Kamis, 14 April 2016

3 Hal Unik Tentang Emak Perfeksionis

Artikel ini ditulis berdasarkan studi kasus Phalupi Apik Herowati yang baru mau tiga tahun jadi emak. Tiga tahunnya nanti tanggal 27 April 2016. Sama dengan hari lahirnya baby Gara. Ya iyalah Mak, kan baru jadi emak kalau punya anak. Hahaha...



Emak sensi yang perfeksionis ini punya kebiasaan unik. Mau tahu apa aja sih kebiasaan unik emak?

1. Selalu simpan onderdil dari mainan-mainan baby Gara yang sudah rusak

Untuk apa sih Mak? Udah rusak ya buang aja, buat apa coba disimpan. Tentu saja buat bongkar pasang. Kalau ada roda mobil kesayangan baby Gara yang lepas atau hilang, onderdil yang disimpan bisa dipakai untuk menggantikan.

Baby Gara kalau punya mainan yang masih jadi kesayangan pasti dimainkan terus. Makanya onderdil itu bermanfaat untuk menyelamatkan mainan yang masih jadi kesayangan baby Gara.

Onderdil seperti roda, sayap pesawat, atau karet-karet yang lepas pasti dimasukkan emak ke dalam toples. 

2. Barang berantakan adalah surga

Pernah merasa mudah menemukan barang saat berantakan? Si emak kan perfeksionis, masa rumahnya berantakan. Ya percaya atau tidak perfeksionis malah membuatmu menunda. Menunda untuk beres-beres. Tumpukan barang itu akan kembali ke tempat semula jika waktu yang pas datang. Pas anak-anak sudah tidur, pas sudah selesai masak, atau pas ada suami yang menemani anak-anak main. Harus benar-benar pas. Kalau tidak ya terus aja berantakan.

Punya pojok berantakan di rumah? Di sana semua barang berkumpul dan akan kembali ke tempatnya jika anak-anak sudah tidur. Ya, emak punya pojok itu. Meskipun berantakan tak karuan tetapi emak akan dengan cepat menemukan apa yang dicari di pojok itu. Tentu saja, semua ada di situ jadinya gampang aja nemunya. Hihihi...

Pojok ini ada semenjak punya anak. Sehabis memandikan bayi, tidak bisa langsung mengembalikan handuk ke jemuran karena bayi keburu nangis kejer minta nenen.

Terus kenapa ada buku disitu mak? Ya  baca buku sambil ayun bayi yang belum mau tidur. Negeles mulu nih emak.



3. Menangis setelah menghukum anak

Setelan main, biasanya baby Gara membereskan mainan-mainan masuk ke dalam kardus. Namun hari ini dia malah kabur mengejar tukang bakso cuangki. Emak yang masih di dapur berteriak mengingatkan.

"Beresin dulu mamas," teriakan melengking dari dapur.

Baby Gara pulang dengan sebungkus bakso cuangki. Tidak sabar dia tuang bakso itu ke mangkok mainannya. Air kaldu yang panas tumpah mengenai kakinya. Ya tentu saja dia menangis. Kencang. Si emak keluar. Bukannya menolong, baby Gara malah dicubit.

"Ibu kan bilang, beresin mainannya dulu. Sekarang semua mainanmu basah kena air bakso. Tuh kakimu juga kena."
"Sakit ibu, kakiku panas."

Tangisan baby Gara semakin kencang.

"Diem gak? Kalau gak diem ibu kurung aja sekalian di teras."

Drama berakhir. Tangisan berhenti. Kaki dibersihkan dan dioles minyak tawon.

Kok mencubit sih Mak? Baby Gara salah apa? Pertanyaan-pertanyaan muncul saat emak melihat baby Gara tidur siang. Walaupun dia salah belum beresin tetapi apa perlu dicubit. Kan bisa bilang baik-baik. Kasihan dia, udah kesiram air panas bakso malah bonus cubitan. Mak, mak udah tua tetapi belum bisa kontrol emosi.

Air mata berderai. Menyesal? Pasti. Ingin mengulang waktu? Iya. Mereka ulang kejadian, tanpa cubitan. Ingin bicara baik-baik dengan baby Gara.

Belajarlah mak, jangan jadikan kebiasaan buruk itu berlangsung lama. Apakah tangisanmu berguna? Tentu saja tidak. Kau akan membuat baby Gara jadi labil juga. Kau akan membuat dia keras ke teman-temannya. Berubahlah mak karena airmata tidak akan mengubah apapun. Baby Gara adalah peniru ulung. Jangan sampai dia meniru. Mencubit teman-temannya untuk sekedar mewujudkan apa yang dia inginkan. Sekarang ya mak, jangan ditunda-tunda. Semangat mak! Didiklah anakmu dengan cinta bukan tangisan. Semangat mak!

Semoga baby Gara selalu bahagia jadi anakku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design