Selasa, 10 Mei 2016

Baby Gara dan Badut Kelinci

Lihat ekspresi Baby Gara, dia berusaha melawan rasa takutnya dan menahan tangis
Saat aku masih jadi pengajar taman kanak-kanak, ada salah satu muridku yang takut badut. Dia akan lari menjauh atau menangis kejer bila ada teman yang ulang tahun dan mengundang badut. Sungguh semacam ada trauma saat dia melihat badut.

Saat Gian satu tahun delapan bulan, keluarga besarku liburan ke Jakarta. Saat itu TMII dipilih agar anak-anak lebih bisa eksplor.

Eh waktu sampai di parkiran, ada badut kelinci yang menghampiri. Aku menggendong Baby Gara untuk berfoto. Baby Gara meronta menyatakan keberatan untuk berfoto. Baby Gara takut badut ternyata. 

Aku ingat sekali nasehat partner kerjaku saat tahu salah satu muridku takut badut: "Kalau nanti dia lakukan kesalahan atau tidak mau mengikuti instruksimu, jangan takuti dia dengan badut. Dia sudah cukup tertekan orangtuanya menjadikan badut sebagai senjata. Senjata saat dia tidak menuruti keinginan orangtuanya."

Itulah awal dari segala trauma dan ketakutan yang ada pada anak. Pada kasus ini takut akan badut.

1. Saat anak takut akan badut sebaiknya tidak menggunakan itu sebagai senjata

"Kalau gak mau makan, ibu panggilin badut."

Kira-kira dampak apa yang akan ditimbulkan? Ya anak akan semakin takut. 

Terkadang orangtua selalu ingin semua cepat selesai. Menyuapi anak makan pengen cepet, minta anaknya mandi maunya segera, terus suruh anak beresin mainan mintanya harus kilat langsung selesai. 

Semua yang buru-buru itu butuh jalan pintas. Tentu saja jalan pintas tak selamanya mulus. Ternyata jalan pintas yang kita pilih adalah jalan buntu.

Coba pikirkan lagi, tiap anak pasti memiliki ketakutannya masing-masing. Jika ketakutan itu kita gunakan terus menerus hanya agar anak kita menurut maka dia akan semakin takut. Tidak ada penyelesaian akan rasa takut itu.

Lebih jauh lagi, saat anak tumbuh dewasa dengan ketakutan yang belum sembuh lalu teman-temannya tahu. Apa yang akan terjadi? Tentu saja teman-temannya akan menggunakan itu juga sebagai senjata untuk mem-bully anak kita.


Kok sampai begitu sih Mak, lebay deh kayaknya. Ya silakan anda tanyakan pada anak anda. Pasti itulah yang terjadi. Kehidupan remaja itu keras lho jadi jangan sampai kita malah yang jadi pencetus untuk menganiaya anak sendiri.

2. Saat anak takut akan badut carilah cara untuk menyelesaikan masalah itu

Anak adalah anugerah, tentu kita tidak mau dia hidup dalam ketakutan. Maka dari itu carilah solusi. Kenapa anak takut? Apa yang harus dilakukan agar anak bisa sembuh?

Jika kita merasa tidak punya ilmu, pergilah ke psikolog. Bantuan akan mempercepat penyembuhan. Sembuhkan bukan malah memperparah ketakutan itu demi kepentingan kita.

3. Saat anak takut akan badut sebaiknya tidak memaksanya dekat atau melihat

Pelan-pelan dan tidak memaksa.

Saat kita tahu anak takut badut maka berilah dia waktu. Biasanya kita cenderung tidak sabar dan memaksa dia untuk langsung mengatasi. Kita terus-terusan mendekatkan anak ke badut meskipun anak menangis dan menjerit ketakutan. Sungguh orangtua macam apa kita itu?

Saat tahu Baby Gara takut, aku beri dia waktu. Sebentar berfoto tidak sampai dia menangis setelah itu pelan-pelan diberi pengertian. Bahwa di dalam kelinci itu ada om. Tidak ada kelinci raksasa di dunia nyata. Dan dia pelan-pelan mulai tahu.
Saat melihat boneka besar, Baby Gara mulai bisa menikmati

Sayang tidak sempat foto bareng
Dan pada waktu aku ada kerjaan menghadiri acara di mall, ada anak-anak berkostum badut panda. Baby Gara sudah tidak takut. Dia bersalaman dan mengikuti kemanapun badut panda itu pergi. Baru bisa lepas saat badut panda harus pulang.

Baiklah apapun ketakutan anak kita sudah jadi kewajiban kita untuk menyembuhkan bukan malah memperparah. Jadilah orangtua yang bijak. Jadilah orangtua yang tidak mengambil jalan pintas.

2 komentar:

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design