Kamis, 21 April 2016

Kartini, Berjasakah Engkau?

Pasti sepanjang perjalananmu menuju kantor, ada pemandangan yang berbeda. Ada anak-anak yang semakin imut menggunakan kebaya encim, baju daerah, atau baju profesi.

Perayaan hari kartini, sejak dulu kamu sekolah sampe sekarang kamu mau sekolahin anak. Apakah sama?

Tanggal 20 April sore kita sudah keluar masuk salon untuk menyewa baju adat. Baju adat yang akan digunakan untuk merayakan hari Kartini. Baju-baju adat sudah ludes layaknya ayam goreng krispi. Laris manis.

Sebentar, sebentar. Siapa itu Kartini? Kenapa kita perlu merayakan? Kenapa juga harus pakai baju adat? Apa hubungannya Kartini dengan baju adat?

Siapa itu Kartini?

Kartini atau yang bernama lengkap Raden Ajeng Kartini. Lahir di Jepara, 21 April 1879. Dia adalah bangsawan yang ternyata tidak boleh sekolah tinggi-tinggi. Kartini hanya lulus Sekolah Rakyat atau setingkat Sekolah Dasar. Dia bangsawan, anak orang berada kok hanya lulus SD? Karena pada zaman itu, patrilineal dan feodal berkembang pesat. Wanita hanya berurusan dengan dapur, sumur, dan kasur. Tidak ada pendidikan yang bisa membuat wanita jadi lebih berwawasan.

Kenapa kita perlu merayakan?

Kartini berjuang agar wanita bisa sekolah lebih tinggi. Itulah kenapa kita perlu merayakan. Kita harus ingat betapa Kartini berjuang agar di masa mendatang kita bisa mendapatkan pendidikan tinggi yang layak.

Apa gunanya sekolah tinggi bila ujung-ujungnya yang kita hanya macak (dandan), masak, dan manak (melahirkan)?

Bagaimana perasaan Kartini jika tahu perjuangannya tidak terlalu berhasil. Tidak terlalu berhasil karena masih banyak yang bertanya, "Kamu kan ibu rumah tangga, buat apa sekolah tinggi sampai jadi sarjana?". Mereka belum memahami bahwa ibu-ibu yang katanya tidak perlu sekolah tinggi karena hanya dirumah itu harus juga mengikuti perkembangan zaman. Zaman dimana anak SD harus menyelesaikan PR yang dulu ibunya kerjakan saat duduk di bangku SMP. Lha kalau ibunya hanya lulus SD, bagaimana dia bisa membantu anaknya menyelesaikan PR?

Merayakan dengan cara yang bisa membuat bangsa ini paham bahwa wanita dengan pendidikan tinggi itu suatu kewajaran. Wajar karena dialah yang nantinya mendidik calon-calon pemimpin dan penerus bangsa. Kalau wanita tidak punya pengetahuan, lantas bagaimana nasib anaknya?

Aku tidak protes saat harus memakai kebaya untuk merayakan hari lahir Kartini. Namun setelah perayaan yang mewah karena harus menyewa kebaya itu berakhir, apa yang aku dapatkan? Pengurangan uang saku keesokan harinya karena potongan dari sewa kebaya.

Aku tidak paham inti dari perjuangan Kartini saat itu. Barulah sekarang saat sudah jadi emak. Aku baru tahu bahwa butuh pengetahuan dan juga variasi ilmu untuk bisa menjawab pertanyaan: "Ibu, darimana aku keluar? Kalau adikku keluar dari perut?"

Setelah jadi emak, aku tahu bahwa ilmu dan wawasan yang luas sangat membantuku menghadapi hari-hariku mendidik anak-anak, menghadapi tetangga rese, atau saat harus menghadapi tekanan-tekanan sosial.

Merayakan betapa akses pendidikan yang Kartini perjuangkan bisa dinikmati para wanita sekarang meskipun belum merata.

Lalu bagaimana dengan baju adat, kenapa harus memakai baju adat saat merayakan hari kartini? Belum ada alasan yang akurat dan bijak yang menjelaskan tentang itu.

Namun yang pasti, setiap tahun akan ada keriweuhan dan kerempongan emak-emak untuk merayakan hari Kartini. Mulai dari menyewa baju, bangun pagi untuk ke salon, atau tangisan melengking putri-putri mereka saat baju yang dipakai tidak sesuai yang diharapkan. Belum lagi putri-putri yang mogok sekolah karena kehabisan kostum. Walaupun pada akhirnya putri-putri mereka belum juga mengerti inti perjuangan Kartini, setidaknya mereka bisa menjelaskan bahwa butuh perjuangan untuk bisa masuk sekolah hari ini dengan baju adat dan riasan yang memesona.

21 April 2016
Ibu kita Kartini, tahun ini aku bertanya: apakah kau berjasa telah berjuang untuk mendapatkan pendidikan?
Tentu saja kau berjasa, tanpa kau mungkin hari ini aku tidak akan bisa menulis tentangmu karena sibuk mencuci pakaian orang lain. Jadi buruh dan tidak kepikiran untuk hal lain selain membuat perut anak-anakku kenyang. Kenapa? Aku pasti hanya lulusan SD yang cuma bisa bekerja kasar. Tanpa skill yang bisa dimanfaatkan mengubah nasib.

Terima kasih untuk perjuanganmu sehingga aku bisa jadi sarjana.

Terima kasih karena kau, wanita punya banyak peluang dan kesempatan mengubah taraf hidup mereka. Terima kasih ya ibu Kartini.

Maafkan kami mengeluh saat harus keluar masuk salon untuk menyewa baju adat untuk merayakan hari lahirmu.

Maafkan kami yang riweuh dan rempong pagi-pagi untuk merias putri-putri kami yang akan menghadiri pesta ulang tahunmu.

Doa kami untukmu, kau bahagia dan mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design