Senin, 11 April 2016

ARTI SEBUAH PENGORBANAN

Sesuatu yang tidak pernah dirasakan, itulah yang dialami Intan. Seorang gadis SMA yang pintar, cantik, dan periang. Dia yang biasanya paling tidak suka musik yang romantis sekarang jadi suka dan keanehan-keanehan yang lain. Waktu itu Ami memergokinya pergi ke toko kaset.

“Intan, ngapain kamu disini? Nggak biasanya kamu ke toko kaset,” kata Ami curiga
“Emangnya aku gak boleh ke toko kaset?” tanya Intan.
“Tentu saja boleh, aku cuma heran melihat tingkah laku kamu,” kata Ami lagi.
Tanpa sengaja kaset Intan jatuh dan Ami melihatnya. Suara milik pria ganteng, salah satu personil Java Jive “Fatur” mungkin sudah meluluhkan hati Intan yang keras bagaikan batu dan tidak bisa bergaul dengan pria mungkin sebatas teman atau mitra kerja.
“Intan siapa sih sebenarnya pria yang kamu taksir, pasti dia pria yang ganteng, pintar, dan berprestasi,” ujar Ami.
“Walaupun dia pintar, ganteng dan berprestasi tapi kalau hatinya tidak baik mana mungkin aku mencintainya,” kata Intan.
“Dan yang mempunyai kriteria itu adalah Tomi. Dia pintar, berprestasi, ganteng dan baik hati,” kata Ami menebak.
“Kata siapa aku suka pada Tomi?” Intan mencoba mengelak.
“Aku tahu dari sikap dan tingkah laku kamu yang aneh akhir-akhir ini. Contohnya sekarang kamu lebih suka yang romantis padahal dulu kamu paling alergi sama gitu-gituan,” kata Ami meyakinkan
“Baiklah kamu menang,” ujar Intan mengalah.
Hari demi hari Intan semakin akrab dengan Tomi.
“Ami hari ini kenapa ya Tomi gak berangkat? Nggak biasanya dia absen,”
“Sebaiknya kamu ke rumahnya saja,” kata Ami memberi saran.
“Ya sudah nanti aku akan ke rumahnya,” kata Intanmenyetujui.
Pulang sekolah Intan langsung ke rumah Tomi tanpa sengaja Intan melihat Tomi meminum sesuatu dan wajahnya yang semula pucat menjadi segar kembali. Tanpa menemui Tomi dulu, Intan langsung pulang. Sampai di rumah dia memikirkan sesuatu yang baru dilihatnya.
“Tomi adalah seorang pecandu narkotik,” kata Intan dalam hati.
Pikirannya sedang berpikir keras tentang bagaimana selanjutnya. Sore harinya tanpa berpikir panjang Intan kembali ke rumah Tomi. Namun Tomi tidak ada di rumah.
“Tunggu saja di kamarnya, mungkin sebentar lagi dia akan pulang,” ujar ibunya .
“Baiklah bu,” ujar Intan sambil menuju kamar Tomi.
Disana Intan menemukan beberapa pil dan sebungkus plastik bubuk seperti tepung terigu.
“Apakah ini yang diminum Tomi tadi siang,” pikir Intan dalam hati.
Tanpa sadar Tomi telah pulang. Wajahnya seperti yang Intan lihat tadi siang. Dia tampak pucat, lemas, dan lesu.
“Dimana obatku?” tanya Tomi pada Intan.
“Ini,” ujar Intan sambil menunjukkan barang yang dicari Tomi.
“Ya, berikan padaku Intan, kumohon,” kata Tomi memohon.
“Obat ini dapat menyembuhkanmu dari sakit Tomi. Aku ingin tahu apa nama obat ini sehingga kamu sangat menginginkannya,” kata Intan.
“Itu hanya obat untuk sakit kepala,” kata Tomi.
“Oh kalau begitu aku boleh meminumnya,” ujar Intan
“Intan jangan kau minum! Sebenarnya obat itu adalah obat yang dapat melupakan sejenak permasalahan keluargaku. Ayahku akan bercerai dengan ibuku karena itulah aku meminum obat itu,” kata Tomi.
“Tapi bukan begitu caranya. Kamu dapat membicarakannya baik-baik dengan orang tuamu,” ujar Intan.
“Mereka tidak mau diajak bicara,”
Karena ingin merasakan apa yang dirasakan kekasihnya, Intan mencoba meminum obat yang dipegangnya. Namun Tomi berhasil menggagalkannya.
“Intan, kamu sudah gila ya?” ujar Tomi sambil merebut obat itu dari tangan Intan.
“Ya memang aku sudah gila. Aku ingin merasakan apa yang kamu rasakan saat ini dan aku juga tidak rela jika kekasihku mati karena obat setan ini,” ujar Intan sambil merebut dan membuang obat itu.
Lalu Tomi membiarkan Intan menangis di pelukannya.
“Intan, aku mencintaimu lebih dari segalanya. Aku akan berbuat apa saja demi diriku walaupun nyawaku harus ku korbankan untukmu,” ujar Tomi sambil mengusap rambut Intan yang tergerai.
“Kalau begitu kamu harus janji sama aku untuk tidak menyentuh obat setan itu dan bersedia diobati,” ujar Intan sambil melepas pelukan Tomi.
“Baiklah,” ujar Tomi sambil memgusap air mata Intan.
Berita tentang Tomi sudah menyebar kemana-mana. Berita itu sudah sampai ke telinga mama Intan.
“Intan tunggu dulu, Mama mau bicara sama kamu,” kata mama.
“Iya, Ma,” jawab Intan.
