Rabu, 04 Februari 2015

Guru TK, Jangan Hanya Sabar!

"Pekerjaannya apa mba?"
"Oh saya guru TK ibu,"
"Wah, pasti sabar banget ya mbanya ini."

Saat itu, Aku baru lulus kuliah jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Sebagai fresh graduate, Aku mencoba melamar ke beberapa sekolah. Diterima di sekolah nasional plus di Semarang. Sekolah untuk anak usia dini mulai dari toddler hingga TK B. Sekolah ini mengajarkan bahasa Inggris untuk anak-anak usia 2 sampai 6 tahun. Bagaimana caranya? Ya melalui instruksi sehari-hari, sapaan yang biasa digunakan, dan kosakata-kosakata baru yang dekat dengan keseharian anak-anak.

Awalnya Aku berpikir, sabar adalah kuncinya. Jika Aku sabar maka, semua akan berjalan dengan baik. Ups, hari-hari berjalan. Kesabaranku semakin menipis. Anak-anak bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini. Mereka punya pola pikirnya sendiri. Begitu susah saat kita tidak memahami dan mengerti bagaimana karakter mereka lalu kita dituntut untuk belajar bersama mereka. Hampir setiap hari, rasanya mata ini mau lepas. Ada yang menangis, ada yang mengompol, dan paling menyesakkan adalah yang buang air besar di celana. Kesabaranku ternyata terbatas. Mataku melotot dan anak didikku menangis sejadi-jadinya karena takut.

Siang hari setelah semua kelas, Aku dipanggil kepala sekolah untuk diajak bicara.
"Miss Apik, kalau mengajar anak-anak tidak bisa hanya sabar. Miss Apik harus tahu ilmunya. Ilmu tentang anak-anak. Jika sudah tahu ilmunya maka Miss Apik akan tahu bagaimana caranya merespon mereka."


Ketika kuliah dulu, Aku mendapatkan mata kuliah English for Young Learners tetapi pada praktiknya aku harus banyak belajar lagi. Membaca buku-buku lalu praktik. Agar bisa lebih memahami karakter anak-anak lalu bagaimana mereka berkembang dan bagaimana cara merespon.

Tabel-tabel perkembangan harus dipelajari dan dipraktikkan.

http://3.bp.blogspot.com/-Vol9oQMohlw/TYdjhOopyeI/AAAAAAAAAOs/eSeBQv4dOcg/s1600/Fase-Perkembangan-Anak-3.jpg





Buku lama yang aku jadikan pedoman
Mungkin, banyak orang yang bilang kalau sabar itu tidak ada batasnya. Memang sabar tidak ada batasnya tetapi manusia itu sendiri yang terbatas. Aku sendiri, bukan orang yang sabar. Ditambah lagi, ada masa lalu yang membuat Aku sering terserang gangguan mood. Maka dari itu, ilmu itulah yang membuat Aku bertahan. Ilmu menjadikan Aku tahu. Pengetahuan yang menuntun Aku untuk lebih memahami anak-anak. Pengetahuan itu juga yang memperpanjang masa sabar Aku jika sudah habis masa aktifnya. Aku belajar selama 3 tahun sebagai guru TK. Banyak ilmu yang bermanfaat tentang mendidik anak dan bagaimana menjadi orang tua yang aserftif. Ilmu ini juga yang akan Aku praktikkan saat ini untuk belajar memamahi anakku, Gian Segara Abhipraya.

Jadi paradigma bahwa untuk jadi guru TK harus orang yang sabar terpatahkan. Selalu belajar, menambah ilmu dan juga pengalaman akan membuat kita sebagai guru bisa menempatkan kesabaran pada tempat yang tepat.

6 komentar:

  1. Aku dulu cita - citanya pengen jadi guru TK tapi nggak diizinin sama keluargaku katanya aku gak bakat sabar sama anak kecil hahaha..
    Keren euy jadi guru TK.

    BalasHapus
  2. Sabar emang bukan bakat mba tetapi skill yang harus diasah terus menerus *apa sih
    Sekali-kali boleh dicobamba. Biar gak penasaran. Asikk lhooo..

    BalasHapus
  3. Wah, ternyata jadi guru TK itu tak hanya butuh kesabaran ya, Mbak, tapi juga butuh ilmu bagaimana memahami anak dan dunianya. Pasti Gian beruntung banget punya Mama yang sudah mulai paham dan terus akan belajar ilmu child management and psychology. Nice share, Mba. Trims. Sukses selalu!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mba Alaika. Sukses selalu juga buat mba.

      Hapus
  4. Selalu menarik jika ada bahasan dunia pendidikan, guru TK selain asyik juga tertantang untuk punya banyak skill ya Mba :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, sekarang lagi kena lose power syndrome deh. Gara-gara kangen buat balik kerja jadi guru TK.

      Hapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design