Kamis, 31 Maret 2016

Anak Keduaku Jalan Kematianku



Kehamilan adalah hal yang ditunggu oleh pasangan suami istri setelah menikah. Setiap kehamilan tentu memiliki ceritanya masing-masing. Seru, haru, atau malah pilu. Semua pasangan pasti mengingat momen-momen kehamilan itu.

Aku begitu menikmati kehamilanku yang pertama. Tidak banyak hal aneh yang aku alami. Istilahnya 'ngebo', kehamilan tanpa muntah atau ngidam aneh-aneh. Begitu juga proses kelahirannya. Dari jam 12 malam ketika air ketuban merembes, anak pertamaku lahir jam 10.17 wib. Bukaan empat jam 5 pagi, disuntik perangsang di bukaan delapan, anak divakum karena berhenti saat rambut sudah terlihat. Aku tidak begitu merasakan letih saat mengejan. Semua berlangsung cepat. Tidak ada sakit yang menyiksa dan penantian panjang.

Saat selesai menyapih anak pertama, dia berumur dua tahun di bulan April. Ada banyak rencana setelah itu. Aku ingin kembali aktif bekerja. Meskipun bekerja di rumah dan sesekali dinas luar. Aku begitu bersemangat. Mendidik anak di rumah sambil bekerja. Sungguh membuat senyumku terus mengembang. Setiap pagi mempersiapkan mainan untuk anak. Membuat playdough, meracik cat warna, menuang sabun dan pewarna makanan di ember. Bermain bersama anak agar motorik kasar dan halusnya berkembang sesuai usia, begitu juga dengan kecerdasannya. Bermain sambil belajar.

Akhir bulan Mei, setelah acara workshop di Bandung semua semangat berkumpul. Aku mulai mengikuti acara-acara untuk membuka jalanku. Jalan menjadi blogger agar bisa bekerja di rumah. Juni, selama satu bulan penuh aku menjalankan aktivitas sesuai rencana. Sungguh bahagia.

Juli menanti. Kelas online menulis aku ikuti untuk mewujudkan impian. Namun itu berlangsung sebentar karena tiba-tiba aku sering merasa pusing dan cepat lelah. Perlahan baru aku sadar kalau di bulan Juni aku tidak kedatangan tamu bulanan.

Positif hamil. Ada dua garis di test pack yang aku pegang pagi itu. Kehamilan kedua yang tak terencana, anak kedua yang belum didamba. Tentu adik baru bukanlah impian anak umur dua tahun tiga bulan. 

Kehamilan kedua ini memang penuh lika-liku. Muntah-muntah, sakit kepala, dan batuk pilek dari awal bulan hingga delapan bulan. Hingga dokter kandunganku merujuk ke dokter spesialis paru karena batuk yang tak kunjung sembuh. Tes dahak dan rontgen harus aku jalani di kehamilan kedua.

Proses kelahiran anak keduaku inilah yang buat aku sadar bahwa ada kematian. Kata yang dihindari, ditakuti, bahkan tak ingin dialami. Begitu dekat dengan kematian saat proses kelahiran anak kedua. Aku kehilangan banyak darah, muka pucat hingga harus dipasang selang oksigen dan asisten bidan terus mengajakku bicara. Aku diminta beristighfar agar tetap terjaga. 

Bagaimana jika ini akhirnya? Aku begitu lelah saat itu, ingin sekali tidur. Kata si asisten jika aku menuruti keinginan hati untuk tidur, aku bisa bablas. Mati maksudnya. Saat itu aku juga mengira jika ini akhirnya. Akhir dari hidupku. Aku akan mati meninggalkan suami, anak pertamaku dan tidak sempat merawat anak keduaku.

Mati? Siapkah aku? Siap tidak siap ya harus siap. Kan kita tidak tahu kapan pastinya malaikat maut menjemput.

