Minggu, 01 Mei 2016

Tetangga oh Tetangga, dramamu Tiada Akhir

Aku sakit, aku sakit hati
Kau terbangkan ku ke awan
Lalu jatuhkan ke dasar jurang
(Yovie & The Nuno - Sakit Hati)

"Neng itu kurang apa coba sama dia. Dia minta apa aja dikasih. Kok ya masih aja dicela-cela."

"Neng, dia bilang harusnya tetangga dulu yang dibagi. Bukan malah yang jauh-jauh."

Tetangga oh tetangga kenapa dramamu tiada akhir?

Aku dapat cerita dari asisten rumah tanggaku. Dia bilang, si dia protes kenapa nasi selamatan aqiqah Geni dibagikan tetangga jauh. Padahal itu nasi udah semua dibagikan.

Menghela napas saja cukuplah.
Saat bekerja kita akan bertemu dengan rekan kerja yang macam-macam karakternya.

Namun enaknya kita tidak perlu mikirin mereka saat pulang. Di rumah ya sudah, selesai urusannya dengan mereka.

Lha kalau tetangga yang 4L alias lu lagi lu lagi. Bagaimana kalau ternyata dia bukanlah seseorang yang asli? Bagaimana kalau di depan kita dia adalah pendukung nomor satu? Bagaimana kalau di belakang kita dia adalah musuh nomor satu?

Mak, ada 5 hal yang perlu kau lakukan agar drama tetangga itu tidak berubah jadi sinetron seumur hidup.

1. Jangan pernah masukkan ke hati sindiran atau becandaan dengan tetangga

Saat sore anak harus makan sambil main sepeda di luar, tetangga akan mulai membuka pembicaraan.

"Wah enak ya punya anak kayak Gara, makan apa aja mau. Anakku susah kalau di suruh makan ikan."

Hidung emak pasti akan langsung kembang kempis tanda bangga. Weisss, jangan keburu kegeeran dulu dong Mak. Jangan kau masukkan hati.

"Si emak Gara tuh, anaknya masa diajarin nahan lapar. Emang anak-anak bisa disuruh minta makan kalau lapar."

Tuh kan, baru dipuji abis itu dibanting.

Biarkan saja tetangga mau ngomongin kita. Biarkan mereka membentuk opini sendiri. Tak usahlah dimasukkan hati. Dengarkan layaknya meletakkan hati kita di sungai. Biarkan mengalir. Berlalu ya berlalu.

2. Jangan mudah terpancing emosi

Emak pernah kan dicurhati tetangga tentang si cantik Clara sampai ikutan emosi dan kepikiran. Untungnya si ayah mengingatkan untuk tidak melabrak.

Menenangkan diri dulu baru bicara baik-baik dengan si cantik Clara. Hasilnya ternyata si tetangga adalah provokator.

Jadi jangan mudah terpancing ya Mak.

3. Kenalilah sebelum menyimpulkan

Ketika bertemu dengan tetangga yang lain di depan beda di belakang maka emak harus olah diri dan emosi.

Orang-orang seperti itu sangat bisa memuji kita setinggi langit ketika ada di depan kita. Lalu membanting kita hingga ke dasar jurang saat di belakang kita.

Maka sebaiknya kenali dulu orang itu sebelum menyimpulkan. Sebelum kita menjadikannya tempat curhat. Sebelum kita menceritakan kelemahan dan keburukan kita padanya.

Kenali dan jangan suka kegeeran kalau dipuji dikit.

4. Drama berawal dari kedekatan yang berlebihan

Kadang tetangga bisa membuat kita merasa seperti jatuh cinta. Mau perginya sama dia melulu. Mau ceritanya sama dia aja.

Tolong sadarlah sebelum semua terlambat. Dekat boleh tapi sewajarnya. Pergi juga sama yang lain.

5. Drama ada bagi mereka yang kurang mengenal diri

Mengenali diri itu memang sangat penting. Kita tidak bisa meminta orang lain mengerti dan memahami kita karena mereka memang tidak akan bisa. Kita sendirilah yang harus mengerti dan memahami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design