Senin, 16 Februari 2015

Istri atau Satpam?



"Duilee... Mbanya, istri apa satpam? *edisi nyinyir..."
Aku membaca berulang-ulang status salah satu temanku. Sepertinya merasa tersindir, sepertinya merasa dihakimi dan sepertinya merasa ditimpuk bata tepat di jidat. Apakah aku seorang istri atau satpam? Baiklah! Akan aku telusuri... Jika suamiku pulang, awalnya aku berjanji untuk tidak akan mengecek isi handphone suami, karena jika ada sesuatu yang tidak sesuai maka aku bukanlah orang yang dengan mudah bertanya untuk mendengarkan penjelasan. Aku biasanya akan menumpuk pikiran-pikiran, berasumsi, atau membuat alur cerita sendiri. Namun akan ada suara-suara seperti: "percayalah, kamu tidak akan menemukan sesuatu yang aneh jadi buka aja." Atau bujukan seperti: "apa salahnya kamu tahu isi handphone dia. Dia kan suamimu, kamu berhak donk tahu siapa saja yang berhubungan dengan dia." Setelah perdebatan yang sengit biasanya aku akan mulai jadi satpam, mulai mengecek isi handphone suamiku: siapa saja yang sms, telpon, chat dengan siapa aja. Ahhh lega, tidak ada yang aneh-aneh. Bagiku, butuh perjuangan untuk berdamai dengan pikiran-pikiran atau asumsi-asumsi negatif. "Bagaimana kalau udah dihapus? Handphone aja sekarang selalu di saku atau silent mode, jangan... Jangan..." Kalau udah begini rasanya kepala cenut-cenut dan pengen benturin ke tembok aja.

STOP! STOP! STOP!
 
"Saat kita memutuskan untuk memaafkan orang lain, bukan semata-mata karena orang tersebut layak untuk dimaafkan. Melainkan kita selalu layak untuk memiliki kedamaian/ketenangan di dalam hati.
Memaafkan itu dekat sekali dengan damai.
*dari pepatah arab"

Berulang-ulang aku membacanya, menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Aku tidak bisa memaksakan apa yang aku yakini pada orang lain. Aku juga tidak bisa membuat orang lain melakukan sama seperti yang aku lakukan. Terhadap masa lalu aku memilih untuk membiarkan masa itu tetap ada di posisinya dengan cara tidak berhubungan dengan orang-orang yang ada di dalamnya. Dan aku tidak bisa meminta bahkan memaksa orang lain untuk melakukan hal yang sama. "Kalau tiba-tiba kamu menemukan nama mantan dia di chat atau FB atau email gimana?" Selama aku berusaha untuk jadi istri yang bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan ke dia maka hasil dari usaha itu aku serahin aja ke اللّهُ. Berkaca dari pengalaman: tidak bijaklah orang yang hanya menuntut tetapi tidak mengusahakan yang terbaik. Jika menginginkan ketenangan maka aku harus berhenti menjadi satpam dan mulai berusaha untuk jadi istri yang baik.

2 komentar:

  1. mbaak.. aku biasa saling baca dan buka2 HP sama suamiii, hihihi. intinya sih saling percaya aja yaaa, karena itu tonggak dari hubungan apapun. semangat buat jadi istri yang selalu lebih baiiiik ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, ini lagi coba buka-buka hp suami. hihihi. Semangat!

      Hapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design