Rabu, 06 April 2016

SYUKUR

Bersyukur. Bersama dengan datangnya pemikiran-pemikiran yang datang silih berganti. Kadang menyenangkan, kadang membawa asumsi negatif yang membuat lelah. Ingin rasanya berhenti.
22 Juli 2012 Perjalanan pulang dari Jakarta ke Semarang naik kereta Senja Utama.



Insting adalah yang harus manusia asah untuk menyelamatkan diri. Aku mencoba, sebaik mungkin untuk  percaya dan yakin.
"Wah... Wah... Kok gelap ya?" terbersit perasaan yang aneh ketika memasuki kereta. Aku duduk dekat aisle (jalanan diantara deretan tempat duduk), merasa tidak enak karena posisi duduk terganggu dengan derap langkah orang-orang yang lalu lalang atau pramugara yang melayani pesanan makanan dan minuman. Suamiku menemani lewat telepon sampai kereta berangkat. Sangat menenangkan.
"Bersyukurlah, akan ada waktunya kamu bersyukur untuk tiap skenario yang Tuhan berikan untukmu hari ini" ujar pikirku menenangkan.
Saat semua orang terlelap dalam tidur, aku berusaha sebaik mungkin untuk menghentikan pemikiran-pemikiran yang entahlah.
Membaca surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlas bergantian. Sedikit demi sedikit ketenangan muncul dan akhirnya aku bisa tidur. Tiba-tiba terbangun dengan teriakan histeris seorang ibu.
"Tolong, tolong. Saya kerampokan. Tas saya kerampokan. Tolong, ada yang bisa bantu saya."
Aku terbangun dengan dada berdetak sangat kencang dan perasaan yang gak karuan. Tidak ada sahutan apapun dari penumpang lain.
"Tolong pak, tadi orangnya lompat dari kereta, tolong kejar pak. Tas saya dirampok. Ada yang bisa bantu saya."
Di antara sadar dan tidak sadar, aku menggumam: "Udah lari malingnya bu." Aku mengumpulkan semua kesadaranku.
"Seandainya kamu yang ada di posisi ibu itu bagaimana?" Tiba-tiba kepanikan mendera. Menarik tas, menggeser resleting dari kanan ke kiri sehingga tidak terekspos dari jalanan. Kok parno gini ya. Si pramugara ditanya banyak orang, dan untuk sekian kalinya dia menjelaskan: "Mungkin pura-pura jadi penumpang lalu ambil tas . Pas ibunya bangun dia udah keluar lewat pintu. Polisinya ada di gerbong belakang karena kemarin juga baru ada yang dicuri di gerbong belakang, eh sekarang kok malah di gerbong satu." 

Di sisa perjalanan, aku tidak bisa tidur lagi. Masih deg-degan dan pikiran kacau. "Bersyukur aja de, ambil hikmahnya aja"ujar suamiku menenangkan di sela telepon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design