Sabtu, 09 April 2016

KESALAHPAHAMAN

Perubahan itu tampak mendasar terlihat pada Ira. Sekarang ia lebih pendiam, dan sebagainya. Ia melakukan yang tidak pernah Ia lakukan.
“Ira kamu kenapa sih. Kamu tampak berubah sejak bertemu dengan Ari tempo hari” tanya Ina pada sahabat lamanya.
“Aku hanya ingin sendiri dan merenungi segala sesuatu yang telah aku jalani selama ini dengan Ari” jawab Ina santai
“Oke kalau kamu gak mau cerita sama aku nggak apa-apa” ujar Ina sambil melangkah meninggalkan Ira yang sedang merenung di taman sekolah.
Memang sejak bertemu dengan Ari, Ira berubah total. Di dalam kelas ia sering melamun. Ia sering menyendiri dan menjauhi teman-temannya.
“Mama, Ira pulang” ujar Ira sambil memasuki kamarnya
“Ira tunggu dulu mama mau bicara sama kamu” kata mama sambil mendekati Ira. Ira mendekati mamanya dan siap-siap untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan mamanya
“Ira tadi ada teman kamu yang menelepon, katanya nanti kamu ditunggu les piano di tempat biasa” ujar mama
“Baik ma, Ira akan datang tapi Ira mau ganti baju terus tidur” kata Ira sambil berjalan menuju kamarnya
“Kamu nggak makan dulu sayang” ujar mama mengingatkan
“Nggak ma, Ira nggak lapar” jawab Ira
“Ira, kamu kan tadi pagi belum sarapan”
“Ira gak lapar ma, ya sudah ma, Ira mau ganti baju dulu” jawab Ira
“Ya sudah kalau kamu nggak mau makan. Kalau sakit mama nggak mau tanggung” kata mama
Ira memasuki kamarnya. Ia berbaring di tempat tidurnya sambil membayangkan masa-masa indah bersama Ari. Saat hubungannya belum berakhir dengan Ari semua terasa indah. Tapi hubungannya itu sudah berakhir dan hanya kenangan.
“Ira” panggil mama
Ira tersentak dan membuyarkan semua lamunanya tentang Ari.
“Ira ada temanmu, katanya mau les piano” ujar mama
“Sebentar ma, Ira mau mandi dulu. Suruh dia tunggu sebentar” kata Ira
“Baiklah, tapi cepat ya, jangan biarkan temanmu menunggu terlalu lama” ujar mama
“Baik ma” ujar Ira singkat
Ira turun dengan rapi.
“Ina ayo kita berangkat” ujar Ira
“Aku bukan Ina, aku Dina, Ir” kata Dina
“Mau apa kamu kemari? Kamu mau menyakiti aku lagi? Apakah kamu belum puas merampas Ari dari aku” kata Ira
“Aku tidak bermaksud menyakiti kamu tetapi...”
Belum sempat Dina melanjutkan ucapannya, Ira sudah memotong ucapan Dina.
“Kamu mau merebut Ari dan kamu mau membuat aku putus asa” kata Ira
“Ira aku tidak memulai tapi Ari yang memulai” kata Dina membela diri
“Aku sudah lama mengenal dia dan aku tahu benar sifat dia. Mana mungkin dia mulai kalau tidak ada yang memulai” kata Ira
Dina tidak bisa membela diri lagi.
“Oke, sudah dulu bincang-bincangnya. Aku sudah ditunggu Ina untuk les piano”
Ira melangkah pergi meninggalkan Dina yang sedang kebingungan.
Di tempat les, semua murid sudah hadir. Tinggal Ira yang belum hadir. Karena datang terlambat tidak seperti biasanya, Ira ditanya oleh gurunya.
“Kenapa kamu datang terlambat Ira?” tanya gurunya
“Tadi ada teman saya yang datang ke rumah pak, jadi saya harus menemaninya dulu” jawab Ira
“Baiklah segera duduk di tempatmu. Kita akan segera memulai pelajaran” ujar gurunya
“Baik pak” jawab Ira singkat
Setelah les piano usai, Ira pulang sendiri. Tetapi Ina menghampiri sahabatnya yang sedang kecewa.
“Ira, sebenarnya apa yang terjadi denganmu?” tanya Ina
“Ina, sebenarnya aku sedang kecewa karena Ari memutuskan aku tanpa alasan yang jelas dan sekarang ia pacaran dengan Dina” jawab Ira panjang lebar.
