Rabu, 13 April 2016

MARAH

“Ajukan aja surat pengunduran diri kalau usia kandunganmu udah masuk enam bulan!” perintah Andes, suami Maya.

“Kenapa harus resign sih Pah? Kan aku punya jatah cuti melahirkan tiga bulan,” sanggah Maya meminta pengertian.
“Terus kalau kamu kerja, siapa yang akan mengurus anak kita?”
“Kan Mamaku udah bilang ke Papah kalau siap bantu mengurus anak kita.”
“Aku mau kamu. Titik.”
Tangisan bayi laki-laki menggema. Sungguh ada rasa marah yang menyelinap di hati Maya. Marah karena setelah tangisan pertama itu terdengar maka dunianya akan berubah. Dari wanita karir menjadi ibu rumah tangga. Hari-hari yang biasanya diisi dengan deadline dan laporan-laporan keuangan menjadi hari-hari bergelut dengan cucian kotor, memasak untuk suami, belum lagi popok-popok bayi laki-laki beraroma air kencing atau kotoran-kotoran berwarna hitam pekat. Tak akan lagi ada setelan kerja yang modis atau gaun cantik saat menghadiri acara tahunan penghargaan untuk pegawai teladan. Berganti baju daster beraneka warna dan model yang berbeda.
Aaarrrgghhh! Semakin marah ketika mengingat berat badan yang setiap bulan bukannya menunjukkan penurunan malah semakin meningkat saja. Belum lagi rambut mahal yang terus-menerus rontok. Padahal setiap bulan, Maya menghabiskan biaya minimal lima ratus ribu rupiah. Bertambah marahlah dia.
Semua perhatian suami tertumpah untuk si bayi laki-laki itu. Maya kembali memupuk kejengkelannya pada bayi laki-laki itu. Bukankah dia juga butuh perhatian. Bukankah seharusnya dia juga sama pentingnya dengan bayi laki-laki itu. Kenapa Maya menyebutnya si bayi laki-laki? Apakah bayi itu tidak punya nama? Tentu saja bayi laki-laki itu punya nama. Namun kemarahan Maya tak menyisakan sedikit ruang untuk mengingat nama bayi laki-laki yang lahir dari rahimnya sendiri.
Berbeda dengan Maya, Andes sangat bahagia. Rasa indah yang tak terlukiskan  dengan kata adalah saat setelah Andes selesai mengumandangkan adzan dan iqomah di telinga bayi laki-lakinya. Noah Langit Putra. Langit, si putra kedamaian. Anak yang diharapkan mampu memberikan kedamaian.
Setelah subuh usai, Andes membawa Langit jalan-jalan dengan baby strollers. Menghirup udara segar hingga sinar matahari hangat menyinari kulit Langit yang masih keriput.
Andes menyiapkan baju lengan panjang, popok, gurita, sarung tangan, kaus kaki dan kain untuk membedong. Semuanya diletakkan di dekat perlak, agar mudah dijangkau Maya setelah selesai memandikan Langit. Tidak lupa minyak telon, pembalut kasa untuk tali pusar, betadine, minyak rambut, dan baby lotion.
Sangat mengagumkan ketika melihat Maya memandikan Langit. Langit akan bergerak seolah merespon air yang membasahi tubuh mungilnya. Hanya bergerak lembut, tidak ada tangisan.
“Bu Ndang, sudah dengar belum gosip terbaru di kompleks kita?”
“Gosip apa bu Sastro? Saya baru dengar kalo si Nuning mau pindahan ke kampung sebelah karena diusir suaminya,” jawab bu Ndang yang merasa ketinggalan berita.
“Ah, kalo itu sih udah kadaluarsa bu Ndang. Gosip terbaru, suami si Maya pegawai Bank Titil itu jadi edan.”
“Edan? Gila maksudnya bu Sastro?”
“Ya, gila. Masa tiap habis subuh dia bawa jalan-jalan boneka di kereta bayi. Terus bonekanya di bolak-balik di kasur kecil yang ditaruh di depan rumah. Dijemur katanya biar bayinya gak kuning. Kasihan.”
“Kok bisa gitu bu Sastro?”
“Bayinya baru umur dua bulan, dibawa kabur sama orang yang mengaku sebagai saudara jauh istrinya. Jadi waktu dia selesai buat minuman, saudaranya itu udah gak ada di ruang tamu. Dia pikir mungkin di kamar mandi. Eh waktu mau ke kamar mandi lewat depan kamar tidurnya, bayinya udah gak ada. Hilang.”
*****
Maya memandangi Andes yang sedang menimang-nimang bayi laki-lakinya. Di bawah sinar matahari pagi yang hangat, saat yang paling membahagiakan. Bayi laki-lakinya itu akan menggerak-gerakkan tangan atau kaki. Merespon kehangatan yang diberikan matahari. Mungil dan menggemaskan. Bayi yang berupa khayalan.
Maya memeluk Andes dari belakang. Kemarahannya yang menyelamatkan. Menyelamatkan dari rasa frustasi kehilangan bayi laki-lakinya. Bayi yang baru dua bulan menjadi miliknya dan suami. Bayi laki-laki yang entah dimana sekarang.

“Berdoa aja semoga Langit dapat yang terbaik ya Pah, sekarang ayo kita masuk! Papah udah ditunggu dokter Pras untuk terapi,” ujar Maya seraya menggandeng Andes masuk ke ruangan terapi di RSJ Magelang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design