Jumat, 15 April 2016

RAHASIA TITA

Malam itu Tita berpikir keras. Ada satu masalah yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Dia tidak bisa begitu saja cerita ke Mama seperti yang biasa dilakukan karena Mama pasti akan marah padanya. “Sudahlah, besok saja dipikirkan lagi,” ujarnya sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan berusaha untuk tidur.

“Waktu kita tinggal dua hari lagi lho Ta, kamu yakin semuanya bisa selesai tepat waktu?” Pertanyaaan Lili membuat Tita semakin bingung.
“Aku juga gak terlalu yakin Li tetapi harus dicoba. Bagaimana bisa tahu kalau belum mencoba?”
“Benar juga ya. Baiklah semoga berhasil. Ayo kita masuk kelas! Miss Vena sudah datang.”
Tita membuka buku kreasi barang bekasnya dan mulai membuat sesuai dengan instruksi yang diberikan. Dia memotong serong kardus menjadi dua bagian. Sangat hati-hati karena gunting yang digunakan tajam sekali. Potongan kardus itu, Tita mengabungkan dengan posisi satu mendatar dan satu lagi posisi berdiri. Tidak lupa direkatkan menggunakan double tape.
Tita membuat roda dengan mengisolasi dua sendok susu untuk roda di sisi kanan dan dua sendok susu lagi untuk yang di sisi kiri. Setelah roda jadi dia menempelkannya di kardus yang sudah dipotong tadi. Kali ini dia merekatkan roda dengan isolasi. Sekarang tinggal menggabungkan dua sendok susu lagi membentuk sudut yang akan digunakan sebagai pengeruk tanah. Pengeruk tanah itu dipasang di atas kardus yang mendatar. Viola! Jadilah mobil bego kreasi Tita.
Rasanya puas memandang mobil bego buatannya. Namun masih ada satu hal lagi yang masih mengganjal di hatinya.
“Ma, boleh kita ngobrol sebentar?” tanya Tita yang menyembul di ruang kerja Mama.
Mama tidak segera menjawab. Dia membereskan pola-pola baju yang akan dijahitnya terlebih dahulu.
“Ada apa sayang? Tumben pake nanya dulu. Biasanya langsung ngomong aja.”
“Tita besok mau bercerita di depan kelas Ma. Tentang cita-cita Tita.”
“Kata kamu masih rahasia. Apa sekarang kamu sudah siap membocorkan rahasia itu ke Mama?”
Tita diam sejenak. Dia berpikir tidak ada gunanya lagi merahasiakan ini dari Mama. Besok Mama akan datang ke sekolah untuk menghadiri undangan Pesta Kreasi Anak di SD Tumbuh. Sekolah Tita. Mama pasti akan tahu semuanya.
“Mama janji gak akan marah ya?”
“Kenapa harus marah sayang?”
“Karena cita-cita yang ingin Tita ceritakan besok itu adalah arsitek. Cita-cita anak laki-laki. Kata Mama Tita itu anak perempuan jadi harus punya cita-cita anak perempuan juga seperti guru atau mama rumah tangga.”
Mama tersenyum lembut. Rupanya anak perempuannya takut dan merahasiakan cita-citanya karena ingat apa yang pernah dinasehatkan Nenek Tita padanya.
“Sayang, dulu Nenek pernah menasihati Mama tentang cita-cita. Bahwa anak perempuan itu tidak boleh punya cita-cita yang tinggi karena dulu anak perempuan tidak diperbolehkan sekolah di tempat yang sama dengan laki-laki. Laki-laki dan perempuan dibedakan. Tetapi sekarang semua sudah berbeda sayang, laki-laki dan perempuan sama.”
“Jadi Mama gak marah kalau Tita mau jadi arsitek?”
“Tentu saja tidak sayang. Kamu boleh jadi apapun yang kamu suka. Eh coba Mama lihat apa yang sudah kamu buat.”
“Ini mobil bego Ma. Bisa bantu arsitek untuk mengeruk tanah.”
“Oke. Ada lagi yang akan kamu buat dan yang Mama bisa bantu?”
“Ya Ma, Tita mau buat bangunan-bangunan dari kardus.”
“Baiklah, ayo kita buat ibu arsitek! Mama jadi asistennya.”

Tita memeluk Mama erat, “Makasih Ma, Tita sayang Mama.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design