Rabu, 20 April 2016

Diingatkan Kok Mukul? 7 Siasat Agar Anak Berhenti Memukul

Inilah yang harus dilihat saat kita merasa khilaf (picture was taken from this site)

Di masa tumbuh kembang anak, ada masa negatif dimana anak bersikap egois. Anak belum mampu memahami sudut pandang orang lain. Sehingga anak tampak ingin selalu dituruti, keras kepala, dan sulit diatur.

Memasuki usia 3 tahun. Baby Gara menjadi cepat marah dan memukul saat emak mengingatkan apa yang tidak boleh dilakukan. Hal inilah yang menjadi alasan emak membuat artikel ini. Artikel ini sekaligus pembelajaran buat emak. Artikel ini agar emak bisa menyikapi perubahan emosi baby Gara dengan lebih bijak.

Diingetin kok mukul sih? 7 siasat yang bisa kita lakukan agar anak berhenti memukul.
1. Kita sebagai orangtua harus berhenti memukul terlebih dahulu

Dari siapa anak tahu memukul? Tentu saja kita sebagai orangtuanya. Terkadang kita sebagai orangtua memukul ketika anak melakukan kesalahan. Sekali, dua kali, tiga kali. Lama-lama anak tahu bahwa jika dia ingin apa yang dia mau dituruti, dia juga akan melakukan hal yang sama. Memukul.

Baca juga: Waspada, Emak Mulai Memukul

2. Kita sebagai orangtua harus berhenti terlalu reaktif

Pada saat anak melakukan kesalahan, cermati dulu! Langsung bertindak apalagi langsung menghukum membuat anak juga melakukan hal yang sama. Kesalahan sama dengan pukulan atau kesalahan sama dengan cubitan atau kesalahan sama dengan jeweran.

Ketika kita berhenti reaktif lalu mencoba untuk mengajak anak berbicara maka dapat dipastikan anak akan mulai bisa mengalihkan reaksinya dari memukul ke berbicara.

3. Berhentilah memanggil namanya saat dia melakukan kesalahan

"Garaaa..."

Panggilan disertai lengkingan membuat anak dengan segera mengaktifkan alat pelindungnya. Dia tahu nada tinggi yang digunakan ibunya saat memanggil namanya adalah sinyal. Sinyal bahaya. Sinyal jika dia melakukan pelanggaran. Perlu kartu kuning. Tangan sudah disiapkan untuk menangkis dan memukul balik.

Jika kita orangtua ingin peperangan itu tidak terjadi lagi maka berhentilah memanggil nama anak saat dia melakukan kesalahan. Nama adalah identitas dan juga doa. Apa yang akan terjadi jika kita terus memanggil nama anak dengan teriakan waktu dia melakukan kesalahan? Tentu saja nama itu berubah menjadi alarm. Sinyal bahaya yang perlu dia waspadai.

Terus bagaimana? Ya dekati anak kita perlahan dan sentuh bahunya. Bicaralah dengan perlahan dan kepala dingin tentang apa kesalahan yang dia buat. Lakukan dialog. Buat dia tahu tentang sebab dan akibat. Bahwa setiap tindakan pastilah ada konsekuensinya. Anak harus tahu jika main api ada konsekuensi tangannya terbakar.

Ketahuilah setiap anak memiliki tahap perkembangan yang berbeda. Namun di usia eksplor dari 1 hingga 6 tahun, kita tidak bisa terlalu banyak memberikan larangan. Kenapa? Mereka sedang berusaha memahami apa yang ada di sekitarnya. Pastinya menjadi konflik ketika rasa ingin tahu mereka dianggap sebagai kesalahan.

"Tuh kan, ibu bilang apa? Tanganmu berdarah karena main pisau. Kan udah ibu ingetin. Kamu sih gak mau dengerin ibu."

Oh come on mom, you're 29 years old so you have faced everything. Pastilah ibu sudah tahu kalau pisau buat mengiris dan kalau tidak hati-hati bisa mengiris tangan. Sementara aku baru dua tahun sebelas bulan, aku sedang penasaran apa-apa yang ada di kanan kiriku. Kalau pisau itu membuat tanganku berdarah, obati sajalah bu! Jangan mengomel karena aku jadi tahu apabila nantinya aku akan berurusan dengan pisau, aku pasti berhati-hati. Berhati-hati dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Deal?

4. Beri pengertian pada anak kenapa tidak boleh memukul

Pertama-tama minta maaflah pada anak karena telah memberikan contoh yang buruk. Memukul dia saat dia melakukan kesalahan dan berharap dia tidak mengulanginya. Meminta maaf karena akhirnya anak mencontoh cara memukul itu agar orang lain atau ibu ayahnya mau mengabulkan keinginan dia.

Setelah itu berilah dia alasan kenapa kita sebagai orangtuanya memukul dia saat melakukan kesalahan. Sebenarnya itu reaksi berlebihan atas rasa panik ketika tahu anak bermain pisau. Itu bukan sepenuhnya kesalahan anak. Kita berharap dengan memukul anak jadi lebih cepat tahu bahwa itu berbahaya.

Akuilah kalau kita salah telah memukul dia. Seharusnya bukan pukulan yang diberikan tetapi pelukan.

Kenapa tidak boleh memukul? Karena itu reaksi spontan yang salah dan diwariskan oleh kakek atau nenek. Warisan yang seharusnya tidak dilanjutkan lagi oleh anak-anak kita.

Kenapa tidak boleh memukul? Karena rasa sakit tidak efektif untuk mewujudkan apa yang kita inginkan. Rasa sakit yang berulang hanya menyisakan dendam. Setelah berkali-kali dipukul maka anak akan merasa biasa saja. Tidak ada efek jera yang diharapkan akan mengubah perilakunya.

Kenapa tidak boleh memukul? Karena tidak ada gunanya memukul selain mengawali pertengkaran dan memunculkan masalah baru.

5. Beri tahu apa guna tangan

"Tangan untuk apa Nak?"
"Buat makan ibu, buat ambil mainan. Tapi kok ibu pukul Gara pake tangan? Cubit Gara sampe sakit pake tangan. Terus jewer Gara juga pake tangan."

See, anak kita akan lebih pintar. Dia akan membalikkan apa yang sudah kita lakukan. Maka dari itu sebelun terlambat didiklah diri kita dengan cara yang benar sebelum akhirnya anak kita yang berbalik mendidik kita.

6. Bacakan buku cerita agar anak bisa mengambil kesimpulan sendiri

Kesimpulan dari apa yang terjadi jika dia memukul orang lain.

Kesimpulan akan lebih melekat jika dia temukan sendiri. Bukan karena paksaan kita. Dia akan lebih memahami. Apalagi bila kita menambah pelukan dan ciuman sebagai hadiah dia telah menemukan kesimpulan itu.

Mendidik anak dengan cinta bukan dengan pukulan tentu butuh proses. Namun tidak akan memberi hasil jika kita tidak memulai.

7. Bacalah buku tentang parenting

Baca, baca, dan baca! Jangan pernah lelah untuk belajar dan berproses.

Buku-buku parenting bisa dibaca lagi saat kita kehilangan arah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design