Minggu, 15 Februari 2015

AKU BISA KARENA TERPAKSA




Terpaksa. Membuat seseorang terbangun dari zona nyaman. Zona yang merupakan rangkaian aktivitas yang berulang lalu menimbulkan kebosanan. Sungguh kata ‘terpaksa’ membuat hidup seseorang memiliki dinamika. Ada naik turunnya.
Masuk ke jurusan pendidikan bahasa Inggris di Universitas Negeri Semarang adalah paksaan. Awalnya aku ingin masuk jurusan psikologi. Namun karena semasa SMA jurusanku adalah bahasa maka ibuku bersikukuh bahwa jurusan bahasa Inggris adalah yang paling tepat. Aku menjalani masa empat tahun dengan sukses. Tepat waktu. Karena apa? Terpaksa membuat aku akhirnya menempuh apa yang sudah ada digenggaman. No other possible choice. Take it or leave it!
Skripsi adalah keterpaksaan yang membuat aku merasa jadi manusia yang paling kuat di dunia. Bayangkan saja, aku yang biasa tidur dua belas jam sehari tiba-tiba bisa tidur hanya dua sampai empat jam sehari demi kertas-kertas ratusan lembar yang harus selesai setiap paginya agar dapat ikut bimbingan. Antrian yang mengular setiap pagi, coretan dosen sebagai tanda revisi, dan di depan laptop untuk waktu yang tak berbatas. Setelah semua berakhir, aku tersadar. Jika aku tak memaksa diriku maka tidak akan ada gelar S.Pd di belakang namaku. Aku tak akan dengan bangga bercerita kepada adikku bahwa aku lulus tepat waktu. Aku juga tak akan bisa memberi motivasi adikku untuk lulus lebih cepat.
Jika hidup menawarkan pilihan maka tidak ada salahnya kita salah pilih. Karena dari kesalahan itulah kita belajar untuk menghargai diri sendiri. Memaksa kita untuk mengingat bahwa jika sudah memilih maka kita harus siap dengan segala keruwetan, kerempongan, keriwehan yang ditimbulkan dari pilihan kita.
Dulu aku tak suka anak-anak. Namun karena terpaksa aku bisa menjalani dua tahun yang penuh perjuangan mengajar anak-anak di taman kanak-kanak Bukit Aksara. Aneh tapi nyata. Berawal dari rasa terpaksa, berproses. Lalu ada satu titik dimana aku sangat menikmati ada di sekitar mereka. Menjadi idola, menjadi panutan dan selalu ditelepon pagi-pagi hanya untuk menanyakan seragam warna apa yang dipakai hai ini. Sungguh waktu memang selalu bisa memberi kejutan yang tak disangka.
Sungguh apabila kita jeli, kita bisa melihat bahwa keterpaksaan membawa hasil yang bagus. Kita jadi berani mengambil resiko terkadang tanpa memikirkan apa hasil atau tantangan yang akan kita hadapi.   

4 komentar:

  1. Memang ya Mba, jika saat terdesak, kekuatan untuk bertindak itu tiba2 terasa berenergi. Jadi kita bisa melakukan semua itu dengan mudah....akhirnya bisa :D
    Kreativitas juga suka lahir spontan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo deadliners, terdesak bisa maksimal. Dulu biasa deadliner mba.Sekarang harus punya jadwal, kalau ngejar deadline malah gagal terus.

      Hapus
  2. Hehe...sama juga keterpaksanaan yang kita hadapi kalo harus bangun tengah malam untuk sholat tahajud. Keterpaksaan yang akan memberikan kepada kita satu berkah, satu kebaikan buat diri. Dari keterpaksanaan akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang baik. Keren postingannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih bunda, bunda juga yang jadi inspirasiku untuk lebih semangat.

      Hapus

Design By Wulan Kenanga | Blogger Theme By Black Coffee Design