Kamis, 07 April 2016

Gara dan Adik Barunya


Artikel ini ditulis berdasarkan studi kasus anak pertamaku Gian SeGara Abhipraya. Saat adiknya, Geni Alden Fadillah lahir si mamas baru berumur 2 tahun 9 bulan 23 hari.

Sejak kehamilanku yang kedua, aku dan suami mulai mencoba memberikan pengertian. Kami awalnya yakin bahwa penyesuaiannya akan mudah karena Gara anak yang mudah adaptasi. Kami ajak dia setiap bulan ke dokter kandungan agar dia melihat perkembangan adiknya.


Semua lancar hingga bulan ketujuh. Anak-anak tetaplah anak-anak. Mereka bukan orang dewasa dalam bentuk mini. Mereka punya dunia sendiri yang harus kita mengerti dan pahami. Tidak bisa memaksakan semua harus sesuai dengan rencana kita. Gara mulai dengan kata 'tidak'. Tidak untuk semua hal. Dia melakukan apa yang dia mau. Bukan apa yang diminta atau disuruh oleh orang lain. Bahkan ayah dan ibunya.

Semuanya bertambah sulit 3 minggu setelah adiknya Geni lahir. Dia mulai memutarbalikkan semua kebisaannya. Gara yang sudah bisa pipis dan buang air besar di toilet mendadak mogok. Ngompol dan berak di celana. Tentu bukan hal yang mudah bagi aku dan suamiku untuk tetap tenang. Kami beberapa kali membentak dan tidak sabar. Apalagi aku, beberapa kali mencubit dan menjewer. Meskipun setelah itu aku menangis menyesali apa yang telah aku lakukan.

Perlahan tapi pasti aku mulai belajar. Ini tidak boleh terus berlanjut. Aku harus mengambil kendali atas diriku dan juga masalah yang dihadapi Gara. Kami harus bisa berkomunikasi dan berkompromi untuk kenyamanan dan ketenangan rumah.

1. Gara bilang: "Aku gak mau makan, ibu."

Awalnya aku akan langsung bereaksi mencengkeram tangannya dan mendudukkan dia di depanku. Memaksanya makan sekeras apapun dia menolak. Nasi berceceran, Gara tantrum, dan aku dalam keadaan sangat marah. Tidak ada yang sukses. Semua berantakan.

Saat Gara tantrum (dia tidak pernah menangis hingga berteriak), aku seperti diingatkan, "Apakah benar ini yang kau inginkan?".

Tentu saja tidak, aku ingin Garaku yang manis dan mudah diatur kembali. Bukan Gara yang suka berteriak dan memberontak.

Artinya aku juga harus berhenti berteriak dan berhenti memaksakan apa yang aku inginkan pada Gara.

Aku mencoba mulai berdialog dengannya.

"Apa Gara marah?"
"Ibu yang marah. Ibu cubit aku. Aku kan sakit. Kan sakit nih," jawabnya sembari menunjukkan lengannya.
Aku bersimpuh, menyamakan tinggiku dengannya.
"Ibu minta maaf ya Nak. Ibu kasar dan cubit kamu. Kamu mau maafin ibu?"
Gara mengangguk dan aku langsung memeluknya.
"Kita baikan ya bu," ujarnya menyodorkan jempolnya dan aku langsung menyentuh jempolnya dengan jempolku.
"Aku mau makan tapi ibu jangan marah ya!"

Melihat muka memelasnya, aku luluh. Aku memang harus banyak belajar darinya. Dia lebih dewasa dariku. Aku yang terlalu egois menuntut dia harus sempurna. Padahal dia belum beranjak ke 3 tahun.

Catatan: jika anak menolak makan atau aktivitas apapun yang kita suruh maka kita coba untuk berdialog. Kita mungkin terkejut dengan kemampuan anak kita dalam berkomunikasi. Kadang apa yang kita pikir belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Kenyataannya anak-anak kita lebih bisa menyikapi hal-hal jauh lebih positif ketimbang kita orang dewasa.

2. Gara sayang adiknya, aku ibunya yang berpikiran buruk jika dia cemburu

Banyak orang tua yang berpikiran jika anak pertama mereka cemburu buta dengan adik barunya dan bisa melakukan hal-hal yang berbahaya pada adiknya. Itu pikiran yang salah.

Saat Geni menangis dan aku sedang mandi, Gara mengetuk pintu kamar mandi, "Ibu, dedeknya nangis tuh. Haus."

See, tidak semua kakak cemburu. Kadang kita saja yang terlalu berlebihan.

Gara selalu ingin berbagi dengan adiknya, waktu bermain bersama ayah juga dia bagi dengan adiknya
3. Gara mulai membantuku menjaga adiknya

Saat itu siang begitu terik. Meskipun AC sudah dinyalakan, Geni tetap saja berkeringat. Dia gelisah. Gara yang mendengar adiknya tidak berhenti menangis mendekat.

"Diem ya dek, shshsh," pintanya sambil menepuk dada adiknya. Dan ajaib, Geni berhenti menangis dan mulai memejamkan mata. 



4. Gara bermain bersama adik

Peran ayah juga sangat diperlukan agar anak bisa menyesuaikan diri saat memiliki adik. Ayah mencoba memberi pengertian kepada Gara bahwa kami, orang tuanya tetap sayang padanya. Tidak ada yang berubah.

Saat ayah bermain bersama Gara, dia mencoba melibatkan Geni. Memberi tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan Gara saat Geni ikut main. Hasilnya, ayah jadi fotografer. Hihihi...


5. Gara rela main sendiri saat ibu menyusui adik

"Ibu, dedeknya haus ya. Dedek nenen ya, mamas main dulu."

Aku tersenyum, ternyata jika aku tak lagi berteriak dan berlaku kasar pada Gara maka dia kembali jadi anak manis dan baik hati. Seperti semula, seperti yang aku dan suamiku harapkan.

Love you mamas Gara.
Semangat ya mamas, nanti kalau ayah pulang kalian bisa main berdua

4 komentar:

  1. Aaaaaahhh Bara sudah besar sekarang. Nanti kalau mudik ketemuan yaaa. Sehat selalu Gara dan Geni

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inbox no hp tante. Nanti kita janjian play date di CL ya..

      Hapus
  2. Thank you sharing-nya, Mbak Phalupi :)
    Semoga sekeluarga sehat dan bahagia selalu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mba. Tahun ini ketemuan lagi gak kita?

      Hapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design