah," guman Maura. Colin mengambil alih koper-koper itu. Dia menggumankan kalimat yang dibalas dengan anggukan kepala. Saat itulah baru Sam benar-benar menyadari kehadiran Colin. Matanya menyipit memandang Colin.
(halaman 141) 

"Jangan pernah lagi menghubungi Maura! Lupakan dia mulai sekarang! Kamu bahkan tidak berhak untuk melihatnya lagi." Suara Colin seakan berasal dari kegelapan. Ancaman yang tersirat di sana mampu membuat bulu kuduk meremang.
Tanpa menunggu jawaban Sam, Colin menarik tangan Maura.
(halaman 179)

Bagaimana pula dengan keluarga Maura yang mirip mimpi buruk? (blurb)

"Edric dan Glenn tidak ingin aku ribut lagi dengan Papa. Mereka bilang aku harus belajar menerima kepahitan. Yah, begitulah cara mereka mengatakannya. Itu menyebalkan, bukan? Aku lebih tua dari mereka, tapi si kembar malah yang  memberiku nasihat. Itu sebabnya aku harus segera mencari tempat kos ..."
Maura bahkan tidak tahu sejak kapan air matanya meruah dan Colin memeluknya!
(halaman 137)

"Mbak yang terlambat menyadari bahwa Papa memang sudah berubah. Kita tidak akan bisa membuatnya kembali seperti dulu. Kalau tidak, mana mungkin aku dan Glenn meninggalkan rumah? Sudah ya Mbak, tidak usah membebani diri dengan kenangan melankolis lagi. Biarkan kenangan indah yang pernah kita miliki tersimpan di hati. Lepaskan rumah itu, Mbak. Tidak ada yang bisa dipertahankan lagi. Karena hal seperti ini pasti akan berulang terus-menerus..."
(halaman 140)

Sementara Colin sendiri, punya kegentaran yang berasal dari masa lalu. (blurb)

Kegentaran itulah yang membuat Colin enggan memaafkan dirinya sendiri. Meskipun kegentaran itu juga yang membuatnya bertemu Maura di malam yang basah itu.

Cinta, mungkinkah mampu menjadi penawar ajaib bagi semua jalan berduri yang siap memisahkan keduanya? (blurb)

Tegakah Indah Hanaco mengakhiri kisah Colin dan Maura dengan akhir yang tragis? Kamu bisa temukan di halaman 238 novel ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design