Sabtu, 16 April 2016

MUNGIL

Penyakit ini membuatku pusing. Pusing? Apakah karena aku terlalu banyak memikirkanmu? Oh Mungil, hampir tiap malam aku selalu meluangkan waktu untuk memikirkanmu. Apa kau tahu itu?
Nyeri di ulu hati, mungkin sebagai bentuk pelampiasan. Ya, karena aku tahu pasti kita tak mungkin bersatu. Namun sampai kapan kau akan menyiksaku seperti ini, Mungil?
Tiba-tiba demam menyerangku, suhu tubuhku terus saja meningkat. Meskipun sudah ku minum obat penurun panas tetapi sepertinya rasa rinduku akan hadirmu terlalu berkobar. Baiklah Mungil, jika dengan ini kau bisa memahami apa yang aku rasakan maka aku rela.
Mungil, ibuku tak tidur semalaman. Dia menjagaku, mengganti kain kompresan di keningku setiap lima belas menit sekali. Dia begitu lelah. Bagaimana aku bisa egois seperti ini? Mungil, aku tak tega melihat kekuatiran yang terbersit di mata ibu.
Aku tergeletak lemah tak berdaya. Di ruangan yang beraroma obat-obatan, tempat yang paling aku benci. Namun di sinilah aku saat ini. Mencoba berdamai dengan keadaan. Hanya bisa pasrah ketika suster datang untuk mengambil darahku agar bisa memastikan apa sebenarnya penyakit yang bersarang di tubuhku.
Awalnya tak tega, sungguh aku tak tega. Bagaimana aku bisa lakukan itu? Kau tak bersalah. Bagaimana aku bisa mengambil keputusan? Kau begitu mungil. Itulah kenapa aku memanggilmu, Mungil. Kau terlihat begitu rapuh. Tak berdaya. Kau tak pantas menjadi luapan kemarahanku. Ya, apa salahmu? Tetapi ternyata rasa tak tegaku menyerang balik. Layaknya senjata makan tuan. Aku terkapar, tak berdaya.
Kau ternyata tak mau tinggal diam. Kau memanfaatkan perasaan sensitifku. Rasa tak tegaku. Kau mulai menggangguku. Kau mulai menghantuiku. Aku telah berkorban agar kau bisa tetap hidup. Apa balasanmu padaku? Malam-malam melelahkan di ruangan sempit. Ditemani ibu yang kelelahan dan penuh kekuatiran. Aku rela memberikan apa yang paling berharga, darahku. Namun apa yang berikan sebagai balasannya. Rasa pusing, demam, nyeri ulu hati.
 "Mungil, aku ingin bisa tidur nyenyak. Bisakah kau berhenti menganggu ku?"
Kau mungkin mengindahkan peringatanku. Namun tidak dengan keluargamu. Tanpa belas kasihan mereka menggerayangi tubuhku. Berusaha mendapatkan sebanyak yang mereka mampu. Mereka tak lagi peduli. Mereka ingin melepaskan diri dari rasa haus. Aku tak kuat. Aku tak mampu. Aku tak lagi sanggup. Aku sungguh menyesal harus melakukan ini. Aku tak ingin lagi bermalam di ruangan beraroma obat yang menyengat. Sudah cukup waktu empat minggu yang menyiksa. Berteman dengan obat-obatan yang seolah bergantian masuk ke tubuhku. Cukup sudah!

 Kuraih raket yang ada di seberang tempat tidurku. Berusaha membuat gerakan setenang dan sefokus mungkin agar tak terduga. Pletek..Pletek..Zzz.. 
"Mati k
alian nyamuk-nyamuk Aedes Aegypti!" sorakku lega sambil meletakkan kembali raket listrik ke tempat semula.

2 komentar:

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design