Selasa, 15 Maret 2016

Kisah Panci Gosong


panci gosong berkerak
"Udah dirongsokin aja. Kan gosong, mana bisa dipake lagi. Beli aja yang murah jadi kalau gosong lagi kamu gak pake galau rongsokinnya."


Ya ampun mak, mak. Panci gosong aja drama. Tinggal dibuang aja kok. Kalau memang gak ikhlas ya dirongsokin tuker piring atau gelas.

Panci gosong itu udah ada sejak aku masuk kuliah. 2005. Artinya 11 tahun nemenin aku. Walaupun gak sering masak. Ya dia setia aja nemenin.

Si panci pernah gosong sekali waktu suamiku merebus kacang dan dia lupa. Namun itu masih bisa diselamatkan dengan cairan pembersih stain remover. Selamatlah dia dari tukang rongsok.

Hingga satu hari yang riweuh bin rempong, baby Gara lagi susah makan dan hari itu dia minta dimasakin tahu kecap alias tahu bacem. Mumpung minta makanya aku semangat masak buat dia. Eh dasar emak-emak, masak disambi bersihin ikan. Padahal api udah dinyalain paling kecil. Ya emang dah waktunya itu panci pensiun kali. Gosonglah itu tahu bacem berkerak di dasar panci. Susah sekali dibersihkan. Direndam air panas udah, digosok pake pembersih khusus udah, dan dikerok pake sabut stainless tetap aja gak mau hilang.

Kisah panci gosong ini emang ada di setiap dapur. Bisa terjadi kapan saja dan pada siapa saja. Kisah panci gosong ini membuktikan padaku bahwa bukan soal harga tapi kenangan di dalamnya. Rasanya jika aku menyingkirkan panci gosong itu, aku juga menghilangkan semua kenangan. Kenangan sepanci panas mie instan ekstra cabe rawit di akhir bulan. Kenangan sepanci sayur sop dengan ketumbar saat aku belum bisa membedakan mana merica mana ketumbar. Kenangan sepanci telur rebus yang merekah sempurna karena aku belum tahu kapan telur itu matang dan harus diangkat. Sepanci kenangan seorang mama melepaskan anaknya kuliah, berharap tidak hanya mie instan yang akan dimasak di panci itu.

"Mak, bagaimana kalau beli panci baru, buat sepanci kenangan lagi. Lagi dan lagi. Biarkan kenangan panci gosong itu tetap ada di panci itu. Let it flow just like water. One in, one out. Just that simple."

Momen yang gak pas adalah saat ingin move on dan backsoundnya adalah 'stay with me'nya Sam Smith. Hahaha... *abaikan

Kisah panci gosong ini sungguh mengajarkan aku untuk bisa ikhlas. Bahwa apapun yang ada di dunia ini punya waktunya sendiri-sendiri. Waktu untuk berguna bagi kita dan waktu baginya pensiun. berakhir di tempat daur ulang. Mengalihkan fungsinya agar lebih berguna. Bukan hanya teronggok di sudut dapur. 

Panci gosong itu bukan spion, Mak. Spion kan harus kita lihat sesekali agar kita tak menabrak. Layaknya kenangan yang kita ingat agar kita tidak mengulang kesalahan. Kesalahan yang sama. Artinya kenangan sebagai pembelajaran hingga kita bisa menghindari lubang yang sama. Panci gosong memang bisa mengingatkan kita akan kenangan-kenangan. Namun panci yang cuma terpajang dan gak digunakan hanya membuat dapur jadi sesak. 

Si emak, panci gosong aja jadi panjang ya urusannya.

Akhirnya beli baru, dan harganya dua puluh ribu. Cukuplah untuk rebus tahu. Asalkan kisah panci gosong tidak lantas berlalu. 

panci baru harga dua puluh ribu buat rebus tahu

Kisah panci gosong buat update blog yang hampir berdebu baru bisa ikhlas ya Mak. Melepaskan panci gosong ke tukang rongsok langganan. Berdoa agar tukang rongsok cepat datang dan si emak tidak berubah pikiran. Amin...

3 komentar:

  1. dijadiin pajangan aja hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum nemu kreasi yang pas mba Chi..

      Hapus
  2. panci gosong di rumah dijadiin apa ya? sepertinya dikasih ke tukang sampah yang sering lewat kompleks gitu :)

    BalasHapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design