Sabtu, 21 Februari 2015

Belajar Dari Audrey

 Umurnya baru genap 4 tahun. AUDREY MIRELA ROSA. Gadis mungil, kulit putih, rambut lurus diikat dengan gaya kepangan khas anak-anak, dan yang tidak terelakkan adalah aroma semerbak khas bedak bayi dan minyak telon. Tiap pagi aku berusaha meluangkan waktu untuk menyapa Audrey  lalu "down on knee" agar setara dengan tinggi badannya kemudian membentangkan dengan lebar kedua tanganku sambil bilang, “Peluk dulu." Seketika itu juga Audrey akan berlari kecil menuju pelukanku. Aku sangat menikmati momen indah saat memeluknya. Melalui pelukan itu seperti ada proses transfer aura ketulusan yang dimiliki Audrey. Aku menyimpan aura dengan helaan napas yang dalam. Ajaibnya setelah pelukan itu, aku merasa ketenangan meliputi alam bawah sadarku.
Audrey masih di playgroup, dia adalah murid kesayangan kami semua karena dia adalah si sosialita. Ceria, enerjik, paling banyak cerita dan pertanyaan dari awal sampai akhir kelas. Dia adalah my mood booster. Sebelum bertemu dengan kakak-kakak TK A, aku akan menemui Audrey untuk rutinitas pelukan hangat sekaligus terapi aura. Ya, aku adalah seorang guru TK A. Hari-hari aku lalui dengan berinteraksi dengan anak-anak umur 4-5 tahun. Setelah berpelukan dengan Audrey, aku memiliki keyakinan penuh bahwa hari ini semua akan berakhir dengan solusi-solusi yang terbaik. Melalui 07.30-11.30 tanpa teriakan, bentakan ataupun wajah judes.
Di suatu pagi dia berangkat diantar sang Mama sampai di lantai 2. Tidak seperti biasanya, hari itu dia tidak mau dipeluk dan terus menempel dengan sang Mama hingga waktu masuk ke sentra bermain tiba. "Gak tahu nih Miss, Audrey bilang teman-temannya juga diantar mamanya kalo ke sekolah jadinya saya mengalah untuk ambil cuti hari ini supaya biar bisa menemani dia."
       7 Februari 2012, kabar mengejutkan datang:  Mama dan Suster Audrey masuk rumah sakit karena luka bakar. Suster Audrey kena hampir 95% dan mama Audrey kena 90%. Audrey selamat tanpa luka. Ayah Audrey selamat karena sedang kerja di luar kota. Kami belum tahu apa yang terjadi. Kami masih menduga-duga apa yang terjadi.. Kami terus berusaha mencari kabar berita.
 Tanggal 14 Februari 2012, Suster Audrey meninggal. Tanggal 18 Februari 2012 kami ke Solo untuk menjenguk Audrey. Mama Audrey tidak bisa dikunjungi  karena masih di ICU.  Kami menuju hotel tempat keluarga Audrey menginap. Kami membawa semua yang dia sukai. Buku tentang kuda, mainan kuda yang bisa berjalan, kuda mainan.
Ketika kami datang, Audrey bersembunyi di belakang Oma. Tatapannya kosong, bingung dan perih. Kami berusaha senormal mungkin. Menciptakan suasana yang santai dan biasa dinikmati, seperti saat dia berada di sekolah. Berusaha memunculkan keceriaan yang biasanya ada di diri Audrey. Itu tidak mudah. Dari sang Oma, kami mendapatkan cerita tentang musibah yang meninggalkan trauma bagi Audrey. Siang itu, suster sedang memasang regulator gas tetapi tidak berhasil. Mama Audrey membantu. Belum pas regulator tersebut terpasang, suster sudah menyalakan kompor. Duarrr! Tabung gas meledak. Membakar Suster dan Mama. Di saat genting seperti itu, Mama Audrey sempat berteriak: "Audrey, keluar! Kebakaran Drey!" Audrey yang masih di kamar, memungut boneka kesayangannya lalu berlari keluar dan berhasil diselamatkan tukang sampah biasa lewat yang mungkin memang dikirim Tuhan sebagai penyelamat. Audrey tidak tahu kalau Susternya meninggal karena Omanya bilang '"Suster pulang kampung". Tanggal 20 Februari 2012, Mama Audrey akhirnya meninggal. Aku ikut terpukul, umur Audrey  baru genap 4 tahun tetapi cobaan yang Tuhan berikan sungguh tak terperikan oleh kata-kata. Catatan  ini aku tulis untuk menyemangati diriku.
            Dear My Beloved Audrey
Untuk cobaan yang Tuhan hadirkan saat ini, Miss Apik yakin jika Dia pasti juga akan hamparkan solusi yang sesuai. Tuhan Maha Tahu dan Maha Pengasih. Audrey kuat, Audrey hebat!
          Kejadian yang menimpa Audrey, membuat aku lebih mensyukuri apa yang aku miliki. Apa yang Tuhan miliki pasti akan kembali kepada-Nya. Selama kita masih memiliki rejeki dan anugerah yang Tuhan titipkan seperti: suami, istri, anak, orang tua, saudara, teman atau apapun bentuknya, JAGALAH DENGAN BAIK, sehingga saat Tuhan mengambil mereka kembali ke sisi-Nya, tidak ada PENYESALAN yang tertinggal karena kita telah memberikan yang terbaik.

Note:
Tulisan ini aku posting di notes facebook dan akun kompasiana milikku.

21 Februari 2015, aku memposting ulang tulisan ini. Aku ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa memang tidak ada yang abadi di dunia ini. Aku ingin sedikit demi sedikit belajar melepaskan. Laksana pasir yang aku genggam erat, pasir itu sedikit demi sedikit akan lepas pula dari genggaman. Aku tidak ingin menggenggam erat apa yang aku miliki. Aku ingin ikhlaskan saja agar sesak di dada ini berkurang.
Aku merindukan Audrey. Aku tak tahu kabarnya kini. Semoga dalam waktu dekat, aku bisa tahu keadaannya. 

2 komentar:

  1. Waahh kasihan Audrey yaa. Ga kebayang kehidupannya tanpa mama. Btw, background merah ini agak mengganggu, baca tulisannya jadi kurang jelas *cmiiw

    BalasHapus
  2. hiks, sedih bacanya ... semoga Audrey selalu kuat hingga dewasa nanti, amiin

    BalasHapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design