Jumat, 03 April 2015

Penulis Galau: Blog atau Novel?

Sebenarnya, sejak SD aku telah mulai menulis. Menulis cerpen-cerpen berdasarkan pengalamanku sehari-hari. Namun cerpen itu tidak pernah aku kirimkan ke media. Hanya dibaca teman-teman sekelas saja. Begitu SMP, aku terus menulis. Tetap teman-teman sekelas yang jadi target pembaca. Masuk SMA ada beberapa karya yang dipajang di mading sekolah. Selalu dapat nilai bagus saat mata pelajaran bahasa Indonesia. Sering diminta teman-teman untuk menuliskan cerpen saat mereka susah menuangkan ide.

Semua perjalanan menulis itu berhenti saat memasuki bangku kuliah. Tidak ada karya lagi.

Aku, sebagai ibu rumah tangga mulai menulis lagi di tahun 2012. Hingga hari ini baru menghasilkan 2 buku antologi: 101 perempuan berkisah bersama komunitas Women's Script dan Inspirasi Untaian Nama Bayi bersama IIDN Semarang.

Lalu 10 Juni 2014 mulai ngeblog. Belum aktif dan mengoptimalkan blog yang ada. Namun tekad ada untuk menjadikan blog lebih bermanfaat.

Semenjak memutuskan untuk menjadi penulis, muncul kegalauan baru. Galau saat harus fokus. Apakah konsisten menulis cerpen lalu novel ataukah tiap hari posting blog.

Beruntungnya kegalauan itu tidak berlangsung lama. Saat blogwalking, aku menemukan artikel dari mba Dewi Rieka, penulis 'Anak Kos Dodol' yang baru-baru ini filmnya launching: mau jago nulis, ya ngeblog. Mba Dedew, panggilan akrab Dewi Rieka penulis yang juga konsisten ngeblog menuturkan jika ngeblog secara rutin juga melatih kita untuk menulis novel. Artikel selengkapnya di sini.

Catatan
Saat mencoba rutin menulis di blog seminggu penuh, aku belajar:

1. Menulis di blog untuk mengusir writer's block.
Malas adalah kata kunci saat writer's block. Dengan rutin dan jadwal yang jelas maka writer's block akan menjauh. Apabila sudah lancar menulis artikel pendek maka tidak akan susah lagi untuk memulai 5 halaman untuk cerpen. Lalu kemudian 5 halaman per hari saat memutuskan menulis novel.

2. Blog untuk ide-ide tulisan singkat yang muncul begitu saja.
Saat mandi, mencuci atau kegiatan lain lalu muncul ide kita bisa nge-draft dulu. Setelah itu bisa tulisan singkat. Namun membuat tulisan singkat antara 300 hingga 1000 kata bukan perkara mudah. Kita kadang butuh referensi-referensi yang harus dibaca dulu.
Nah ujung-ujungnya kita akan terbiasa membaca dulu sebelum akhirnya menulis. Saat sudah terbiasa, kita akan mudah melakukan riset untuk menulis cerpen dan selanjutnya novel.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design