Selasa, 24 Mei 2016

Ibu, Aku Makan Sendiri Dong! 3 Cara Baby Gara Dapatkan yang Disukai!

Kontrol motorik halus saat menyendok nasi sudah sampai tahap 'mampu'

Baby Gara mulai belajar makan sendiri di usianya 2 tahun 6 bulan. Ketika ibunya hamil adiknya. Ibunya yang uring-uringan membuat dia lebih pengertian. 

Di usia itu pula dia mulai tahu bahwa menangis agar tujuannya tercapai adalah hal yang mustahil. Dia mengamati jika menangis malah membuat ibunya semakin marah, dicuekin dan tidak ada hasil apapun juga.

Mulailah dia mencari cara dan jalan lain untuk memuluskan jalannya. Jalan untuk memperoleh mainan, susu coklat, es krim, dan makanan favoritnya.

Apabila cara negatif tidak berhasil maka harus ada cara positif.

Inilah 5 cara Baby Gara memperoleh hal-hal yang disukainya.

1. Makan sendiri sama dengan nonton kartun favorit

"Ibu makanan Gara udah siap? Sini aku makan sendiri ya?"

Ketika Baby Gara bilang seperti itu, langsung rasanya dada tuh plong banget. Ya Tuhan buah dari kesabaran ternyata begitu manis *mulai lebay. Hahaha... Ya memang begitu bahagianya ibu. Melihat anaknya bisa mandiri. Makan maunya sendiri, cuma menyiapkan saja. Ibu mana yang gak bahagia coba?

Makan sambil nonton robocar poli di tv. Satu piring habis. Yayaya... Menari hula-hula bahagia.

2. Bereskan mainan sama dengan es krim atau yang dingin dan menyegarkan lainnya

Baby Gara suka es yang manis dan kenyal atau yang berbau coklat

Kesukaan Baby Gara kalau sedang bosan dengan es jeruk, dia akan meminta es jeli-jeli atau agar-agar. Es batu yang sudah kecil-kecil akan dikunyah bersama jeli-jeli itu. Gak mungkin buat yang giginya sensitif harus gosok gigi dulu pakai odol khusus  gigi sensitif *malah iklan sih mak.

"Gara beresin mainan dulu ya kakak ya nanti baru main."

Itulah gaya khasnya kalau sedang ingin es jeli. Menyempatkan diri membereskan mainan sebelum pergi main ke luar.

3. Menurut aturan yang disepakati artinya mainan baru

"Ibu, Gara di rumah aja ya sama dedek. Ibu tolong beliin Gara susu coklat sama susu ultra sama teh kotak."

Dan Baby Gara melambai sambil bilang hati-hati saat ibunya ke warung. Pada waktu ibunya pulang, dia sedang menyanyikan lagu abang tukang bakso buat adiknya yang sedang mengoceh.

Ada satu lagi kejadian yang akhirnya membuat si emak membelikan truk mixer besar buat Baby Gara. Jadi pagi itu kita semua sudah siap pergi. Mau membeli daster dan kerudung buat emak. Eh saat sudah dijemput mbah Nani Baby Gara lagi asyik nonton paw patrol. Dia bilang mau di rumah saja sama akung Heri. Selama emak, Geni, dan mbah Nani pergi akung Heri tidak menelepon. Berarti Baby Gara anteng dong. Yeiyyy karena sesuai kesepakatan tidak rewel saat ditinggal akhirnya emak dengan bahagia membelikan Baby Gara truk mixer.

Langsung dibuat macet-macetan khas Baby Gara dan dia foto sendiri hasil kreasinya

Penyesuaian diri pada anak tentu butuh waktu dan proses. Seperti halnya saat dia belajar makan, berdiri, atau buang air kecil di toilet. Terkadang di dalam proses itu mereka membutuhkan perhatian kita. Lalu bagaimana saat kita tidak memperhatikan mereka? Tentu saja mereka berusaha menarik perhatian kita. 

Kartun favorit, es krim, atau mainan baru sebenarnya bukan tujuan utama anak kita. Tujuan utamanya adalah perhatian kita.

Kadang mereka gunakan cara negatif seperti menumpahkan makanan, membuat mainan berantakan, atau pipis di celana. Semua itu semata untuk mendapatkan perhatian. Jika dengan cara negatif mereka sudah mendapatkan apa yang diinginkan ya mereka akan ulangi terus. Disitulah kita harus jeli. Bagaimana agar mereka menarik perhatian dengan cara yang positif bukan negatif?

Kita harus tanpa lelah berusaha menjelaskan dengan bahasa mereka agar mereka mengerti bahwa hal negatif itu hanya memancing emosi negatif saja.

"Gara gak mau ibu marah-marah. Gara anak pinter kan? Ayo baikan bu."

"Kalau Gara gak mau ibu marah-marah ya Gara harus cari cara yang pinter. Bukan malah berak di celana."

Kita harus terus mengulang agar anak tahu dan akhirnya paham apa yang harus dilakukan.

Semoga kita tidak salah menyikapi perilaku anak yang akhirnya meninggalkan persepsi yang salah pada anak. 

Semoga anak kita tahu bahwa dia anak yang pintar bukan nakal. Anak yang mau mendengar bukan bengal.

Tanamkan bahwa dengan melakukan hal baik maka hadiahnya jauh lebih menyenangkan. Bukan hanya anak senang tetapi orang tua juga tenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design