Senin, 13 April 2015

Social Media Anxiety Disorder

diambil di sini
Waktu belajar hening bareng mas Adjie Silarus bulan Februari lalu, aku menemukan penyakit baru. Penyakit yang muncul seiring dengan makin banyaknya orang terikat dengan social media. Penyakit ini memiliki ciri-ciri:
  1. Anda menjadi cemas jika Anda tweet seseorang dan mereka tidak membalas dalam enam jam.
  2. Jika Anda terus menggenggam ponsel di meja makan dan semua orang juga sibuk dengan ponsel mereka saat makan dan tidak ada orang yang bicara satu sama lain.
  3. Jika Anda memasang foto yang manis di Facebook, Twitter, Pinterest, Instagram atau situs berbagi foto lainnya. Lalu tidak ada yang nge-like atau nge-share, bagaimanapun juga Anda tetap memeriksa setiap menit atau jam.
  4. Jika Anda menatap pengikut Twitter Anda dan berkurang dan itu mengganggu Anda
( Ciri-ciri ini dikutip dari overcomingsocialanxiety.com. Selengkapnya dibaca di artikel ini )

Social media anxiety disorder (SMAD) adalah gangguan kecemasan akibat kecanduan sosial media. Kecanduan? Ya seharian hanya menatap smartphone dan bergantian mengecek akun-akun sosial media yang dimiliki.

Lalu apa yang terjadi:
  • Jika status-status yang muncul di timeline Facebook Anda berisi kebahagiaan maka Anda malah akan lebih depresi, tidak bersyukur dan terancam OCD ( Obsessive Compulsive Disorder).
  • Jika foto-foto selfi Anda di instagram atau twitter Anda tidak di-like atau di-share maka Anda akan merasa sedih berlebihan.
  • Kehidupan pribadi terganggu.
  • Kesehatan fisik dan mental berkurang.
Agar tidak terserang SMAD, apa yang harus kita lakukan?

- Buat jadwal yang pasti kapan kita bersosialisasi di dunia maya.
- Tentukan juga berapa lama kita fokus untuk twitter, facebook, path, instagram
- Sadari jika kita memiliki kehidupan di dunia nyata
- Selalu belajar bagaimana menempatkan diri secara wajar baik di dunia maya maupun dunia nyata agar kita tidak salah bertindak.
-Selalu belajar memahami diri sendiri. Kita harus tahu siapa diri kita sehingga saat hal-hal buruk terjadi, kita bisa segera menyadari dan mengatasinya.

Pada akhirnya, untuk menghindari gangguan atau penyakit apapun, kita harus peka. Peka terhadap diri sendiri dan juga orang di sekitar kita. Barangkali bukan kita yang terkena tetapi anak, suami, atau teman-teman. Jika kita tahu, maka kita akan bisa memberi pengertian agar mereka bisa cepat ditangani dan disembuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design