Kamis, 19 Mei 2016

Ibu, Berapa Harga Perhatianmu?

Baby Gara bermain di tepian warung. Bolak-balik menyebrang. Ketika menyebrang ketiga kalinya ada motor yang hampir menabraknya. Untung si bapak mengemudi perlahan. Jika tidak mungkin Baby Gara sudah masuk rumah sakit.

"Makanya anaknya diliatin bu."
"Ini lagi diliatin. Makanya bisa teriak."

Ya Tuhan aku pengen ngomel sampai puas kalau gak ingat Baby Gara yang nyaris ketabrak.

Aku tidak sedang ngerumpi. Baby Geni digendongan dan Baby Gara sudah lari melesat untuk menyebrang. Jantung sudah berdetak kencang. It's like an adrenalin rush. Kejadiannya seperti sekedipan mata saja.

Aku tidak sedang bergunjing. Mataku sedang mengawasi gerak Baby Gara. Aku tidak siap dan langsung berteriak pada saat Baby Gara ternyata menyebrang lagi mengekor temannya yang sudah menyebrang duluan.

Ibu, berapa sih harga perhatianmu? Apa perlu dibuat rate card agar tidak kemurahan dikasih harganya?

Sungguh aku tidak sedang meleng. Namun kejadian yang kilat itu hanya menghasilkan teriakan saja.

Ibu oh ibu. Ternyata ini bukan masalah perhatian. Ini masalah bagaimana bereaksi cepat saat anak akan ketabrak.

Ibu perhatikan anakmu biar tidak menyesal kemudian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design