Rabu, 22 April 2015

Si Penimbun Buku Itu Aku

Saat aku melihat serial 'hoarder' di kompasTV. Langsung terbayang tumpukan bukuku. Ya, setelah menulis beberapa artikel, aku menemukan ada yang salah denganku. Sebenarnya sudah lama aku merasakan ini. Namun belum bisa menemukan nama yang tepat. Obsessive Compulsive Disorder. Memang belum parah karena kadang aku merasa bisa mengendalikannya. 

OCD yang aku alami memiliki ciri-ciri. Aku selalu mencoba menenangkan diri saat mencuci dan meninggalkan anak tidur di kamar. Di lain waktu aku bolak-balik untuk memastikan sudah mengunci pintu. 

Saat aku hamil baby G, aku tinggal berjauhan dengan suami. Dia tinggal di Jakarta dan aku di Semarang. Kamar kosku sangat berantakan karena aku bisa menemukan rasa nyaman dengan benda-benda yang berupa tumpukan. Namun kalau suami mau balik ke Semarang, aku akan secepat kilat membersihkannya. Merapikan semua sesuai dengan tempatnya.

Melalui terapi yang panjang, akhirnya aku bisa sedikit mengurangi kepanikanku. Meskipun tetap, ada yang kurang saat tidak merasa khawatir atau terlalu memikirkan sesuatu.

Nah, setelah semua berkurang. Ada satu yang sampai sekarang belum bisa aku kontrol yaitu menimbun buku. Aku masih berusaha mengontrol. Saat belajar hening bersama mas Adjie Silarus, aku belajar untuk one book in one book out. Belum berhasil sepenuhnya tetapi aku mencoba. Baru bisa melepas 2 buku untuk memeriahkan giveawaynya mba Myra.

Agar tidak mengarah ke hal negatif, aku mengumpulkan hal-hal positif tentang penimbun buku.

1. Potensi meredam stresnya tinggi. Kalau stres bisa ubek-ubek buku yang masih plastikan. Mencium aroma buku baru yang bagaikan candu. Asal jangan stres lagi pas melihat harga buku yang masih terpampang nyata. Tentang hal ini, aku tidak bisa memaksa kamu untuk mengerti. Sebab, hanya penimbun buku yang tahu nikmatnya mencandu aroma buku.

2. Menambah pengetahuan. Buku-buku yang sudah dibuka, entah kapan waktunya pasti dibaca. Saat stres bisa baca komik, majalah, atau novel-novel favorit memberikan ilmu-ilmu tambahan tanpa kita menyadari. Pas ada masalah, eh aku pernah baca nih di majalah X cara move on dari mantan yang suka PHP-in aku.

3. Saat buku-buku yang dibaca sudah banyak maka bisa disumbangkan untuk orang lain yang lebih membutuhkan. Buku ini mungkin belum bermanfaat buat aku tetapi pasti bermanfaat buat si A.

Book hoarder, Yes I am. Wish me luck. Hope I can share more to others. Share books of course.

sebagian buku yang dirawat sama kakak ipar
ini yang aku bawa balik ke Jakarta karena butuh
Akan aku baca lagi buat menambah ilmu



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design