Jumat, 27 Maret 2015

Belajar Dari Masa Sulit Penulis lain

Setelah menikah, memiliki anak, dan menjadi ibu rumah tangga. Otomatis banyak hal yang berubah. Perubahan ini bukan hal yang mudah untuk dijalani. Ibu rumah tangga penuh. 1x24 jam di rumah dengan pekerjaan rumah tangga yang tak pernah berakhir.

Menjadi ibu rumah tangga penuh, tanpa asisten, dan tanpa penghasilan sendiri. Aku hanya tahan 1 tahun 6 bulan. Sungguh, berat sekali rasanya. Aku merindukan semua masa 'lakukan tanpa berpikir 3x". Mau spa tinggal spa, mau beli buku tinggal beli buku, dan mau workshop tinggal berangkat aja.

Lalu mengurus anak yang sedang bertumbuh  menjadi tantangan tersendiri. Kita harus benar-benar mengenali diri untuk bisa mengontrol emosi. Naik turunnya kita amati. Lose power syndrome bisa menghampiri. Keadaan dimana kita ingin  masa selalu kembali ke masa kejayaan. Masa dimana kita tidak tergantung gaji suami untuk sekedar membeli kosmetik, buku bestseller bulan ini, atau sepatu idaman. Apabila belum mampu mengontrol emosi bisa berakhir dengan kekerasan. Ibu perlu waspada apabila mulai memukul anak. Lebih lengkap bisa dibaca di sini.

Menulis sebagai katarsis. Catatan-catatan kecil mulai ditorehkan. Lalu cring...cring...cring... Kenapa tidak kembali lagi menulis untuk mengusir rasa galau? Sedikit demi sedikit belajar lagi. Belajar untuk menjadi penulis.

Triani Retno adalah guru menulis cerpen online pertamaku, dia banyak mengajariku tentang bagaimana revisi naskah, mengemas ide, dan banyak hal dasar lain tentang menulis.

track changes agar aku tahu mana yang harus direvisi
Namun sayangnya, banyak alasan-alasan yang membuatku berhenti. Tidak lagi menulis. Kelas demi kelas aku ikuti tetapi belum ada hasil yang maksimal. Sejauh ini baru dua buku antologi yang baru terbit. Belum ada novel atau karya yang tembus ke media cetak nasional Indonesia.

Triani Retno selain penulis, editor juga blogger. Blognya berisi tentang buku-bukunya, tips menulis, dan serba-serbi kepenulisan. Seorang ibu dan full time writer. Sejak 2006 sudah menerbitkan 29 buku (fiksi dan non fiksi). Di salah satu postingan blognya, mengisahkan bagaimana menulis saat kondisi ekonomi sedang tidak mendukung. Selengkapnya bisa dibaca di sini.

Entah kenapa tulisan itu begitu mengilhami. Aku seorang ibu yang ingin jadi penulis. Ibu galau yang tiba-tiba berpikir, masa transisi saat lose power syndrome lalu apabila suami yang jadi tulang punggung keluarga ditimpa musibah; apa yang akan terjadi denganku?

Aku harus mulai merintis karirku. Dari apa yang aku bisa. Dari apa yang aku suka. Menulis. Mulai sekarang. Setahap demi setahap.  Syukur jika nantinya bisa dijadikan periuk tambahan. Namun saat ini, aku ingin banyak belajar. Belajar konsisten, belajar fokus, dan belajar mengenali polaku sendiri.

diunduh dari sini
diunduh dari sini


Belajarlah dari luka orang lain, maka harusnya kita bisa lebih kaya. Mereka berbagi agar kita tidak jatuh di lubang yang sama.

Ibu rumah tangga boleh jadi penulis. Ibu rumah tangga boleh melakukan apa yang bisa membuat dirinya bahagia. Siapa yang menentukan? Ya diri kita sendiri. Bukan orang lain apalagi para pemeras emosi. SEMANGAT! Hwiting!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design