“Intan mama gak suka kamu berteman dengan Tomi. Dia kan pecandu narkotik. Kamu bisa terpengaruh,” ujar mama.
“Ma, aku ini temannya. Apakah aku akan membiarkan temanku mati di hadapanku,” kata Intan membela diri.
“Oke kamu benar,” kata mama sambil berlalu dari hadapan Intan.
Karena masalah Tomi, Inta menjadi lebih sibuk karena dia harus bolak-balik Bandung-Jakarta.
“Intan, apakah kamu tidak capek bolak-balik terus?” ujar Tomi
“Aku tidak capek karena untuk mendapatkan sesuatu kita harus rela berkorban,” kata Intan.
“Ya sudah kalau begitu,” kata Tomi.
Setelah pulang dari Jakarta, Intan langsung ke rumah Ami. Dia sengaja tidak langsung pulang karena mamanya pasti marah-marah.
“Ami kenapa ya kalau aku pulang dari Jakarta menjenguk Tomi, Mama pasti marah-marah?”
“Intan kamu pasti tahu kalau mama kamu itu tidak suka sama Tomi karena dia pecandu narkotik. Mama kamu menganggapnya orang yang tidak pantas denganmu. Makanya kamu harus membuktikan ke mama kamu kalau Tomi adalah orang yang baik,” ujar Ami.
“Ya sudah. Makasih atas sarannya. Kalau gitu aku pulang dulu,” kata Intan.
Setelah sampai di rumah, Intan disambut oleh mamanya.
“Intan dari mana saja kamu?” tanya mama.
“Intan baru saja dari Jakarta menjenguk Tomi. Habis itu Intan ke rumah Ami,” jawab Intan.
“Intan buat apa kamu mesti repot-repot bolak-balik Bandung-Jakarta hanya untuk seorang pecandu narkotik,” ujar mama marah.
“Mama jangan sebut Tomi pecandu narkotik karena Tomi adalah pacar Intan jika mama menghina Tomi sama saja mama menghina Intan,” kata Intan membela diri.
“Intan, apakah kamu sadar dengan ucapanmu, hanya karena seorang pecandu narkotik kamu rela merendahkan dirimu sendiri,” kata Mama.
“Mama, jika papa dulu seperti Tomi, apakah mama akan meninggalkan papa dalam keadaan seperti itu atau mama akan melakukan seperti apa yang aku lakukan. Sudahlah ma, aku capek. Aku mau mandi terus tidur,” kata Intan.
“Intan, Intan tunggu dulu,” ujar mama.
Intan sudah tidak memperdulikan panggilan mamanya. Ia terus saja menuju kamarnya.
Sudah tiga bulan lamanya Tomi berada di rumah sakit. Mungkin dia sudah bosan. Untunglah dokter sudah memperbolehkannya pulang.
“Intan sekarang aku sudah sembuh dan aku sudah siap kembali dan aku janji tidak akan menyentuh obat setan itu lagi,” kata Tomi.
“Tomi, aku tahu kamu bahagia tapi mungkinkah kita bersama lagi. Mamaku tidak setuju dengan hubungan kita. Dia hanya menganggapmu seorang pecandu narkotik,” ujar Intan sedih.
“Intan kamu sudah cukup banyak berkorban untuk aku dan sekarang giliran aku untuk membuktikan pada mamamu, aku bukan lagi seorang pecandu narkotik,” kata Tomi sambil tersenyum.
Setelah sampai di Bandung, Tomi disambut oleh teman-teman dekatnya termasuk Ami.
“Selamat datang lagi di sekolah ini Tom,” ujar salah satu teman dekatnya.
“Terima kasih sobat,” kata Tomi sambil menyalami sahabatnya satu per satu.
Baru satu minggu, Tomi sudah mulai menunjukkan prestasinya dalam olahraga, mata pelajaran, dan sebagainya. Pulang dari latihan basket, Tomi pergi ke rumah Intan.
“Ayo Tom duduk dulu. Aku ambilkan minum dulu ya,” ujar Intan.
“Ya,” jawab Tomi singkat.
Pada waktu Intan mengambil minum, mamanya menghampiri Tomi yang sedang asyik main gameboard.
“Kamu yang bernama Tomi kan? Seorang pecandu narkotik,” ujar mama sinis.
“Saya bukan pecandu narkotik lagi bu. Itu karena anak ibu yang memberi semangat pada saya untuk sembuh,” kata Tomi.
Belum sempat mama Intan melanjutkan pembicaraannya dengan Tomi, Intan sudah datang sambil membawa segelas air jeruk dan makanan kecil.
“Tom, ini minumnya. Kamu pasti haus kan habis latihan basket. Oh ya, pada waktu final nanti tim kita akan melawan siapa? Aku pasti dukung kamu,” ujar Intan.
“Intan, mama bangga padamu,” ujar mama.
“Oh mama disini. Bangga tentang apa ma?” tanya Intan.
“Mama bangga padamu karena dengan pengorbanan, kesetiaan dan kesabaran; kamu dapat merubah seorang pecandu narkotik menjadi seorang pelajar yang pintar dan berprestasi. Mama bangga padamu,” ujar mama bangga.
“Iya ma, pengorbanan Intan selama ini tidak sia-sia,” kata Intan.

Dan begitulah akhirnya dengan pengorbanan, kesetiaan dan kesabaran, Intan dapat merubah kekasihnya dari seorang pecandu narkotik menjadi seorang pelajar yang pintar dan berprestasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design