Jumat, 29 April 2016

[Episode 2] Drama Persalinan Kedua

Ternyata drama berlanjut. Setelah kehamilan memasuki usia 35 minggu, aku diminta diet agar nantinya persalinan bisa normal. Di 35 minggu bayi sudah 2,8 kilogram.



Aku kembali kepikiran.
"Kalau berat bayinya 4 kilo ya keluarnya lewat jendela ya bu."

Cesar. Operasi. Bius yang menakutkan. Haduh. Haduh.

Harus ada rencana cadangan kalau mau lahiran normal. Kalau dokter sudah bilang begitu pasti ujung-ujungnya cesar juga. Harus coba datang ke bidan yang direkomendasikan tetangga nih. Dia bilang bidan itu sabar. Dia aja yang air ketubannya sudah kering masih bisa normal. Ditambah asisten bidannya katanya telaten. Baiklah, harus dicoba sebagai kemungkinan kedua.

Memasuki 36 minggu, aku coba cek ke bidan. Langsung sreg karena asisten bidannya pintar dan meyakinkan.

"Ibu gak papa lho berhubungan. Biar dedeknya bisa cari jalan lahirnya. Memancing kontraksi," katanya melihat kondisiku yang sudah masuk 37 minggu dengan berat bayi yang sepertinya melebihi tiga kilogram.

23 Februari pagi aku merasa seperti air ketubannya pecah. Aku meminta suami menemaniku cek bidan sebelum dia berangkat kantor. Baby Gara juga ikutan. Aku pikir belum ada bukaan karena aku belum merasakan kontrakasi.

Sampai di bidan ternyata sudah bukaan tiga dan diminta tinggal aja. Biar suami yang mengurus semua. Aku bingung karena ketuban memang belum pecah.

Yang perlu diingat ternyata, jangan mau diinfus dan disuntik perangsang kalau masih bukaan tiga dan ketuban belum pecah. Penantianmu akan jadi panjang dan penuh drama sepertiku.

Dari yang santai, tidak teriak-teriak sampai yang setengah mati harus menahan untuk tidak mengejan.

Perkiraan lahir sore ternyata belum, disuntik perangsang lagi. Sudah bukaan delapan vagina belum juga mau membuka dan menipis. Disuntik penipis vagina dua kali. Suntikan itu biasa saja tetapi harus miring kiri dan diminta untuk tidak mengejan saat rasanya ingin berak itu penyiksaan.

Waktu serasa melambat. Dari jam setengah delapan pagi hingga akhirnya bidan memperbolehkan aku mengejan dan merasakan bayi keluar di jam setengah delapan malam itu namanya perjuangan. Aku tahu ibu-ibu diluar sana punya ceritanya masing-masing.

Namun di persalinan yang kedua ini, aku merasa hampir menyerah. Aku sudah memohon pada suami untuk memindahkan aku ke rumah sakit dan dicesar. Alhamdulillah bidanku tetap mau menunggu. Normal dan keluar tangan duluan ya Baby Geni Alden Fadillah. Api semangat yang bijaksana dan mulia. Sungguh tak mengira ibu akhirnya bisa berjuang hingga akhir.
Tangisanmu adalah semangatku
Semangat saat dimasukkan selang oksigen, semangat saat harus menahan kantuk, dan semangat karena proses jahitan berlangsung lama karena pendarahan yang tak kunjung henti. Untung tak perlu transfusi walaupun aku merasa pusing yang luar biasa. Dan karena bidan serta asistennya terlalu sibuk dengan jahitan dan pendarahan, mereka lupa inisiasi menyusui dini yang bisa menghambat pendarahan.

Drama lagi saat buang air kecil harus pakai kateter. Itu sakit. Luka jahitan serasa ditusuk-tusuk. Belum lagi pas setelahnya tidak merasakan hasrat ingin pipis. Lupa bagaimana rasanya.

Setengah 9 malam, semua tindakan selesai. Inisiasi baru dilakukan saat aku di kamar inap. Baby Geni sungguh langsung menyusu pada puting saat pertama dirangsang. Tidak ada kebingungan. Tenang dan pas. Tidak menangis.

Malam itu sungguh jadi malam yang panjang karena lelah tidak membuatku tidur malah terjaga. 

Namun lega setelah jam setengah 4 dini hari, suami pamit mau membuka pintu buat papah dan mamahku. Lega karena bala bantuan datang.

"Ya begitulah melahirkan mba. Sakit," ujar ibuku saat pagi menjemputku.

Ya bu, sakitnya memang sepadan dengan hasilnya. Geni Alden Fadillah, my second baby boy in the house. Welcome home baby Geni.

Bahagia melihat kau sudah tidur di hadapanku

5 komentar:

  1. alhamdulillah....akhirnya yang ditunggu nongol juga,seneng ya mbak rasanya. bener juga,rasa sakitnya hilang ketika lihat bayi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak alhamdulillah. Kalau udah ada bayi semuanya hepi.

      Hapus
  2. "...keluarnya lewat jendela ya, Bu."
    "Ya ampuuun... jadi saya mesti ngajarin anak saya kabur lewat jendela sejak dini? Emangnya saya emak apaaan?" #ditimpukkateter :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan saya juga dengan santainya nanya "kok lewat jendela, Dok?"
      Hahaha... jendela udah sekalian dipasang tralis mba. Mana bisa kabur 😛

      Hapus
    2. Dan saya juga dengan santainya nanya "kok lewat jendela, Dok?"
      Hahaha... jendela udah sekalian dipasang tralis mba. Mana bisa kabur 😛

      Hapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design