Kamis, 26 Maret 2015

Waspada, Emak Mulai Memukul


diambil di sini
Baby Gara saat itu 1 tahun 9 bulan. Banyak sekali perubahannya. Sudah mulai bisa beberapa kata dan protes jika ada hal yang gak sesuai dengan harapannya.

Aku, si Emak Sensi yang belum begitu bisa mengontrol emosi mulai tersulut. Beberapa kata yang belum begitu jelas membuat kami sering salah paham. Gara mau kentang goreng, aku kira ikan. Secara dia bilang "kentang" eh akunya dengar "ikang".

Baby Gara mengamuk. Awalnya aku pendam. Pendam terus. Sifat resentful mulai menggerogoti kesabaranku. Ya, resentful adalah sifat dimana seseorang sering memendam perasaan saat dia merasa tersinggung.

Akhirnya pada suatu hari, baby Gara meminta minum. Dia minum sedikit lalu air sisanya ditumpahkan dan dibuat mainan. Rasa sesak sudah tidak bisa ditahan. Spontan aku pukul. Biasanya Gara tidak menangis. Saat itu, akumulasi rasa yang terpendam membuatku memukul dengan keras dan berulang hingga Gara menangis.

Ekspresi saat Gara melihatku dengan wajah yang memelas, membuat aku tersadar. Aku telah menyakiti anakku. Kata maaf yang terus terucap tidak bisa mengembalikan waktu. Fakta aku telah memukul dan menyakiti hati anakku karena ketidakmampuanku mengontrol emosi.

Pelan-pelan aku mulai membaca lagi. Apa sebenarnya yang sedang terjadi padaku? Buku-buku self help aku keluarkan dari tempat persembunyiannya.

Lose power syndrome. Sindrom ini ditandai dengan terus mengingat masa-masa keemasan. Masa di mana aku masih bekerja, memiliki banyak waktu untuk diri sendiri, dan menghasilkan uang yang bisa dibelanjakan sesuai dengan keinginan.

Semua yang ada di hadapanku  terasa salah. Baby Gara yang lagi aktif, sangat suka eksplorasi semua yang ada di sekitarnya, dan masa transisi untuk disapih. Membuat semua perhatianku tersita. Punggung sakit, kepala migrain dan rasa marah bergejolak. Apa-apa yang aku lakukan juga salah.

Lose power syndrome yang berkelanjutan bisa membuat seseorang stres dan tidak bisa mengelola emosinya secara positif. Apakah ini berbahaya? Tentu saja, jika tidak ditangani maka akan ada tindakan-tindakan impulsif yang cenderung merusak. Belanja secara brutal, percobaan bunuh diri, dan yang paling parah percobaan membunuh orang-orang yang ada di dekat kita.

Berita ibu-ibu yang membunuh anaknya sendiri sudah sering kita dengar dan baca. Awalnya aku cenderung menghakimi. Namun setelah diriku menjadi ibu, melalui berbagai macam proses untuk akhirnya menjadi ibu. Rasanya aku sedikit demi sedikit memahami. Kenapa ibu itu membunuh anaknya sendiri, overdosis obat tidur, atau menenggelamkan diri.

Bukan hanya lose power syndrome, ibu juga harus menghadapi baby blues atau yang paling menakutkan adalah depresi pasca melahirkan (post partum depression). Apabila tidak ada dukungan, penghakiman yang terus-menerus maka ibu bisa melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan hatinya.

Berawal dari memukul, mencubit, ataupun menjewer anak. Kita bisa mengambil jeda sejenak. Apa yang terjadi dengan kita? Apa yang kita rasakan sebenarnya? Pelan-pelan kita harus mulai belajar mengenali emosi kita sendiri. Semakin kenal maka bisa semakin sayang. Artinya kita kontrol emosi bukan emosi yang kontrol kita.

Masih ingat peringatan bahwa jika pesawat akan jatuh, masker turun lalu orang tua lah yang harus memakai masker itu terlebih dulu. Kenapa? Tentu awalnya kita merasa egois tetapi itu adalah hal logis. Logis apabila kita selamat maka kita akan bisa menyelamatkan anak kita. Kita dulu yang bahagia baru bisa membahagiakan anak kita.
happy mom, happy kid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design