Selasa, 24 Februari 2015

Para Pemeras Emosi

Para pemeras emosi ada di sekita kita. Bagi para pemula seperti ibu baru, blogger junior, atau penulis yang mengawali karir; para pemeras emosi adalah yang semestinya bahkan wajib dihindari. Kenapa? Karena mereka bisa membuat Anda kehilangan impian Anda. Impian untuk menjadi ibu yang terbaik, blogger konsisten, dan penulis produktif.

Mereka tidak mem-bully kita dengan cara memukul atau melakukan kekerasan fisik tetapi verbal. Kalimat-kalimat mereka begitu tajam laksana pisau. Bagi para pemikir, si melankolis, atau yang bahasa kasihnya pujian; tentu kata-kata seperti ini: "Anak kok gak dikasih susu tambahan, nanti kelaparan lho", "Artikel blogmu gak banget deh",  atau "Novel apaan nih. Datar banget, udah bisa ketebak endingnya." Sangat menjatuhkan mental.

http://www.iaam.com/artimages/advice/Girl-Bullying.jpg
Tiba-tiba kita merasa tidak mampu, merasa tidak layak dan yang parah kita memutuskan untuk menyerah. Berhenti di tengah jalan.

Aku baru saja dicurhatin seorang penulis terkenal yang punya penggemar nyeleneh. Si penggemar selalu membeli dan membaca novelnya. Namun uniknya penggemarnya selalu memberikan 3 bintang, memberikan review jelek. "Novel ini datar, gak ada twist, ceritanya ketebak." Lalu setelah makan hati berkali-kali, penulis ini bilang ke penggemar uniknya, "Sudah lah berhenti beli novelku, genre kita gak cocok." Eh penggemarnya tetap saja beli novelnya.

Begitulah para pemeras emosi bekerja. Tanpa putus asa menghasut kita hingga kita kalah. Menyerah untuk memperjuangkan mimpi. Kita tidak bisa terus menghindari mereka karena terkadang mereka adalah orang yang ada di sekitar kita. Bahkan kadang pemeras emosi kita adalah orang-orang yang dekat dengan kita. Bisa jadi mereka adalah papa dan mama kita, suami kita, atau saudara-saudara kita. Jika tetangga atau teman, kita bisa tidak menemui mereka lagi terus kalau ternyata dia adalah orang dekat kita yang tidak mungkin dihindari. Bagaimana?

1. Cobalah untuk berkomunikasi
Hanya diam saja tidak akan menyelesaikan masalah. Cobalah untuk menenangkan diri dulu. Jika kita sudah tenang, maka kita akan siap berkomunikasi. Komunikasikan dengan kepala dingin, bicarakan bahwa kata-kata mereka menyakiti kita. Ungkapkan keinginan kita tentang teguran yang pilihan katanya positif. Bukan yang menjatuhkan.

2. Pilih waktu yang tepat
Waktu tepat bagi kedua belah pihak. Tidak dalam keadaan yang sama-sama marah atau lelah.

3. Perubahan adalah proses
Hari ini kita bicarakan, belum tentu besok pemeras emosi berhenti mengganggu kita. Semua butuh proses. Kita harus merubah pola pikir instan kita. Mie instan aja butuh waktu untuk bisa kita makan, apalagi orang yang biasa menjadi pemeras emosi. Tentu butuh waktu untuk menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu salah.

Note:

Ditulis sebagai katarsis. penulis sedang menghadapi omongan-omongan yang membuat penulis ingin berhenti meraih impian..

Terima kasih untuk teman-teman penulis, blogger, dan emaks yang selalu mengingatkan diriku untuk terus konsisten meraih apa yang aku impikan.


5 komentar:

  1. Ahhhhh... senangnya baca artikel ini. Makaciiihhhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih dah mampir mba indah. Ada yang inbox, kok bisa sih dikau jadi komentator di blogku? Aku jawab, karena aku menyogok dirimu dengan kesemek. Hihihi..

      Hapus
  2. Gugur satu tumbuh seribu.. Itulah para PEMERAS EMOSI.. Setiap hari bersliweran nampang ikutan narsis mewarnai hidup kita.. Kembali kepada kita, akan menganggapnya sebagai virus yg menggerogoti semangat kita atau sebagai warna merah yg akan melengkapi pelangi hidup kita.. Bayangkan pelangi tanpa warna "merah"..?? Amat sangat tidak keren...hihihihihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Putri udah mampir. Iya,tinggal bagaimana kita bersikap. Hidup memang kurang greget tanpa mereka.

      Hapus
    2. Wakakaka, salah orang ternyata. Ini komennya mba Retno Wulandari. Maaf ya.

      Hapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design