“Oh begitu ceritanya. Kamu tahu nggak kalau sebenarnya Dina itu iri sama kamu, karena itu dia mencoba memisahkan kamu dengan Ari dan sekarang rencananya sudah berhasil” ujar Ina
“Ya sudahlah, toh semuanya sudah terjadi. Aku akan berusaha melupakan Ari” ujar Ira
“Ira, aku teman kamu sejak SD. Aku tahu bagaimana sifat kamu. Kamu sangat mencintai Ari. Mana mungkin kamu dapat melupakan Ari begitu saja” kata Ina
“Baiklah, rumahku sudah hampir sampai. Kamu mau mampir nggak?” tanya Ira
“Nggak ah, sudah malam nih. Nanti aku dimarahin sama mama karena telat pulang” jawab Ina
“Ya udah” kata Ira singkat
          Tiba di rumah, Ira disambut mamanya.
“Ira, kamu tidak makan sayang? Dari pagi kamu belum makan “ tanya mama
“Aku nggak lapar, ma” jawab Ira
“Ira sayang, nanti kamu sakit” ujar mama memperingatkan
“Mama jangan paksa Ira. Sudah dulu ya, ma. Ira mau ngerjain PR dulu.” Ujar Ira
“Ya sudah kalau kamu nggak mau makan.” Ujar mama
Ira memasuki kamarnya dan setelah itu ia merebahkan tubuhnya di kasurnya yang empuk. Kepalanya terasa penat, entah apa yang dipikirkannya. Lalu tanpa sadar ia tertidur lelap.
“Ira, Ira sayang bangun. Sudah siang. Kamu mau sekolah atau nggak
 sayang. Ayo bangun!” ujar mama sambil membuka jendela.
Ira membuka matanya tapi dia masih merasakan pusing. Ia bangun, terjatuh dan pingsan.
“Ira, kenapa kamu sayang?” ujar mama
Sambil berlari mama menuju ruang tengah untuk menelpon dokter.
Sementara itu di sekolah, Ina tampak kebingungan melihat Ira tidak juga muncul padahal 5 menit lagi bel masuk. Ia berusaha mencarinya kemana-mana tetapi tidak ketemu juga. Akhirnya ia bertanya kepada Ari.
“Ari, kamu lihat Ira nggak? Biasanya ia sudah berangkat jam segini, tapi kok belum sampai-sampai” tanya Ina kepada Ari.
“Maaf Ina, aku nggak melihat Ira karena aku dari tadi di sini dengan Dina” jawab Ari
“Oh, jadi kamu dari tadi sama cewek tukang gosip ini yang telah membuat kecewa Ira kan” ujar Ina
“Ina jaga ucapanmu, aku tidak suka dengan ucapan kamu itu” kata Ari jengkel
“Itu kenyataan, dengan mulutnya yang kotor itu, ia telah meracuni diri kamu supaya putus dengan Ira.” kata  Ina lagi
“Ari itu benar. Aku telah berbohong sama kamu tentang Ira karena aku iri dengan kalian” ujar Dina sambil menundukkan kepala.
“Dina teganya kamu berbuat seperti itu sama aku dan juga Ira. Apakah kamu tidak tahu bagaimana dikecewakan orang yang kita cintai” ujar Ari tidak percaya
“Baiklah, aku bersedia menjelaskan semua ini kepada Ira” ujar Dina
Pulang sekolah mereka langsung ke rumah Ira. Ternyata Ira sedang sakit.
“Ira aku minta maaf sama kamu karena aku telah membuat kamu jadi begini” ujar Dina menyesali
“Nggak apa-apa kok din” ujar Ira
“Baiklah, biarkan aku bicara sama Ira berdua saja” kata Ari
Setelah Ina dan Dina pergi Ari mulai bicara.
“Ira maafkan aku. Seharusnya aku tidak percaya yang dikatakan Dina terhadapku tentang dirimu” ujar Ari
“Nggak apa-apa Ri, aku tahu kamu terlalu emosi waktu Dina mengatakan itu padamu. Makanya kamu percaya sama dia” ujar Ira
“Terima kasih Ira. Kamu memang kekasih yang baik dan pengertian” ujar Ari sambil mengecup kening Ira.

Sekarang kesalahpahaman di antara mereka sudah usai. Ternyata Dinalah yang menginginkan mereka berpisah karena Dina iri pada mereka. Tetapi itu menjadi pelajaran buat ari dan Ira untuk saling percaya satu sama lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design