Minggu, 10 April 2016

PUDING COKLAT

Hari itu sangat panas ketika Yulia mengayuh sepedanya untuk pulang ke rumah. Biasanya dia pulang bersama kakak Filan tetapi hari ini kakaknya meminta dirinya utuk pulang duluan. Kakak ada kerja kelompok.

Yulia mengayuh sepeda dengan cepat karena perutnya sudah keroncongan dan tenggorokannya terasa sangat kering. Dia membayangkan ketika sampai di rumah, dia membuka lemari es dan menemukan puding coklat kesukaannya dengan fla vanilla di atasnya. Aroma coklat, manisnya fla, dan sensasi dingin yang menyegarkan sungguh sangat pas ketika udara terik seperti siang ini. Ah! Pasti sangat enak. Yulia semakin mempercepat mengayuh sepedanya.
Sesampainya di rumah, tanpa mengganti baju terlebih dahulu, Yulia langsung menuju ruang makan dan membuka lemari es. Voila! Dengan wajah kecewa Yulia menutup kembali pintu lemari es. “Pasti hari ini Mama lupa,” batin Yulia.
Dengan langkah gontai Yulia berjalan menuju kamarnya. Pikirannya bercampur aduk. Hari ini adalah hari yang istimewa buat Yulia. Namun kenapa semua orang tampak seperti tidak mengingat hari apa ini. Yulia memahami jika Mama tidak sempat menyiapkan bekalnya setiap pagi karena harus berangkat kerja seusai subuh. Jika tidak, Mama pasti terlambat. Lagi pula, Yulia lebih suka menyiapkan sarapannya sendiri. Yulia suka sekali memasak seperti kakak Filan. Sejak TK B, Mama memang sudah mengajarkan kakak Filan dan Yulia untuk memasak. Masakan sederhana seperti menggoreng telur, sosis dan bakso sayur yang Mama buat sendiri di malam hari.
“Mama kamu gak bisa masak ya?”
 “Mama kamu sibuk ya?”
Silih berganti pertanyaan-pertanyaan teman-teman Yulia muncul di benaknya. Yulia merebahkan tubuhnya di tempat tidur dengan pakaian putih merah yang masih melekat. Sebenarnya Yulia bisa buat puding coklat sendiri tetapi hari ini kan beda. Yulia ingin Mama yang membuat. Hanya untuk hari ini saja.
“Hanya puding coklat kesukaanku saja Mama belum juga sempat membuatkan. Padahal hanya hari ini saja.”
Di dapur, ada yang sedang memasak dengan penuh kehati-hatian. Pelan-pelan, berusaha tidak membuat kegaduhan.
“Filan, Mama lupa beli gula ya?”
“Gak apa Ma. Biar Filan yang beli di warung bu Eka.”
“Makasih ya kakak.”
Yulia akhirnya terlelap dalam tidur siangnya. Nyenyak. Tidak mengetahui kegaduhan yang terjadi di lantai bawah.
“Ma, aku aduk-aduk terus ya biar semua tercampur? Ada tulisannya di bungkus pudingnya.”
“Ya kakak, itu namanya instruksi atau cara membuat.”
“Kenapa sih Ma harus dikasih cara membuatnya? Bagaimana kalau yang buat gak bisa baca?” tanya Filan masih terus mengaduk cairan puding yang ada di panci.
“Kira-kira gimana kalau kakak Filan yang gak bisa baca tapi mau buat puding coklat itu?” ujar Mama bertanya balik.
“Ya aku minta tolong Mama buat bacain, tapi kan Mama gak tiap hari bisa bantuin aku atau Yulia,” desah Filan.
“Memang kak Filan suka kalau tiap hari kita bisa masak sama-sama seperti ini?”
Wajah Filan berubah menjadi murung. Ingin sekali dia menjawab iya untuk pertanyaan Mama. Namun kalau Mama berhenti bekerja hanya untuk menemani dirinya dan Yulia lantas siapa yang akan membiayai semua kebutuhan keluarga.
“Kok diem kak?”
“Gak apa-apa kok Ma. Ayo cepat kita selesaikan ya Ma, nanti keburu Yulia bangun,” elak Filan seraya mematikan kompor.
Mama berusaha menahan diri. Ada hal yang memang ingin dia bicarakan dengan kedua anaknya. Namun Mama harus menunggu.
“Dedek bangun!”
Filan menggoyang-goyang tangan Yulia. Yulia masih belum bangun. Filan tidak kehabisan akal. Dia mengambil jam weker yang ada di meja belajar adiknya, diaturnya tepat dia angka empat. “Kriiiiiiiiiiing.” Suara jam weker yang nyaring membuat Yulia terkejut dan langsung bangun dengan posisi terduduk.
“Kakak jahaaaaaat!”
Tanpa menunggu lagi, Mama yang sudah bersiap dengan puding ulang tahun langsung menyanyi sambil meletakkan puding di pangkuan Yulia.
“Selamat ulang tahun ya dedek, semoga tambah pinter,” ucap Mama mencium pipi Yulia.
“Loh kok ada puding coklat?” Yulia bingung karena waktu pulang sekolah tadi puding itu belum ada.
“Ya kakak buru-buru buat lah sama Mama. Selamat ulang tahun ya dek. Mandi dulu sana, nanti kita sama-sama makan pudingnya di bawah. Ok!” kata Filan sambil membawa puding coklat dan berjalan ke luar kamar Yulia.
“Mama tunggu di bawah ya dek,” ujar Mama sambil menyusul langkah Filan.
“Ternyata Mama sama kakak gak lupa,” guman Yulia senang.

Satu loyang puding coklat telah tandas. Kini Mama, Filan dan Yulia duduk di ruang keluarga sambil memegang perut tanda kekenyangan. Perayaan ulang tahun yang sederhana tetapi bagi Yulia itu sudah lebih dari cukup. Bukan pesta yang penting. Namun perhatian dan kebersamaan bersama Mama dan kakak Filan yang sangat dia inginkan. Dan satu lagi yang tidak boleh ketinggalah, tentu saja puding coklat kesukaannya.

2 komentar:

  1. jadi inget mamah d rumah, kadang suka iseng bikin coklat buat cemilan saya smbil nulis

    BalasHapus
  2. Wah salam buat mamanya ya. Senang pasti dibikinin cemilan buat temen nulis.

    BalasHapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design