Daftar 8 Hari Sebelum Kematian

Hari Pertama
Usia kandunganku memasuki bulan ketujuh. Aku pulang ke kampung halaman bersama suami dan anak pertamaku.

Aku ingin melakukan prosesi 'mitoni'. Acara adat Jawa untuk ibu hamil yang memasuki usia tujuh bulanan. Saat anak pertama aku tidak sempat melakukan prosesi ini.

Siraman, brojolan dan ganti baju atau jarik sebanyak tujuh kali. Pasti seru. 

Hari ke 2
Duduk berdua bersama suami membahas apa saja yang harus dilakukan saat aku tidak ada. Bagaimana mengurus anak pertama. Siapa yang akan mengurus. Bagaimana menjelaskan konsep 'ibu sudah mati' pada anak tiga tahun.

Hari ke 3
Duduk berdua bersama suami membahas siapa yang akan mengurus anak kedua

Hari ke 4
Membuat video untuk anak pertama.

Hari ke 5
Membuat video untuk anak kedua.

Hari ke 6
Menghabiskan waktu bersama anak pertama.

Hari ke 7
Menghabiskan waktu bersama suami.

Hari ke 8
Menghabiskan waktu bersama papah, mamah, dan adikku.

Sungguh saat membuat daftar ini, aku merasa pusing. Rasanya ingin pingsan. Apakah aku sanggup jika ini benar-benar terjadi? Aku tidak bisa melengkapi secara detil apa yang akan aku lakukan saat membahas siapa yang akan mengurus anak keduaku. Hal-hal apa saja yang akan aku videokan untuk anak pertama dan keduaku. Kegiatan apa saja yang akan aku lakukan untuk menghabiskan waktu bersama suami dan anak pertamaku. Rasanya aku hanya akan memandangi suami dan anak pertamaku. Lalu merasa tak sanggup untuk berpisah dan meminta tambahan waktu. Tuhan beri aku tambahan waktu, aku mohon.

Tidak ada persiapan sesungguhnya daftar ini membuat aku merenung. Bahwa kematian bisa datang kapan saja. Jika kita tidak memanfaatkan waktu dengan baik, menyiapkan semua bekal pastilah akan menyesal.

Anak keduaku, jalan kematianku. Kelahiranmu membuatku tahu, bisa saja saat itu malaikat maut menungguku. Mengantarkanmu ke dunia menjadi tugas terakhirku. 

Anak keduaku, jalan kematianku. Jika delapan hari sebelum kelahiranmu adalah hari terakhir bagiku, tentu hanya ASI yang bisa aku berikan sebagai bekal hidupmu.

Anak keduaku, jalan kematianku. Meski aku tak bisa lama menemanimu, percayalah aku sayang padamu.

Aku menatap langit-langit kamar. Malam ini setelah perjuangan yang menyakitkan dan melelahkan terbayar dengan tangisan anak keduaku. Daftar rencana bagaimana aku menghabiskan sisa delapan hariku terbayang. 

Daftar delapan hariku adalah persiapan. Siap kapanpun maut menjemput.

Daftar delapan hariku adalah peringatan. Ingat untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin bersama orang-orang tercinta.

Daftar delapan hariku adalah perenungan. Merenungkan bekal apa saja yang sudah aku siapkan menuju kematianku.

Kematian. Harus siap, cukup bekal, dan selalu tawakal agar tidak menyesal. Amin.


"Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway"

6 komentar:

  1. Aduh, aduh, kirain ada sesuatu yg terjadi, rupanya .....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rupanya ikutan giveaway ya mba. Makasih udah berkunjung.

      Hapus
  2. Deg degan bacanya, krn ngrasain gmn kehilangan anak dalam ka dungan bulan ke 2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dedeknya bisa jadi pembuka pintu surga ya mba.

      Hapus
  3. Smoga selalu sehat2 ya mak say.. Terimakasih tulisannya, Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Makasih kembali mak. Sehat dan berkah juga buatmu mak.

      Hapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design