Selasa, 12 April 2016

HARI HEWAN PELIHARAAN

“Papa, besok di sekolah Bagas ada hari hewan peliharaan,” celoteh Bagas menggelanyut di tangan Papanya yang sedang membaca koran.
Papa menutup lembaran koran yang sedang dibaca lalu meletakkan koran di rak atas meja.
“Bukannya bulan lalu Bagas sudah pernah bawa hamster ke rumah?” tanya Papa memastikan
“Iya Pa, kan ini udah bulan baru jadi hari hewan peliharaannya ada lagi.”

Di sekolah Bagas, setiap bulan diadakan hari hewan peliharaan. Anak-anak dijadwal untuk secara bergiliran membawa hewan ke rumah untuk dirawat selama seminggu. Pihak sekolah yang menentukan hewan apa yang akan dibawa oleh anak-anak. Pihak sekolah juga yang menyediakan hewan yang akan dibawa. Selama satu minggu, anak-anak diwajibkan merawat hewan peliharaan itu dengan dibantu orang tua. Mereka diminta mencari segala informasi yang berkaitan dengan hewan yang mereka rawat selama seminggu itu. Apa makanannya? Bagaimana cara memandikannya? Bagaimana kalau hewan itu sakit? Setelah semua anak satu kelompok mendapat giliran, maka anak-anak diminta bercerita tentang pengalamannya merawat hewan tersebut. Cerita yang dinilai paling bagus akan mendapatkan hadiah dari guru.
Bagas terlihat sibuk esok harinya di sore yang cerah. Membersihkan kandang, membuat susu, mengganti sisa makanan yang kotor dengan makanan yang baru dituang dari kemasannya. Papa yang baru pulang kantor juga dicuekin. Bagas terlalu konsentrasi.
“Papa pulaaang...” teriakan Papa yang akhirnya membuat Bagas menoleh.
“Papa lihat! Miss Lili memintaku merawat seekor angora.”
Belum sempat Papa bertanya, Bagas sudah mulai menjelaskan.
“Angora ini adalah kucing yang mempunyai ukuran badan sedang, gaya lemah gemulai dan anggun. Ekor Angora berbulu tebal dan mengembang seperti ekor musang, Pa. Hidungnya mancung dan telinga lebar,” jelas Bagas panjang lebar.
 “Apa Bagas tidak salah informasi? Menurut Papa itu kucing Persia deh.”
“Kalau kucing Persia badannya pendek dan besar terus bulunya panjang diseluruh tubuh dan yang paling beda adalah muka kucing Persia itu pesek, Pa.”
Papa manggut-manggut. Bagas memang sangat suka dengan binatang. Dia selalu menunggu hari hewan peliharaan, dia sangat bisa diandalkan untuk merawat binantang. Namun, sangat sulit meminta Mama setuju untuk menghadirkan binatang peliharaan di rumah. Kali ini, Mama belum tahu jika ada seekor kucing angora di rumah, Mama sedang melakukan perjalanan bisnis ke Medan dalam rangka promosi model terbaru sepatu rancangannya.
“Iya deh, anak Papa hebat kalo urusan pengetahuan hewan-hewan. Papa mandi dulu ya, habis ini kita masak bareng. Ok?”
“Siap Pa!” ujar Bagas dengan gaya memberi hormat.
Hari ini sudah hari ketiga Bagas merawat kucing Angora. Dia sedang menyikat bulu-bulu kucing Angora ketika terdengar suara mobil masuk ke garasi. “Itu pasti Mama,” simpul Bagas  sambil berlari menuju garasi untuk menyabut Mama.
“Mamaaa... Bagas punya kucing Angora nih. Bagas harus merawat kucing ini seminggu buat tugas hari hewan peliharaan Ma.”
Mama yang baru saja menutup pintu belakang mobil diam mematung. Tak ada suara yang keluar untuk menyambut celotehan Bagas. Rekaman kejadian itu muncul seperti slide show. Membuat keringat dingin keluar dan detak jantungnya bergerak sangat cepat. Brakkk! Mama jatuh tak sadarkan diri.
“Pak Sidik, Mama kenapa? Cepat tolong Mama! Cepat Pak!” dengan suara panik Bagas meminta tolong pak Sidik, supir pribadi Mama.
Pak Sidik dengan cekatan membopong Mama ke kamar. Membaringkannya di tempat tidur.
“Ya Pa, dokter Hari sudah datang terus tante Ririn juga sebentar lagi datang. Papa cepat pulang ya!”
Bagas meletakkan gagang telepon ke tempatnya semula. Berjalan dengan langkah bingung ke kamar Mama.
“Mamaku kenapa dokter?”
“Mama Bagas baik-baik saja. Cuma agak kaget.”
“Kok sampe pingsan?”
“Ya karena Mama Bagas punya trauma. Kalau lihat kucing, Mama Bagas jadi ingat trauma itu.”
Tante Ririn yang baru saja datang dan mendengar pembicaraan dokter Hari dengan Bagas lantas ikut menimpali.
“Waktu Mama kamu kecil, dia punya kucing peliharaan namanya Cho-Cho. Kucing Mama kamu mati tertabrak mobil. Mama kamu trauma karena dia lihat sendiri kejadiannya.”
“Oh, itu kenapa Bagas gak boleh memelihara hewan ya Tante?”
“Ya mungkin itu salah satu alasannya.”
Bagas duduk di samping tempat tidur sambil memegang tangan Mamanya. Mama sudah sadarkan diri, terlihat sangat pucat dan lemas.
“Maafin Bagas ya Ma, Bagas gak tahu Mama trauma sama kucing.”
“Gak apa-apa sayang, kamu kan gak tahu kalau Mama punya trauma. Lagi pula, Mama sudah mulai ikut terapi agar tidak lagi pingsan kalau lihat kucing. Mama pengin kamu bisa mulai punya hewan peliharaan. Jangan gara-gara Mama, kamu gak bisa memelihara hewan. Kan Mama tahu kamu suka sekali sama hewan.”
“Ma, boleh Bagas tanya sesuatu?”
“Boleh, apa itu sayang?”
“Trauma itu apa?”

DUENG! Ternyata dari tadi Bagas mendengarkan penjelasan dokter Hari, tante Ririn tentang trauma Mama, Bagas masih belum tahu apa itu trauma. Bagas, Bagas. Mama tersenyum melihat tingkah lucu Bagas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design