Rabu, 18 Februari 2015

MERDEKAKAN HATIKU



“Meeeel...”
Lengkingan cetar itu membahana di seluruh lorong fakultas bahasa. Mel langsung menghentikan langkah, menoleh ke belakang untuk memastikan siapa yang memanggil, dan berdiri menunggu. Cewek gembul berkacamata itu berlari dengan terengah-engah.
“Mel, untuk tujuhbelasan tahun ini kampus ngadain lomba menulis tentang makna kemerdekaan. Hadiahnya lumayan, kamu ikutan ya?” pinta Sandhy sambil mengatur napas.
“Aku udah baca pengumumannya,” ucap Melati tak bersemangat
Ingatan Mel melayang ke peristiwa saat dia meminta pendapat Ben.
“Kalau Ben bilang gak boleh ya gak boleh. Gak perlu tanya alasannya,” bentak Ben seraya berlalu meninggalkan Mel yang masih terduduk diam di bangku taman kampus.
“Busyet, baru pacaran aja udah berani bentak-bentak,” celetuk seorang pria ceking yang menjadi saksi dengar.
Perasaan Mel campur aduk. Ben pacar Mel, seseorang yang seharusnya bisa mengerti apa yang Mel impikan atau setidaknya apa yang Mel suka. Namun tidak dengan Ben. Ben ingin dimengerti tanpa mau berusaha mengerti Mel.
“Kok jadi ngelamun Mel? Ada yang Shandy belum tahu ya? Ayolah cerita! Shandy kan jadi bingung kalo Mel diem.”
“Shandy, emangnya salah ya kalau aku pengen ikutan lomba menulis itu?”
“Loh kok malah nanya gitu? Kan Shandy yang minta Mel ikutan.”
“Alasannya apa kamu pengen aku ikutan?”
“Ya ampun, nanyanya kaya Shandy baru kenal Mel kemaren aja. Ya karena Mel itu punya bakat, karena Shandy suka baca tulisan-tulisan Mel. Dalem banget.”
“Kamu bilang gitu karena kamu temenku kan?”
“Susah kalo ngomong sama orang lagi sensitif. Coba sekarang kita masuk kelas, Mel duduk di depan laptop terus mulai nulis deh. Nanti bakalan keliatan itu aura ketenangan di sekitar Mel.”
“Syukurlah kalo aura ketenangan, gak aroma bau badan.”
Krik... Krik... Mel buru-buru ngacir sebelum ditimpuk kamus bahasa Indonesia-Inggris yang dibawa Shandy. Ada secercah harapan yang tiba-tiba membuncah di dada Mel. Harapan untuk membanggakan. Membanggakan siapa?
"Ibu ingin melihat namamu di atas karyamu," harapan mendiang ibu Mel terngiang.
Tepat satu bulan kemudian. Mel memandangi karyanya. Karya yang ada namanya sendiri di atasnya. Karya yang akhirnya memerdekakan dirinya. Merdeka untuk memilih dan melakukan apapun sesuai dengan keinginannya.
“Kamu masih mau ikutan lomba menulis itu? Kalo ya silakan saja tapi hubungan kita berakhir sampai di sini saja.”
“Tapi kasih tahu aku apa alasannya Ben, apakah semata-mata cuma masalah ikut lomba menulis?”
“Hanya lomba menulis kamu pikir? Ini masalah besar buat aku Mel. Kamu gak  nurut sama aku. Sekarang aja gak  nurut, apalagi kalau sudah menikah.”
 Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai diriku sendiri. Ya diriku, kebebasanku. Alasanmu tidak cukup kuat untuk menghentikanku, Ben.”
Mel menunduk dalam-dalam. Menyembunyikan butiran air mata yang tumpah. Dia tidak tahu untuk apa air matanya itu. Untuk naskahnya yang lolos sebagai juara? Untuk Ben yang tiba-tiba memutuskan hubungan karena pilihannya ini? Atau untuk mendiang ibunya yang menanti kemenangannya ini? Ini adalah kemerdekaannya dari segala egoisme Ben, tapi juga kesedihannya di detik-detik penobatan gelar kemenangannya. Jelang Ramadhan, jelang Hari Kemerdekaan, juga jelang ulang tahunnya. Dia harus kehilangan.
"Sudah, sudah! Kita lomba balap karung aja yuk," Shandy mencoba menghiburnya.
Mel mengangkat wajah dan segera menghapus air matanya. "Aku mau panjat pinang aja!

catatan: pernah dikirim ke majalah STORY tetapi tidak lolos. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design