Selasa, 31 Maret 2015

Bapak

Bunyi berderit dari angkot yang aku tumpangi tidaklah mengganggu. Lalu menyusul bau bensin menyeruak, begitu menusuk. Bukan itu, sungguh. Bukan itu yang membuat perutku gaduh. Hingga tanpa sadar menelan ludah.

Aroma cilok panas bersatu dengan saus botolan murah, yang entah benar atau tidak, dibuat dari campuran cabe dan tomat busuk. Lalu bumbu kacang yang digerus kasar. Menjadikan gurih begitu menggelitik lidah dan menyisakan kecanduan. Terakhir, tidak boleh tertinggal adalah kecap. Manis sebagai tameng terakhir saat lidah diserang pedas dan gurih yang dominan.

Cilok itu ada digenggaman anak kecil dengan rambut kusut. Anak perempuan di pangkuan seorang ibu yang mukanya gosong. Akibat terlalu sering terpapar langsung panas matahari. Duduk risih. Tepat di depanku.

Uap-uap lembut mulai muncul di plastik putih transparan. Aku menatap bungkusan itu, tanpa sadar hingga melotot.

Uap-uap panas menghamburkan aroma. Begitu menggelitik hidung hingga aku berulang kali menelan ludah.

Kapan terakhir kali aku merasakan makanan sedap? Semua makanan mahal dan mengaku sehat itu sungguh enak tetapi hanya menjadikan perut kenyang. Setelah itu? Hampa.

"Neng, udah sampe Pulogadung nih. Bangun!" Supir angkot 28 menggoyang dengan keras tubuhku.

Aku membuka mata dan berusaha mengingat semua rasa yang menyelinap di indera pengecapku. Terus mengingat agar rasa cilok itu menempel terus. Panas, pedas, dan gurih.

Aku bangkit, mengulas senyum tanda meminta maaf. Satu lembar lima ribuan ditambah dua lembar seribuan membuat pak supir sumringah. Tidak banyak yang dengan ikhlas memberinya tarif sesuai kenaikan BBM.

Aku menyapu semua arah. Mencari gerobak-gerobak yang mungkin menjajakan cilok. Jajanan murah meriah dari campuran tepung kanji dan tepung terigu. Dibentuk bulat-bulat agar di dalamnya bisa diisi potongan daging. Daging yang minimalis. Akan tetapi minimalis itulah yang mampu mengobati kerinduan.

Dulu, akulah yang bertugas menyiapkan panci dan merebus air. Jika air sudah mendidih cilok-cilok dimasukkan. Bapakku akan mengaduk sesekali. Dari tubuhnya selalu memancarkan wangi manis. Entah bumbu rahasia apa yang dimasukkan. Serupa minyak wijen yang aromanya tidak tertahankan. Jika Bapak ada di sampingku maka udara di sekitar pun melembut dan jadi menyenangkan. Itulah kenapa aku tak pernah bosan makan cilok. Aromanya selalu mengingatkanku akan Bapak. Bapak yang lembut dan menyenangkan.

Antrian sudah terlihat ketika aku memasuki tempat parkir. Pelayan-pelayan mengangguk hormat. Aku duduk di kursi dekat kasir.

"Ciloknya dimakan dulu sana!" perintah tegas ibu kasir.
"Aku shift malam kan?" tanyaku sambil memasukkan cilok.

Begitu masuk mulut rasanya seperti meleleh. Air mata tanpa sadar meleleh.

"Kamu tadi ke makam Bapakmu?"
Anggukan cukup untuk menjawab. Aku meyeka air mata dan mengusap ingus yang juga ikut keluar.

"Bersyukur saja, kamu masih bisa hidup. Selamat dari kebakaran itu. Pasti ada hikmahnya," ibu kasir yang tak lain budeku memberi tisu. Membiarkan aku menangis sepuasnya.

Aku menatap foto 5R Bapak yang terpajang dekat jam dinding. Itu saja yang tersisa dari kebakaran dahsyat akibat ledakan gas. Semua kejayaan pengusaha cilok musnah bersama pemiliknya.

"Terus hidup dan berjuang ya Nak, selalu ingat kalau Bapak sayang kamu."

Entah kenapa aku mengangguk. Foto itu tersenyum padaku. Berbahagia akan keputusan yang aku buat hari itu. Keputusan untuk merintis lagi usaha cilok yang dulu Bapak bangun. Bukan untuk menyenangkan Bapak. Namun agar kenangan yang aku miliki bersama bapak terus ada dan membuatku terus hidup nyaman di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design